Mesjid Kehilangan, Sendalnya

Menurut Wikipedia Sandal tertua yang pernah ditemukan manusia  berusia sekitar 10.000 tahun  di daerah Fort Rock Cave, negara bagian Oregon Amerika Serikat. Sedangakan istilah sandal sendiri berasal dari bahasa Yunani yang mengindikasikan bahwa sandal sudah menjadi bagian dari kebudayaan Yunani kuno. Penggunaan sandal juga dapat ditemukan dalam peradaban kuno lainya seperti Mesir.

Jelas bahwa sandal bukan produk kebudayaan masa kini. Saya sempat berpikiran kalau sendal itu budaya modern karna banyak suku-suku terasing yang tidak menggunakan sandal. Tapi jika melihat fungsi sendal sebagai bagian dari pakaian manusia dan ternyata banyak suku-suku terasing yang hampir telanjang, jadi tentu saja sendal dapat dikatakan bagian dari peradaban.

Sudah puluhan sandal yang saya gunakan hingga detik ini. Jujur saja, saat ini saya berkesimpulan kalau lebih nyaman memakai sandal dari pada sepatu, lebih simple. Dulu ketika SMA (lebih tepatnya Madrasah Aliyah, ahaha) saya baru menyadari bahwa ada aturan tidak tertulis kalau sendal itu tidak sopan dan sebagainya. Sebagai pecinta sandal memang sebelum masa-masa itu saya tidak pernah membanding-bandingakan antara sendal dan jenis alas kaki lainya, utamanya sepatu. Sepatu bagi saya selalu identik dengan sekolah dan hal-hal formal lainnya. meski pun sejak kecil saya sudah dibiasakan menggunakan sepatu kemana-mana.

Ada sebagain perjalanan hidup saya habiskan dengan sendal, menemani perjalanan kaki ini kemana hendak ia dituju.  Tapi, kadang kisah itu bisa berakhir tragis dengan rusaknya sendal itu karna faktor usia atau kecelakaan kecil lainnya. Namun kadang bisa juga secara misterius menghilang entah kemana rimbanya, lebih-lebih jika ternyata yang hilang menyisakan sebelah jiwanya.

Dulu ketika hendak ke mesjid untuk sholat jumat saya selalu diwanti-wanti untuk menaruh sendal di tempat yang aman. Faktanya memang mesjid yang seharusnya jadi tempat paling tentram bagi kaum muslim malah menjadi salah satu tempat yang paling tidak aman bagi sendal, baru.

Sepertinya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, pertama sendal tersebut benar-benar dicuri oleh yang tidak bertanggung jawab. Kedua sendal tersebut salah dipakai atau tertukar dengan milik orang lain dan dengan entengnya dibawa pulang tanpa merasa sesuatu. Kondisi yang pertama ini memang agak mengenaskan dalam hal ini sendal dianggap sesuatu pride yang bisa meningkatkan harkat dan martabax sang pencuri.

Fakta bahwa di Amerika banyak kasus remaja yang membunuh remaja lain hanya karna mengincar sepatu mahal dan modis yang dipakainya sangat mengganggu saya akan halnya sendal di Indonesia. Brand-brand kelas dunia seperti seperti Nike dengan Airjordan nya juga dituduh harus bertanggung jawab atas kasus-kasus tersebut. Mereka telah menciptakan gaya hidup yang tidak sehat, katanya.

Selain sepatu, mereka juga menjual sendal yang tentu saja akan mengangkat harkat dan martabak sendal. Belum lagi trand sendal-sendal distro atau yang sejenisnya. Bukan tidak mungkin kan kalau nanti akan ada kriminalitas dari sendal-sendal ini.

Iklan

9 pemikiran pada “Mesjid Kehilangan, Sendalnya

  1. Ternyata bicara soal sandal, bisa sampek kesana kemari ya.. haha salut. Emang sih pake sandal lbh sederhana ketimbang sepatu yg masih harus dimasukin ke telapak, ditali dan keribetan lain yg sejenis. Haha tos dulu pecinta sandal, apalagi yg merk swallow, eh kok malah promosi.

  2. Aku suka sama katanya yang ini, kang. “Faktanya memang mesjid yang seharusnya jadi tempat paling tentram bagi kaum muslim malah menjadi salah satu tempat yang paling tidak aman bagi sendal, baru.” hihihihi.

    Rada2 nyesek klo musti nyeker pulang jumatan 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s