Pilpres Bagi Rakyat Jelata

Bagi rakyat jelata seperti saya ini yang menarik dari pilpres itu ramenya saja, siapa yang menang sih ga ngaruh banyak. Apalagi sejak pilpres 2014 hanya dua kandidat yang saling berebut kekuasaan, ramenya tidak ketulungan, meskipun siapa yang menang atau kalah tidak akan seketika merubah segalanya di Indonesia ini.

Setelah reformasi, banyak hal berubah yang bikin momok masa lalu negara ini hampir mustahil terulang lagi. Mayoritas kita tidak sreg dengan komunisme yang juga sudah terbukti gagal. Orde baru, bahkan oleh yang katanya merindukan piye kabare pun tidak benar-benar dirindukan. Jadi yang ada ya memilih janji-janji, seperti di negara demokrasi lain di dunia ini.

Seru juga kan, kayak pertandingan olahraga. Pilih salah satu kubu, aturan mainnya sudah ada, curang bisa kalah. Yang menang tidak menjadi tuhan, kalah tidak meregang nyawa. Cuma ya sebagai penonton kan kita rakyat jelata ini boleh emotional.

Kita boleh memilih orang karna seagama, sealmamater, bahkan sehobi (misal hobi bicara kotor kampr*t atau ternak kecebong). Kita berhak nonton debat kusir di tv yang ga bermutu berjam-jam atau berdebat langsung dengan kawan sejawat dan istri di kamar hingga pagi. Nanti di akhir kita juga berhak bangga dan turut merayakan ketika calon kita menang atau nangis termehek-mehek ketika kalah.

Siap-siap juga menjadi petahana atau oposisi. Tapi bukan yang duduk di senayan atau istana negara, ingat kita cuma rakyat jelata. Boleh bangga dengan proyek toll yang dicek atau diresmikan si pemenang, boleh juga kritik. Kalo kecewa atau malah jatuh hati ya itu urusan nanti di pilpres berikutnya di dalam bilik pencoblosan.

Merdeka!

Iklan

Menulis Berbekal Ilusi

Salah satu bekal penting ketika menulis adalah percaya bahwa kita merupakan penulis paling hebat sedunia, JK Roweling kalah lah. Humble memang harus sih, kita kan tau siapa diri kita sendiri dengan segala kekurangan dan bagaimana amburadulnya tulisan kita. Tapi untuk mendongkrak rasa percaya diri yang in turn bikin kita lancar nulis ya kita bisa percaya akan ilusi megalomaniak.

Cara ini merupakan cara lama yang sebenarnya digunakan penulis baru amatiran macam saya ini, young and dumb, yang percaya bahwa dengan tulisan miskin maknanya ia bisa mengubah dunia. Kita memang tidak bisa serta merta mengubah dunia, tapi dengan energi penuh harap itu jari-jari dapat bergerak menuliskan kata demi kata dan taraa jadilah kalimat-kalimat menjadi makna.

Ketika tulisan telah jadi atau pun masih berupa draft pun kita jangan terlalu sering membandingkan-bandingkan dengan tulisan orang lain. Membandingkan tulisan kita dengan para penulis kawakan dapat memberi efek minder, kurang percaya diri dan akhirnya tutup layar, no tulisan. Lain kali sih kalau membaca tulisan mereka sebaiknya kita menceburkan diri dalam bacaan, kalo perlu nangis ketika membaca rangkaian kata-kata mereka, pret. Lebih ke menikmati sih bukan membandingkan, begitulah kira-kira cara kita belajar agar lebih bagus lagi dalam menulis.

So after the termehek-mehek, tugas kita adalah kembali ke pekerjaan paling berat dalam menulis yaitu menulis, haha. Seolah tulisan kita akan dinominasikan untuk pulitzer atau nobel, atau paling tidak masuk koran beken tanah air (bukan saracen loh ya). Kumpulkanlah semampunya semangat supaya saya dan orang lain bisa menikmati tulisan-tulisan anda, iya anda yang jarang nulis lagi itu.

Andai Saudi dan Iran Berdamai

Sumber : Pexel

Sejak menjalin hubungan dengan Iran di bawah Shah, Saudi tentu tahu kalau negara tersebut mayoritas beraliran Syiah yang paham keagamaannya jauh berbeda dengan yang dianut kerajaan Saudi. Tapi toh semua berjalan biasa-biasa saja meskipun ada intrik-intrik kecil, Shah berkunjung ke Saudi, ada pertukaran perwakilan masing-masing negara. Karena pada waktu itu mereka punya lebih banyak kesamaan terutama soal kebijakan luar negeri, Iran yang kaya minyak juga dekat dengan (perusahaan) Amerika.

Hubungan Saudi dan Iran mulai retak ketika revolusi yang dipimpin Khameini berhasil menumbangkan sang Shah dan memaksanya untuk mengasingkan diri ke luar negeri. Sejak saat itu, Iran memuat dalam konstitusi mereka kewajiban untuk mengekspor revolusi Iran keseluruh penjuru dunia, secara terang-terangan pula mendeklarsikan sikap antipati pada Amerika. Bagi Saudi hal tersebut juga berarti ekspor revolusi ke kerajaan mereka, yang ternyata juga memiliki populasi shia yang besar di bagian timur dekat selat Persia. Karena seperti pepatah arab musuh dari sekutu mereka adalah musuh bersama maka Iran juga secara otomatis menjadi musuh mereka. Tidak mengherankan jika Saudi turut mendukung Sadam ketika ia menyerang Iran, tindakan yang semakin memperparah hubungan kedua negara.

Iran dalam upaya menyebarkan revolusi tersebut mendukung berbagai upaya melawan barat di berbagai belahan dunia, jauh sampai ke Amerika latin. Sedangkan di kawasan timur tengah mereka secara aktif memasok persenjataan, melatih para milisi atau paling tidak memberi dukungan moril/retorik. Hizbullah di Lebanon merupakan perpanjangan tangan Iran yang paling menonjol, milisi dengan perlengkapan dan training paling baik di dunia. Sementara Irak, setelah diporak-porandakan Amerika dkk menjadi negara yang serba ketergantungan kepada Iran baik dari segi agama, politik maupun ekonomi.

Saudi tidak tinggal diam, aktif melancarkan aksi counter Iran. Di Lebanon mereka punya Hariri (kelompok Sunni) bahkan merupakan pendonor terbesar ke negara kecil yang sudah tercekik utang tersebut. Irak yang mayoritas Shia juga bisa dipengaruhi Saudi, Sadr (Shia) yang menolak hegemoni Iran telah bertemu pangeran Salman. Belum lagi sunni Irak yang berpihak pada sesama Arab dan kelompok Kurd sunni yang punya kekuasaan luas di bagian utara yang juga didukung Saudi.

Berbagai kemelut seperti Arab spring juga membawa berkah bagi kedua belah pihak, dimanfaatkan oleh mereka sacara baik. Iran berhasil menjadi aktor utama di Syria dan Yaman, sedangkan Saudi meskipun sempat terhalang sesaat berhasil mengokohkan hubungan mereka dengan Mesir melalui rezim Sisi.

Media masing-masing pihak juga tidak kalah gencarnya saling melempar tuduhan, berita palsu, makian, ancaman dst. Media Saudi seperti Al Arabiya sering mendiskreditkan Iran, media Iran seperti Press Tv pun sebaliknya. Wal hasil, netizen kedua belah pihak bahkan seluruh umat muslim dunia pun jadi ikut-ikutan terbawa emosi dua kubu yang berseteru.

Dari berbagai kemelut tersebut nampaknya memang tidak ada celah bagi kedua belah pihak untuk berkoalisi. Apalagi ada sejarah panjang Arab vs Persia yang sulit ditampik mengalir deras dibawah permukaan. Tapi akan ada sisi positif yang dihasilkan jika kedua negara memutuskan untuk damai saja.

Stabilitas harga minyak akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Karena keduanya termasuk negara produsen minyak terbesar di dunia yang sekaligus merupakan anggota kartel minyak OPEC yang sangat bergantung pada penjualan minyak dan gas. Dana Saudi akan cukup paling tidak untuk menyelesaikan proyek visi 2030 yang ambisius. Sedangkan Iran bisa kembali mengekspor minyak dan gas mereka kemana saja.

Penghematan juga akan mereka capai karena berdamai berarti juga menghentikan pembelian/produksi senjata massal di kedua belah pihak. Saudi sendiri pernah menjadi negara dengan dana pertahanan terbesar ke tiga di dunia yang hingga tahun ini masih berada di posisi puncak dalam dalam daftar tersebut. Sebagian besar dana militer Saudi tersebut digunakan untuk mengimpor persenjataan. Selain itu, Saudi juga akan menghentikan pendanaan mereka terhadap pemberontak di Syiria, sumbangan ke Libanon dan operasi militer yang sangat mahal di Yaman.

Iran bisa secara perlahan melepaskan diri mereka dari cengkraman sayap militer tidak resmi yang menguasai perekonomian dibawah restu Ayatullah yang selama ini dianggap penting untuk mencapai cita-cita revolusi. Mereka juga dapat menghentikan pendanaan proyek ballistic missiles dan ambisi nuklir yang cukup mahal. Dana milyaran dolar yang selama ini ditransfer ke rezim Assad dan Hizbullah dimanapun mereka berada juga dapat dihentikan.

Saudi dan Iran juga bisa saling bertukar teknologi. Dari Saudi, Iran bisa belajar cara memproduksi minyak dengan biaya sangat rendah agar keuntungan mereka lebih banyak. Teknologi desalinasi Saudi juga sangat maju, mereka bisa berinvestasi di Iran membangun proyek tersebut. Begitupun dari Iran, Saudi bisa belajar banyak. Teknologi nuklir Iran sudah lumayan maju dengan tenaga ahli yang mumpuni bisa dimanfaatkan Saudi dalam proyek nuklir mereka. Saudi juga bisa belajar bagaimana mengembangkan persenjataan sendiri seperti Iran.

Bahkan dengan tidak saling berperang dingin pun kedua belah pihak sudah akan sama-sama untung. Kalau memang hubungan mesra terasa kurang mengenakan dan seperti dipaksakan maka menjadi tetangga yang manis saja sudah sangat membantu. Betapa banyak masalah internal yang menanti untuk diselesaikan, demi kemajuan mereka dan dunia secara umum.

Manusia dan Robot

Sumber : Pexel

Manusia bisa menjadi ‘penguasa’ bumi karena kecerdasan kita yang jauh melebihi mahluk hidup lain. Kecerdasan yang selama ini kita miliki sendiri itu ternyata bisa dipindahkan, bukan ke mahluk hidup lain, tetapi benda mati yang kita rancang sedemikian rupa sehingga bisa berpikir sendiri. Hasil loncatan revolusi industri dalam jangka waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan sejarah panjang manusia.

Kecerdasan kita menurut ilmu pengetahuan adalah hasil evolusi yang bisa dikatakan sangat random. Sesosok binatang selamat dari bencana yang menyapu bersih para penguasa bumi besar, dinosaurus. Menjadi kecil seukuran tikus untuk bertahan hidup, bergelantungan di pohon, berjalan lurus, belajar menggunakan alat, batu lalu menemukan api. Otak kita tumbuh besar seiring waktu karena nutrisi yang kita dapatkan, jauh melebihi otak binatang lain baik secara relatif maupun secara literal.

Seiring waktu berlalu dan adanya paradigm sift manusia menemukan alat-alat yang memudahkan kehidupannya. Sehingga, kita bisa bertahan lebih lama di air daripada ikan, terbang lebih tinggi dan jauh daripada burung, menumbangkan lebih banyak dan lebih besar pohon daripada gajah dst. Berbagai alat yang kita temukan tersebut pada awalnya menguras terlalu banyak energi baik dari otot maupun dari otak.

Butuh tenaga yang sangat banyak untuk berburu rusa dengan tombak, lari mengejar dan mengendap-endap. Lalu kita menemukan senapan, dor dari jarak jauh kita hampir dan bahkan telah mengakibatkan ratusan sepesies punah dari muka bumi ini. Dengan kemudahan seperti itu, kita bisa menghemat energi dan melakukan hal-hal lain yang lebih kompleks lagi. Namun, kegiatan berpikir ternyata juga sama menguras energi dengan berlarian di semak belukar untuk mengejar buruan.

Maka pekerjaan itu sekarang ini dikerjakan oleh drone militer, mereka memilih sendiri target untuk dibunuh. Sudah ribuan orang yang ditembak mati dari awan dengan peluru yang bisa menembus baja. Tidak lagi perlu manusia untuk memelototi satu per satu calon korban, cukup kecerdasan buatan yang tertanam diotak sang robot yang memilihkan siapa yang jahat dan perlu dibasmi dari muka bumi ini.

Kecerdasan buatan sangat membantu kehidupan kita dalam berbagai hal. Dulu, untuk menerbangkan Apollo butuh puluhan juru hitung manual yang memakan banyak waktu untuk menyelesaikan hitungan super kompleks proyek tersebut satu persatu. Dengan adanya kecerdasan buatan, dalam hitungan detik hasil kalkulasi super kompleks bisa langsung didapatkan dengan akurasi tingkat tinggi secara otomatis. Hingga banyak aspek kehidupan manusia sekarang ini tergantung pada kecerdasan buatan, apalagi dengan adanya ponsel pintar.

Kalau hari ini saja teknologi yang manusia ciptakan sudah semaju itu bagaimana dengan sepuluh atau lima puluh tahun yang akan datang. Kita tidak pernah berhasil meramal masa depan dengan presisi, lihat saja karikatur-karikatur jaman dahulu tentang kita manusia millenium saat ini, betapa jelas perbedaannya. Yang pasti adalah, manusia di masa depan akan hidup dengan teknologi yang jauh lebih canggih dari saat ini. Sesuai dengan karakter manusia, proyeksi masa depan kita juga dipenuhi oleh berbagai ketakutan akan dampak negatif dari kecanggihan teknologi dalam hal ini robot atau kecerdasan buatan.

Banyak tokoh yang memperingatkan kita bahaya kecerdasan buatan, Elon Musk sosok yang menginspirasi Ironman termasuk salah satunya. Ketakutan akan dua kecerdasan yang saling berhadapan, saling berebut dominasi. Manusia ditakutkan bisa lepas kendali dari ciptaan mereka sendiri yang kali ini memang diciptakan agar independen. Apalagi seperti di dunia digital sudah ada contoh yang sangat mengerikan seperti virus komputer. Bayangkan jika ada virus pengganggu di masa depan yang merecoki otak drone militer dan menembaki kita semua dari angkasa. Potentially ada sebagian dari kita yang bisa dibilang jahat dan akan sangat berpotensi untuk menularkan kejahatan mereka pada kecerdasan buatan.

Robot dengan kecerdasan buatan bisa saja menguasai kita, karena kekuatan mereka jauh melampaui kita. Mungkin, mereka akan membalaskan dendam terhadap perbudakan yang selama ini dilakukan manusia. Sembari secara rasional berpikir bahwa memang manusia harus segera dibinasakan, mirip film-film sains fiksi.

Kecerdasan buatan itu pada hakikatnya dibuat oleh mahluk yang tidak sempurna juga, manusia. Malah serba tidak sempurna, meskipun kita sering lupa dan berkhayal bahwa kita sempurna tanpa cacat. Kelemahan manusia selalu terwujud dalam ciptaannya sendiri. Itulah mengapa superioritas teknologi ini belum bisa menggantikan manusia dari muka bumi ini. Robot-robot Elon Musk kalah bersaing dengan tangan-tangan manusia di Thailand dan China yang bisa menghasilkan jauh lebih banyak mobil dalam sekejap, begitupun pemetik stroberi manusia masih lebih efisien dari robot.

Sebagian besar kita hanya dapat berharap agar teknologi ini tidak akan berdampak sechaotic dalam film fiksi, sambil berpikir kritis tentang kecerdasan buatan ini. Karena yang mampu mengembangkan teknologi ini hanyalah perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Apple, Amazon, Tencent dll yang secara diam-diam dibantu pemerintah di negara mereka masing-masing dengan dana riset puluhan milyar dolar. Merekalah yang saling berlomba untuk menjadi pioneer, menjadi penentu masa depan kita semua.

Sejauh ini, teknologi telah memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Kita bisa saling terkoneksi satu dan lainnya, saling berkolaborasi, saling berbagi. Semoga kecerdasan buatan akan membantu kita menjadi manusia seutuhnya yang bisa mengeksplor potensi kita semaksimal mungkin tanpa terhalang beban remeh temeh dunia yang menguras energi. We all pray for a better world

You

You were my late night song

The rain lasted too long

Time move so slowly

When I was a boy

You were my late night song

Where have you gone?

We were young tho

Percintaan Online, Goshthing Kemudian Submarining

Dua istilah baru yang cukup ampuh menjelaskan fenomena kekinian produksi dunia virtual dalam bidang asmara, gosh (hantu) dan submarine (kapal selam). Unik kan, dua kata yang kayaknya agak jauh dari dunia percintaan bisa-bisanya muncul di dunia percintaan, kalo hantu kan masih ada kisah cinta atau film yang memadukan dua hal ini tapi submarine kayaknya jauh pake banget.

Sumber : Pexel

Nah goshted, bukan dihantui sih lebih tepat kalau bahasa Indonesia mungkin ngilang. Biasanya nih yang pake aplikasi Tinder sering kena yang beginian. Match di app, chat (bisa panjang bisa bentar), ketemuan (kalo), abis itu bye. Chat ga dibales-bales, padahal sebelumnya bisa chat tiap menit haha. Lalu di-unmatch, wa dan telpon ga dijawab bahkan diblock.

Yeah, di dunia maya kan kalo udah digituin orang bisa virtually hilang sama seperti sifat hantu. Mungkin bukan jelangkung kan kita sendiri yang ngundang, perginya yang sukarela karena tidak cocok, tidak sesuai foto, etc.

Biasanya orang-orang yang ngilang ini tidak tega untuk mengungkapkan perasaan mereka terhadap sang lawan main (duh kok jadi main). Orang Indonesia kan penuh perasaan, banyak kata-kata yang diperhalus karena katanya kita orangnya agak sensitif. Selain itu juga banyak yang kalau dijawab jujur malah direspon dengan marah-marah, padahal sudah mencoba baik-baik.

Ada juga ternyata yang setelah menjadi hantu muncul lagi, padahal semua hantu pasti muncul lagi hahaha. Tiba-tiba ada pesan masuk di wa, nomor lama yang ngirim, wajahnya masih kenal tapi yang tersisa tinggal kenangan (pret). Lalu nanya-nanya kabar, basa-basi, dan si setan seolah menganggap semuanya kembali normal bak tak ada diam yang memisahkan kita sejak berhari-hari yang lalu.

Bagai kapal selam kelas Kilo-nya Soviet/Russia yang menghilang kedasar samudera tak terdeteksi sonar selama berbulan-bulan lalu tiba-tiba muncul ke permukaan dimana saja sesuka hatinya, mancing perang dunia ke tiga hahaha. Yup, semacam itulah kira-kira persamaan para pelaku dengan kapal selam atau mengkapalselami.

Seru juga kan, ‘permainan’ beresiko seperti ini meskipun jadi new normal tapi bisa melukai perasaan orang. Entah berapa banyak yang harus menelan pahitnya perasaan menjadi unwanted, bertanya-tanya what’s wrong with them, terlalu jelek kah mereka untuk cinta dst. Pertanyaan yang akan sangat melukai diri mereka sendiri akibat perbuatan orang kurang ajar, padahal yang mereka cari hanyalah cinta dan kasih sayang.