Demokrasi Yang Lebih Baik, Sebuah Kebutuhan

Saya terlahir di jaman ketika Indonesia berada dibawah rezim yang menggunakan intrepertasinya sendiri terhadap model demokrasi yang cocok untuk Indonesia. Hal ini mungkin saja karena ketidakstabilan yang dihasilkan dari rezim sebelumnya yang bahkan pernah menerapkan sistem parlementer.  Masing-masing kabinet atau pemerintahannya tidak berlangsung lama, era yang mencitrakan dengan amat baik potensi kelemahan yang dimiliki sistem parlementer, ketidakstabilan.

Sang proklamator sendiri mulai terjebak dalam pusaran kekuasaan, membentuk demokrasi terpimpin dan bahkan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden seumur hidup. Pertanyaan yang tidak aneh pun timbul, kemana pemuda gagah berani yang menggugat Belanda sebelum kemerdekaan itu. Hatta, bapak demokrasi Indonesia, akhirnya menjauhi pusaran Istana setelah berkali-kali menasehati sahabatnya itu. Wal hasil hampir tidak ada sektor perekonomian Indonesia yang membanggakan setelah revolusi, diakhir masa-masa Soekarno super inflasi terjadi, kelaparan terjadi dimana-mana.

Demokrasi ala orde baru akhirnya runtuh, saya yakin keruntuhannya lebih banyak disebabkan oleh fundamental ekonomi yang tidak sebaik apa yang dipercaya telah diacapai oleh pembangunan sentralistik yang digalakkan selama hampir 3 dekade lebih terhadap krisis ekonomi dan ditambah lagi perpecahan dalam pusaran kekuasaan daripada aksi demo mahasiswa yang atraktif dijalan-jalan.

Keruntuhan rezim orde baru diiringi gelombang amandemen terhadap undang-undang dasar. Bagaimana mungkin orang-orang yang sama yang beberapa hari sebelumnya mabuk dengan tuak kekuasaan orde baru bisa tiba-tiba mengajukan reformasi, apa mereka tidak hangover sedikitpun. Ternyata tidak, proposal reformasi sebenarnya juga telah diajukan presiden Suharto guna mengatasi krisis ekonomi dan menjawab tuntutan rakyat. Reformasi dipilih karena lebih soft untuk negara yang hampir caos daripada revolusi. Namun, proposal itu ditolak, tuntutannya ternyata bukan saja merubah sistem, tetapi merubah (mengganti) presiden.

Saya percaya bahwa perubahan undang-undang itu perlu, tapi perubahan dramatis dalam waktu singkat tentu saja mengundang banyak pertanyaan. Meski banyak juga ahli-ahli yang dilibatkan dalam menggodok berbagai perubahan yang dihasilkan tersebut dan hasil perubahannya juga berhasil membawa perubahan yang signifikan, seperti desentralisasi, penambahan lembaga-lembaga seperti BPK, DPD dst. Seharusnya diadakan lagi kajian mengenai perubahan-perubahan tersebut yang bersifat efaluatif sehingga berbagai potensi kebobrokan yang mulai nampak bisa teratasi.

Iklan

3 pemikiran pada “Demokrasi Yang Lebih Baik, Sebuah Kebutuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s