Ketika Israel Menjadi Goliath

Ilustrasi : Businessinsider

Saat membuat tulisan ini saya tidak sedang mengiayakan apa yang ditulis dalam sebuah buku yang judulnya kurang lebih sama dalam bagaimana para penulis buku itu memaknai berbagai pencapain negara Israel. Yes, faktanya adalah Israel berhasil dalam berbagai hal. Mereka menjadi salah satu negara dengan teknologi militer tercanggih di dunia yang awalnya hanya dibantu Inggris dan kemudian Amerika, kini mereka menjadi eksportir senjata dan rumornya sih punya NUKE. Israel merupakan satu-satunya negara demokrasi yang paling maju di Timur Tengah dengan perusahaan-perusahaan teknologinya yang sekelas Silicon Valley, juga keberhasilan mereka menyuburkan kembali gurun-gurun pasir, surplus air bersih dan banyak lagi pencapaian lain.

Sementara itu, saudara dekat mereka secara genetics yaitu (Arab) Palestinian yang tinggal tidak begitu jauh dari pemukiman-pemukiman mereka berada dalam kondisi yang teramat berbeda. Meski pun sebenarnya di Israel sendiri terdapat orang Arab Palestina dalam jumlah yang signifikan namun tentu saja mereka berbeda dengan warga negara Palestina.

Warga Palestina baik yang berada di Tepi Barat maupun jalur Gaza sangat jauh dari berbagai pencapaian Israel tersebut, sampai-sampai hal-hal basic seperti air minum dan listrik pun mereka harus bergantung pada Israel. Kita bisa berdebat bahwa berbagai ketertinggalan Palestina itu akibat dari berbagai upaya Israel, tapi faktanya adalah Palestina tertinggal.

Sehingga dengan kondisi yang seperti itu dengan mudahnya kita dapat membuat persamaan dengan figur familiar yang dikisahkan ajaran Abrahamic yaitu Goliath dan David dalam bentuk dua negara yaitu Israel dan Palestina. Terlepas dari berbagai analisis yang mencoba mereka-reka bagaimana sebenarnya kedua figur itu jika tanpa berbagai mitos yang membungkusnya seperti kemungkinan bahwa Goliath sebenarnya punya kelainan sehingga tubuhnya menjadi tinggi tapi sebenarnya lemah sehingga mudah saja dikalahkan.

Jika mengambil persamaan tersebut maka esensi kekalahan Israel, sama seperti Goliath adalah pada diri mereka sendiri. Lihat saja berita mengenai pemgambilalihan secara paksa rumah-rumah warga Palestina untuk dijadikan pemukiman dan berbagai kebijakan diskriminatif-profokatif serta berbagai kebijakan lain yang menunjukan konservatis kanan semakin menjadi-jadi di sana.

Bayangkan saja, koalisi negara-negara Arab saja berhasil dikupul mundur berkali-kali oleh Israel apalagi cuma roket-roket recehan Hamas. Bisa hancur lebur Hamas bahkan Gaza bisa dihapus dari map oleh Israel. Dengan segala keterbatasan yang mereka alami dan mungkin mereka buat-buat sendiri seperti roket-roket buatan Hamas yang ditembakkan dari sekolah dst, maka David yang kecil itu nampaknya tidak akan muncul dari tanah Palestina.

Namun, sejak terbentuknya negara Israel tahun 1948 munculah satu komunitas baru yang telah kehilangan tanah air mereka yaitu diaspora nya Palestina. Mereka yang tinggal di negara-negara Arab maupun Eropa dan diseantero dunia termasuk di Amerika Serikat. Jika mereka berhasil seperti diaspora Israel di Eropa dan Amerika, maka mereka bisa memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap tanah air mereka. Sama seperti apa yang telah dicapai diaspora Israel diseluruh dunia utamanya di Amerika Serikat yang sangat berpengaruh terhadap kebijakan negara tersebut terhadap Israel.

Mungkin terlalu kacau jika membayangkan suatu saat nanti orang-orang Palestina itu akan perang dengan Israel, perang cyber atau perang ekonomi dengan boikot-boikotan. Tapi lebih dari itu sebenarnya, sang David itu harus membuktikan pada dunia kalau mereka bisa bangkit dan menjadi bangsa yang jauh lebih baik dari saat ini. Bagian dari bangsa Arab yang tidak lagi dirundung konflik, yang terdidik dan berpikiran terbuka, yang maju secara ekonomi tanpa sumberdaya alam yang melimpah pokoknya persis seperti apa yang dimiliki Israel saat ini.

Ilustrasi : Vox

Mereka harus mendukung anak-anak mereka menjadi intelektual, ilmuan, pebisnis dst bukan tukang lempar batu ke tank Israel. Termasuk pula menjauhakan mereka dari pengaruh jihadis Hamas dan setara Ikhwanul Muslimin lain yang sukanya politik melulu atau kalau tidak berkutik malah bikin gaduh dengan aksis terorisme. Sehingga musuh utama warga Palestina adalah ketertinggalan mereka sendiri dan kemenangan mereka nantinya bisa seperti kemengan Israel saat ini.

Secepat Kilat

Akhir-akhir ini nampaknya suatu bagian di otaknya telah secara otomatis menyortir berbagai informasi untuk lenyap begitu saja dalam sekejap. Tidak lama setelah orang baru menyebutkan nama di depan wajahnya entah angin apa yang telah membawa nama tersebut untuk hilang begitu saja. Lebih dari itu, nama orang yang sangat familiar baginya pun susah untuk secara otomatis dia muntahkan.

Tidak berhenti di situ, tentu dia lupa akan berbagai hal-hal entah penting atau tidak lainnya.

Ia mendapati dirinya lupa lagi tentang siapa yang tengah tergeletak di dapur rumahnya.

Siapa yang akan mengingat kematiannya sendiri.

Bandara Hilang Waktu

Maka ia turun dari pesawat sore itu. Melihat ke kanan dan ke kiri, sungguh panas belum beranjak dari kebisingan bandara. Seketika itu juga ia mendengar seorang ibu bertanya pada seorang pemuda yang berada di sampingnya.

“Permisi mas, ini udah jam berapa ya ?”

Segera pemuda itu melihat ke jam tangan digitalnya yang berwarna hitam entah model apa itu.

“Oh, maaf bu kayaknya jam saya mati.”

“Wah, terima kasih mas.”

Dan akhirnya dia bisa tersenyum bahagia pulang ke rumahnya dengan satu keputusan bulat bahwa smartphone saja cukup.

Edisi Gak Bisa Tidur Di Akhir Ramadhan, Sebuah Renungan

Suara-suara hilang, lelah letih melengket pada bantal

Mata tak bisa diajak lenyap dalam keheningan, kepala tak henti-hentinya denyutkan sandiwara jiwa

Antara ideal dan kenyataan, ia berbaring tengkurap dan mulai meraba-raba keyboard

Ada dimanakah keharusan berhenti

Sehingga pelik, sehingga juga hilang dalam syair-syair kekacauan

Bertanya tentang hari kemarin, menjawab masa depan tanpa mesin waktu dan memori yang lengkap serta reka-reka yang luput lemah

Maka munculah satu demi satu gambar yang berisikan awal dan akhir di titik-titik ketidakmampuan untuk menyimak

Semua indera yang hanya bisa melongo tak merespon akhirnya memberikan kedunguan abadi

Malam pun bercerita tentang bagaimana ia meninggalkan sore tadi dan hendak berjumpa subuh nanti

Bahwa sekejap mata pun perlu terhitung, apalagi berpindah-pindah emosi itu

Jangan Mati Dulu

Tulisan ini untuk setiap jiwa-jiwa yang hilang di luar sana, yang mungkin beberapa jam yang lalu dalam pikirannya tinggal mati saja. Untuk yang terjebak dengan seribu satu derita dunia yang tiada akhirnya, bahkan sakitnya pun tidak terasa lagi sehingga sakit yang paling tak terhingga itu ditelannya pun jua.

Sulit dimengerti memang, bahkan bagi orang-orang yang setiap hari berada disekitar pun akan kaget dan tidak percaya. Keluarga, kerabat, sahabat, teman dll itu masih akan terkaget-kaget ketika melihat tubuh kaku tak bernyawa orang yang mereka kenal selama ini, mungkin akan bertanya-tanya apakah sebenarnya mereka tahu atau tidak dengannya. Bagaimana yang selama ini terlihat ceria, tidak pernah mengeluh, selalu berpartisipasi dll tiba-tiba menghilang, menghilang dari kehidupannya sendiri.

Mungkin mereka yang memilih untuk melakukannya juga bisa jadi tidak percaya kalau mereka benar-benar sanggup melakukannya. Hanya orang yang tidak ‘normal’ yang mau mengakhiri hidupnya, memang sih ini masalah psikologis yang harus ditangani secara profesional. Yah faktanya setiap hari ada saja yang mati bunuh diri di berbagai pojok dunia ini.

Badai pasti berlalu katanya tapi badai besar dalam sekedip mata pun bisa menghancurkan sehancur-hancurnya dan lebih unik lagi dalam kehidupan manusia ini, kadang badai itu bertahan terlalu lama hingga yang terkuat pun lesu. Tapi, orang punya banyak alasan untuk mengakhiri hidupnya, banyak kisah yang begitu unik dan tidak terpikirkan meski pun tema-tema besarnya masih itu-itu saja.

Masalah cinta, keuangan, kesehatan, dll biasanya menjadi penyebab utama, bahkan ketiga topik itu bisa menjadi satu alasan sekaligus, seru banget kan. Sudah putus cinta, uangnya habis, penyakitnya tak sembuh-sembuh, mungkin ada yang begitu. Ada pula yang tiba-tiba saja, tiba tiba hari itu nilai uasnya jelek, tanpa sengaja hari itu dia terlambat penerbangan, saham yang dia miliki bertahun-tahun dalam sehari rontok serontok-rontoknya, cekcok dan tiba-tiba memutuskan untuk loncat dari apartemen temannya karena merasa dituduh yang tidak benar dst.

I have been there before di titik terendah dalam hidup, beberapa dan bahkan mungkin ada lagi. Dan tentu saja senyum-senyum sendiri dalam diri ini bahwa sampai at this point masih hidup padahal kan gampang tinggal ke apotek beli beberapa macam obat and minum sekaligus, atau sekalian beli racun tikus, lari ke tengah jalan, loncat dari gedung tinggi dll.

Bagaimana pun, mengakhiri hidup tidak akan mengakhiri masalah percintaan, tidak akan mendatangkan uang dan tidak menyembuhkan penyakit tetapi menjemput sakit yang terakhir. Begitulah faktanya, yang sayang sekali tidak bisa dilihat langsung mereka yang telah tiada atau telah hilang dari logika mereka sebelum memutuskan untuk bunuh diri saja.

Ada banyak orang yang punya alasan yang sama dan bahkan lebih parah lagi di dunia ini untuk menghabisi nyawanya sendiri, tingkatan parah yang tidak bisa terbayangkan dalam bergai kadar dan bentuk we are all suffering. Meski pun yaah hahahaha dunia ini tidak adil at least menurut standar manusia biasa.

Karena barusan saya habis nonton 30an menit pidato Zuckerberg di Harvard dengan kuota telkomsel yang begitu berkesan di benak dan di kuota, saya merasa diingatkan kembali dengan konsep higer purpose, tujuan yang mulia yang lebih tinggi. Mungkin di agama seperti agama saya ya orang-orang akan langsung ingat ayat tentang wama khalaktul itu. Bahwa hidup ini begitu mulia.

Catatan Ngangkang Terhadap Warisan Afi Nihaya Faradisa

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam.

*Bagi yang beragama Islam, terlahir di sebuah negeri dari pasangan dengan agama tertentu bukanlah hal yang kebetulan tapi takdir yang harus dijalani.

Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

*Pertanyaan ini seolah bertanya kepada tuhan, entah tuhan yang mana yang dia tanyai, tapi dengan menjawab sendiri ​​​​​​​​”tidak” di belakang tanda tanya, kita bisa menyimpulkan siapa tuhan yang dia maksud itu.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

*Ya, cuma punya satu pilihan sih dari lobang mana akan lahir, hahaha.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

*Mari berandai-andai, karena situ suka sekali berandai-andai, ada loh negara yang pake sistem kalau lahir di situ diakui anak itu sebagai warga negara, jadi tidak selamanya diwariskan, nama itu pemberian adapun nama belakang atau keluarga tidak semua pakai, contohnya ya kamu yang dari Jawa tidak pakai marga.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

*Ciye tegang, hahaha. Tidak bersitegang karena tahu? Padahal disebutkan “untungnya”, sungguh dikau wahai gadis mungil penuh dengan kontradiksi.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

*Anti bela negara dong, mesti dijadiin duta bela negara nih hahahaha. Kalau anda sering baca, pasti sering nemu kalimat-kalimat macam ini, saya ragu dengan kemampuan anak ini bikin sendiri, Ehm, di salah satu fotonya kan ada tuh foto bareng buku2, dasar tukang kopas. Memang kita tidak pernah bisa memutuskan ketika dilahirkan, lah memang masih bayi kok, mana tau kita soal status-status macam tuh. Wait, kenapa ga sekalian kelamin? Biar sekalian greget gitu hahahaha.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. 

*Oleh siapa? Kasih bukti (bukan janji ehh hahahaha). Kalau benar ya orang tuamu bener neng, eh tapi kan masih bayi? How can sih bayi ngerti, oh iya kamu kan anak ajaib sipsip.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

*Saya juga kasihan. 

Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

*Yup, begitulah cara kerja agama selama beribu-ribu tahun jauh sebelum engkau menulis status kurang asemmu ini.

Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

*Bayangkan aja terus neng, sampe puas. Ada sih agama yang jarang-jarang dakwah dan ga nambah-nambah pengikut kayak Jew etc, lebih banyakin bacanya.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

*Btw, itu bukan perkataan Rumi, itu tulisan. And kalau begitu Rumi juga setara tuhan dong, karna dia sendiri yang bisa tahu kebenaran yang utuh sedang yang lain hanya sebagian kecil saja.

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.

*Salah satu ciri orang tidak beriman adalah… Hahahaha, Well neng, nampaknya sodara adalah ahli tentang agama, jurusan opo seh di sma? jurusannya ngajarin perbandingan agama?

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

*Ada loh agama yang percaya bahwa tuhan pernah menjadi wujud manusia. Sekali lagi, terserah orang dong melabeli ahli surga or neraka. Since u juga melabeli orang lain “Sesekali coba menjadi tuhan.”

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.

*Pada banyak kejadian, latar belakang dari konflik yang dianggap konflik bermotif agama sebenernya motifnya lain, seperti para teroris yang ikut perang bareng ISIS, ada yang ke sono gara-gara gajinya tinggi.

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

*Kalau ditanya satu-satu ya pasti setiap pengikut agama itu akan menjawab ya tuhan mereka masing-masing. Ini sama dengan pertanyaan kenapa syaiton diciptakan dan kemudian dibiarkan gentayangan, ya itu sudah ketentuan tuhan neng.

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?

*Iya tidak, aku sih jijik dijadikan serupa denganmu, iyuh.

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

*Apalagi kalau agamanya bermacam-macam dengan komposisi yang seimbang, bisa kacau balau (mungkin) lihat saja Libanon, Syiria, Sudan etc. Agama memang bukan satu-satunya faktor yang menjamin kerukunan, tapi tidak berarti agama tidak menjamin kerukunan.

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

*Negara yang mana? Sebutkan biar bisa dibantah satu-satu.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

*Isu mayoritas minoritas bukan monopoli Indonesia atau satu negara saja, banyak negara mengalami hal yang sama bahkan Amrik pun. Ya negara itu dibikin berdasarkan konsensus mayoritas, dan pasti ada minoritasnya dari berbagai kategori. Oh iya kalimat ini juga rancu, masih ada dan mendadak hilang. Lagi pula kamu kan bukan penentu mana yang manusiawi mana yang bukan.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

*Bayangkan ku melayang…… Bayangin aja terus neng sampe botak.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

*Terbalik neng, belum belajar hukum sih, kitab suci itu dijadikan salah satu sumber hukum di Indonesia loh.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

*Kalau menilai itu urusan beda lagi sama urusan hukum atau bernegara, misal kamu dianggap/dinilai kafir oleh agama lain ya sudah dianggap saja, kecuali kalau kamu berbuat sesuatu yang bikin orang itu terganggu kayak kasus Ehok, baru deh kamu berlindung dibalik jeruji besi. Karena nilai-nilai dalam ajaran agama ya memang berbeda-beda.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

*Seperti kebijakan libur di hari raya, jadi ndak boleh ya, harus kerja semua PNS nya pas hari raya? Itu salah satu contoh saja neng.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

*Loh itu kan hak masing2 pemilik media sosial, apa salahnya mengunggulkan masing2. Btw, emang situ yakin bisa punya anak, apalagi cucu?

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

*Amerika sudah lama ga lending lagi di bulan, misi2nya belakang ini cuma ke stasiun internasional. Kalau cuma rancang sih Indonesia sudah bisa, cuma mahal neng mahal gaada diskon ke luar angkasa mah, bayarin astronot ke luar angkasa aja kita ga sudi.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa

*Eh, aku ragu kamu bisa berpikir atau ndak. Hahahaha

Pergi

Semua orang yang pernah mengenalku sebelum 30 Oktober 2013 menganggapku sudah mati. Aku memutuskan untuk ‘mengakhiri’ hidupku hari itu.

Begini ceritanya, aku terlahir dari keluarga menengah atas. Ayahku merupakan seorang dokter sedang ibuku memiliki toko pakaian yang lumayan besar di pusat grosir terbesar di Jakarta. Setelah lulus dari jurusan bisnis di salah satu universitas swasta akupun segera menikah.

Awal pernikahan kami penuh dengan kebahagiaan, tapi semua itu berubah ketika setahun kemudian aku memutuskan untuk melanjutkan studi master di universitas negeri bergengsi di Depok. Aku begitu sibuk belajar sehingga meluangkan waktu terlalu banyak dengan materi-materi kuliah yang berarti bahwa aku juga menghabiskan waktu lebih lama di kampus.

Setahun berlalu dan istriku mulai merasa tidak nyaman dengan semua itu. Dia tidak pernah memaksaku untuk berhenti kuliah, namun perlahan mulai ada jarak diantara kita. Kami tidak bertengkar atau pisah ranjang, tapi makin jarang berhubungan intim. Percakapan sehari-hari pun tidak lagi tentang berbagai masalah pribadi, paling soal cuaca, tetangga, dll. Namun, setiap kali aku bertanya soal masalah pribadinya iya selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.

Akhirnya istriku hamil dan melahirkan anak pertama kami. Aku berharap hal itu akan menjadikan hubungan kami semakin baik, tapi kenyataannya berkata lain. Istriku mulai menuduhku berselingkuh, kedua orang tuaku akhirnya juga turut membenciku. Tiba-tiba hidupku kacau balau.

Beberapa bulan sebelum hari-H, hidupku hanyalah menjadi rutinitas yang harus kujalani setiap hari. Semakin hari aku semakin kehilangan semangat untuk bangun dari tempat tidur, hidup yang sangat membosankan.

Awal bulan itu aku baru mengetahui ternyata istrikulah yang sebenarnya berselingkuh selama delapan tahun pernikahan kami itu. Dan anak kami satu-satunya yang telah berusia enam tahun kala itu bukan merupakan anak biologisku. Sungguh, aku begitu terpukul mendengar berita itu.

Kemudian peristiwa itu terjadi, beberapa ledakan terjadi di kawasan perkantoran sekitaran Bundaran HI dan menghancurkan gedung-gedung di kawasan tersebut termasuk kantorku. Setelah lulus, aku bekerja di salah satu perusahaan yang berada di gedung tertinggi di kawasan itu yang akhirnya rusak parah akibat ledakan.

Reaksiku pertama kali ketika melihat persitiwa tersebut di berita tentu saja kaget dan panik. Rekan-rekan kerjaku berada di gedung tersebut. Untungnya hari itu aku sedang berada di luar untuk bertemu klien, tapi semua orang berpikir bahwa aku juga turut menjadi korban ledakan tersebut.

Siang itu semua orang masih panik akan adanya ledakan susulan, aku pun masih shock dan memutuskan untuk mencari udara segar dan singgah di sebuah kafe sebentar. Setelah beberapa jam di tempat itu aku pun berniat untuk pulang ke rumah, namun tiba-tiba terlindas dipikirinku : “Mengapa harus balik ? Aku sudah mati.”

So, kunaiki KRL tujuan Bogor dan akhirnya tiba di Villa keluarga kami. yang jarang disinggahi. Esok paginya aku memutuskan untuk mengambil seluruh tabunganku di Bank dan segera terbang menuju Papua, memulai kehidupan baru di sana dengan identitas dan penampilan baru.

Setiap tahun, di hari peringatan peristiwa tersebut aku selalu datang lagi ke Jakarta. Ingin rasanya kudatangi mantan Istri dan kedua orang tuaku, mereka mungkin akan sangat kaget. Tapi hingga detik ini aku tidak pernah melakukan hal itu, mungkin tidak akan pernah.

*sebuah cerita pendek, disadur dengan penyesuaian dari internet, cari sendiri versi Amerikanya :p