Pajak untuk Indonesia yang Lebih Baik

Pajak merupakan sumber utama pendapatan negara atau APBN. Dulu, jaman orba memang pendapatan negara kita tercinta ini sebagian besar berasal dari minyak bumi.  Tapi, tidak seperti di negara-negara arab cadangan minyak Indonesia rupanya tidak terlalu banyak. Akhirnya perlahan-lahan pertamina yang monopoli perminyakan Indonesia karna kkn pun bangkrut, berikutnya kita menjadi pengimpor minyak dan bahkan ujung-ujungnya harus hengkang dari organisasi kartel minyak dunia, OPEC. Nah, sejak itulah pemerintah yang suka bikin anggaran besar-besar pun mulai melirik pajak, sumber pendanaan utama baru yang lebih efektif, karna bisa maksa, bayar atau hukuman.

Sebagai mahasiswa bisnis, saya belajar sedikit tentang pajak meski pun tidak semendalam di jurusan perpajakan (2 sks selama 2 smester berturut-turut). Tentu sangat jelas korelasi antara pajak dan dunia bisnis. Yup, sebagian besar pendapatan pajak berasal dari aktivitas bisnis sehari-hari.

Pemerintah memang membutuhkan banyak dana untuk mengelola negara sebesar Indonesia ini. Negara tidak akan berjalan sebagaimana mestinya kalau pemerintah tidak bisa membayar gaji pegawai negri, membangun jalan dan jembatan, membeli persenjataan, subsidi ini itu dan masih banyak lagi. Pajak juga dapat menjadi alat bagi pemerintah utuk mengatur konsumsi masyarakat terhadap barang tertentu (barang mewah, alkohol dst).

Selama ini memang rezim pajak di Indonesia tidak begitu jelas, populisme memang sangat berpengaruh terhadap politik anggaran kita. Mungkin ini karena tarif pajak di kita masih belum terlalu besar seperti di negara-negara lain, sehingga masyarakat tidak terlalu sensitif dengan isu kenaikan pajak. Meski perusahaan-perusahaan besar sering kali harus berurusan dengan dirjen perpajakan soal pengemplangan, seperti Bakrie grup dst.  Walhasil, para politikus pun jadi tidak terlalu berminat menggoreng isu pajak untuk merenggut suara di pemilihan-pemilihan umum, sembari mungkin menikmati beberapa rupiah dari lobi-lobi yang gencar oleh para pengemplang itu.

Sementara itu, negara tetangga kita yang kecil mungil seupil dekat Sumatra ternyata merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai tax heaven, surga pajak bagi perusahaan mau pun hartawan kelas dunia (termasuk salah satu pendiri facebook, melarikan diri dari amrik karna takut dipalaki eh pajaki). Bahkan Malaysia juga bisa dikategorikan sebagai tax heaven. Mereka menetapkan pajak yang lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia, namun dengan sistem perpajakan yang canggih, sehingga lebih efektif dalam memburu objek dan subjek pajak.

Peluang emas ini tentu saja tidak diabaikan begitu saja oleh perusahaan mau pun hartawan Indonesia. Ada sebagian dari mereka yang mendirikan kantor pusat di sana, meski pun seluruh aktifitas operasional bisnisnya berada di Indonesia. Ada pula yang membeli properti selangit di sana atau sekadar memarkirkan uang mereka di bank-bank dengan jaminan seratus persen aman, maka majulah Singapura.

Pajak di Indonesia sebenarnya tidak terlalu tinggi-tinggi amat, paling maksimal sekitar 30an persen, kalah jauh dengan negara-negara Skandinavia atau bahkan Amrik (kecuali Delawer) yang hampir merenggut separoh dari pendapatan warganya. Jadi pemerintah masih punya peluang untuk menaikkan lagi tarif pajak, jika ingin belanja lebih banyak tanpa berhutang terlalu banyak.

Paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Jokowi (yang sudah sembilan itu) ternyata juga memuat pemotongan pajak, bahkan lebih berani lagi pemerintah telah menjanjikan amnesti pajak bagi para pemarkir uang di Sg atau tempat lainnya agar mau kembali memboyongnya ke Indonesia. Tentu ini merupakan langka maju yang dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, jika dibarengi dengan perbaikan dalam sistem perpajak itu sendiri. Lah wong target pendapatan pajak tahun kemarin saja belum bisa terpenuhi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s