Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi

Hmm, hal yang paling saya ingat dari 2014 adalah prediksi kalau Indonesia akan krisis di 2015 ini oleh mantan dosen wali saya, prediksi itu memang tidak seperti economic outlook dari lembaga-lembaga profesional, hanya bincang-bincang ringan di kantin belakang kampus. Hingga, akhirnya ketika artikel ini saya tulis awal tahun 2016 tinggal menunggu 2 bulan lagi dan terbukti selama hampir genap 10 bulan ke belakang ekonomi Indonesia dibayang-bayangi krisi ekonomi dengan isu-isu nilai tukar terhadap dollar us dan krisis China yang sangat tercermin dari melemahnya indikator-indikator utama makroekonominya.

Mungkin beliau sudah membaca prediksi-prediksi dari berbagai lembaga kredibel yang biasa bikin ramalan-ramalan atau mungkin itu dari hasil pengamatanya sendiri. Sebenarnya pokok bahasan ringan siang itu investasi (pasar saham, properti dst) yang tentu saja sangat-sangat terdampak dari kondisi ekonomi secara umum, beliau sendiri merupakan seorang  investor.

Gubernur BI mengatakan bahwa perlambatan ini memang terjadi secara merata di seluruh dunia, bukan Indonesia saja. Bagaiamana pun, kita memang harus menyadari bahwa ekonomi global sudah sangat-sangat terkoneksi satu sama lain, bayangkan saja saat ini sekitar 40 % surat utang negara dan 60 % saham di IHSG dikuasai asing.

Bukan tidak mungkin kan karena satu dan lain hal modal itu kembali lagi ke negara asalnya tau ke negara-negara yang lebih atraktif dari Indonesia, Vietnam misalnya dan itu bisa terjadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya thanks to technology.

Saya percaya kalau Indonesia tidak akan krisis parah lagi seperti 98 dengan melihat indikator-indikator pada tabel di bawah ini :

Perbandingan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan periode krisis 1998 dan 2008:

Indikator ekonomi 1998 2008 2015
Pertumbuhan ekonomi -13,10% 4,12% 4,67%
Inflasi 82,4% 12,14% 7,18%
Cadangan devisa US$17,4 miliar US$80,20 miliar US$107,6 miliar
Kurs rupiah Rp16.650/US$ Rp12.650/US$ Rp14.098/US$
Rasio utang pemerintah terhadap produk domestic bruto (PDB) 100% 27,4% 24,7%
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross 30% 3,8% 3,6%
BI Rate 60% 9,5% 7,5%
Indeks harga saham gabungan (IHSG) 256 1.111 4.237
Total utang luar negeri (Pemerintah dan swasta) US$150,8 miliar US$155,08 miliar US$304,3 miliar
Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa 8,6 kali 3,1 kali 2,8 kali
Depresiasi rupiah (posisi terendah) 197% 34,86% 14,03%

Sumber: Bisnis Indonesia

Sementara itu, pemerintahan Jokowi merespon kondisi ekonomi yang kurang baik ini dengan mengeluarkan paket-paket kebijakan yang dianggap perlu dan bisa dilakukan pemerintah. Paket-paket ekonomi utamanya ditujukan untuk menggairahkan kembali proses industrialisasi yang belakangan ini kinerjanya cukup menurun.

Industrialisasi penting bagi Indonesia, selain penyedia utama lapangan pekerjaan, sektor industri juga harus bisa menyediakan kebutuhan konsumen dalam negeri. Meskipun kita tidak bisa lepas dari barang-barang ekspor, kita tidak boleh terlalu tergantung dengan barang-barang tersebut. Hal yang sangat miris adalah selama ini pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh permintaan domestik atau konsumsi rumah tangga. Yup, produksi rendah tapi konsumsi tinggi.

12779004_830244623752811_8299868951266764205_o (1)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s