Social Entrepreneurship

“….saya lagi pegen berbisnis, binis sosial….”

Penggalan kalimat yang saya lupa-lupa ingat tapi pada esensinya kira-kira seperti itulah datang dari teman saya, ketua sebuah organisasi mahasiswa. Bisnis untuk sosial, berbisnis sembari menyelesaikan masalah sosial, dst memang lagi populer seiring dengan populernya semangat berbisnis diseluruh dunia.

Social entrepreneurship is the use of new approaches to solve old social problems. Cara baru, ide baru yang lebih efisien dan efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Sama halnya dengan yang ditawarkan entrepreneur dalam dunia bisnis yaitu ide atau cara-cara baru.

Hal ini tentu saja selaras dengan apa yang lebih dari seabad yang lalu dimulai oleh seorang kiai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau menggunakan pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi jaman tersebut, mendirikan organisasi keagamaan, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dll yang belum terpikirkan oleh muslim lain sejamannya.

Selayaknya seorang entrepreneur, kiai Dahlan mengelola usaha-usaha yang telah ia dirikan tersebut dengan aktif, bersama istri, kawan dan murid-muridnya dengan berbagai pengorbanan. Beliau telah melangkah keluar dari status quo yang membelenggu jamannya dan tentu saja melahirkan solusi-solusi yang amat membantu kaum muslimin bahkan hingga seabad kemudian.

Ide memang tidak lantas disebut basi ketika masalah yang sebenarnya ingin diselesaikan tidak juga selesai. Mungkin saja ide tersebut butuh penyempurnaan, atau bahkan muncul masalah-masalah baru dari masalah-masalah lama yang belum tuntas terpecahkan dan sebagainya. Hingga, perlu yang namanya ide baru, cara baru, pendekatan baru.

Tidak ada yang sepenuhnya baru dalam dunia ini meskipun kita manusia menyebutnya baru, cara baru bisa datang dengan menggabungkan sesuatu yang telah ada, connecting the dot. Merubah sebagian aspek dalam cara yang lama dan seterusnya. Jadi, cara baru itu tidak perlu lagi ditunggu-tunggu dari mana datangnya (ujung langit ? No).

Teknologi informasi dan komunikasi tentu saja sangat-sangat mempermudah langkah kita untuk memulai proyek-proyek sosial di jaman sekarang ini. Kolaborasi tidak lagi terhambat ruang dan waktu, akses terhadap data dan informasi tidak terbatas dan tentu saja murah meriah. Apalagi bagi organisasi yang telah berkecimpung di dalam usaha-usaha sosial, tentu saja akan jauh lebih mudah lagi.

Kolaborasi harus diutamakan, usaha sosial tanpa kolaborasi tentu akan sangat lucu, kolaborasi itu sendiri merupakan sebuah kegiatan sosial. Mengumpulkan sumberdaya yang bisa secara bersama-sama menyelesaikan masalah memang bukan perkara yang mudah, bahkan dengan kemudahan yang disediakan teknologi. Tapi, tanpa kolaborasi yang baik, usaha yang dijalankan tentu saja tidak akan tercapai.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s