Sore Kemarin

Hujan berintik suara bising kau tertawa, dan pesannya sampai ke kamarku, lalu kumatikan pendinginnya kunyalakan kenangan, kuatur rapi-rapi dipinggiran kasur rasa, kudengarkan sejenak kuberlalu dalam mimpi, lilte rain go away

Hujan berintik suara hening kau diam, tinggal dua dengung tak berkata, kunikmati setelah rintik reda, earthy smell in the air was the fragrance, it should have been you, noda-noda di dinding itu bekasnya, hilang ditelan gelap sore

Hujan berintik pergi semua, jalan dibuka pelewat lewat penunggu di sisinya telah lama menanti penantian, kau terbangun burung-burung terjaga, oh the consequences, we were dancing in it long ago

Advertisements

Fenomena Berita Online Kejar Klik

Sumber : Pexels

Beberapa tahun belakangan ini saya sering mengecek pemeringkat situs milik Amazon yaitu Alexa, melihat situs mana saja yang sering dikunjungi orang sedunia dan tentu saja orang Indonesia juga. Biasanya ada tiga kategori yang sering muncul di peringkat teratas yaitu mesin pencari, media sosial dan situs berita. Awal tahun ini saya agak kaget dengan fakta bahwa situs kedua terbanyak dikunjungi di Indonesia setelah om Google adalah sebuah situs berita online, wow hebatnya situs itu.

Tanpa menyebut nama pun anda bisa tahu situs apa itu. Kalau kita cari berita apapun di Indonesia melalui Google yang muncul duluan paling atas adalah berita dari situs ini. Subdomainnya banyak, beritanya paling up to date dan bertebaran detail info tersedia di sana mengenai berbagai kasus di Indonesia. Anda bisa membayangkan betapa hebatnya kalau kemampuan itu ada pada media cetak biasa.

Faktanya adalah media cetak biasa tidak bisa melakukan hal yang seperti itu. Aliran berita mereka bak stasiun televisi berita besar yang melaporkan live dan dengan sekejap mata sudah berada di lokasi kejadian. Mereka berkat internet, dapat memuat berita dengan cepat dan tersebar dengan cepat pula. Reporternya tidak perlu membawa kamera dan kru yang ribet, hanya sebuah gawai pintar multiguna mereka rekam, tulis, kirim. Bahkan biasanya cuma sontek dari sumber di internet, jadilah satu artikel yang kalau mau baca semua harus buka sampai halaman ke tiga.

Mengejar pembaca memang bukan sesuatu yang baru di dunia pemberitaan. Seperti The Sun di Inggris yang begitu fenomenal ketika itu demi menarik pembaca mereka meliput skandal-skandal orang penting juga menampilkan foto-foto syur yang tabu. Lalu ada CNN di Amerika, yang sering dikritik karena ulah mereka, sekali lagi karena kejar penonton. Karena pembaca atau penonton yang banyak akan meningkatkan rating sedangkan pengiklan hanya mencari yang ratingnya tinggi. Mereka ini kan sebenarnya adalah perusahaan pencari keuntungan juga.

Banyak situs bermanfaat yang harus memelas minta sumbangan demi biaya operasional karena mereka tidak beriklan. Seperti Wikipedia atau situs berita asal Inggris The Guardian, mereka tidak beriklan sperti situs-situs kejar tayang. Memang ketika segalanya menjadi mudah dengan internet, penjaja berita menjadi banyak, keuntungan akan otomatis menipis. Parahnya bahkan iklan yang muncul tidak berhubungan langsung dengan situs tersebut tetapi melalui perantara.

Jurnalisme memang tidak sesimple itu, punya alat dan bahan dan simsalabim jadilah penjaja berita. Menjadi pemberi informasi ke masyarakat umum merupakan suatu pekerjaan yang berstandar tinggi. Ada aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengikat pada pekerjaan itu. Meskipun pada dasarnya mayoritas dari aturannya adalah aturan yang tidak berimplikasi hukum, tapi justru itulah yang lebih tinggi dari hukum yaitu standar moral. Sedihnya, mereka memanfaatkan hal itu dengan berlenggang bebas “memberitakan” semau mereka tanpa memilih dan memilah. Tata bahasa yang baik dan benar saja sudah lama hilang ditelan judul yang mentereng.

Konsekuensi dari situs berita yang main comot seenaknya, tanpa filter dan kejar klik sangat fatal. Ketika mereka menjadi mainstream maka situs berita kredibel akan kalah jauh dan sering tidak terbaca. Akan bermunculan pula lebih banyak situs yang sama, mereka bisa menjadi mainstream. Dan tentu saja hoax yang sering bertebaran atau kabar burung yang dimuat sebelum dikonfirmasi akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, bisa-bisa perang saudara kita satu Indonesia ini.

Tugas industri teknologilah yang harus menyediakan alternatif dari iklan berdasar klik atau kunjungan. Para pemilik peruhaaan pemberitaan juga harusnya menahan diri, apalagi ketika kita tahu kalau ternyata untuk kasus situs online terpopuler di Indonesia perusahaan yang sama memiliki dua situs berita yang kredibilitasnya jauh berbeda (triboen dan komps itu satu grup, hahahaha). Dan kita yang cuma pembaca ini tolong biasakan diri buka situs-situs berita kredibel, dijamin lebih aman hidup kita.

Nurhadi VS Thanos, Siapa Menang

Pertama saya kira Nurhadi ini merupakan parodi seorang kepala daerah ngaur sok kuasa entah dari sudut Indonesia bagian mana. Seperti mantan ketua peesesi yang kalau bicara entah nyomot dari guntingan koran bekas yang jadi pembungkus bakwan kaki lima darimana. Ternyata beneran ada itu bapak-bapak tukang pijat, beliau bukan korban kutu komputer jahil yang main comot foto orang tak dikenal lalu dijadikan meme pemuas nafsu birahi.

Meskipun bukan dia yang buat, tapi orangnya memang sesuai dengan meme yang beredar. Mo dibilang polos ga polos-polos amat mo dibilang gitu ya gitu haha. Sebenarnya ada sih kutu yang merancang dengan sotosop (mungkin) meme-meme Nurhadi atas persetujuan beliau. Jadi, tidak heran kalau pesan-pesan yang dibawakan seolah nyambung dengan trend masa kini.

Sedangkan Thanos adalah produk Marvel yang bagi sebagian orang mungkin baru dikenalnya tahun kemarin karena film. Seorang raksasa kuat yang berambisi memusnahkan setengah mahluk hidup se jagat raya. Tokoh jahat unik karena ia sebenarnya seorang yang bijak dan logis, terlalu logis bahkan.

Tumbuh di planet para raksasa, ia merasakan ada yang tidak beres. Planetnya terlalu sumpek sehingga mereka hidup melarat, akhirnya ia membinasakan sendiri setengah penduduk planetnya. Sejak itu tujuan utama hidupnya adalah mengurangi populasi di setiap planet di jagat raya. Hal tersebut dapat dengan mudah ia wujudkan dengan lima buah batu sakti mandraguna yang sekali cekrek fiuh, musnah.

Jadi dimana bertemunya Thanos dan Nurhadi ? Ideologi salah satunya. Gampang sekali terlihat kalau postingan meme Nurhadi diboncengi ideologi kiri ala Indonesia. Menggunakan kata-kata yang menurut publik tidak pantas, demi kelucuan. Tanda frustrasi di kubu mereka, karena jika dulu di pilpres 2014 mereka secara signifikan mendukung salah satu capres. Sekarang ada sebagian dari mereka yang bahkan kampanye golput, kecewa berat dengan mantan dukungan karena ternyata beliau terbukti tidak kiri-kiri banget.

Thanos jelas kapitalis, paling tidak industri dibalik film itu. Meskipun para penghuni hollywood adalah penjaja liberalisme paling ampuh keseluruh dunia. Betapa majunya industri perfileman Amerika, mendominasi dunia, sesuatu yang tidak akan pernah mungkin dicapai oleh Soviet yang kiri, karena sudah bubar hahahaha.

Tragedi Kenalan Lama

Sumber : Pexels

Kami bukan teman apalagi sahabat, hanya kebetulan waktu itu untuk beberapa saat kita kebetulan menjadi kenal. Susah memang menyadari kalau tidak semua orang yang kita kenal otomatis menjadi sahabat, tapi ternyata lebih indah kalau begitu. Orang bilang teman kita di dunia itu terbatas, paling besar mungkin 150 orang. Apalagi sahabat.

Waktu berlalu, kita seolah tidak punya kenangan bersama yang berarti. Perbedaan membuat orang melupakan satu sama lain, perbedaan jarak apalagi pemikiran. Mungkin kalau ketemu entah dimana kita akan saling menyapa, basa-basi dan kemudian berlalu. Seperti orang biasa, dengan kehidupan masing-masing.

Kebetulan pun terjadi. Kejadian tidak sengaja yang diatur sedemikian rupa oleh alam, lucu. Tanpa sengaja ia menemukan sampah ini dibelantara milyaran manusia, bumi memang kadang kala menyempit untuk memulai sesuatu. Sedangkan mulutnya membuka kembali berkas-berkas lama tentang versi diri ini di kepalanya.

Sedih juga ketika memori itu tidak begitu indah, padahal dulu tujuan untuk melakukan hal-hal itu begitu baik. Caranya yang salah, siapa yang peduli. Pembicaraan pun berlanjut, dia begitu terkejut dengan hobi kita yang sama, lalu menceritakan kisahnya sendiri sejak kita pertama bertemu. Lumayan lucu, sekaligus tragis bagi kita berdua.

Tapi reuni itu justru semakin meyakinkan bahwa kita berbeda, menyudahi omong kosong adalah hal terbijak di dunia ini, secepatnya. Susah sebenarnya, karena dia dalam keadaan yang mengenaskan walaupun masa depannya begitu cerah. Dampak kesehatan dari kesepian itu sama dengan menghisap 15 batang rokok per hari, dia telah memilih jalan kesepian yang dalam. Ditambah kebodohan-kebodohan yang ia akui sendiri, maka sungguh begitu menderitanya dia.

We are all suffering, tapi katanya hidup telah terlalu tidak adil padanya. Mencoba menjelaskan bahwa banyak yang lebih menderita darinya adalah pekerjaan yang ternyata sia-sia. Menjauh adalah jalan terbaik, sambil berharap yang terbaik, kenalan.

Jangan Berlibur Ke Tempat Terkenal

Sumber : Pexels

Sesaat saya kembali berkontemplasi tentang esensi berlibur (traveling), tidak baik sih menghabiskan waktu liburan dengan pemikiran macem-macem. Tapi why not lah hah, karena sekarang ini setiap musim liburan tiba, segala kegilaanya pun menghampiri.

Menyedihkan kan ketika liburan tiba antrian panjang tak berujung menyumbat jalan-jalan menuju lokasi wisata favorit. Sampai di sana pun tempatnya sudah dibanjiri manusia, sehingga untuk sekadar nyari background selfie yang pas kita harus mengeluarkan tenaga dalam ekstra, minggir.

Ini semua sebenarnya pertanda bagus kalau dilihat secara garis besar. Ternyata banyak orang yang makin makur, naik kelas dari motoran ke mobilan (meskipun nyicil dan ukuran kecil). Sudah sifat manusia kan, ketika kebutuhan primer terpenuhi maka mereka akan mencari lebih, termasuk plesiran.

Tapi lucu juga ketika melancong ke Eropah dengan niat nyari romantisme di sudut-sudut Paris atau Venecia tapi yang bermunculan adalah wajah-wajah Asian. Beserta kebiasaan sisa masa-masa melarat yang kemudian di barat sana karena kesal dan makin sering terjadi, dan tentu saja dengan nada rasis, disebut tak berkelas. Mungkin tidak lama lagi warga SG dan Thai juga akan muak dengan Indo yang membanjiri negara mereka. Sedangkan jalan menuju Bogor dan Lembang misalnya, tiap musim liburan macet parah.

Coba anda jelaskan bagaimana menikmati pantai pasir putih kalau manusianya lebih banyak daripada pasir di pantai itu. Entah apa nikmatnya berendam di air panas yang penuh dengan orang-orang tak dikenal. Belum lagi sampah mereka dimana-mana. Kondisi seperti inilah yang sekarang akan kita temui ketika berlibur ke tempat-tempat terkenal, penuh dengan orang-orang yang juga berlibur.

Menurut saya jalan keluarnya ada dua, berlibur selain musim liburan atau pergi ke tempat-tempat yang kurang terkenal. Dijamin pasti ketika bukan akhir pekan atau musim libur tempat-tempat wisata akan sepi. Tapi, susah juga nyari waktu yang pas, apalagi kalau pergi bareng keluarga. Karena kan kalau bukan musim liburan yang sekolah ya harus masuk sekolah. Yang kantoran juga masuk, meskipun bisa cuti tapi pasti banyak saja kendala kalau liburan dihari biasa.

Opsi kedua yaitu liburan ke tempat-tempat yang tidak begitu terkenal atau bahkan ke tempat yang jarang dijadikan tempat liburan. Banyak kekurangan sih tempat seperti ini, karena biasanya tempat favorit ya pasti segala ada. Sudah berjejer penjual souvenirs, hotel banyak, pokoknya ini itu lengkap di sana. Sedangkan di tempat yang kurang terkenal pasti sebaliknya.

Belum lagi bagi yang mengejar simbol-simbol iconic yang hanya ada di tempat aslinya. Dari tempat berlibur yang tidak terkenal, orang tidak akan tau detail tempat atau momen tertentu yang kita jepret tanpa caption yang panjang di instagram. Banyak kurangnya sih kalau kita rajin mencari-cari alasan supaya tidak bisa menikmati liburan. Tapi kita berhak menikmati liburan yang hakiki, bersama angin, melepaskan penat, lalu menangis bahagia. Cari sendiri ya tempat-tempatnya, jangan tanya penulis.

Bukan Gym Rat

Sumber : Pexels

Kayaknya sekarang ini memang lagi tranding pitnes, gym, healthy, run, otot dan segala rupa yang berbau olahraga begituan. Saya bukan bagian dari trand ini, meskipun kadang kalo dipanggil run atau sekadar jalan ya terpaksa ikut. But no, saya bukan member gym bukan pula anggota runner2an.

Tiap hari pasti ada saja kan berseliweran entah itu di depan mata kita langsung atau lewat layar gadget, mereka-mereka ini. Entah itu pengumuman marathon, iklan gym membership atau sekadar foto-foto lekuk tubuh yang membuat hayati lemah tak berdaya ingin peluk.

Menurut Wikipedia sih fitness center modern berasal dari California, jadi jangan heran kalau bau-baunya American banget (ujung-ujungnya duit). Salah satu frenchise fitness center yang terkenal, Goldgym, punyanya Amerika. Belum lagi ditambah pembuat alat kelengkapan sports seperti Nike, Skechers etc.

Bagus sebenarnya, ditengah bencana kenaikan berat badan massal dunia mereka membantu orang untuk menjadi lebih sehat. Ga seru kan kalo lari dikit sepatunya sobek atau fitness center nya berisi alat-alat karatan. Tapi, sadar atau tidak mereka actively driving this new trend.

Side effects dari yang mereka perbuat ini banyak sih. Coba iseng-iseng tanya ke para runner, mayoritas mereka pasti pernah atau sedang terkilir kakinya. Pokoknya pasti kena legs injuries lah. Tanya ke mereka juga berapa batasan maksimal jarak lari, pasti ga tau. Well kalo sering lari kan jarak berkilo-kilo pun lama-lama jadi biasa, padahalkan ada batasannya lari yang sehat itu berapa kilometer dan sesering apa. Pokoknya lari saja terus, karena kalo sering lari jam tangan tracker (murahan atau mahal an) makin laku, sepatu juga pasti jadi sering ganti.

Sedangkan di fitness center alat yang paling sering digunakan adalah cermin. Seolah otot bisa magically bikin orang jadi handsome, kasian dokter operasi plastik ya. Tiap hari para gym rat ini juga harus minum protein banyak. Saya pernah selama sebulan minum susu khusus otot gitu dan yang terjadi adalah pembengkakan disekujur diri ini, naik 10 kg. Kebayang kan gimana efeknya ke jantung, bukan skarang sih tapi tunggu saja beberapa tahun kedepan. Secara biologis juga otot yang sudah menonjol-nonjol begitu kan bisa dianggap kelainan. Ketika tubuh dipaksa untuk tumbuh bak ayam pedaging, tinggal tunggu efek negatifnya.

Bukan anti beginian sih, cuma pengen menyentil dikit tentang sesuatu yang kadang terlupakan dari dunia olahraga. BPJS bisa hemat triliunan tiap tahun kalo pola hidup kita lebih sehat. Dan berisi dikit ga berarti unhealthy, bahkan banyaaak juga yang suka tipe peluk-able. Badan ayah gula, chubby not fatty.

Marathon Nonton Film

Teman saya pernah bilang kalau di surga nanti dia pengen nonton semua film yang pernah diproduksi di dunia ini. Permintaan yang lumayan lucu dan juga mungkin akan merepotkan malaikat karna mereka harus menyensor konten porno hingga anti tuhan yang pasti ada, utamanya di film barat. Harapan beliau ini melintas begitu saja ketika layar berkedap-kedip menyala, demi film-film yang bergantian diputar.

Selama beberapa tahun belakangan ini saya pikir tidak ada film yang berkeliaran di luar sana tanpa sepengetahun diri ini. Maksudnya film yang bagus, ratingnya tinggi di rottentomato, dapat oskar atau paling tidak banyak dibicarakan. Tidak mengapa sih kalau film nya memang masuk tema yang negligible, who cares. Tapi setelah marathon beberapa film ternyata banyak yang terlewatkan. Tidak semua ada di akun youtube khusus trailer itu ternyata, ya it’s just me being lazy sih.

Ada dua film yang lumayan menyentuh hingga dua bola mata yang sedikit rabun ini basah karena perasaan daku terobok-obok. Yang pertama Nostalgia, mungkin karena sesuai dengan cuaca yang melow akhirnya kata Saudade di akhir film itu nempel di kepala selamanya. Satunya lagi Coco film dari tahun lalu, saya tidak percaya ternyata bisa juga nangis dari film animasi, ah dasar cengeng.

Film animasi buatan Pixar ini memang kualitasnya nomer wahid, kualitas Steve Jobs lah. Setting nya sesuai dengan selera Amerika (dan mungkin dunia) dengan segala yang berbau Mexico atau Latin Amerika secara luas. Lagi booming kan Taco, Despacito, hingga Tequila yang semuanya berasal dari daerah sana. Para Latinos ini juga jumlahnya sekitar semilyar dan rata-rata middle klas jadi potensi untung dari mereka juga besar apalagi bawa-bawa identitas.

Soo, I’m continuing my randomness….