Ketika Bencana Terasa Begitu Dekat

Biasanya kalo lagi ada berita bencana di tv atau media lain meskipun berempati dikit saya langsung meneruskan aktifitas. Tapi kali ini beda, bencananya terasa begitu dekat. Selain skalanya yang besar, saya juga pernah masuk ke Mall yang rubuh itu, tidur di salah satu rumah di sana, dua kali transit di bandara yang rusak itu dan punya keluarga dan kerabat yang tinggal di sana.

Setelah dipikir lagi, dengan perasaan dekat itu sepertinya saya juga berhak untuk heran dan bertanya-tanya. Mengumpulkan serpihan-serpihan puzzle yang terasa janggal dan mengganggu kepala. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk introspeksi diri. Bisa saja kan entah bagaimana caranya saya lagi berada di sana, di salah satu kamar hotel yang runtuh itu, di pantai lagi menonton pertunjukan atau berada di penerbangan terakhir yang sama persis dengan penerbangan saya sebelumnya.

Satu fakta yang harus diterima semua penduduk dunia ini sebenarnya adalah bahwa setiap kota itu tidak sama dari segi resiko terkena bencana. Kota anda bisa saja maju dan lengkap tapi hal itu tidak menjadikan alam serta merta bersahabat. Karena masalah tinggi muka air kota-kota di Belanda harus melakukan berbagai rekayasa agar terhindar dari rob. Sebentar lagi Jakarta juga bisa menyusul.

Kita manusia mengisi satu lokasi di muka bumi ini lalu menamainya rumah. Saat itu memang tidak ada gempa di sana, tsunami apalagi. Banjir pun jarang, udaranya bersahabat. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang, eh. Dalam hitungan geologis, waktu manusia membangun peradaban hingga saat ini itu relatif sangat singkat. Cuma efek saja, sedangkan alam terus saja bergejolak. Belum lagi ditambah ulah kita.

Iklan

Dollar dan Tempe

Sumber : Pexel

Banyak orang yang kaget ketika ke warteg dan bentuk tempenya berubah seperti telah ikut diet ketat ala model barat, tipis. Karena takut menaikkan harga maka pihak warteg pun terpaksa merubah ukuran tempe. Padahal yang lagi booming adalah berita rupiah jatuh dan dolar perkasa kok bisa ukuran tempe jadi korbannya.

Secara sederhana hubungan dollar dan tempe itu ada di kedelai. Ternyata selama ini Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika, jadi kalo ada yang pencitraan sederhana merakyat dengan makan tempe ya itu salah alamat. Indonesia yang gemar ripah ini tidak mampu memproduksi kedelai sebanyak dan semurah Amerika, produsen kedele terbesar di dunia.

Impor kedelai dari Amerika ya mesti pakai dollar, bahkan kalaupun kita impor kedelai dari Argentina misalnya ya ujung-ujungnya mesti pake dollar. Kalo dollar lagi naik berarti kita harus merogoh kocek lebih dalam untuk beli kedelai, butuh lebih banyak rupiah untuk satu dollar.

Makan tempe itu juga membuat beban derita kita makin tinggi sebagai bangsa. Aktivitas impor kedelai saja akan mengurangi cadangan dollar kita, menurunkan nilai rupiah. Juga memaksakan diri mengkonsumsi tempe atau saudara dekatnya yaitu tahu hanya akan membebani kantong kita secara pribadi. Tapi toh kalo tempe gorengannya naik dua ratusan persen pun, paling satu tempe goreng ga bakal lima ribu atau irisannya setipis dan semiskin atm mu. Wait and see aja, siapa tau karena si anu presiden jadi rupiah bisa 10k per dollar kalau makin terpuruk kan tinggal diganti saja.

Dicurigai

Sumber : Pexel

Bagian alamiah dari manusia, insting yang kadang berbicara sendiri mengungkapkan kegundahan terpendam dan trauma masa lalu membuat kita curiga. Jangan-jangan, kalau-kalau, waah, oh kayaknya dll. Kita mereka-reka, menebak-nebak, bahkan memaksa agar logika dan hayalan menjadi fakta.

Kata curiga sendiri selalu berkonotasi negatif, tentang hal-hal yang buruk yang kemungkinan telah, tengah atau akan terjadi. Berprasangka buruk pada orang lain, bahkan tidak jarang pada tuhan.

Memang sih kadang kecurigaan itu terbukti benar. Ternyata memang benar seperti itu, jalan ceritanya nyambung. Ternyata memang orang itu yang sengaja merusak kendaraan kita misalnya atau yang sering tidak pulang memang benar lagi selingkuh.

Tapi kebenaran seperti itu sama saja dengan hasil intelligence dari lembaga-lembaga semisal CIA, FBI, Mossad, M16 dst. Sesempurna apapun informasi yang didapatkan, sebagus apapun ceritanya, selogic apapun kedengarannya tetap saja merupakan intelligence bukan fakta. Sehebat apapun mereka, masih bisa salah tangkap, operasinya gagal, tersangkanya kabur dst. Apalagi cuma pikiran kita yang biasanya cuma punya dua mode (lapar or ngeres).

Pengeras Suara di Mesjid Seharusnya Hanya Untuk Adzan Saja

Sumber : Pexel

Saya tidak pernah nyari-nyari riwayat hadis atau bahkan di Quran terang teriakan lain yang harus didengungkan dari masjid dalam agama Islam. Karena memang tidak ada. Secara sederhana saja, kita seharusnya sudah mengerti yang berbunyi dari mesjid itu cuma adzan atau iqomah. Selain itu, seharusnya tidak ada yang keluar dari pengeras suara kekhalayak banyak.

Masalah toa atau pengeras masjid saat ini memang tengah menjadi isu di negara-negara muslim. Sebelumnya memang pengeras suara sudah menjadi masalah di negara-negara mayoritas agama lain seperti di eropa yang telah memiliki minoritas muslim yang lumayan besar yang tentu saja membangun mesjid di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan. Umat muslim di sana memang harus menyesuaikan diri dengan kondisi seperti itu.

Permasalahan ini menjadi aneh ketika terdengar di negara mayoritas muslim. Generasi saya, ayah dan kakek saya misalnya, telah terbiasa dengan dengungan pengeras suara dari mesjid. Tingkat toleransi kita terhadap suara semacam itu tinggi. Biarkan saja, malah bagus katanya sambil dengar dari rumah.

Tapi, sering dengan perkembangan jaman kota-kota dengan mayoritas penduduknya beragama islam yang dulu kecil dan sederhana berkembang menjadi metropolitan. Gedung tinggi sana sini, masyarakatnya juga kompleks. Bukan hanya faktor ketidakenakan terhadap minoritas yang beragama lain, tapi juga mengganggu ketenangan banyak orang.

Cap mengganggu ini tentu bagaimanapun tidak bisa disematkan pada adzan, tapi ke suara-suara lain yang keluar dari pengeras suara mesjid. Kalau di Mesir suara-suara lain itu muncul di bulan ramadhan ketika waktu solat sunah taraweh, dianggap sangat mengganggu karena suara pengeras yang tidak berjauhan berkelahi di seantero ruang negeri piramida itu. Akhirnya otoritas fatwa di sana melarang suara-suara tersebut.

Di Indonesia, ada lebih banyak lagi suara-suara aneh. Dulu ada ceramah sang dai sejuta umat yang diperdengarkan sesuka hati pengurus mesjidnya, khutbah-khutbah juga dengan segala macam isinya diperdengarkan. Ada juga solawatan atau apalah, biasanya juga bacaan imam pun didengungkan lewat pengeras suara keseantero nusantara.

Saya sendiri tidak sreg hidup dekat dengan mesjid yang semacam itu. Tidur tidak nyenyak, kalo ada bayi dan orang sakit juga pasti terganggu. Kalau saya perhatikan mungkin cuma mesjid Muhammadiyah dan aliran yang dekat-dekat dengan mereka yang tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan di Indonesia ini.

Memang harus ada regulasi yang jelas mengenai penggunaan pengeras suara di perkotaan. Kasian orang menjadi dilematis ketika akan protes atau merasa terganggu dengan suara-suara selain adzan dari mesjid. Selain itu, dengan adanya regulasi yang misal hanya memperbolehkan suara adzan saja maka diseluruh Indonesia ini adzan bisa berkumandang dengan bebasnya karena ada landasan hukumnya.

Merasa Tidak Dicintai

Cinta itu kan soal rasa, jadi kalau suatu ketika kita ngerasa tidak dicintai ya mungkin ada sesuatu di sana. Mungkin kitanya yang terlalu sensi atau yang lain yang tidak peka. Banyak kemungkinan mengapa, tapi yang pasti sih ada rasa itu.

Sakit sih, banget. Saat kita mulai sadar secara perlahan, ternyata kita sedang hidup dalam ilusi dicintai. Mereka seolah mencintai kita, padahal tidak. Iyup mereka, orang-orang yang seharusnya mencintai kita dengan tulus.

So take a deep breath and love yourself first.

On Sedotan Plastic

Seketika senyum licik saya muncul ketika membaca artikel tentang war on plastic straws di situs online Amrik. OMG, kaum kiri Amrik bikin isu lucu lagi dan kali ini sasarannya sebatang plastik tipis pengusir dahaga sekali pakai aka sedotan.

Technically sedotan itu praktis dan ada manfaatnya ke pola hidup sehat. Kita bisa minum gaya klasik dengan sedotan tanpa belepotan, bisa dibawa-bawa, bisa ngejar sampe tetesan terakhir. Minum air juga jadi lebih banyak kalo pake sedotan, karena tidak sekali masuk banyak, pelan tapi pasti masuknya.

Itu sedotan secara umum, tapi menurut mereka sedotan plastik yang banyak beredar selama ini punya dampak massif terstruktur dan sistematis terhadap global warming. Pengunaan sedotan berbahan baku plastik katanya akan menambah sampah anorganik, hingga mendominasi lautan dst.

Tentu tidak ada yang akan menampik efek negatif sampah plastik ke pemanasan global, kecuali climate change deniar. Kita punya masalah serius tentang sampah yang hingga kini belum terselesaikan.

Tapi, berapa besar sih dampak sedotan plastik terhadap pemanasan global ? Apakah sebesar emisi pembangkit Batubara ? Sekronis penebangan hutan tropis ? Separah apa sih sampe mereka berkoar-koar dan menyusahkan hidup kita dengan memaksa tidak menggunakan sedotan plastik ?

Saya percaya dampak sedotan plastik tidak sesignifikan itu, aksi mereka ini lebay dan menjijikan. Tapi untuk mengurangi dampak pemakaian plastik kita juga harus mencari solusi alternatif mengubah gaya hidup kita selama ini yang nyaman dengan sedotan plastik. Mungkin sedotan yang bisa dimakan atau sedotan dari daun atau apalah bisa muncul dan melawan dominasi sedotan plastik dikehidupan kita.

Pilpres Bagi Rakyat Jelata

Bagi rakyat jelata seperti saya ini yang menarik dari pilpres itu ramenya saja, siapa yang menang sih ga ngaruh banyak. Apalagi sejak pilpres 2014 hanya dua kandidat yang saling berebut kekuasaan, ramenya tidak ketulungan, meskipun siapa yang menang atau kalah tidak akan seketika merubah segalanya di Indonesia ini.

Setelah reformasi, banyak hal berubah yang bikin momok masa lalu negara ini hampir mustahil terulang lagi. Mayoritas kita tidak sreg dengan komunisme yang juga sudah terbukti gagal. Orde baru, bahkan oleh yang katanya merindukan piye kabare pun tidak benar-benar dirindukan. Jadi yang ada ya memilih janji-janji, seperti di negara demokrasi lain di dunia ini.

Seru juga kan, kayak pertandingan olahraga. Pilih salah satu kubu, aturan mainnya sudah ada, curang bisa kalah. Yang menang tidak menjadi tuhan, kalah tidak meregang nyawa. Cuma ya sebagai penonton kan kita rakyat jelata ini boleh emotional.

Kita boleh memilih orang karna seagama, sealmamater, bahkan sehobi (misal hobi bicara kotor kampr*t atau ternak kecebong). Kita berhak nonton debat kusir di tv yang ga bermutu berjam-jam atau berdebat langsung dengan kawan sejawat dan istri di kamar hingga pagi. Nanti di akhir kita juga berhak bangga dan turut merayakan ketika calon kita menang atau nangis termehek-mehek ketika kalah.

Siap-siap juga menjadi petahana atau oposisi. Tapi bukan yang duduk di senayan atau istana negara, ingat kita cuma rakyat jelata. Boleh bangga dengan proyek toll yang dicek atau diresmikan si pemenang, boleh juga kritik. Kalo kecewa atau malah jatuh hati ya itu urusan nanti di pilpres berikutnya di dalam bilik pencoblosan.

Merdeka!