yang mana lagi? 

Maka yang mana lagi

Yang itu yang aku inginkan dan kau tak beri

Maka yang mana lagi

Yang ini yang tak kuinginkan dan kau beri

Maka yang mana lagi

Yang kuinginkan dan kau beri

Maka yang mana lagi

Yang lain yang seharusnya aku inginkan dan seharusnya kau beri

Maka yang mana lagi 

Yang dustakan

Iklan

Mantra Pagi

dan dunia akan baik-baik saja tanpamu

ketika hari berganti semua akan kembali sedia kala

matahari terbit, bulan bersinar, angin bertiup 

akan tetap ada suka dan duka setelahnya 

dan yang hilang banyak adalah sebenarnya kau

jalan lain

ketika engkau tengah asik masyuk berusaha percaya pada apa yang engkau bayangkan

ternyata jalannya tengah rusak, ada perbaikan

kau kesal

manusiawi bukan?

seolah tak ada jalan lain untuk sampai tujuan

dan jika menoleh sedikit ke belakang kau bisa melihat bekas-bekas perjalanan panjang yang harus terhenti itu

terlalu banyak bukan? 

kau pikir jalannya akan baik-baik saja

kau pikir mungkin hanya dengan menunggu dikit, diam bentar atau marah-marah orang lain seperti sebelumnya,  akan jalan lagi

ternyata tidak, harus jalan lain

maka hari itu kau terlahir kembali, sadar dari delusi akut yang telah mengaburkan countless persimpangan yang menyediakan jalan lain, sebelum-sebelumnya 

kau dipaksa untuk menikmati perjalanan, lagi 

yang tak pasti, yang bahkan bisa berujung jalan lainnya lagi

bukankah berjalan berarti hidup itu sendiri

walau dengan, lika-liku simpang sana sini, tikung bahkan putarbalik

tentu kau tau betapa banyak perjalanan lain yang harus mencari jalan lain, cuma capek saja kan kalau lutut mu yang harus merekamnya senti demi senti

maka kau mulailah perjalanan baru saja, segera, mulailah 

Membeli Senyum 

Sini ku beli senyummu

Dengan dua lembar tisu

Yang satu kutaruh parfume

Yang satu buat menghapus lelahmu

Tambah satu botol aqua

Biar hilang haus duniamu

Lalu kita berjalan jalan sebentar

Biar dungu mu terkikis bak sol sepatu

Berhenti kita di pertigaan

Makan Cendol

Supaya kau ingat, gula aren bukan rafinasi

Ambilkan daku foto

Biar tidak semua menjadi selfie

Kita bisa berjalan lagi

Jangan lupa kau bayarkan

Pada ibu itu rasa terima kasih

Karna yang dia jual bukan cairan saja

Tapi dedikasi

Aku akan menggenggam tangan mu

Tidak erat karna kau akan kesakitan

Tidak juga lengah, despacito

Kabut Polusi 

Pagi itu, dari sudut Jakarta menuju Benhil

Aku menengadah ke angkasa

Memastikan dugaan

Terlihat kelabu mulai mengepul

Jalanan sudah riak-riak

Selip sana sini

Ku ikuti dengan pandangan

Wajahnya yang hilang ditelan beda arah

Mungkinkah dia berbalik

Atau sadar akan polusi dan pindah kota

Bertemu nanti di hutan raya Dago, atau

Jauh ke pedalaman hutan Sulawesi

Terlihat wajah wajah transisi

Dari gerbong gerbong pagi buta

Di tanah abang

Menuju dua roda jaket ijo

Berakhir di gedung gedung hingga sore malam

Tinggal daku sendiri, senyum

Ketika Penulis Dipajaki

Selain Tere Liye, Dewi Lestari dst ada juga loh penulis lain yang dengan happy nya nulis aja, tidak mengharap duit dari nulis yang masih tersisa kalo dikurangi batas tertentu menurut aturan pajak. Karena memang tulisannya simply jelek hahahaha, ga jual able, ga banyak yang minat baca, kurang ini itu.

Begini, setau saya ya, di negara yang pajaknya kalo ditotal-total nyekik banget kayak Amrik itu kalau politisinya pensiun apalagi setingkat presiden mereka bisa dapat jutaan dollar dari nulis buku. Baca lebih lanjut