Biasa

tatapan yang liar, of course never come, tapi tetap menanti kehidupan yang nyata

one day will finally knew, like what yang you wait all the day long, but seperti ini what it’s like, shortened, yang membuatnya berbeda

and for a satu jumpa, menjadi at least, for strangers sebagian, semua itu mungkin it just goes on and on, haha, harus menutup mata agar tidak meliriknya

lalu it seem to fade away, merindukan rasa yang pernah dirasakan, how I wish to pegang awan, menjadikannya air, membekukan litle pain yaaang you once knew

no one at all untuk bercerita, but aku punya segudang playlist, mencoba untuk tidak, but we are all listening, me and my dreams

kadang we hide

Efek Samping Era Teknologi Informasi : Misinformation

Here we are, in the new era, era teknologi informasi yang sebenarnya sangat membantu kehidupan kita sebagai umat manusia. Entah berapa triliun us dollar yang telah kita hemat berkat atau kita dapatkan dari teknologi informasi, untuk lebih spesifiknya internet atau world wide web (www).

Eh itu apa, googling aja, eh ini apa googling, eh dia siapa, buka fb, ada isu apa, buka twitter, berita apa ya tinggal cari berita onlinenya, pengen liat cara bikin ini, buka youtube, etc etc. Bukan cuma yang fun fun saja, di dunia akademik atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan ide keberadaan internet sangat membantu.

Tapi, akhirnya titik kulminasi itu pun muncul ke permukaan. Terpilihnya seorang demagogue di negara adikuasi tunggal dunia (Trump) menyadarkan kita semua bahwa berita atau rumor atau apalah itu di internet dapat berdampak yang sangat merusak.

Jadi apa sih penyebabnya ? To be honest, misinformation udah ada dari jaman baheula, jaman syaiton ngasih tau adam dan hawa kalau buah khuldi itu bagus untuk umur panjang. Meaning, misinformasi itu udah ada sejak jaman dahulu, sudah ada jaman-jaman awal terkenalnya internet.

Kenapa jadi sangat berbahaya sekarang ini ya karena internet semakin cheap, murah meriah. Bayangkan saja, untuk beli alatnya (hp) dengan 500k saja sekarang ini udah bisa, koneksinya malahan dimana-mana gratistis tis (wifi). Daan semua orang seolah dipaksa untuk ikut bergabung, kalo nda ada internet ga bisa narik ojek, ga bisa chat, ga bisa bayar ini itu, etc etc.

Mau bukti ? Liat saja di youtube. Tidak beberapa lama yang lalu untuk mendapatkan 1 billion viewer itu sebuah rekor tersendiri bagi sebuah video, kalo ga salah yang awal-awal itu si Beiber sama Oppa. Nah skarang ? Udah bwanyak yang nembus angka itu bahkan dobel. Ya di Indonesia juga bisa keliatan tuh dangdut-dangdut retjeh viewernya sampe puluhan juta (sakitnya tuh di mana yaaaa).

Hal yang menarik dari internet itu adalah terkoneksinya orang dengan interest yang sama. Sama-sama suka bola, jadi yang dikunjungi situs itu, yang ditonton ya channel yang itu, yang dishare ya berita itu. Begitu juga dengan ide atau pandangan yang sama, ya mereka jadi berpola. Yang dibaca ya berita dari situ itu, yang difollow ya orang yang itu (let say Jonru) etc.

Kebetulan saya kurang aktif di grup BBM atau WA, jadi tidak sampai ikut-ikutan dengan berbagai hoax yang pernah beredar. Tapi dari polanya ya mungkin sama saja dengan grup-grup facebook yang dulu sempat ada, ngeshare berita-berita yang miring, dengan fakta yang cukup mencengangkan namun sangat tidak berdasar sama sekali.

Berdasarkan berbagai study yang saya baca, sekarang ini polariasinya semakin nampak saja. Kita bisa mengetahui seseorang, utamanya pandangan politik, dari newsfeed sosial medianya (facebook, twitter?). Katanya jika diambil dua sampel orang dengan pandangan politik yang berbeda maka feeds yang mereka baca setiap harinya akan sangat berbeda pula. Bahkan untuk satu topik yang sama.

Apalagi kecanggihan algoritma situs-situs besar kayak facebook dan google yang memang dirancang untuk menampilkan hal-hal yang berdasarkan hasil ‘sadapan’ mereka atas aksi sukarela kita di dunia maya yang malah menampilkan berbagai berita atau postingan yang sesuai dengan tafsiran mereka atas interest kita. Jadi berita atau potingan yang kita liat tiap hari ya yang dari sumber itu itu saja, atau dengan tema itu itu saja atau interest yang itu-itu saja.

Satu hal lagi yang ternyata kita sadari bersama dengan fenomena ini, bahwa perusahaan-perusahaan penjaja informasi (koran ternama, tv, majalah etc) selama ini memang belum pernah betul. Mereka biasanya dikuasai oleh interest tertentu dengan berbagai cabang dimana-mana dan tentu saja sudah terlanjur terkenal yang pada dasarnya tidak lagi berkompetisi dengan internet, karena dengan mudahnya mereka tinggal memindahkan konten mereka ke versi online juga menjadi rujukan utama di internet saat ini. Kita akhirnya dapat membandingkan bagaimana mereka membungkus informasi mereka tersebut, sudut pandangnya, dst. Yaah, beigutlah cara mereka beroperasi sejak jaman dahulu kala.

Bias, pemberitaan yang tidak berimbang, too much opinion and less fact, etc etc. Merekalah yang menjadi contoh wikileaks, buka bukaan data yang seharusnya rahasia atau data pribadi yang tidak ada urgensinya dipublikasi. Merekalah yang menjadi panutan situs-situs hoax untuk membungkus fakta-fakta lemah menjadi berita viral sensasional.

*hahaha, hati-hati artikel ini mengandung unsur opini tingkat retjeh

Meleleh

melihatmu membuatku meleleh

seperti ice cream yang tadi pagi kujadikan sarapan

seperti hari-hari lainnya yang sama memelelehnya

I think to myself, WOW, cute

try not to blatantly stare back

tiba-tiba dunia berubah semerbak

dan aku menjadi orang gilanya

let out some kind of a reaction when I see cuties

🙂

Pikir Lagi Sebelum Menulis

Kadang, kita ingin menuliskan hal-hal yang kita alami sehari-hari. Mungkin menyenangkan jika kita dapat menuliskan semua hal itu, berbagi dengan manusia lain di belakang layar PC atau hape mereka. Banyak hal yang bisa dijadikan satu artikel bahkan mungkin buku di setiap detik dalam sehari saja. Mungkin cerita tentang bubur ayam tadi pagi yang rasanya lumayan campur aduk atau tentang tetangga kosan yang annoying dan seterusnya.

Tapi, menuliskan sesuatu selain membutuhkan waktu dan tenaga serta mood (tentu saja) juga membutuhkan rethink atau pikir-pikir lagi. Kita tidak menuliskan semua hal di dunia ini, meski pun sebenarnya setiap hal sudah coba ditulis oleh jutaan penulis di luar sana. Memikirkan kembali, menimbang-nimbang dampak dari tulisan itu adalah hal serius yang mestinya tidak hilang dari kamus seorang penulis, meski pun saya sering mengabaikannya.

Pada dasarnya semua hal yang kita lakukan di dunia ini memiliki dampak terhadap kehidupan alam semesta ini. Terdengar terlalu fantastis sih, but all action counts. Apalagi tulisan, bayangkan saja, tulisan paling tua yang tercatat adalah sebuah hukum yang berlaku di peradaban kuno. Sejak itu telah banyak tulisan yang merubah dunia, menjadi kepercayaan, ilmu pengetahuan, revolusi dan seterusnya.

Kita tentu patut berbangga menjadi penulis atau sekadar menulis sesuatu. Akan tetapi, harus juga mempertimbangkan mengenai tulisan tersebut baik dari segi keakuratan dan utamanya tanggungjawab atas apa yang telah kita lakukan tersebut. Karena siapa yang tau tiba-tiba besok lusa kita menjadi orang terkenal, terlepas dari status terkenal apakah karena hal positif atau tidak, akan ada orang iseng yang mengorek-ngorek tulisan lama kita. Membacanya dengan khusyuk dan mulai meraba-raba berbagai kejanggalan di dalamnya atau malah membuat-buat kejanggalan itu sendiri.

Tidak ada penulis yang terlepas dari kesalahan, disengaja atau pun tidak. Begitu pun tidak ada penulis yang tidak terpengaruh oleh tulisan-tulisan sebelumnya, sadar atau pun tidak sadar. Jadi ketika menuliskan sesuatu kita harus mempertimbangkan kembali kedua hal tersebut.

Selain itu, ada unsur lain berupa masyarakat atau pembaca yang akan membaca tulisan kita. Dengan pengalaman hidup yang berbeda-beda menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda pula terhadap apa yang mereka baca. Meski pun kita tidak bisa mengontrol pemahaman mereka ya tentu saja sebisa mungkin untuk mempertimbangkan hal tersebut dalam menulis, they are there dude.

Tidak ada salahnya memang menuliskan apa yang ada dikepala kita, asal benar dan berani bertanggung jawab atas tulisan tersebut termasuk bertanggung jawab di depan hukum. Apalagi bagi yang beragama tentu harus menyadari akan adanya konsekuensi di akhirat nanti mengenai tulisannya tersebut.

Kalah

maju lalu berlari dan sembunyikan muka

berlulut dan meneteskan lelah

menghentak-hentakkan perih pada kebisingan kepala

kenapa

bertanya pada semua, kecuali diri sendiri

marah dan memakan diri, mengunyah rasa

lemas tak berhasrat ingin pergi saja

lagi dan lagi lagi

pada jiwa yang lemah

diri yang sendiri

boleh berharap tapi tak boleh menggapai

hilang diri sudah

habis air mata sudah sakit mata sudah

tidak kah engkau berlari darinya ketika bisa

lalu kini jatuh tersungkur tak berdaya

di depannya, diantara kalian berdua

di keheningan sapa

negasi dan rasa cinta

pada dua kaki kecil itu

disertai kepala dan lutut-lututnya

menyerahlah rasakan kekalahan

jangan pernah lagi bertarung dengan panggilanmu

dengan rasa yang tak pernah pergi

yang selalu memanti di persimpangan ragu

dikala tak ada yang melirik

saat kehilangan dirimu sendiri

lalu ia membantu menyusun pecahan pecahannya

membersihkan debu debu yang mengotori jiwa

semoga

Surat Untuk Sedihku

Untuk sedihku yang telah menjadi darah, mengalirlah sepanjang jalan, gelapkan pandang, sepikan hentakan

Buka sulaman, memundurkan jarum, menarik-narik, memisah-misah, jauh-jauh

Marahi sepi, durhakai diam dan tebarkan aromanya

Pakai saja hingga terakhir, hingga menepi juga ke semak belukar kehilangan, yang menyimpan diri, yang menggenggam duri, meratapi cahaya

Bukan pada sesiapa juga, langit tak begitu peduli langit mungkin tak ada

Sering kau membakar lilin, agar asapnya menjadi awan, menjadi hujan, menjadi cair, meleleh

Sedihku pergilah, tinggalkan diriku, ku

Menjadi Follower

Kita adalah follower, tidak terkecuali para artis dengan jutaan follower di sosial media (cek sendiri kalo ga percaya). Kita harus menelan baik-baik kenyataan ini bahwa seberapa populer atau terkenal pun, masih perlu ngefollow. Sungguh suatu kenyataan yang sebenarnya tidak perlu diulang-ulang karena sudah menjadi pengetahuan umum.

Tapi, entah mengapa istilah follower menjadi tidak mengenakkan ketika dilabelkan kepada seseorang. Bahkan menjadi follower bisa berujung pada cap rendahan atau malah bodoh. Hal ini mungkin berasal dari kepercayaan bahwa menjadi pemimpinlah yang seharusnya dilakukan semua orang, menjadi pemimpin, tidak ikut-ikutan.

Hirearki dalam setiap sistem yang dibangun manusia, sering diilustrasikan dengan piramida yang bagian bawahnya lebar sedang bagian atasnya lancip menggambarkan dengan jelas bagaimana sebenarnya sistem tersebut berjalan. Pada bagian atas selalu merupakan posisi leader, sedang pada bagian bawah para followers.

Kepemimpinan dalam berbagai bidang merupakan sebuah kebutuhan, tanpa adanya pengendali puncak, sistem tidak dapat berjalan secara maksimal. Hal alamiyah seperti ini terjadi pada rantai makanan di alam liar.

Keseimbangan terjadi ketika pemangsa atau yang berada di puncak rantai makanan berada dalam jumlah yang jauh lebih kecil dari buruannya, sehingga sumberdaya terpakai namun tidak langka karena terlalu dieksploitasi. Sebaran yang seimbang mencegah juga agar tidak terjadi kelebihan populasi yang mengakibatkan keberagaman di alam terancam.

Dulu ketika masa-masa prasejarah, manusia bisa saja memisahkan diri dan membangun kabilahnya sendiri ketika ia mau. Tapi makin ke sini hal tersebut semakin berbeda. Manusia telah membangun sistem yang amat sangat kompleks yang membutuhkan peran berbagai komponen dalam menjalankan sistem tersebut.

Menjadi para pengikut tentu saja tidak sama dengan menjadi budak atau penyembah-nyembah yang bagaikan kerbau dicucuk hidungnya. Paradigma tersebut merupakan prinsip lama jaman kuda gigit besi dan tidak laku lagi sekarang. Bukan hanya tidak laku sebenarnya tapi tidak akan efektif.

Seharunya memang kesadaran individu tentang peran penting menjadi bagian yang harus mengikut atau berada di bawah harus ditumbuhkan. Mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai hal yang semestinya dilakukan. Karena seperti pemimpin perusahaan yang harus bertanggung jawab terhadap keseluruhan perusahaan melakukan hal-hal seperti mengangkat sampah yang terlewat tukang bersih-bersih kantor tidak perlu menunggu pemimpin tersebut.

Lagi pula, sekarang ini jarak antara pemimpin dan bawahannya tidaklah seperti jaman firaun. Meski pun berstatus pemimpin akan tetapi sistem yang berjalan bersifat tim egalitarian yang membutuhkan kerjasama dari tiap-tiap anggota.

Jadi, bukankah lebih asik menjadi follower saja tanpa beban khayalan yang begitu besar, karena toh semua harus menanggung bebannya masing-masing.