Dampak Kenaikan BBM Terhadap Mahasiswa

bbm-pasti-naik

Beberapa waktu yang lalu isu tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berseliweran di beberapa media besar nasional. Presiden terpilih yang belum dilantik,  secara politik memberikan sinyalemen bahwa idealnya harga bbm memang harus naik. Bagaimana pun, bbm memang tidak bisa terus-terusan dengan harga yang itu-itu saja.

Konsumsi masyarakat akan bbm terus meningkat, begitu pun harga bbm dipasaran dunia juga tidak mungkin merangkak turun lagi. Otomatis porsi subsidi bbm dalam anggaran belanja nasional akan semakin membesar. Sesuatu yang amat dilematis sebenarnya. Mungkin juga (atau memang) isu ini bisa heboh banget karena masyarakat sudah terbiasa dengan harga bbm murahan, kalau dibandingkan dengan harga yang sebenarnya.

Nah, apa hubungannya dengan kantong mahasiswa ? Tentu saja mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang turut menikmati dan secara tidak langsung dan juga memberikan subsidi bbm. Dampak kenaikan bbm secara langsung pasti terasa pada aktivitas sehari-hari seorang mahasiswa. Dompet dalam kasus ini berarti faktor finansial mahasiswa, sesuatu yang sangat sensitif bukan.

Yah, karena pada umumnya mahasiswa di Indonesia kita tercinta ini masih bergantung pada induk semangnya (baca: orang tua). Zona nyaman mahasiswa dikita memang seperti itu. Layaknya seorang pegawai yang mendapat gaji setiap awal bulan. Namun, seberapa besar pun ‘gaji’ tersebut, tetap saja punya batasan normalnya. Kebanyakan mahasiswa sudah merencanakan keuangannya masing-masing. Walaupun tingkat toleransi pengalokasiannya masih terlalu tinggi. Enak sih, tapi beban moral juga, bagi yang merasa.

Dompet mahasiswa yang masih ditopang ATM (anjungan tunai mama) tersebut tentu saja tidak fleksibel. Padahal, harga-harga akan sangat sensitif. Dari pengalaman selama ini, baru isu atau wacana kenaikan bbm saja, para penjual sudah secara lebay menaikkan harga barang-barang dagangannya. Dan itu pun terbukti, harga gorengan, angkot, bbm eceran dan beberapa barang kebutuhan lainnya secara real sudah naik. Contoh diatas itu merupakan barang-barang yang cukup berdampak pada mahasiswa. Ini bukanlah harga akhir dan barang-barang terakhir yang naik, ini permulaan, starting point. Harga sewa kosan, harga makanan di warteg, harga pulsa, harga kuota internet, harga buku referensi, kemungkinan besar akan menyusul naik.

Sebagian mahasiswa nanti bakalan ada yang berdemo (ini selalu) dan berkoar-koar menggugat kenaikan bbm ini. Sekaligus melampiaskan kemarahannya juga, mungkin. Sebagian yang lain mencoba untuk melobi orang tuanya agar menaikkan ‘gaji’nya. Ada pula yang menjadikan ini sebagai momen-momen untuk berhemat, meskipun ini teramat jarang. Ujung-ujungya dompet mahasiswa mesti terkena dampak kenaikan harga bbm, mau tidak mau, suka tidak suka.

Iklan

8 pemikiran pada “Dampak Kenaikan BBM Terhadap Mahasiswa

  1. Naik gak naik tetap aja anak kos ngisi bensinnya cuma 10rb -.-
    Tp emng sih dampaknya ke hal yg lain jugaa :))
    Serius banget tulisannya udah kayak pengamat ekomomi aja bang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s