Mencoba Batas Toleransi Indonesia di Laut Natuna Utara

Bagi Amerika awal mula aktivitas pembuatan pulau di Laut Cina Selatan di masa pemerintah Obama merupakan sebuah keteledoran. Tidak ada apa-apa yang berarti dilakukan oleh mereka ketika wilayah tak bertuan ditengah lautan tiba-tiba dibuatkan pulau yang kemudian jadi pangkalan militer. Hanya protes, sang pembuat pun menangkap sinyal bahwa mereka bisa go ahead, bikin aja terus, tambah pangkalan dan tambah persenjataan.

Bagi Amerika memang seperti tidak ada tools yang tepat, mau menggugat ke mahkamah internasional juga kan jauh dari teritorinya. Memberi sanksi bagi ekonomi terbesar ke dua di dunia seolah tidak terbayangkan, waktu itu. Apalagi kalau harus perang. Kemudian terjadilah pencaplokan Krimea, baru setelah itu Amerika dan EU bertindak dengan sanksi ekonomi dan bantuan militer ke Ukraine. Yang kemudian disusul dengan sikap aktif Amerika di Pasifik dibawah Trump.

Kasus Cina di Laut Cina Selatan tentu berbeda dengan ekspansi Rusia ke negara-negara bekas Soviet. Tapi pada hakikatnya kedua hal ini sama-sama ekspansi yang mestinya tidak terjadi dalam kamus Amerika. Klaim historis yang absurd tidak berlaku lagi di jaman modern ini, sudah usang seharusnya. Apalagi kalau harus ada pertumpahan darah yang berujung kehancuran total seperti yang sering digambarkan kalau nanti ada perang dunia ketiga.

Dari narasi yang hampir tidak pernah terdengar ada kata Indonesia disebut (tapi secara gampang bisa terlihat diberbagai peta klaim China terhadap laut) itu pun akhirnya berubah. Indonesia bertahan dengan klaim hukum laut internasional ada wilayah laut lepas yang besar di utara Natuna (kini menjadi Laut Natuna Utara). Sedangkan China selalu mengungkapkan bahwa mereka tidak punya sengketa laut dengan Indonesia.

Masalah ini kan soal Zona Ekonomi Eksklusif yang jadi soal teritori kalau pihak lain mengakui, China. Tapi mereka tidak akan mengakui klaim Indonesia karena dengan begitu klaim mereka secara keseluruhan dengan sendirinya tidak bisa terwujud. Padahal secara kasat mata saja klaim garis 9 putus-putus itu terlalu rakus, dekat sekali dengan wilayah orang lain.

Faktor pride yang dipamerkan dengan hegemoni di lautan ditunjukkan. Dikirimlah kapal-kapal besar ukuran destroyer yang mereka bisa produksi mungkin sehari satu di mainland sana. Karena punya duit, diajaklah berunding dengan strategi dua arah, multilateral mereka tidak mau karena pengaruh mereka tidak begitu kuat di semua negara anggota kawasan. Sebesar apa pun sogokan rakyatlah yang tidak sudi.

Melawan raksasa memang hal yang sulit. Vietnam menjadi contoh seberapa sulitpun sebenarnya masih bisa Indonesia berdiri tegak atas klaimnya di sana. Amerika saja pulang kampung, tentara China berkali-kali dipukul, mereka bahkan menduduki beberapa pulau di laut lepas itu.

Betul memang hal terbaik yang bisa dilakukan adalah merespon dengan cepat. Lalu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kandungan yang ada di sana. Bukankah sudah menjadi play book bahwa negara yang lebih kecil jangan sampai mau diinjak-injak. Singapura saja protes keras dengan nama kapal Indonesia, bayangkan cuma nama loh mereka gak takut sama Indonesia. Awalnya bahkan sebelum punya F15 dll mereka bersikukuh menghukum mati dua orang yang namanya diabadikan menjadi nama kapal itu, Usman-Harun.

Tidak ada batas toleransi, karena kita berdiri diatas argumen yang kuat. Meskipun senjata kita serba lemah.

Perang Lawan Corona Tanpa Senjata

Indonesia ini seolah berperang melawan corona tanpa memakai senjata. Entah apa yang kita pegang, dana stimulus minim, lockdown sebatas himbauan, bantuan sosial tidak dirancang baik, tes tidak bisa masif, fasilitas kesehatan serba kekurangan. Angka jutaan infeksi seperti di Amerika sepertinya bukan mustahil, apalagi kerusakan ekonomi setelahnya.

Soal dana stimulus yang katanya 400an triliun itu. Seolah besar dan memang kalau dibandingkan dengan persentase stimulus 2 triliun di Amerika kira-kira sebanding. Tapi bahkan Malaysia saja paket stimulus nya sekitar 80 persen dari anggaran negara di tahun 2020. Jepang lebih ekstrim lagi sampai bagi-bagi duit kesemua warga. Amerika belakangan malah tambah, minjam kan boleh apalagi masih ada ruang karena rasio utang kita masih rendah.

Dari anggaran mini ini muncul pula masalah di daerah yang kacau balau sehingga menteri keuangan saja mengancam dana ke daerah kalau tidak becus tidak ditransfer. Yang juga terdampak adalah dana yang seharusnya berupa bantuan sosial. Ketika bantuan dibungkus dengan embel-embel pelatihan kacangan maka banyak yang bereaksi. Bukankah mubadzir memberikan dana triliunan untuk jasa mediocre dari aplikasi lokal. Andai mereka mampu menyediakan pelatihan yang berkualitas tentu semua senang.

Walaupun begitu, jutaan buruh yang kena imbas PHK pun masih tidak akan bisa menerima manfaat kalau skemanya training high tech seperti itu. Apa susahnya sih transfer saja. Termasuk bantuan untuk yang membutuhkan dalam bentuk sembako, tidak terbayangkan dengan segala kekurangan Indonesia utamanya transportasi. Pekerjaan membagikan sembako dalam waktu singkat ke puluhan juta orang itu kata sebuah situs berita seperti pekerjaan membangun prambanan dalam satu malam, mustahil sukses.

Ikut saja Amerika dan Jepang dan banyak negara lain yang transfer duit. BLT dulu juga pake duit, bahkan sebenarnya masyarakat lebih butuh cash daripada bahan makanan yang bisa jadi karena proses pendistribusian yang tidak baik (sudah terkenal kan beras raskin kualitasnya seperti apa) malah cuma mie instan, beras rusak dan telur busuk. Banyak studi yang mendukung bahwa transfer dana tunai lebih efektif. Resiko kesehatan besar juga kan bagi masyarakat kalau harus berurusan dengan pendistribusian barang-barang seperti ini. Transfer dana bantuan sosial juga harus dari satu kementrian saja, tidak usah sok-sok ngasih masing-masing.

Sampai 2 Mei sekitar dua bulan dari kasus pertama yang resmi disiarkan dari pengakuan resmi pemerintahan baru 107ribuan tes swab yang dilakukan pemerintah. Ratusan ribu rapid test yang didatangkan dari China ternyata tidak akurat, sementara mesin tes yang akurat sedikit dan kekurangan reagen tes. Di negara lain ada yang sepertinya menghitung rapid test sebagai tes juga sehingga rasio tes mereka tinggi, seperti Malaysia.

Kalau memang rapid test 300 ribu asal Belanda yang juga digunakan staf NHS Inggris akurat seperti yang diklaim produsenya maka rasio tes bisa naik cepat. Sambil menunggu produksi dalam negeri, mengapa tidak tambah saja impor tes dari Belanda, Jerman dan Korea. Tapi, cukup mengherankan setelah mendatangkan 20an mesin PCR dari Swiss tidak ada lagi kabar tambahan impor mesin tes. Malaysia punya target 20 ribu tes per hari, sekarang sudah belasan ribu tes yang mampu mereka lakukan per hari bahkan dengan Filipina kita masih kalah.

Kalau pemerintah tidak denial sejak Januari, tentu sudah lebih dulu mempersiapkan lab tes, mesin-mesinnya, reagen, catridge etc. Ternyata kan sudah ada juga mesin-mesin itu di lab kampus-kampus, beberapa balai POM dan juga alat tes TBC yang tersebar di beberapa lokasi ternyata bisa disesuaikan untuk mengetes. Yang paling utama SDM yang mampu melakukan tes ngejlimet swab PCR. Janji 10 ribu tes pun sebatas pemanis saja, target tes 2 juta sampel juga susah dengan PCR.

Jika ingin percaya diri seperti Swedia atau pada beberapa minggu yang lalu Inggris dan Belanda yang berani mendambakan herd immunity negara kita harus paling tidak punya sistem kesehatan yang handal. Padahal semua tau bahwa Indonesia masih jauh dari standar pelayanan kesehatan yang baik. Demam berdarah saja kita banyak yang harus meregang nyawa, belum lagi kalau dihitung jumlah pasien yang meninggal karena pelayanan kesehatan yang buruk.

Ada banyak keraguan memang terhadap kemampuan dalam negeri untuk tiba-tiba menciptakan ini itu. Produksi ventilator misalnya, seolah ciptaan lokal padahal blueprint nya sudah dibagikan oleh lembaga seperti MIT. Apalagi dengan berita bahwa Inggris membatalkan pembelian ventilator sederhana. Bahkan perusahaan secanggih Tesla pun ventilator nya gagal, ditolak rumah sakit di California sana. Meskipun ada artikel yang mengatakan bahwa ventilator sederhana juga bisa sebermanfaat yang canggih, tapi janji produksi massal dalam negeri juga tidak kunjung dipenuhi.

Belum lagi APD yang diberitakan bisa produksi jutaan, kalau cuma masker wah itu jelas kurang. Jangan sampai kapasitas produksi yang janjikan belasan juta cuma masker saja, sedangkan sarung tangan, hazmat, dst bagaimana. Seolah dengan promosi masker kain polemik APD jadi terselesaikan.

Menjawab pertanyaan sederhana presiden tentang negara mana yang menerapkan lockdown dan berhasil saya malah teringat wawancara walikota di Italia yang kotanya menjadi epicenter. Beliau mengulang-ngulang bahwa lockdown lah solusinya. Tentu ini seolah jauh, tapi keberhasilan Vietnam negara tetangga yang populasinya besar dan ekonominya masih kalah dengan Indonesia bisa menjadi contoh.

Filipina yang sama-sama negara tropis kepulauan dengan populasi yang besar dan ekonomi yang jauh lebih kecil dari Indonesia mampu melakukan lockdown ketat. Mengatakan biaya sampai 500an milyar per hari untuk biaya hidup sejakarta bila dilockdown sepertinya tidak masuk akal, potensi pendapatan hilang sebesar itu sih mungkin. Vietnam dan Filipina tidak bangkrut kok itu.

Tulisan ini cuma rage saja, menghempaskan berbagai uneg-uneg. Sambil berharap para pemimpin kita diberi pikiran yang jernih dan kekuatan. Agar dokter dan perawat kita tidak berguguran begitu saja, agar mereka bersemangat, tabah menjalankan tugasnya. Agar di sudut-sudut sempit tak berampun negeri ini tak banyak yang meregang nyawa karena kelaparan saja. Ah negriku, ah dunia ini, sehatlah, vaksin, mana vaksin.

Corona, Demokrasi, Budaya

Dari pengamatan simple yang saya tangkap seperti yang sudah dikatakan banyak pihak ada sisi gelap sistem China yang muncul didalam pusaran wabah Corona. Kebenaran dipukul dengan keras, prang. Sang dokter yang memberi peringatan tentang adanya potensi wabah malah disuruh diam. Persis seperti nasib banyak orang dalam sejarah dan hingga saat ini yang berada dibawah kendali entah itu orang atau negara otoriter, dibuat diam.

Soal selera makanan orang kan sebenarnya memang yaah terserah orang. Walaupun sebenarnya ada loh suku yang meskipun bukan doyan tapi kadang makan orang skarang ini akhirnya dihentikan karena tentu tidak pantas dan berbahaya sehingga argumen makan sembarangan sebagai bagian dari budaya itu terpental. Budaya demokrasi katanya tidak cocok dengan budaya Asia atau China. Anda makan pit bull ala-ala wild wild west dan kami di sini makan kelelawar, beda sangatnya kata para elit politbiro CCP.

Melihat layar demokrasi di negara asal parlemen (UK) dan negara asal kepresidenan (USA) saat ini tentu segala mudhorat demokrasi sangat terpampang jelas. Bayangkan ternyata negara demokrasi itu bisa dengan entengnya menaruh seorang pebisnis gagal penuh tipudaya yang retorikanya kalau saja diejawantahkan bisa hancur lebur bumi ini. Tapi toh bahkan Hitler pun kalau melihat sejarah menggunakan jalur demokrasi untuk terpilih.

Atau di sebrang Atlantik lain yang begitu kacau karena seorang PM memberikan pilihan secara bercanda kepada warganya dengan resiko yang amat sangat berpengaruh ke ekonomi negaranya. Disusul dengan kekacauan yang masih berlangsung hingga saat ini sejak 2017 ketika referendum Brexit dipilih. Aduh betapa demokrasi begitu sulit

Kepemimpinan, Saat Keadaan Menjadi Genting

Setelah nonton ulang film dokumenter HBO tentang krisis ekonomi 2008 di Amerika saya kembali berpikir tentang kepemimpinan. Sang menteri keuangan Amerika saat itu ternyata orang luar biasa ketika dihadapkan pada masalah sangat genting. Ketika ekonomi Amerika dan dunia seolah akan hancur begitu saja, cara-cara yang ia lakukan terbukti ampuh mencegah keruntuhan pasar.

Beliau yang seorang mantan CEO bank besar di sana itu pertama berhasil meyakinkan bosnya sendiri Presiden Bush. Lalu ia menggunakan taktik jitu yang memaksa lembaga legislatif meneken paket bailout ratusan milyar dolar dengan legislasi yang hanya dua puluh lembar saja. Sembari berusaha mendapatkan komitmen dari dua senator yang lagi bertarung dalam pilpres yaitu Obama dan McCain untuk tidak menggunakan krisis yang tengah berlangsung sebagai bahan kampanye populis. Ia berhasil mengambil alih perusahaan duopoli Fannie and Freddie alias dinasionalisasi dan juga kemudian menekan para CEO perusahaan finansial agar mereka mau menuruti paket rancangan pemerintah.

Bayangkan ketika yang berada di posisi itu adalah orang bodoh yang sok mentang-mentang lagi korup mandraguna seperti yang terjadi di negri para bedebah saat ini. Bukan kementrian keuangan sih tapi mungkin kementrian atau lembaga pemerintahan lain yang tiba-tiba dihadapkan pada peristiwa genting yang mendesak. Bisa hancur negri ini. Atau kalau dalam skala mikro seperti di perusahaan ketika hal genting terjadi dan yang memimpin tidak ngeh, bangkrut perusahaan.

Ada contoh paralel yang terjadi sebagai dampak panjang dari krisis Amerika itu di Indonesia. Bank Century, bank yang tidak dikenal sama sekali oleh publik atau besar dari segi keuangan tiba-tiba macet hampir bangkrut. Yang saya ingat sangat terlihat kepemimpinannya adalah sang wapres yang kemudian dalam rapat pansus bank tersebut ketika dituduh mengintervensi kepolisian beliau menjawab bahwa itu perintah bukan intervensi, karena kepolisian berada dibawahnya. Beliau yang pada waktu itu mendapat bagian ngurusin masalah ekonomi menjadi tokoh kunci dalam menghadapi keadaan genting tersebut. Walaupun pada akhirnya dibypass oleh bawahan-bawahannya.

Dalam keadaan normal, ketika semua berjalan seusai yang diharapkan atau yang sering terjadi, terlihat seolah kepemimpinan itu tidak perlu karena semua bisa berjalan autopilot. Meskipun mekanisme untuk keadaan genting yang memaksa biasanya sudah ada, tapi yang sangat dibutuh adalah kepemimpinan. Ketegasan dari pemimpin, negosiasi, permainan politik, pertimbangan rasional, calmness dan juga insting dst.

Tiga Sahabat Akhir Tahun

Alkisah tiga sahabat akhir tahun berjumpa, hujan, petir dan guntur

Padahal tiada yang mengundang mereka, tidak pun rupanya mereka saling mengundang

Hanya mungkin got-got cairan kental pekat berbau pesing yang rindu, begitupun debu debu di jalanan

Tiga sahabat akhir tahun bergantian, lalu bersamaan, melambatkan, menunda, menghentikan bahkan meniadakan, duh

Jangan Membatasi Ekspor

Rupa-rupanya sekarang ini ditengah tekornya neraca dagang pemerintah malah membuat daftar panjang larangan ekspor ini itu. Mulai dari bahan tambang hingga lobster pun dilarang untuk dikirim ke luar negeri. Alasannya karena ingin meningkatkan nilai tambah dalam negeri, mengirim raw materials atau dalam kasus lobster yaitu baby lobsters dianggap merugikan Indonesia.

Soal hasil tambang berupa mineral dan minyak dkk selama ini biasanya memang dikirim dalam bentuk raw. Kalau minyak dan gas ke Singapura, karena mereka punya kilangan besar. Nanti setelah jadi minyak siap pakai baru dikirim lagi ke Indonesia. Kalau hasil tambang biasanya ke Jepang, smelter nya canggih. Ribet kan kalau minyak sendiri harus muter dulu ke Singapura baru bisa dipakai. Murah sekali juga kalau hasil tambang dikirim mentah-mentah ke Jepang.

Tapi, kalau mau meniadakan Singapura dalam kasus minyak ya kita harus bangun kilangan sendiri. Butuh paling tidak sepuluh tahun bangun kilangan yang juga super mahal itu. Apalagi ditambah fakta bahwa kita bagaimanapun juga harus tetap impor minyak, karena produksi tidak cukup serta cadangan yang terancam segera habis. Negara sekaya minyak seperti Saudi saja biasa kok ngirim-ngirim crude oil. Tapi ya sudahlah masalah ini kan pemerintah cuma ngotot dikilangannya.

Masalah tambang, nikel misalnya. Smelter katanya sudah banyak, sudah ada yang sedang bangun juga sekaligus embel-embel pabrikan produk turunan. Tapi, menganggap diri sakti mandra guna karena merupakan produsen top nickle ore dunia itu bodoh. Pas ekspornya ditutup memang harga dipasaran melonjak, tapi begitu dibuka lagi ya pasti turun lagi. Lagian yang dijadikan bahan baku baterai itu bukan nikelnya, kan jadi lucu kalau ngaku-ngaku sakti.

Kasus lobster, menggunakan nilai tambah plus menjaga lingkungan. Padahal industri penggemukan lobster itu mahal dan lama. Vietnam yang katanya jadi negara tujuan ekspor baby lobster saja masih kalah jauh ekspor lobsternya ke China daripada Indonesia. Tidak ada itu cerita Vietnam dan bahkan Indonesia pun masuk lima besar penghasil lobster dunia. Kalo toh katanya produksi menurun karena pemanasan global tentu semua negara pukul rata tidak ada yang tidak kena.

Banyak yang tidak sadar kalau total ekspor itu kumpulan dari berbagai item kecil hingga besar yang dikirim keluar negeri. Mulai dari celana dalam dari pabrikan garmen sekitaran Bandung, Gas alam dari ujung barat di Aceh sana hingga kiriman ikan-ikanan dari Jawa Timur. Meskipun ketergantungan ekspor itu tidak bagus tapi sebagai bagian dari sebuah supply chain global tentu kita tidak boleh semena-mena menentukan semau kita. Malaysia saja nilai ekspornya hampir dua kali lipat dari Indonesia, Singapura hampir empat kali lipat, kan malu.

Pengepul Sakit Jiwa

Ketika berkunjung ke rumah Nenek dari mama yang selalu saya ingat adalah banyaknya barang ini itu. Maklum beliau itu banyak sekali “bisnis” nya, bahkan lebih banyak lagi setelah pensiun. Tidak ada yang berani menyentuh, kecuali mama yang berani dan tega main bakar-bakaran, itupun ketika nenek tidak dirumahnya. Semua barang itu punya manfaat menurut beliau, jadi tidak ada yang berani nyentuh.

Kebiasaan ini sepertinya diturunkan ke mama dan saya juga, mulai dari kertas, koran, majalah, plastik bekas dst banyak yang kami simpan. Siapa tau nanti bermanfaat. Ini sih sepertinya hal yang lumrah, banyak orang yang seperti itu karna selain hemat juga ramah lingkungan.

Tapi, barusan saya menemukan di youtube, bahwa there such a thing as “hoarding” yang menjadi gangguan jiwa. Kalo di Indonesia kan dianggap bisnis, pengepul sampah. Di Inggris sama Amerika sana ada orang kaya yang nampung sampah karena sakit jiwa. Sampai-sampai rumah mereka penuh sampah.

Beberapa waktu lalu ada berita seorang nenek yang tinggal di apartemen mewah New York dilaporkan oleh tetangganya karena apartemennya penuh dengan sampah. Cek per cek ternyata beliau ini seorang millionaire. Di Inggris ada seorang bapak yang punya tiga rumah sekaligus di sebuah komplek perumahan, tapi rumahnya sudah penuh dengan sampah.

Mereka bakalan marah kalau disentuh barang “berharga” nya. Masih ada manfaatnya, barang penuh kenanganlah, dst. Ujung-ujungnya sampah yang menggunung itu sudah memenuhi rumah mereka. Tidur jadi susah, bau menyengat dimana-mana, belum lagi kalau di bawah tumpukan sampah sudah menjadi rumah tikus. Lengkaplah penderitaan hidup kalau dilihat dari sudut pandang orang waras.

Kebiasaan ini belum diakui secara resmi sebagai salah satu gangguan jiwa, padahal sebenarnya harus juga diakui. Karena akan mempermudah untuk ditangani nantinya. Dari sekadar mekanisme bertahan hidup yang murah dan ramah lingkungan menjadi bencana pribadi tentu ada batasannya. Ada tanda-tanda yang perlu kita liat bahwa mungkin kita sendiri, keluarga atau tetangga sudah masuk ke dalam pusaran depresi. Sebelum terlambat ingatlah penggalan lagu “let it go.”