Memahami Orang-Orang Sensitif

Dulunya saya pikir hanya introvert yang bisa menjelaskan dengan baik kepribadian saya. Tes kepribadian yang katanya paling banyak digunakan di dunia, Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dengan 16 tipe pun menjadi pilihan saya dengan hasil tipe kepribadian INFJ. Sebenarnya saya tidak mengisi pertanyaan-pertanyaan dalam tes itu, tapi langsung membaca penjelasan tipe-tipe kepribadian yang ada dan memilih mana yang lebih cocok dengan apa yang saya rasakan/alami.

Saking exitednya dengan introversi saya pun membaca banyak karya mengenai intorversion atau the quiet ini. Bahkan saya juga masuk ke grup introvert di Facebook, pernah masuk grup introvert Indonesia juga tapi kemudian keluar, hahaha.

Belakangan saya baru tahu kalau ternyata tes MBTI tersebut kurang diterima dalam dunia akademis karena metodenya yang jauh dari kriteria ilmiah. Melihat dari usianya sih saya pikir tes ini sangat-sangat perlu direview lagi oleh lembaga-lembaga yang menjadi providernya, tidak hanya tergiur menikmati keuntungannya saja.

Menurut sebuah artikel dalam psychologytoday yang lebih diterima dalam dunia akademis dan tentu saja jauh lebih ilmiah dari MBTI adalah tipe kepribadian big five. Bagaimana pun untuk mengetahui kepribadian seseorang perlu diadakan tes psikologi yang lebih komprehensif dengan oleh profesional yang hasil analisisnya bisa berlembar-lembar.

Selain introvert ternyata ada juga tipe kepribadian lain yang menjadi hangat diperbincangkan setelah dimuat di huffingtonpost yaitu Highly Sensitive People. Artikel tersebut berdasakan pada penelitian Elaine N. Aron, Ph.D. Setelah membaca artikel tersebut mulai dari ciri-ciri pada poin pertama sampai terakhir ternyata apa yang saya rasakan dan alami selama ini sama dengan yang diungkapkan dalam artikel itu.

Bagian yang paling membuat saya exited adalah pada poin ke 3 dalam artikel itu, They’re probably used to hearing, “Don’t take things so personally” and “Why are you so sensitive?”. Sejak SD saya sering mendengar kata-kata itu dalam bahasa Indonesia, dari orang tua ahaha. Mereka merasa bahwa terlalu sensitif tidak bagus dalam bermasyarakat, konflik dan lain-lain sangat potensial terjadi ketika kita terlalu sensitif dalam merespon sesuatu hal.

Tapi sifat sensitif tersebut tidak pernah sedikit pun saya buat-buat, itu datang dengan sangat alami tanpa saya sadari. Kadang saya harus pura-pura tidak peduli, let say what ever, tapi tentu saja saya tidak bisa terus-terusan tidak peduli. Meskipun demikian, sebagai bagian dari masyarakat harus sadar bahwa kita harus melakukan penyesuaian-penyesuai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s