Selalu Pertama Kali

Dalam hidup ini, istilah pertama kali akan selalu kita rasakan hingga kematian menjemput. Mulai dari balita hingga tua renta ada saja hal-hal yang akan kita alami untuk pertama kalinya. Hal itu akan menjadi memori yang bisa kita ingat-ingat kembali juga suatu yang tengah kita tunggu-tunggu untuk terjadi nanti.

Melihat ke belakang banyak sekali hal-hal pertama kali dalam hidup ini. Pertama kali naik pesawat terbang misalnya, pengalaman yang cukup unik. Jarang kan korban pesawat jatuh yang selamat. Pertama kali bertemu teman ini, teman itu. Pertama kali diusir guru dari kelas karena bla bla bla. Pertama kali lihat gerhana bulan, wah banyak sekali hal pertama kali yang sudah dialami kemudian jadi berulang kali seperti menulis di blog ini.

Ada juga hal-hal yang ditunggu-tunggu untuk terjadi atau akan terjadi karena merupakan hukum alam yang tidak dapat dielakan. Nikah misalnya -ah sudahlah-, kematian. Menerawang ke depan terhadap harapan-harapan yang bisa kita capai untuk pertama kalinya dalam hidup merupakan pekerjaan hati yang menyenangkan sekaligus bisa mencemaskan.

Advertisements

Rocky Gerung dan Intelektual Publik

Suatu ketika jauh sebelum masa kampanye saya sempat menonton sebuah video ceramah di Universitas Indonesia yang lumayan memukau. Sang pembicara entah bagaimana sampai menyinggung mitologi Yunani seorang dewi berambut ular, Medusa. Nama pembicara itu Rocky Gerung, yang belakangan dimasa kampanye 2019 jadi pesohor.

Menyimak kata-kata yang keluar dari mulut beliau ini kita akan tahu bahwa telah banyak buku bacaan yang ditelannya bulat-bulat. Banyak memang kaum intelek di dunia ini, para dosen, peneliti, mahasiswa, pakar dst. Tapi sedikit saja yang tampil dimuka publik, memperdebatkan masalah-masalah dengan berbekal akal sehat. Sehingga mereka bukan saja terkenal di lingkungan terbatas melainkan juga dikenal halayak banyak.

Idealnya, di negara demokrasi peran mereka ini merupakan peran parlemen. Di dalam gedung itulah mereka saling berdebat, saling beradu argumen, mengemukakan pendapat untuk menghasilkan satu kebijakan yang bijak. Seru sekali melihat perdebatan seperti perdebatan antara John McCain dan Dick Durbin di senat Amerika berikut.

https://youtu.be/bIRR-sMUghY

Tapi kan bisa dihitung dengan jari berapa orang di gedung Senayan sana yang bisa debat dengan kepala dingin serta yang lebih penting lagi kepala berisi. Yang ada juga debat kacangan di televisi, ketika yang satu ngomong A yang lain nuduh B, rame. Di dalam gedung juga paling serunya kalau lagi menjadikan menteri sebagai pesakitan, rame-rame marahin menteri karena bisnis mereka terancam atau tidak kebagian proyek.

Para intelektual inilah yang muncul ke publik agar halayak ramai tau, mengerti duduk perkaranya. Kritis tidak menelan bulat-bulat apa yang diberikan pemerintahan, serta tidak marah-marah tanpa data dan fakta yang benar. Sehingga rakyat yang tau akan nanti menekan mereka yang berwenang, tanda tangan petisi, demo dan tentu saja menentukan nasib para politisi itu dengan sihir bilik suara di pemilu nanti.

Terlepas dari kehidupan pribadi atau orientasi politik beliau, media harus memberi ruang yang lebih bagi para intelektual seperti Rocky Gerung ini. Karena kalo toh kita jarang-jarang dapat philosopher king, at least ada banyak pemikir yang bisa membahas isu menarik negara agar sang king bisa mengambil keputusan dengan sebijak-bijaknya.

Si Sok Tau

Sumber : Pexels

Istilah bahasa Inggris nya, si know it all, serba tahu, banyak loh mereka. Tidak usah jauh-jauh contohnya si penulis blog abal-abal bukua ini. Semuanya disentil, mulai dari politik hingga perasaan, dari cerita hingga puisi dst.

Saya sendiri lebih suka dipanggil generalist, tahu tentang banyak hal. Pengetahuan luas, mengenai berbagai macam hal penting maupun tidak penting pake banget. Kata orang ensiklopedia berjalan, eh skarang mah Wikipedia.

Kita itu seperti Wikipedia, ada saja yang bisa diklik ditiap baris hal yang terlintas di kepala. Dari satu topik bisa berujung ke topik lain yang seolah tidak ada hubungannya. Seperti para penyelam Wikipedia yang sering kesasar, dari nyari tau apa itu GDP ujung-ujungnya baca tentang Elton John.

Tipe orang yang punya pengetahuan itu biasanya orang-orang di atas sono, seperti para politikus (tapi di negara maju loh bukan di negara ini duh). Para wartawan senior, petinggi perusahaan, pokoknya kaum elit lah. Tapi kalau anda seperti saya ini yang bukan siapa-siapa, wassalam.

Para Golputer Kalah Telak

Sumber : Pexels

Kubu yang paling kalah di pemilu kali ini sepertinya para pengajak golput, bukan Kampret apalagi Cebong. Jelas terlihat angka partisipasi pemilih yang tinggi dimana-mana, bahkan banyak yang marah-marah karena penyelenggara tidak bisa mengakomodir mereka untuk milih.

Yah mereka para aktivis faar left kalah telak dari awal, tema besar pemilu kali ini tentang siapa yang paling agamis jauh dari panggang kiri. Lalu mereka berontak, meneror dengan aksi golput sehingga semua pun tergerak melawan, rugi bandar dong pemilu puluhan triliun kalau sodara tidak ikutan.

Kemungkin besar sih partisipasi tinggi karena pemilu digabung dan militansi pendukung oposisi. Banyak yang rela ke TPS demi nyoblos tetangganya, bapaknya, kenalannya atau amplopnya, mereka datang untuk nyoblos caleg. Pilpres mah bumbu manis saja.

Suara oposisi juga terlihat menonjol, siapa sangka mereka bisa merebut dua daerah yang dulu dimenangkan petahana. Ditambah dengan suara di basis masa mereka yang kata orang sadis-sadis seperti di Sumatera atau di daerah Madura. Meskipun kalah, oposisi juga lumayanlah dengan suara yang tidak jauh dari lima puluh persen.

Tidak Harus Selalu Produktif

Sumber : Pexels

Ternyata kita tidak harus selalu produktif dalam kehidupan ini, tutup layar dan istirahatlah. Lucu juga kan, padahal tiap hari kesannya dan maunya kita malas-malasan, as they call it now “chillin”. Tapi kadang ada saja panggilan jiwa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, menuntaskan ini itu, menjadi orang berguna dst.

Wah, jadi orang bermanfaat itu wajib loh, cuma gak selalu always tidak pernah never. Kita manusia ini juga butuh istirahat yang cukup. Tiap hari kita sudah punya rutinitas istirahat di kasur, tidur. Ritual biologis yang akan merusak tubuh kalau tidak dijalani. Sudah otomatis itu, kalau tidak tidur ya tubuh yang kena.

Seperti kucing besar di padang rumput Afrika sana, setelah berburu wildebeest empuk mereka bermain lagi. Ada yang lebih dari sekadar tidur yang biologis bagi manusia, kata orang mungkin butuh piknik. Ga usah jauh-jauh, cukup di kasur saja, meluruskan badan. Memutar lagu-lagu jadul penuh kenangan, ngepoin hal-hal ga jelas di ig.

Istilah Unknown Unknowns

Sumber : Pexels

Istilah ini sudah lama digunakan tapi menjadi populer setelah Donald Rumsfeld seorang menteri pertahanan jaman Bush junior berseloroh tentang adanya kondisi yang disebutnya known unknown.

There are known knowns; there are things we know we know. We also know there are known unknowns; that is to say we know there are some things we do not know. But there are also unknown unknowns — the ones we don’t know we don’t know.

Sesuatu yang tidak kita ketahui tetapi kemungkinan bahwa sesuatu itu ada tetap ada. Seperti senjata pemusnah massal milik Irak yang tidak diketahui dunia tapi menurut Amerika ada dan karena itu mereka diserang. Istilah yang sangat berkaitan dengan dunia intelijen, bahkan merupakan kerja utama mereka.

Para intel seringkali harus berhadapan dengan informasi yang minim, bagi orang kebanyakan bisa dianggap tidak ada sama sekali. Dengan bertumpu pada beragam sumber, beragam jenis data, mereka meramunya menjadi rangkaian informasi yang andal. Meskipun bukan fakta sebenarnya, tidak heran kalau yang unknown itu bisa jadi benar-benar tidak ada, seperti bom pemusnah massal di Irak.

Sedangkan menurut komedian Stephen Colbert dalam wawancaranya dengan sang mantan menteri ada istilah ke empat yang pas untuk kasus seperti Irak, yaitu Unknown Knowns. Sesuatu yang tidak diketahui atau tidak ada tetapi dinyatakan seolah-olah diketahui persis karena ada motif tertentu.

Pemilu di Indonesia juga punya known unknowns yang lumayan mengkhawatirkan, yaitu intervensi asing. Kalau ditelaah sekilas tentang trend politik dunia yang penuh dengan intervensi, apalagi sejarah panjang tangan asing yang pernah sangat aktif di negara ini.

Tampaknya tidak mungkin tidak ada intervensi. Ada juga yang membuat seolah-olah ada bentuk-bentuk intervensi tertentu, padahal mereka tidak tau karena hanya ingin menebar ketakutan saja sekaligus mendulang suara. Who knows.

Stigma Buruk Social Climber

Pemanjat sosial hahaha, teman anda yang dulunya makan sama-sama di warteg tapi skarang postingan instagramnya selalu dari resto elit mama kota. Atau anda dan kawan-kawan yang seringnya makan di resto upper-middle (no you’re not the top 0,0001 percent) tiba-tiba nambah satu member. Para pemanjat sosial sebenarnya sangat mudah terlihat jika kita jeli atau pernah berurusan dengan mahluk macam mereka ini.

Naturally, mobilitas sosial adalah hal yang lumrah adanya. Bagi ekonomi secara keseluruhan fenomena ini biasanya muncul bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Seperti di Russia setelah kejatuhan komunisme atau di negara-negara teluk ketika booming minyak. Bahkan sudah ada istilah orang kaya baru (OKB) yang sering digunakan untuk menggambarkan fenomena naik kelas ekonomi.

Tapi biasanya yang tidak disukai itu yang faking it, the Joneses kalo menurut istilah Amrik (filmnya seru juga), mereka ini secara ekonomi belum masuk kelaslah. Maksain diri untuk terlihat elit, walaupun ternyata cuma ngutang bahkan nyuripsi. Ada juga yang agak dibawah dikit dari okb, cuma pake barang fake atau ahli photoshop dst.

Mereka ini biasanya agak predatory, bayangkan demi gituan aja sampai berkorban banyak. Jadi kurang nyaman berada disekitar mereka, aroma liciknya tercium dari jarak jauh. But in long term ya, who knows mereka ini bisa jadi upper beneran loh, good luck lah.