Pendanaan Kampus, Dari Mana Ya ?

aritkel di situs anaktelkom 

Sempat bingung juga mau nulis apaan, sebenarnya pengen menelusuri dan membahas secara masif terstruktur dan sistematis tentang pendaan di kampus tercinta. Tapi, karena belum bisa mengakses data-data atau laporan keuangan dan sebagainya yang terkait secara lebih mendalam maka tentu saja penulis merasa tulisan ini kurang sesuai. Yup, publikasi pendanaan atau penggunaan dana di kampus tercinta masih belum jelas rimbanya, paling tidak untuk mahasiswa biasa kayak yang nulis artikel ini. So, mari kita membahas ini secara santai saja. Pendanaan kampus, dari mana ya ? hmm.

Logikanya adalah segala aktivitas di kampus tentu memerlukan biaya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari penerimaan mahasiswa, pembangunan gedung dan pemeliharaanya, aktivitas perkuliahan sehari-hari, organisasi mahasiswa, gaji dosen dan karyawan lain, sampai wisuda dan ijazah pun butuh yang namanya dana (baca: u a n g).

Gedung Kuliah Umum Telkom University
Pembangunan Gedung Kuliah Membutuhkan yang Tidak Sedikit

Nah, sekarang dari mana dana tersebut ? jawabanya mungkin ada di ujung langit, ahaha, ini jawaban ngasal dari Dragonball. Well, dana kampus bisa datang dari berbagai sumber. Kalau kampus itu kampus publik atau kampus negri ya pendanaan utamanya ya dari pemerintah. Besaran dana kampus negri tergantung kebijakan pemerintah, termasuk di dalamnya subsidi-subsidi untuk perbaikan infastruktur atau dalam bentuk sholarship. Kampus sejenis itu memang tidak terlalu bertumpu dengan pendanaan dari sumber lain.

Jadi jangan heran kalau biaya studi di kampus-kampus negri bisa lebih terjangkau atau bahkan full gratis seperti kampus-kampus kedinasan. Belakangan ini, bagi kampus negri sih, pemerintah memang telah mengeluarkan aturan baru mengenai biaya kuliah yang disesuaikan dengan kondisi keuangan mahasiswa. Tidak seperti dulu yang besaran biayanya dipukul rata bagi semua golongan.

Sementara kampus private atau swasta seperti Telkom University ini, bergantung padatuition fees atau dana dari mahasiswa yang mendatar/kuliah di sini. Dana tersebut lebih rincinya berasal dari uang masuk, gedung, iuran semester, dan seterusnya. Ada pula kampus yang di danai oleh perusahaan, organisasi atau yayasan tertentu yang mempunyai interestnya masing-masing.

Sistem yang seperti ini tentu akan secara otomatis menjadikan biaya kuliah di kampus swasta lebih mahal. Tapi, kasus seperti itu agaknya kurang sesuai dengan kondisi di Indonesia, buktinya ada banyak universitas swasta yang murah meriah (atau sebut saja ijazahnya murah meriah, ahaha).

Kelemahan pendanaan semacam ini adalah adanya ketimpangan akses terhadap pendidikan yang lebih tinggi. Hanya yang mampu secara finansial saja yang bisa menikmati pendidikan yang bagus. Kampus juga bisa saja menjadi terlalu komersil, dengan hanya berfokus pada kuantitas mahasiswa yang masuk bukan pada kualitasnya.  Upaya branding yang berlebihan juga bisa mencitrakan hal-hal yang tidak sesuai keadaan sebenarnya, sangat memalukan jika institusi yang menjadi tempat menuntut ilmu malah mempraktekan kebohongan seperti itu.

Hal tersebut juga diakui oleh pihak kampus, menurut rencana strategis yang bisa dilihat di situs web Telkom University :

” Sekitar 90% pemasukan Telkom University adalah dari Tuition Fee, yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional pendidikan dan pengajaran. Hal ini dapat menyebabkan institusi masih kesulitan dalam mengembangkan/membangun fasilitas baru atau melakukan kegiaatan penelitian pengabdian kepada masyarakat. Pada suatu saat, pendapatan tuition fee tidak dapat lagi dikembangkan ketika biaya pendidikan yang harus dibayar mahasiswa sudah tinggi dengan jumlah kapasitas daya tampung mahasiswa sudah terlampaui.”

Baik kampus negri maupun swasta juga biasanya dapat dana hibah penelitian atau berupa kontrak dengan pihak-pihak tertentu (perusahaan, pemerintah, dst). Pemerintah melaluidikti biasanya menyediakan dana hibah bagi kampus, dosen, bahkan mahasiswa. Kampus bisa juga bekerjasama dengan perusahaan tertentu untuk proyek riset dan pengembangan yang pada umumnya ditujukan untuk perusahan itu sendiri (tidak dipublikasikan). Sebagai imbalan, perusahaan akan membayar pihak kampus dan idividu yang terlibat dalam proyek.

Sumber pendanaan lain yang cukup potensial juga adalah endowment. Endowment pada dasarnya merupakan sejumlah dana yang disumbangkan alumni atau pihak-pihak tertentu untuk tujuan-tujuan yang disaratkan para donatur. Dana tersebut dikelola oleh kampus, tidak dihabiskan begitu saja melainkan diinvestasikan baik dalam bentuk saham, obligasi dst.

Tiap tahunya kampus hanya akan mengambil hasil dari investasi endowment. Contohnya jika diinvetasikan dalam bentuk saham maka yang didapat berupa pembagian deviden(pembagian keuntungan perusahaan). Layaknya portofolio investasi, dana tersebut tentu saja akan terus bertambah tiap tahunya.

Pendanaan seperti ini udah teruji di kampus-kampus top dunia seperti Harvard, Yale, MIT, Stanford dan banyak lagi, kampus-kampus di Amerika yang sukses menggunakan sistem ini. Untuk tahun 2014 saja, endowment Harvard University mencapai $36 billion (dengan kurs dollar-rupiah 14045 itu bisa setara Rp. 500an trilion lebih dikit, hahaha). Hasil dari investasi tersebut pada tahun 2013 sebesar $1.5 billion atau berkontribusi sebesar sepertiga dari pendaan oprasional yang masuk ke Harvard.

Tentu saja tidak mudah menggalang dana seperti sejenis ini di negara kita. Volunteerismmasih rendah peminat di negara ini, apalagi yang berurusan dengan dana (baca: u a n g). Namun, jika kampus ingin berkembang secara lebih leluasa dan lebih baik lagi maka mereka harus mulai memikirkan cara mengelola pendanaan yang berkelanjutan.  Endowment dapat dijadikan model alternatif pendanaan yang bagus, dari pada terlalu bergantung pada satu sumber pendanaan saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s