Kucil

Tidak mudah untuk berpura-pura melupakan sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu. Mengapa ‘berpura-pura’ melupakan, karena memang ingatan kita akan hal-hal spesial memang tidak bisa begitu saja terbang melayang tanpa jejak, kecuali dengan sebab-sebab tidak biasa lain -amnesia misalnya. Kejadian-kejadian itu –yang spesial– tentu semua kita punya. Bahkan, mungkin ada yang masih terperangkap olehnya. Salah bentuknya adalah pengucilan.

Sejujurnya, dikucilkan memang tidak enak, apalagi itu terjadi di masa-masa pertumbuhan kita. Bisa jadi pengucilan ini memengaruhi perkembangan otak dan berbagai efek samping lain. Kucil-mengucilkan ini mungkin bisa dibagi dalam beberapa kategori. Pertama, memang benar-benar dikucilkan oleh orang lain yang berada di sekeliling kita. Kedua, merasa dikucilkan, hanya merasa saja atau baru opini kita dan belum terbukti bahwa ini benar-benar suatu pengucilan yang nyata. Ketiga, mengucilkan diri sendiri, menjadikan diri sendiri sebagai yang tidak sesuai dengan kelompok.

Mulai dari yang pertama, benar-benar dikucilkan. Peristiwa ini hanya terjadi jika seorang individu menjadi bagian dari sebuah kelompok. Masalahnya adalah, individu mana yang tidak tergabung dalam sebuah kelompok ?. Bukankah setiap individu adalah bagian dari sebuah komunitas masyarakat yang ada di sekitarnya ? (dan masih banyak lagi kelompok-kelompok lainnya yang secara serta-merta melekat kepada individu), jadi tentu saja jawabannya iya. Kecuali, seorang yang telah mengucilkan dirinya dari peradaban abad 21 ini di pedalaman hutan Amazon atau di sebuah pulau kecil di tengah Samudra Pasifik (meskipun saat ini ia tidak benar-benar bisa memutuskan hubungan dengan dunia yang serba canggih ini).

Kemudian, bagaimana peristiwa ini bisa terjadi, bagaimana seorang individu bisa dikucilkan. Tentu saja tergantung, tapi secara umum si individu telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam masyarakat modren, mungkin dipenjara bisa disebut sebagai bentuk pengucilan. Pengucilan seperti itu benar-benar ada dan nyata dalam kehidupan ini. Tekanan fisik maupun psikis datang dari luar dan, ya nyata adanya.

Kategori kedua adalah merasa dikucilkan. Pada hakikatnya, individu yang ada dalam kategori ini berada dalam salah satu dari dua kenyataan yang ada, benar-benar dikucilkan atau tidak dikucilkan sama sekali. Akan tapi, manusia pada umumnya terlahir dengan pancaindra yang bisa menangkap rangsangan-rangsangan dari luar sistem dirinya dan kemudian memberikan respon. Respon yang terlahir itu tentu dengan intrepertasi subjektif diri masing-masing individu. Jika paranoidnya tinggi, hal-hal kecil pun bisa menjadi sesuatu yang besar dan respon pun tentu saja menjadi sesuai kadar besar itu. Anggota kelompok lain mungkin bisa saja tidak sedang mengucilkan individu tersebut. Mungkin ada sesuatu hal yang bisa saja memicu paranoidnya dan akhirnya timbullah rasa itu, perasaan dikucilkan. Padahal bisa jadi hal-hal yang terjadi hanyalah kebetulan saja, tanpa direncanakan oleh anggota atas nama kelompok.

Kategori berikutnya, mengucilkan diri sendiri. Untuk yang satu ini, kemungkinan sang individu ini merasa bahwa kelompok yang ia ikuti selama ini di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak sesuai dengannya lagi. Masuk atau keluarnya seseorang individu dari kelompok yang ada memang bervariasi, ada yang secara natural (sejak dari menjadi mahluk hidup) dan ada yang memang berdasar pada usahanya sendiri.

Sebagaimana individu, sebuah kelompok mempunyai unsur-unsur yang bertahan (sekaligus dipertahankan) dan ada pula yang selalu berubah (atau dirubah), dinamis. Sejalan atau tidak sejalannya individu dengan kelompoklah yang sebenarnya berpengaruh. Jika sama-sama mempertahankan dan sama-sama berubah kearah yang sama maka kesesuaian akan terwujud.

Namun, jika ada gap yang timbul dari perubahan baik datangnya dari individu atau kelompok (kumpulan individu lain, mayoritas) maka bisa jadi individu (atau sebagian individu) sebagai anggota minoritas menarik diri dari kelompok tersebut. Ada sebagian yang individu yang berjuang, tapi yang menyerah pun tidak sedikit. Sekali lagi, dikucilkan memang tidak enak. Mengucilkan diri sendiri juga sebenarnya tidak enak, tapi lebih parah lagi mungkin dengan orang yang digantung di antara keduanya, merasa dikucilkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s