Galak di Media Sosial

Beberapa waktu belakangan ini karena tidak punya banyak kegiatan menyenangkan lain, kecuali nonton series sambil makan dan makan lagi saya juga sangat aktif di sosial media, utamanya Facebook. Sebenarnya karena saya atur otomatis terlink jadi setiap update di Fb status saya di Twitter juga otomatis terupdate, cuma karena saya memang tidak pernah suka main Twitter ya begitulah.

Mungkin nulis di wordpress ini juga bisa masuk kategori aktif di media sosial, karna pada dasarnya wordpress kan memiliki kemiripan dari segi fiturnya dengan dua media sosial yang saya sebut sebelumnya, cuma ya di sini bisa agak panjang lebar.

Kebanyakan yang saya posting sebenarnya tentang isu-isu politik terkini. Sisa-sisa pilpres 2014 dan tentu saja tentang pilkada Jakardah. Kalau tentang presiden sih biasanya saya posting tentang kekonyolan yang biasa beliau lakukan atau berbagai kebijakan yang tidak begitu memihak rakyat, menurut saya, apalagi kalau ada data atau info tentang kegagalan pemerintah ya pasti saya share juga.

Soal pilkada Jakarta pasti soal si tukang hina dan bermulut tak direm itu, meski pun saya sebenarnya dari dulu kurang suka dengan si mantan menteri tapi saya selalu mosting yang berlawanan dengan sang petahana. Kurang sreg aja, apalagi kan banyak sentimen negatif terhadap petahana jadi ya banyak bahan.

Mengapa mesti politik, alasan saya karena politik itu bahan yang tidak akan pernah ada habisnya. Hari ini mungkin skandal KTP elektronik, bulan depan bisa jadi beda lagi, sama seperti yang sudah-sudah (papa minta saham, hambalang, anas etc), badai pasti berlalu tapi musim badai sepanjang tahun.

Kadang saya berpikir berkali-kali karena caption yang akan saya posting itu sebenarnya menurut ukuran saya sendiri agak keterlaluan. Tapi, setelah riset kecil-kecilan di berbagai komen para internet troller, saya pun akhirnya memutuskan untuk mulai menggunakan kata-kata yang menurut saya dapat mewakilkan kemarahan atau ketidaksukaan yang sangat.

Lagi pula teman atau pengikut saya tidak banyak, bahkan mungkin untuk ukuran rerata orang Indonesia yang punya Fb terbilang sangat sedikit. Meski pun tujuan utama saya mosting itu sebenarnya biar bisa dilihat orang banyak, tapi saya masih terbilang dummy lah. Pengalaman minus, pendidikan juga cuma segitu jadi go viral kayaknya no lah.

Ada yang lebih seru dari mosting sebenarnya, apalagi kalau bukan ngomen. Awalnya saya suka sekali liat komen-komen di berita yang dishare media-media seperti the economist atau nytimes dll, lumayan mencerahkan, daan lucu-lucu. Jadi akhirnya, selain mosting, saya juga akhirnya memutuskan untuk ngomen-ngomen. Nah kalo ini bisa lumayan banyak yang baca. Debat kusir di komen.

Panggil Aku Sarjana

Fiuh, akhir Maret ini toga yang mesti dibeli sebelum sidang akademik/yudisium harus dicantolkan di kepala yang penuh kebingungan ini, yeah you know as a matter of celebration. So yes, I get ma diploma, nambah satu lagi deh sarjana di Indonesia dengan status temporarely unemployed.

Benar ternyata, lebih mudah masuk kuliah daripada lulusnya apalagi kalau pengen lulus dengan predikat kum laud, lol. Mulai dari urusan galau dengan tugas akhir, administrasi tetek bengek dan tentu saja itu loh, masa depan.

Skripsi ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan, but masih terhitung sulit. Hal terburuk yang kita alami pertama kali pas mau bikin skripsi itu adalah tidak tau mau bikin skripsi tentang apa. Mungkin temanya udah dapat, thats the easy part, tapi judulnya gimana, karna judul bakal nentuin segalanya. Yaa, skripsi saya jadi berantakan di akhir gara-gara judul ini. Padahal saya udah coba bikin sepragmatis mungkin. Oh iya, hal tersulit dari skripsi itu bagi saya sebenernya sih bekerja dengan orang lainnya, namely pembimbing, untung beliau sabar eh sempat marah sih dua kali. Hahaha

Administrasi di kampus itu gimana ya, naudjubillah pokoknya. Kalo yang ga sabar ya bisa bisa meja di sekre digetok-getok gitu sama yang marah saya pernah liat sendiri ada yang marah sampe segitunya, mepet sih. Oh wait saya juga pernah marahin and casually ngacak-ngacak berkas di salah satu kantor di kampus. At least, sampai akhir proses tetek bengek itu ada enam kantor atau ruangan administrasi yang mesti kita masuki, dan ada beberapa yang mesti bolak-balik padahal jaraknya ga deket sama skali, naik turun tangga di fakultas sebelah, antri, dst. Melelahkan pokoknya dan menguji kesabaran bgt.

And in the middle of semua itu, ketika lagi pengen istrahat dari capek fisik dan mental di kamar, tiba-tiba tanpa sengaja pas lagi memandangi dunia luar dari segenggam hp di tangan sering terlintas di pikiran. Ya, tentang masa depan, bisa jadi apa aku ini nanti maaaak. So, kadang-kadang or most of the time sih, jajan jadi pelampiasannya, kalo ada yang ngeselin makan aja, ada yang bikin bingung, makan wae, pokoknya makan. Ujung-ujungnya tagihan membengkak, perut meletus. Hahaha

Biasa

tatapan yang liar, of course never come, tapi tetap menanti kehidupan yang nyata

one day will finally knew, like what yang you wait all the day long, but seperti ini what it’s like, shortened, yang membuatnya berbeda

and for a satu jumpa, menjadi at least, for strangers sebagian, semua itu mungkin it just goes on and on, haha, harus menutup mata agar tidak meliriknya

lalu it seem to fade away, merindukan rasa yang pernah dirasakan, how I wish to pegang awan, menjadikannya air, membekukan litle pain yaaang you once knew

no one at all untuk bercerita, but aku punya segudang playlist, mencoba untuk tidak, but we are all listening, me and my dreams

kadang we hide

Efek Samping Era Teknologi Informasi : Misinformation

Here we are, in the new era, era teknologi informasi yang sebenarnya sangat membantu kehidupan kita sebagai umat manusia. Entah berapa triliun us dollar yang telah kita hemat berkat atau kita dapatkan dari teknologi informasi, untuk lebih spesifiknya internet atau world wide web (www).

Eh itu apa, googling aja, eh ini apa googling, eh dia siapa, buka fb, ada isu apa, buka twitter, berita apa ya tinggal cari berita onlinenya, pengen liat cara bikin ini, buka youtube, etc etc. Bukan cuma yang fun fun saja, di dunia akademik atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan ide keberadaan internet sangat membantu.

Tapi, akhirnya titik kulminasi itu pun muncul ke permukaan. Terpilihnya seorang demagogue di negara adikuasi tunggal dunia (Trump) menyadarkan kita semua bahwa berita atau rumor atau apalah itu di internet dapat berdampak yang sangat merusak.

Jadi apa sih penyebabnya ? To be honest, misinformation udah ada dari jaman baheula, jaman syaiton ngasih tau adam dan hawa kalau buah khuldi itu bagus untuk umur panjang. Meaning, misinformasi itu udah ada sejak jaman dahulu, sudah ada jaman-jaman awal terkenalnya internet.

Kenapa jadi sangat berbahaya sekarang ini ya karena internet semakin cheap, murah meriah. Bayangkan saja, untuk beli alatnya (hp) dengan 500k saja sekarang ini udah bisa, koneksinya malahan dimana-mana gratistis tis (wifi). Daan semua orang seolah dipaksa untuk ikut bergabung, kalo nda ada internet ga bisa narik ojek, ga bisa chat, ga bisa bayar ini itu, etc etc.

Mau bukti ? Liat saja di youtube. Tidak beberapa lama yang lalu untuk mendapatkan 1 billion viewer itu sebuah rekor tersendiri bagi sebuah video, kalo ga salah yang awal-awal itu si Beiber sama Oppa. Nah skarang ? Udah bwanyak yang nembus angka itu bahkan dobel. Ya di Indonesia juga bisa keliatan tuh dangdut-dangdut retjeh viewernya sampe puluhan juta (sakitnya tuh di mana yaaaa).

Hal yang menarik dari internet itu adalah terkoneksinya orang dengan interest yang sama. Sama-sama suka bola, jadi yang dikunjungi situs itu, yang ditonton ya channel yang itu, yang dishare ya berita itu. Begitu juga dengan ide atau pandangan yang sama, ya mereka jadi berpola. Yang dibaca ya berita dari situ itu, yang difollow ya orang yang itu (let say Jonru) etc.

Kebetulan saya kurang aktif di grup BBM atau WA, jadi tidak sampai ikut-ikutan dengan berbagai hoax yang pernah beredar. Tapi dari polanya ya mungkin sama saja dengan grup-grup facebook yang dulu sempat ada, ngeshare berita-berita yang miring, dengan fakta yang cukup mencengangkan namun sangat tidak berdasar sama sekali.

Berdasarkan berbagai study yang saya baca, sekarang ini polariasinya semakin nampak saja. Kita bisa mengetahui seseorang, utamanya pandangan politik, dari newsfeed sosial medianya (facebook, twitter?). Katanya jika diambil dua sampel orang dengan pandangan politik yang berbeda maka feeds yang mereka baca setiap harinya akan sangat berbeda pula. Bahkan untuk satu topik yang sama.

Apalagi kecanggihan algoritma situs-situs besar kayak facebook dan google yang memang dirancang untuk menampilkan hal-hal yang berdasarkan hasil ‘sadapan’ mereka atas aksi sukarela kita di dunia maya yang malah menampilkan berbagai berita atau postingan yang sesuai dengan tafsiran mereka atas interest kita. Jadi berita atau potingan yang kita liat tiap hari ya yang dari sumber itu itu saja, atau dengan tema itu itu saja atau interest yang itu-itu saja.

Satu hal lagi yang ternyata kita sadari bersama dengan fenomena ini, bahwa perusahaan-perusahaan penjaja informasi (koran ternama, tv, majalah etc) selama ini memang belum pernah betul. Mereka biasanya dikuasai oleh interest tertentu dengan berbagai cabang dimana-mana dan tentu saja sudah terlanjur terkenal yang pada dasarnya tidak lagi berkompetisi dengan internet, karena dengan mudahnya mereka tinggal memindahkan konten mereka ke versi online juga menjadi rujukan utama di internet saat ini. Kita akhirnya dapat membandingkan bagaimana mereka membungkus informasi mereka tersebut, sudut pandangnya, dst. Yaah, beigutlah cara mereka beroperasi sejak jaman dahulu kala.

Bias, pemberitaan yang tidak berimbang, too much opinion and less fact, etc etc. Merekalah yang menjadi contoh wikileaks, buka bukaan data yang seharusnya rahasia atau data pribadi yang tidak ada urgensinya dipublikasi. Merekalah yang menjadi panutan situs-situs hoax untuk membungkus fakta-fakta lemah menjadi berita viral sensasional.

*hahaha, hati-hati artikel ini mengandung unsur opini tingkat retjeh

Meleleh

melihatmu membuatku meleleh

seperti ice cream yang tadi pagi kujadikan sarapan

seperti hari-hari lainnya yang sama memelelehnya

I think to myself, WOW, cute

try not to blatantly stare back

tiba-tiba dunia berubah semerbak

dan aku menjadi orang gilanya

let out some kind of a reaction when I see cuties

🙂

Pikir Lagi Sebelum Menulis

Kadang, kita ingin menuliskan hal-hal yang kita alami sehari-hari. Mungkin menyenangkan jika kita dapat menuliskan semua hal itu, berbagi dengan manusia lain di belakang layar PC atau hape mereka. Banyak hal yang bisa dijadikan satu artikel bahkan mungkin buku di setiap detik dalam sehari saja. Mungkin cerita tentang bubur ayam tadi pagi yang rasanya lumayan campur aduk atau tentang tetangga kosan yang annoying dan seterusnya.

Tapi, menuliskan sesuatu selain membutuhkan waktu dan tenaga serta mood (tentu saja) juga membutuhkan rethink atau pikir-pikir lagi. Kita tidak menuliskan semua hal di dunia ini, meski pun sebenarnya setiap hal sudah coba ditulis oleh jutaan penulis di luar sana. Memikirkan kembali, menimbang-nimbang dampak dari tulisan itu adalah hal serius yang mestinya tidak hilang dari kamus seorang penulis, meski pun saya sering mengabaikannya.

Pada dasarnya semua hal yang kita lakukan di dunia ini memiliki dampak terhadap kehidupan alam semesta ini. Terdengar terlalu fantastis sih, but all action counts. Apalagi tulisan, bayangkan saja, tulisan paling tua yang tercatat adalah sebuah hukum yang berlaku di peradaban kuno. Sejak itu telah banyak tulisan yang merubah dunia, menjadi kepercayaan, ilmu pengetahuan, revolusi dan seterusnya.

Kita tentu patut berbangga menjadi penulis atau sekadar menulis sesuatu. Akan tetapi, harus juga mempertimbangkan mengenai tulisan tersebut baik dari segi keakuratan dan utamanya tanggungjawab atas apa yang telah kita lakukan tersebut. Karena siapa yang tau tiba-tiba besok lusa kita menjadi orang terkenal, terlepas dari status terkenal apakah karena hal positif atau tidak, akan ada orang iseng yang mengorek-ngorek tulisan lama kita. Membacanya dengan khusyuk dan mulai meraba-raba berbagai kejanggalan di dalamnya atau malah membuat-buat kejanggalan itu sendiri.

Tidak ada penulis yang terlepas dari kesalahan, disengaja atau pun tidak. Begitu pun tidak ada penulis yang tidak terpengaruh oleh tulisan-tulisan sebelumnya, sadar atau pun tidak sadar. Jadi ketika menuliskan sesuatu kita harus mempertimbangkan kembali kedua hal tersebut.

Selain itu, ada unsur lain berupa masyarakat atau pembaca yang akan membaca tulisan kita. Dengan pengalaman hidup yang berbeda-beda menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda pula terhadap apa yang mereka baca. Meski pun kita tidak bisa mengontrol pemahaman mereka ya tentu saja sebisa mungkin untuk mempertimbangkan hal tersebut dalam menulis, they are there dude.

Tidak ada salahnya memang menuliskan apa yang ada dikepala kita, asal benar dan berani bertanggung jawab atas tulisan tersebut termasuk bertanggung jawab di depan hukum. Apalagi bagi yang beragama tentu harus menyadari akan adanya konsekuensi di akhirat nanti mengenai tulisannya tersebut.

Kalah

maju lalu berlari dan sembunyikan muka

berlulut dan meneteskan lelah

menghentak-hentakkan perih pada kebisingan kepala

kenapa

bertanya pada semua, kecuali diri sendiri

marah dan memakan diri, mengunyah rasa

lemas tak berhasrat ingin pergi saja

lagi dan lagi lagi

pada jiwa yang lemah

diri yang sendiri

boleh berharap tapi tak boleh menggapai

hilang diri sudah

habis air mata sudah sakit mata sudah

tidak kah engkau berlari darinya ketika bisa

lalu kini jatuh tersungkur tak berdaya

di depannya, diantara kalian berdua

di keheningan sapa

negasi dan rasa cinta

pada dua kaki kecil itu

disertai kepala dan lutut-lututnya

menyerahlah rasakan kekalahan

jangan pernah lagi bertarung dengan panggilanmu

dengan rasa yang tak pernah pergi

yang selalu memanti di persimpangan ragu

dikala tak ada yang melirik

saat kehilangan dirimu sendiri

lalu ia membantu menyusun pecahan pecahannya

membersihkan debu debu yang mengotori jiwa

semoga