Meme dan Kebebasan Kita

Richard Dawkins pada tahun 1976 dalam bukunya The Selfish Gene menggunakan istilah meme untuk menjelaskan  any cultural entity that an observer might consider a replicator. Beliau merupakan seorang professor biologi di universitas Cambridge, Inggris. Sebenarnya, si Dawkins ini salah satu tokoh atheis vokal yang menyalurkan ide-idenya melalui berbagai media termasuk buku. Buku-bukunya cukup terkenal di Barat.

Well, akhir-akhir ini banyak sekali meme yang berkeliaran di dunia maya. Foto atau gambar dengan tulisan dan ekspresi yang khas seperti itu sebenarnya sudah dikenal bertahun-tahun yang lalu, bukan sesuatu yang asing lagi bagi kita.

Tapi, dengan ngtrendnya meme comic di dunia yang serba terhubungkan ini (berkat jaringan internet) banyak kalangan yang kemudian mencoba-coba membuat meme hasil karyanya sendiri karena mereka mendapati bahwa begitu mudah membuat meme tersebut. Mungkin tujuan membikinnya baik, sebagai bentuk hiburan yang mudah dibuat dan disebarluaskan. Walhasil hingga saat ini, banyak sekali meme yang bertebaran.

Pada dasarnya, kata meme yang dikemukakan Dawkins itu tidak ada hubungannya dengan meme yang beredar selama ini. But, ada sebuah meme yang menarik perhatian tentang ini. Sebuah meme yang berisikan lukisan Dawkins (yang ateis itu) bersama penggalan kalimat tanyanya sebagai judul dari meme itu, “If there is no god, why be good ?”, jawaban terhadap pertanyaan tersebut diambil dari bukunya God Delusion. Jika tidak ada tuhan mengapa berbuat baik.

Pertanyaan yang muncul untuk orang-orang yang tidak percaya kepada eksistensi tuhan di dunia ini, mengandung pesimisme tentang disorder yang mungkin akan terjadi nantinya jika menafikkan eksistensi penyebab dari berlakunya norma-norma kepatutan umum yang selama ini ada dalam masyarakat.

Dunia maya memang menyediakan ruang yang terbuka dan bebas sejauh belum adanya larangan tertentu tentang sesuatu yang bisa saja dianggap melanggar aturan hukum. Selama itu, ada kebebasan di dalamnya, ruang yang bagi sebagian orang dianggap ruang yang benar-benar bebas. Lalu, bukankah ini sama saja dengan pemikiran ateis yang telah meniadakan tuhan. Meniadakan hitam dan putih, benar dan salah. Meniadakan kontrol.

Meme yang beredar di dunia maya saat ini kebanyakan objek utamanya adalah manusia. Sudah banyak orang beserta ekspresinya yang  terabadikan dalam sebuah potret bertulis tersebut. Hanya saja, tidak semua orang tau kalau dia telah di meme kan.

Banyak lagi “hanya saja” lainnya. Hal yang tidak jarang di dunia per meme an adalah terekamnya kejadian buruk atau ekspresi yang jelek dari seseorang, yang bisa saja hal tersebut disalah artikan orang lain. Kemudian meme itu dijadikan bahan candaan, disebar kemana-mana. Mungkin ada yang pada akhirnya tau, mungkin ada yang  tidak, mungkin ada yang rela, mungkin ada juga yang tidak rela sama sekali dibegitukan.

Sekarang pertanyaannya diubah sedikit saja (yang semisal dengan yang ditanyakan kepada para ateis), bisakah kita berbuat baik di dunia maya dengan tidak membuat atau menyebarkan atau menertawakan meme seseorang yang dibuat seenaknya saja oleh orang-orang tak bertanggung jawab tanpa sebuah aturan (karena hal itu masih bebas) ?

Gambar

Tanyalah diri kita sendiri………

Iklan

7 pemikiran pada “Meme dan Kebebasan Kita

  1. Nice info gan :))
    Sy kebetulan komika juga (lagi belajar lebih tepatnya).
    Fenomena yg saya liat, org buat meme skrg mulai gak terkontrol. Memenya jdi terkesan dark comedy. Mksudnya ya, tak layak untuk di angkat jdi meme. Meme yg dibuat juga disebar gak melihat dri segmen masyarakatnya. Contoh; meme si jessica dan mirna.
    Kasian aja sihh. Gmna kalo kita di posisi si keluarga yg liat masalah kita dijsdikan bahan komedi dalam meme :))

  2. Hehehe, apapun jenisnya yg lucu itu tetap bagian dri komedy. Hanya saja ada kategori mulai dri yg smart, absurd, dark dll.
    Di barat tuhan dijadikan bahan komedy. Ada tuh materi stand up tentang tuhan, agama, anak yatim, dll. Dan penontonnya ketawaa :))
    Materi dark sebenarnya boleh tergantung cara mengemasnya dan mengerti segmen penikmat materi trsbt. Di indonesia pembuat meme semuanya cerdas kok, tp respon sebagian masyarakat msih menganggap “ada sesuatu yg tidak pantas ditertawakan” :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s