Data Ekonomi Made in China

Sebagai negara pengekspor terbesar ke Indonesia tentunya kita tidak asing lagi dengan barang-barang Made in China, mulai dari produk-produk kecil seperti tusuk gigi sampai mesin-mesin besar seperti pembangkit listrik Diesel PLN pun banyak yang ber Made in China. Kita juga tidak asing dengan produk-produk fashion buatan China yang banyak berseliweran di pasar, yang rata-rata merupakan barang tiruan atau KW.

Bahkan, batik yang katanya identitas nasional Indonesia pun ada KWannya, buatan China. Produk-produk tiruan China tentu tidak hanya diekspor ke Indonesia saja, melainkan diekspor ke berbagai penjuru dunia sehingga kualitas produk Made in China pun terkenal diseluruh penjuru dunia.

Selain gemar membuat barang-barang KW, ternyata para ekonom juga mencurigai bahwa negara tirai bambu itu juga gemar membuat data ekonomi KW untuk menutupi fakta perlambatan ekonominya. Disinyalir bahwa pemerintah negara tersebut memanipulasi data dengan menggelembungkan angka pertumbuhan produktivitas dan menurunkan angka inflasinya.

Beberapa pejabat pemerintah lokal mengatakan bahwa selain PDB mereka juga telah menggelembungkan data pendapatan fiskal, pendapatan rumah tangga dan seterusnya. Menurut studi yang dilakukan ekonom Harry X Wu, dari tahun 1978 sampai 2012, pertumbuhan PDB China sebenarnya hanya tumbuh 7.6%, atau 2.6% lebih rendah dari angka 9.8% yang dikeluarkan pemerintah.

Sebenarnya perlambatan pertumbuhan ekonomi ini sangat rasional, angka pertumbuhan PDB 7,6%  pada tahun 1978 dibadingkan dengan angka yang sama tahun 2012 tentu akan berbeda dari segi jumlah output yang dihasilkan jika dihitung secara finansial.

Secara statistik mungkin pertumbuhannya menurun namun output yang dihasilkan jauh lebih besar lagi, bahkan angka 7 persenan tersebut sudah terbilang cukup tinggi. Penduduk usia kerja dan investasi yang telah mencapai puncaknya juga kesenjangan teknologi yang tidak lagi terlalu lebar jika dibandingkan dengan negara-negara maju pada akhirnya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi China.

Data KW ini sebenarnya merupakan dampak dari kebijakan pemberian insentif terhadap para pejabat pemerintahan yang berdasarkan pada seberapa besar pertumbuhan yang dicapai. Sebagai negara yang masih bergantung pada investasi asing, pemerintah China tentu sangat paham bahwa investor sangat sensitif dengan angka pertumbuhan, sehingga angka pertumbuhannya harus terus tinggi agar mereka mau berinvestasi.

Perlambatan ekonomi China semakin jelas saja bagi investor setelah kebijakan depresiasi renmimbi terhadap dollar Amerika dilakukan. Sehingga, investor pun mulai mencari tempat lain yang lebih menjanjikan yang berarti arus capital outflow dari China secara besar-besaran.

Dampak yang paling besar terjadi di pasar saham China, depresiasi renmimbi yang terus terjadi memicu kepanikan para investor kecil yang mendominasi pasar saham. Investor kecil yang kebanyakan merupakan ibu rumah tangga, pedagang, dan sejenisnya yang kurang mengerti soal finansial itu mengalokasikan sebagian kekayaannya di pasar saham dengan berharap pertumbuhan yang tinggi pun panik. Mereka akhirnya melakukan aksi jual secara besar-besaran berharap agar nilai investasinya tidak jatuh semakin dalam lagi. Pada akhirnya penjualan besar-besaran membuat indeks saham di Shanghai rontok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s