Quotes From My Phone

Iklan

Menahan

Menahan itu bak dam besar, mengumpulkan aliran yang biasanya bebas saja lewat, lalu memuntahkannya dengan pasti sedikit-demi sedikit, pada baja-baja besar yang menghasilkan lampu, pula menjadi sumber penghapus dahaga orang sekota, mengandung ribuan karamba dipermukannya

Menahan itu bak jangkar, tidaklah sebesar kapal, tapi sungguh ia tidak akan membiarkan, sehingga ombak tersipu malu lari kepantai, menceritakan pada pasir bahwa ada seutas tali dan segenggam besi

Menahan itu pekerjaan luar biasa, belajarnya setiap saat, ujiannya tak terhingga, materinya bervariasi, hanya yang menahan yang bisa

Sedikit Tentang Politik Malaysia

Dulu sekitar tahun 2009 saya pernah mantengin siaran TV3 msia (Malaysia) bukan demi Upin-Ipin loh ya karena menang waktu itu belum booming haha, mirip-mirip TVRI nya Indonesia lah cuma agak keren sikit. Yang saya ingat banget sampai saat ini sih lagu Satu Malaysia, penuh semangat dan kebersamaan. Namun, ternyata setelah saya ingat-ingat lagi lagu itu diluncurkan bersamaan dengan pergantian perdana menteri Malaysia.

Bertahun-tahun berikutnya karena kepo dan gabut di kosan pas masih kuliah saya iseng-iseng nyari di YouTube video-video politik di Malaysia. Seru juga ternyata politik mereka, penuh silat lidah gaya Melayu, sikut-sikutan. Karena bentuknya parlementer jadi mereka sering debat. Bahkan PMnya sendiri harus datang ke parlemen untuk dimintai keterangan, beliau juga anggota parlemen. Meskipun kalau diperhatikan jawaban mereka biasanya kesana kemari saja, sak ena dewe, tapi kadang panas juga.

Pergantian PM pada 2009 itu adalah dari Abdul Ahmad Badawi (Pak Lah) ke Najib Razak. Beliau, telah berhasil terpilih menjadi pemimpin tertinggi partai United Malaysian National Organization (UMNO), partainya orang Melayu yang memimpin koalisi Barisan Nasional (BN). Koalisi multi partai dengan background multi etnis dan juga multi region yang dimotori UMNO. Malaysia Timur yaitu Sabah dan Sarawak masing-masing punya partai lokal sendiri dan tidak berbentuk kerajaan seperti yang berada di semenanjung. Jadi, partai orang asli atau pribumi di Timur bergabung kedalam BN. Jadilah koalisi BN berhasil menguasai Malaysia sejak dibentuknya federasi, lebih sukses dari partainya Shinzo Abe. Sang perdana menteri baru waktu itu punya program yang diberi nama 1Malaysia.

Najib, waktu itu, mendapat bekingan sang legend, Mahatir (Dr. M). Mantan perdana menteri yang dielu-ulukan sukses mengantarkan Malaysia menjadi negara makmur. Beliau mengundurkan diri setelah menjabat selama puluhan tahun, lalu mendukung pak Lah menggantikannya menjadi PM setelah sebelumnya menyingkirkan dan menjebloskan Anwar Ibrahim mantan wakilnya sendiri ke dalam penjara dengan tuduhan sodomi. Salah satu alasan Dr. M mendukung Najib karena pak Lah dituduhnya korup dan juga beliau tidak meneruskan proyek-proyek yang digagas Dr. M.

Anwar yang dipecat DR. M mendirikan partai oposisi yaitu Partai Keadilah Rakyat (PKR). Meskipun pernah merasakan jeruji besi, Anwar berhasil menggabungkan kekuatan oposisi kedalam koalisi Pakatan yang terdiri dari berbagai partai multi etnis bahkan juga termasuk musuh lama UMNO yaitu Partai Islam Semalaysia (PAS). Pada pemilu 2013 mereka berhasil memenangkan popular vote namun kalah jumlah anggota parlemen dari BN. Selama masa kepemimpinan Najib, Anwar merupakan tokoh oposisi yang terkuat.

Kesuksesan BN ternyata terhenti di tahun 2018 ini, Melayu Tsunami berhasil menyapu benteng-benteng kokoh lumbung suara BN. Johor sebagai tanah kelahiran UMNO pun jatuh ketangan Pakatan. Banyak faktor kumulatif yang membuat BN kalah telak di pemilu 2018.

Faktor utama berada pada lingkaran kecil Najib sendiri, yaitu beliau dan istri keduanya Rosmah. 1MDB (one emdibi) proyek investasi bagian dari slogan 1Malaysia nya ternyata malah diselewengkan dan masuk rekening pribadinya. Kasus ini menjadi isu internasional, bahkan kejaksaan Amerika turun tangan dan membekukan dana 1MDB yang ada di Amerika. Namun, banyak lagi kasus korupsi Najib yang lain bukan 1MDB saja. Yang menarik adalah sosok istri Najib yaitu Rosmah, beliau dikabarkan suka dengan kehidupan glamor, berfoya-foya dengan uang negara sehingga menjadi simbol kebencian masyarakat terhadap rezim Najib. Dengan begitu kuatnya goncangan, Najib tetap tidak goyah dan melanjutkan pemerintahan. UMNO dan BN tetap mendukungnya, semua pihak yang dianggap mengancam dibersihkan dari pemerintahan. Termasuk wakil PM, gubernur bank sentral, jaksa agung dll.

Secara lebih luas memang rezim BN menjadi enabler cronyism, apalagi feudalism masih lengket dengan Malaysia karena sistem kerajaan. Meskipun sudah dibatasi, tetap saja para sultan dan raja memiliki kekuasaan yang masih kuat di sana. Para politisi UMNO dianggap sangat korup dengan memanfaatkan kekuasaan mereka yang langgeng. Nepotism merajalela, Najib sendiri merupakan anak dari PM kedua Malaysia, dalam kabinet beliau misalnya ada sepupunya sendiri anak PM ketiga yaitu menteri pertahanan dan juga ada menantu pak Lah. Bahkan DR. M pun tidak lepas dari isu ini, anaknya merupakan salah satu orang terkaya di Malaysia. Masyarakat pun akhirnya muak. Seharusnya pemilu 2013 menjadi wake-up call bagi Najib, UMNO dan BN.

Oposisi pun hadir dan menawarkan narasi-narasi pembaruan terhadap sistem yang sudah usang tersebut. Anwar berhasil membangun partai oposisi besar penentang UMNO. Beliau juga dibantu istrinya yang turun langsung menjadi ketua PKR ketika Anwar masuk bui. Tidak ketinggalan anak pertama Anwar pun ikut ambil bagian di partai tersebut.

Dr. M sudah disingkirkan Najib dari kekuasaan dengan menyingkirkan pendukung-pendukungnya di UMNO dan dari kabinet. Beliau sudah tidak punya lagi kekuatan untuk mendesak Najib turun dengan cara memengaruhi UMNO. Maka akhirnya beliau pun mendirikan partainya sendiri, keputusan yang sepertinya berat bagi beliau yang lama berada di UMNO dan turut membesarkannya juga. Beliau pun rujuk dengan Anwar dan berkoalisi melawan Najib. Diakhir-akhir sebelum pemilu partai beliau dilarang ikut dan akhirnya harus maju lewat PKR dan karena Anwar masih dipenjara (lagi), maka DR. M muncul sebagai simbol pembangkang (oposisi). Namun, beliau yang sudah sangat uzur tersebut berjanji akan segera meletak jawatan dan mempersilahkan Anwar menjadi PM.

Alasan ekonomi juga menjadi sorotan Dr. M, utamanya utang yang membengkak dan investasi dari China. Selama era Najib, utang Malaysia terus tumbuh dan investasi dari China terus berdatangan. Investasi yang jauh lebih besar dari investasi China di negara tetangga sekaligus sekutu mereka Pakistan datang dengan pekerja asing dan juga lokasi-lokasi yang dikelola oleh China sehingga sangat mudah digoreng untuk melawan Najib. Selain itu, najib juga punya program tax untuk menambal belanja negara yang oleh oposisi dijanjikan akan dihapus. Sementara utang Malaysia meskipun ratingnya masih bagus namun dari tahun ke tahun semakin meningkat saja.

PAS juga berhasil mempertahankan kekuasaan mereka di Kelantan dan merebut Selangor dari BN. Meskipun menjelang pemilu terdapat friksi di internal PAS dan keputusan partai untuk tidak bergabung di kedua poros. Mereka menjadi alternatif bagi warga Melayu yang kecewa dengan UMNO. Sehingga ada juga yang menyebut tsunami hijau melanda Malaysia.

Terlepas dari shock tsunami yang baru saja terjadi, pemilu teranyar Malaysia membuktikan bahwa demokrasi di sana berjalan sebagaimana mestinya. Kerajaan pun langsung melantik pemenang pemilu. Angin perubahan berhembus, sedangkan Melayu tidak lagi kena tipu UMNO. Tapi, sistem rasial nampaknya tidak akan dihapus begitu saja. Najib out, pesawat dicegat, jeruji besi menunggu.

Selamat datang perdana menteri berdarah India, wakilnya yang berdarah China dan pemimpin oposisi yang berdarah Jawa.

Istilah Millennial Kurang Cocok Dipakai di Indonesia

Istilah millennial telah menjadi istilah pasaran di Indonesia yang digunakan untuk satu kelompok usia tertentu yang secara kasar merujuk kepada para anak muda saat ini (jaman now?). Sepertinya memang istilah ini sangat membantu bagi berbagai kalangan untuk menjelaskan berbagai hal.

Dunia bisnis menggunakan kelompok usia tersebut sebagai target market, apalagi katanya mereka adalah penggerak dunia virtual yang serba viral. Para politis berusaha merebut suara mereka, bahkan ada partai yang mengaku sebagai representasi kaum millennial di negara ini. Sedangkan para orang tua melihat mereka sebagai generasi baru yang tidak bisa lepas dari gawai. Mereka semua menggunakan istilah millennial dengan segala cap tersebut.

Tapi, istilah millennial menurut saya merupakan istilah yang tidak bisa dilepaskan dengan negara Amerika Serikat tempat kalahirannya dan secara lebih luas negara-negara barat. Selain fakta bahwa kata itu juga masih dalam bahasa Inggris belum diubah kedalam bahasa aneh-aneh lucu (seperti daring, gawai, unduh etc). Keterikatan kuat makna kata millenial dengan Amerika dikarenakan faktor demografi khas Amerika.

Jika melihat sejarah Amerika, maka jelaslah istilah ini digunakan untuk generasi yang lahir pada dekade 80an hingga 2000an awal. Sebelum generasi ini terdapat generasi X yaitu generasi antara tahun 60an hingga 80an awal. Lalu sebelumnya ada generasi baby boomers, generasinya Bill dan Hillary Clinton, Bush Jr, Trump dst, generasi yang lahir setelah perang dunia kedua. Ketika itu terjadi ledakan pertumbuhan penduduk karena Amerika menang perang, mereka menjadi negara paling makmur di dunia dengan program padat karya dst.

Sedangkan di Indonesia ketika mereka mengalami boom kita masih kacau balau dengan invasi Belanda, parlemen gonta-gantik like a girl changes her clothes, pemberontakan hingga pe kak i. Sementara mereka sudah mulai mengenal komputer di Amerika tahun 80an kita di Indonesia tengah asik menikmati kediktatoran orde baru dengan program mereka seperti KB. Siaran TV saja waktu itu cuma satu mau dibandingkan dengan generasi personal computer yang lagi booming di Amerika.

Yang menurut saya paling getol menggunakan istilah ini sebenarnya media, termasuk media di Indonesia. Artikel-artikel hasil kopi paste dari media Amerika mereka jadikan sebagai bahan bacaan orang Indonesia. Padahal sesuai sejarahnya yang khas di Amerika itu, membaca millennial Amerika dan meyetarakannya dengan millenial Indonesia adalah tidak tepat. Misleading, jauh panggang dari penggorengan, abal-abal, kurang kompeten.

Akan sangat lucu, di Amerika ketika para anak muda yang baru lulus terbebani dengan utang yang banyak di Indonesia tidak ada sistem student loan. Ketika mereka begitu shock dengan para sarjana yang balik ke rumah orang tua mereka, tidak ada budaya ego tinggi keluar rumah setelah dewasa di Indonesia. Ketika mereka tidak membeli mobil, di Indonesia malah penjualan mobil lagi tinggi-tingginya. Kepemilikan mobil di Indonesia sekarang ini berarti status sosial yang lebih tinggi sedangkan di sana anak SMA saja hadiah ultahnya mobil. Banyak stereotypes millennial Amerika yang tidak pas di Indonesia.

Bagaimanapun kita tidak bisa memisahkan istilah millennial dari cap melek teknologi, hal ini yang bisa menghubungkan istilah millennial Indonesia dan barat. Meskipun sekarang ini yang usia 40an juga banyak yang sudah melek teknologi.

Where Are You? Busy Enjoying The Moment

They ask where are you

While you are not disappearing let alone want to be lost

What they cannot find are your posts from their screens

You just stay away for a while

Look to the open sky above pretending like a telescope wondering about how small

Wash pile of clothes that are wrestling with each other in the smell and then smile after they neatly folded

Clean up the corners that only been a silent witness to our dramas

Visit neighbors next door to exchange our respective life stories not only fake smiles like usual

Collect sea glasses that have been crushed by the waves on the beach bring em home for decoration

Eat from my own barely eatable cooking while relaxing from the tiredness of the cooking process

Chill seaking too

Ironi

Ketika ia bertanya apa obat sesak napas, yang aku lirik adalah rokok di tangan kanannya

Semua siaran tv tak mendidik katanya, oh sejak kapan tv menjadi sekolah

Kemarin malam kita mengeluhkan purnama yang tidak begitu terang, tidak ada diantara kita berdua yang mematikan lampu teras

Aku menuduhnya pikun, menceritakan hal yang terlupakan merupakan pekerjaan yang amat berat kecuali jika kacamata yang hilang itu masih bertengger diatas kepalanya

Karena ia mencintai burung maka disimpannya burung itu dalam sangkar, hmm pasti burung itu tidak mencintainya

Mereka menghabiskan beberapa bulan untuk mengajarinya berjalan, bertahun-tahun berikutnya mereka selalu melarangnya jalan-jalan

Untuk jadi rentenir yang sukses yang kau butuhkan adalah optimisme tingkat tinggi

Mereka memuji-muji diriku sebagai anak baik, tuhan yang maha menyembunyikan dosa kita semua

Setelah kaos pesanannya sampai ia membatin, kenapa mas-mas gantengnya ga ikut dipacking

Mereka bingung anak sekarang kurang suka nonton acara gosip, mari gabung jadi pembaca setia komen-komen di media sosial

Indonesia Butuh Dosen Impor

Pemerintah berencana mengimpor dosen demi meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Agak sadis juga sih kalo menggunakan istilah impor, dosen itu manusia bukan barang kan. Sebagai negara yang sangat nasionalis kebijakan ini akhirnya harus terpaksa diambil pemerintah. Pasti akan banyak penolakan, kalo ekspor mah kita bangga.

Faktanya adalah meskipun sudah meningkat, kualitas pendidikan utamanya pendidikan tinggi di Indonesia memang masih sangat jauh tertinggal. Secara kasat mata hal ini bisa dilihat dari peringkat dunia perguruan tinggi Indonesia yang tidak pernah muncul dalam daftar seratus besar dunia, kalah jauh dari negara jiran Singapore bahkan dengan Malaysia pun masih kalah.

Banyak faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah, salah satu yang paling utama ya kualitas pengajar dalam hal ini dosen. Indonesia tidak kekurangan dosen lagi seperti dulu, bukan jumlahnya. Bukan pula pendidikan mereka, banyak yang sudah bergelar doktor. Tapi yang kurang adalah kualitas dosennya.

Kualitas seorang pengajar ditentukan dari kemampuan dia mentrasfer ilmu ke siswanya. Tapi untuk mentrasfer ilmunya sang pengajar harus benar-benar paham betul apa yang ia ajarkan. Agar paham, maka sang pengajar harus terlebih dahulu belajar, dan belajar adalah proses panjang yang tidak pernah berhenti. Bagi dosen, proses belajar yang amat penting sebenarnya adalah penelitian. Mereka harus terus melakukan riset dengan menerapkan ilmu yang telah dipelajari dan kemudian mempublikasikannya agar dijadikan sumber referensi dan juga diperdebatkan.

Nah, dosen yang rajin riset di Indonesia supply nya langka, paling yang tersedia dosen multi kampus atau dosen pejabat gaya ningrat yang dua-duanya UUD (ujung-ujungnya duit). Karena katanya honor di kampus asal kecil, para dosen multi kampus terpaksa menyasar kampus-kampus ruko. Waktunya terbagi, mahasiswanya banyak, bahan kuliah yang diajarkan juga tidak disiapkan dengan matang. Riset? Ga sempat. Apalagi yang senior bak ningrat, egonya setinggi pohon kelapa, jadi kepala prodi atau dekan dst dikit gayanya sudah seperti birokrat jaman kompeni, lirik-lirik proyek ujung-ujungnya berjaket orange ala KPK padahal udah professor. Riset ga sempat dan lebih miris lagi kayaknya sih ga bisa riset, hahaha.

Soal dosen lulusan luar negeri sebenarnya di Indonesia ada banyak. Cuma ya kalo orang Indonesia lagi kan yaah, apalagi yang sarjananya di Indonesia. Banyak perguruan tinggi beken di barat yang tidak mempekerjakan lulusannya sebagai dosen. Alasannya agar keilmuan itu tidak muter-muter di situ saja, biar ada perspektif lain.

Soal price, gaji di Indonesia yang sepertinya tidak kompetitif juga kurang relevan dijadikan alasan atau bisa diakali. Biaya hidup di Indonesia kan bisa relatif lebih rendah, jadi nawar dikitlah ke mereka. Apalagi sekarang ini sudah banyak kelas internasional (kelas mahal) para dosen impor itu sebaiknya ditempatkan di kelas seperti ini. Selain masalah gaji yang bisa disesuaikan mereka pun tidak perlu pusing dengan masalah bahasa.

Ilmu pengetahuan seharusnya memang tidak mengenal batas imaginer negara bangsa. Kalo buku-buku karya orang asing nun jauh di sana saja kita jadikan textbook, riset mereka kita jadikan rujukan, kenapa tidak sekalian orangnya juga kita bebaskan menjadi dosen di sini demi kualitas pendidikan kita yang lebih baik.