Tragedi Kenalan Lama

Sumber : Pexels

Kami bukan teman apalagi sahabat, hanya kebetulan waktu itu untuk beberapa saat kita kebetulan menjadi kenal. Susah memang menyadari kalau tidak semua orang yang kita kenal otomatis menjadi sahabat, tapi ternyata lebih indah kalau begitu. Orang bilang teman kita di dunia itu terbatas, paling besar mungkin 150 orang. Apalagi sahabat.

Waktu berlalu, kita seolah tidak punya kenangan bersama yang berarti. Perbedaan membuat orang melupakan satu sama lain, perbedaan jarak apalagi pemikiran. Mungkin kalau ketemu entah dimana kita akan saling menyapa, basa-basi dan kemudian berlalu. Seperti orang biasa, dengan kehidupan masing-masing.

Kebetulan pun terjadi. Kejadian tidak sengaja yang diatur sedemikian rupa oleh alam, lucu. Tanpa sengaja ia menemukan sampah ini dibelantara milyaran manusia, bumi memang kadang kala menyempit untuk memulai sesuatu. Sedangkan mulutnya membuka kembali berkas-berkas lama tentang versi diri ini di kepalanya.

Sedih juga ketika memori itu tidak begitu indah, padahal dulu tujuan untuk melakukan hal-hal itu begitu baik. Caranya yang salah, siapa yang peduli. Pembicaraan pun berlanjut, dia begitu terkejut dengan hobi kita yang sama, lalu menceritakan kisahnya sendiri sejak kita pertama bertemu. Lumayan lucu, sekaligus tragis bagi kita berdua.

Tapi reuni itu justru semakin meyakinkan bahwa kita berbeda, menyudahi omong kosong adalah hal terbijak di dunia ini, secepatnya. Susah sebenarnya, karena dia dalam keadaan yang mengenaskan walaupun masa depannya begitu cerah. Dampak kesehatan dari kesepian itu sama dengan menghisap 15 batang rokok per hari, dia telah memilih jalan kesepian yang dalam. Ditambah kebodohan-kebodohan yang ia akui sendiri, maka sungguh begitu menderitanya dia.

We are all suffering, tapi katanya hidup telah terlalu tidak adil padanya. Mencoba menjelaskan bahwa banyak yang lebih menderita darinya adalah pekerjaan yang ternyata sia-sia. Menjauh adalah jalan terbaik, sambil berharap yang terbaik, kenalan.

Advertisements

Jangan Berlibur Ke Tempat Terkenal

Sumber : Pexels

Sesaat saya kembali berkontemplasi tentang esensi berlibur (traveling), tidak baik sih menghabiskan waktu liburan dengan pemikiran macem-macem. Tapi why not lah hah, karena sekarang ini setiap musim liburan tiba, segala kegilaanya pun menghampiri.

Menyedihkan kan ketika liburan tiba antrian panjang tak berujung menyumbat jalan-jalan menuju lokasi wisata favorit. Sampai di sana pun tempatnya sudah dibanjiri manusia, sehingga untuk sekadar nyari background selfie yang pas kita harus mengeluarkan tenaga dalam ekstra, minggir.

Ini semua sebenarnya pertanda bagus kalau dilihat secara garis besar. Ternyata banyak orang yang makin makur, naik kelas dari motoran ke mobilan (meskipun nyicil dan ukuran kecil). Sudah sifat manusia kan, ketika kebutuhan primer terpenuhi maka mereka akan mencari lebih, termasuk plesiran.

Tapi lucu juga ketika melancong ke Eropah dengan niat nyari romantisme di sudut-sudut Paris atau Venecia tapi yang bermunculan adalah wajah-wajah Asian. Beserta kebiasaan sisa masa-masa melarat yang kemudian di barat sana karena kesal dan makin sering terjadi, dan tentu saja dengan nada rasis, disebut tak berkelas. Mungkin tidak lama lagi warga SG dan Thai juga akan muak dengan Indo yang membanjiri negara mereka. Sedangkan jalan menuju Bogor dan Lembang misalnya, tiap musim liburan macet parah.

Coba anda jelaskan bagaimana menikmati pantai pasir putih kalau manusianya lebih banyak daripada pasir di pantai itu. Entah apa nikmatnya berendam di air panas yang penuh dengan orang-orang tak dikenal. Belum lagi sampah mereka dimana-mana. Kondisi seperti inilah yang sekarang akan kita temui ketika berlibur ke tempat-tempat terkenal, penuh dengan orang-orang yang juga berlibur.

Menurut saya jalan keluarnya ada dua, berlibur selain musim liburan atau pergi ke tempat-tempat yang kurang terkenal. Dijamin pasti ketika bukan akhir pekan atau musim libur tempat-tempat wisata akan sepi. Tapi, susah juga nyari waktu yang pas, apalagi kalau pergi bareng keluarga. Karena kan kalau bukan musim liburan yang sekolah ya harus masuk sekolah. Yang kantoran juga masuk, meskipun bisa cuti tapi pasti banyak saja kendala kalau liburan dihari biasa.

Opsi kedua yaitu liburan ke tempat-tempat yang tidak begitu terkenal atau bahkan ke tempat yang jarang dijadikan tempat liburan. Banyak kekurangan sih tempat seperti ini, karena biasanya tempat favorit ya pasti segala ada. Sudah berjejer penjual souvenirs, hotel banyak, pokoknya ini itu lengkap di sana. Sedangkan di tempat yang kurang terkenal pasti sebaliknya.

Belum lagi bagi yang mengejar simbol-simbol iconic yang hanya ada di tempat aslinya. Dari tempat berlibur yang tidak terkenal, orang tidak akan tau detail tempat atau momen tertentu yang kita jepret tanpa caption yang panjang di instagram. Banyak kurangnya sih kalau kita rajin mencari-cari alasan supaya tidak bisa menikmati liburan. Tapi kita berhak menikmati liburan yang hakiki, bersama angin, melepaskan penat, lalu menangis bahagia. Cari sendiri ya tempat-tempatnya, jangan tanya penulis.

Bukan Gym Rat

Sumber : Pexels

Kayaknya sekarang ini memang lagi tranding pitnes, gym, healthy, run, otot dan segala rupa yang berbau olahraga begituan. Saya bukan bagian dari trand ini, meskipun kadang kalo dipanggil run atau sekadar jalan ya terpaksa ikut. But no, saya bukan member gym bukan pula anggota runner2an.

Tiap hari pasti ada saja kan berseliweran entah itu di depan mata kita langsung atau lewat layar gadget, mereka-mereka ini. Entah itu pengumuman marathon, iklan gym membership atau sekadar foto-foto lekuk tubuh yang membuat hayati lemah tak berdaya ingin peluk.

Menurut Wikipedia sih fitness center modern berasal dari California, jadi jangan heran kalau bau-baunya American banget (ujung-ujungnya duit). Salah satu frenchise fitness center yang terkenal, Goldgym, punyanya Amerika. Belum lagi ditambah pembuat alat kelengkapan sports seperti Nike, Skechers etc.

Bagus sebenarnya, ditengah bencana kenaikan berat badan massal dunia mereka membantu orang untuk menjadi lebih sehat. Ga seru kan kalo lari dikit sepatunya sobek atau fitness center nya berisi alat-alat karatan. Tapi, sadar atau tidak mereka actively driving this new trend.

Side effects dari yang mereka perbuat ini banyak sih. Coba iseng-iseng tanya ke para runner, mayoritas mereka pasti pernah atau sedang terkilir kakinya. Pokoknya pasti kena legs injuries lah. Tanya ke mereka juga berapa batasan maksimal jarak lari, pasti ga tau. Well kalo sering lari kan jarak berkilo-kilo pun lama-lama jadi biasa, padahalkan ada batasannya lari yang sehat itu berapa kilometer dan sesering apa. Pokoknya lari saja terus, karena kalo sering lari jam tangan tracker (murahan atau mahal an) makin laku, sepatu juga pasti jadi sering ganti.

Sedangkan di fitness center alat yang paling sering digunakan adalah cermin. Seolah otot bisa magically bikin orang jadi handsome, kasian dokter operasi plastik ya. Tiap hari para gym rat ini juga harus minum protein banyak. Saya pernah selama sebulan minum susu khusus otot gitu dan yang terjadi adalah pembengkakan disekujur diri ini, naik 10 kg. Kebayang kan gimana efeknya ke jantung, bukan skarang sih tapi tunggu saja beberapa tahun kedepan. Secara biologis juga otot yang sudah menonjol-nonjol begitu kan bisa dianggap kelainan. Ketika tubuh dipaksa untuk tumbuh bak ayam pedaging, tinggal tunggu efek negatifnya.

Bukan anti beginian sih, cuma pengen menyentil dikit tentang sesuatu yang kadang terlupakan dari dunia olahraga. BPJS bisa hemat triliunan tiap tahun kalo pola hidup kita lebih sehat. Dan berisi dikit ga berarti unhealthy, bahkan banyaaak juga yang suka tipe peluk-able. Badan ayah gula, chubby not fatty.

Marathon Nonton Film

Teman saya pernah bilang kalau di surga nanti dia pengen nonton semua film yang pernah diproduksi di dunia ini. Permintaan yang lumayan lucu dan juga mungkin akan merepotkan malaikat karna mereka harus menyensor konten porno hingga anti tuhan yang pasti ada, utamanya di film barat. Harapan beliau ini melintas begitu saja ketika layar berkedap-kedip menyala, demi film-film yang bergantian diputar.

Selama beberapa tahun belakangan ini saya pikir tidak ada film yang berkeliaran di luar sana tanpa sepengetahun diri ini. Maksudnya film yang bagus, ratingnya tinggi di rottentomato, dapat oskar atau paling tidak banyak dibicarakan. Tidak mengapa sih kalau film nya memang masuk tema yang negligible, who cares. Tapi setelah marathon beberapa film ternyata banyak yang terlewatkan. Tidak semua ada di akun youtube khusus trailer itu ternyata, ya it’s just me being lazy sih.

Ada dua film yang lumayan menyentuh hingga dua bola mata yang sedikit rabun ini basah karena perasaan daku terobok-obok. Yang pertama Nostalgia, mungkin karena sesuai dengan cuaca yang melow akhirnya kata Saudade di akhir film itu nempel di kepala selamanya. Satunya lagi Coco film dari tahun lalu, saya tidak percaya ternyata bisa juga nangis dari film animasi, ah dasar cengeng.

Film animasi buatan Pixar ini memang kualitasnya nomer wahid, kualitas Steve Jobs lah. Setting nya sesuai dengan selera Amerika (dan mungkin dunia) dengan segala yang berbau Mexico atau Latin Amerika secara luas. Lagi booming kan Taco, Despacito, hingga Tequila yang semuanya berasal dari daerah sana. Para Latinos ini juga jumlahnya sekitar semilyar dan rata-rata middle klas jadi potensi untung dari mereka juga besar apalagi bawa-bawa identitas.

Soo, I’m continuing my randomness….

Pemerintah Gagal Melindungi Rakyat Dari Bencana Alam

Pagi ini saya bangun dengan berita yang sangat mencengangkan, ternyata ada bencana tsunami lagi di Indonesia. Kali ini lokasinya tidak begitu jauh dari mama kota Jakarta yaitu di Pandeglang, Banten. Tapi yang begitu mencengangkan sebenarnya berita-berita yang muncul di mesin pencarian, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ternyata menyatakan kalau yang terjadi bukanlah tsunami. Berita-berita terbaru pun hingga saat ini bermunculan, puluhan orang meninggal dunia dan seperti biasa ujung-ujungnya lembaga ini harus menjilat kembali ludahnya sendiri.

Masih jelas diingatan saya trauma bencana tsunami dan gempa Palu yang ternyata BMKG langsung mencabut bahaya tsunami tidak lama setelah mereka mengeluarkan warning itu. Ditambah tidak adanya sirine peringatan bahkan yang lebih mengerikannya lagi adalah alat pendeteksi tsunami sudah lama mati di tengah luasnya lautan ibu pertiwi ini, kita seharusnya marah besar dengan BMKG. Marah dengan kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya sendiri dari potensi bencana.

Sejak ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita sudah sadar bahwa gunung yang tinggi menjulang di belakang ladang mereka itu bisa berubah menjadi api. Sedangkan lautan yang penuh dengan ikan dan mutiaranya bisa menjadi sapu raksasa yang membersihkan rumah dan nyawa-nyawa di pesisir pantai. Kita sudah sadar akan adanya bahaya, tapi pemerintah seolah punya prioritas lain. Untuk apa jalan tol panjang lebar melingkar kalo toh nanti hujan dikit, digoncong gempa dikit ambles, rusak parah. Untuk apa pelabuhan mewah kalau nanti harus banyak orang yang meregang nyawa di pantai ketika gelombang besar tak terdeteksi datang menerjang. Rugi dua kali kita, sudah ngutang, habis pula jejak-jejaknya.

Betapapun demikian, kemarahan kita haruslah konstruktif. Kapan saja ketemu anggota dewan atau politisi ngetop bilang ke mereka tambah anggaran BMKG. Tambah anggaran untuk mitigasi bencana, tekan pemerintah untuk lebih perhatian. Tidak apa kita utang saja beli pendeteksi tsunami yang katanya mahal hingga beli satelit khusus cuaca. Seperti pembelian beberapa pesawat pemadam yang belum lama ini diumumkan tentara, kita harus punya alat-alat lengkap.

Sebagai rakyat kita juga harus peka. Jangan seperti orang di berita baru-baru ini yang menemukan kantong-kantong mayat di galian bangunan rumah mereka. Ribuan rumah dipinggir pantai yang rata tanah kini di Aceh sana padat kembali, seolah mereka lupa ancaman aktif dari lempeng di bawah samudra Hindia. Lalu dengan adem-ayemnya mulai membangun rumah tanpa kengerian itu. Kita yang begitu melek teknologi ini bahkan untuk membaca tips-tips mitigasi bencana alam di hp pun tidak. Ah Indonesia.

Rehat

Ijinkan aku berlibur di relung-relung tanya

Macet bayangan-bayangan riuh antara realita dan swarnadipa

Yang awan kahyangannya dari kenalpot menuju sapaan-sapaan rindu rupa

Syair bertengkar di ruang sempit di tepi lega yang menjulur ke alam arwah

Mengisahkan perang pandawa lawan jalan protokol kol kol sayur

Lupa cermin lalu ingat kaca depan yang krik krik bergores angin

Tumpah semua itu kosong di perjumpaan sesaat sejenak sudah

The Power of Emak-Emak Yang Kurang Melek Politik, Bahaya Loh

Sumber : Pexels

Ada fenomena baru di pemilu Indonesia kali ini yaitu Emak-Emak. Secara sederhana istilah emak-emak ini digunakan mewakili kaum perempuan Indonesia, karena semua perempuan itu ibu atau calon ibu dan tentu punya ibu. Pemilihan istilah emak dari bahasa Jakarta (Malayu) yang sebenarnya berarti ibu, sepertinya agar punya unsur keceriaan dan terasa lebih fleksibel. Dibanding menggunakan isitilah ibu, karena akan terkesan formal dan terlalu sensitif. Meskipun styrotipical, jenis emak-emak seperti yang biasa muncul di layar televisi itu ada di masyarakat dan lumayan menjual ketika digunakan dalam kampanye.

Para ibu ini memang dalam politik Indonesia modern tidak begitu terwakili. Mereka pernah menempati berbagai posisi mulai dari kepala desa hingga presiden, tapi tetap saja proporsinya tidak sesuai dengan populasi kaum perempuan secara keseluruhan. Sehingga terpaksa di DPR pun harus muncul sistem kuota wajib bagi perempuan, yang ternyata sangat susah dipenuhi partai. Padahal keterwakilan mereka sangat penting. Sebuah negara demokrasi tidak akan mungkin berjalan secara mulus dengan mengabaikan setengah dari populasinya. Mereka adalah bagian penting dari ekonomi, bahkan merekalah yang mengelola ekonomi secara harfiah (ekonomi = keuangan rumah tangga).

Yang sangat mengherankan adalah meskipun mereka rajin datang ke TPS dan secara statistik overwhelmingly pasti milih. Tapi mereka tidak begitu mengikuti berita politik seperti kaum lelaki, apalagi ikut ambil bagian dalam politik seperti menjadi anggota DPR. Secara kasat mata saja, hal ini jelas terlihat diacara televisi politik paling terkenal di Indonesia yaitu ILC. Mayoritas dan selalu, narasumber atau hadirinnya adalah kaum lelaki dan yang serius hingga berasa-asap nonton di rumah adalah kaum lelaki pula. Untungnya fenomena dominasi kaum lelaki seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi di seluruh dunia.

Penyebab mengapa mereka tidak begitu melek politik meskipun tinggal di negara paling demokratis sekalipun, sepertinya banyak. Di dunia binatang seperti Singa yang kerja keras mencari mangsa dan merawat babies adalah para betina pairaan raja. Tapi sang raja lah yang memimpin dan begitulah hukum alam yang berlaku, sehingga mungkin faktor genetik sangat berpengaruh. Politik jika dirunut kebelakang dalam sejarah manusia memang merupakan sistem patriarki, jumlah suku matrilinear dengan kekuasaan penuh di tangan perempuan pun bisa dihitung dengan jari di dunia ini. Bahkan pada suku yang menganut sistem demikian, para lelakilah yang sebenarnya menjalankan pemerintahan.

Perempuan baru diberi hak pilih lama setelah kaum lelaki dan bahkan ketika sudah bisa memilih pun mereka masih dilarang dipilih, tidak heran jika politik seolah hanya diperuntukkan bagi lelaki. Mungkin film yang cukup memberi gambaran bagaimana perjuangan perempuan di dunia politik adalah The Iron Lady dan The Queen (atau The Crown di Netflix). Perjuangan dua wanita Inggris dari bawah dengan pengalaman awal yang minim dan kebiasaan lama yang sangat rigid.

Bagi mereka, politik akan sangat melelahkan. Para ibu harus mengurangi peran mereka di rumah sebagai emak, karena menjadi politisi adalah profesi yang jam kerjanya 24/7. Perdana Menteri New Zealand baru-baru ini menjadi viral ketika menyusui bayinya di PBB. Belum lagi dengan drama politik baru setiap hari yang akan menguras pikiran dan tenaga dan bahkan beresiko tindakan kekerasan fisik bagi yang ikut-ikutan ambil bagian. Yaah mungkin para ibu suka dengan drama, tapi drama yang di layar kaca bukan drama beneran yang taruhannya terlalu besar.

Tapi efek negatif dari kurang melek politik ini akan sangat berbahaya. Para perempuan kulit putih Amerika contohnya, pada pilpres 2016 mayoritas mereka memilih Trump. Bayangkan kalau para emak-emak di seantero Indonesia memilih berdasarkan harga tempe, tanpa mempertimbangkan berbagai aspek lain secara luas. Atau karena satu pasang calon tertentu ganteng, sering muncul di iklan Pertamina dst. Karena pemilih yang tidak begitu tau banyak informasi akan sangat mudah diarahkan, dimanipulasi dengan hal-hal sepele namun terstruktur dan sistematis.

Ala emak kawinkan aku….