Konspirasi Di Balik Teori Konspirasi

Teori konspirasi memang sangat menarik, terutama bagi anak muda yang penuh dengan keingintahuan tentang berbagai hal yang terjadi di dunia ini. Dengan seperangat alat elektronik beserta koneksi internet, keingintahuan tersebut dapat dieksplorasi sepuas-puasnya. Bagaimana pun konspirasi memang terjadi di kehidupan sehari-hari, hal inilah yang membuat pekerjaan penyidik di kepolisian dan lembaga sejenis lebih menantang. Para penjahat, seperti koruptor tentu saja melakukan berbagai manipulasi dalam kejatannya. Tapi, konspirasi yang dimaksud dalam teori ini adalah konspirasi yang lebih luas lagi.

Konspirasi yang dimaksud seperti teori tentang motif pembunuhan presiden Kennedy di Amerika atau mungkin juga tentang kematian presiden Soekarno di rumah tahanannya dan masih banyak lagi teori konspirasi lainnya. Sepertinya dari sekian banyak teori konspirasi yang paling terkenal adalah teori tentang gerakan Freemasion (Satanis dan sejenisnya), sekelompok orang yang mengendalikan dunia. Entah sudah berapa banyak energi yang dihabiskan hanya untuk membahas Freemason ini, mulai dari artikel, buku, hingga film layar lebar pun ada yang membahas Freemason.

Pada dasarnya setiap skenario dari teori konspirasi memuat sesuatu yang diluar kendali manusia biasa dan menggambarkan dengan jelas ketakutan akan kendali jahat. Parahnya adalah, rasa takut merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, sehingga banyak orang yang memercayai berbagai jenis teori konspirasi tersebut.

Informasi yang asimetris menjadi penyebab sebagian orang mengembangkan rasionalisasinya masing-masing terhadap suatu peristiwa atau keadaan. Fakta-fakta yang tidak sempurna dirangkai menjadi sebuah cerita yang dapat diterima akal, selama paling tidak cerita tersebut punya secuil kemungkinan untuk dapat terjadi. Tapi, bahkan mungkin ketika informasi yang didapatkan benar-benar telah sempurna, kemungkinan masih akan ada manusia yang lebih memercayai “kebenaran” versinya sendiri. Sehingga, ketakutan itu (bersama seluruh ceritanya) bisa saja menular ke generasi-generasi berikutnya.

Teori ini ternyata sering digunakan dalam dunia perpolitikan dan sepertinya setiap teori konspirasi memang punya kaitan erat dengan politik. Politik sendiri dalam bahasa arab di disebut as-siyasah, siasat (tipu muslihat?). Jadi, tidak heran jika dalam retorik-retorik para politisi sering kali menggunakan teori konspirasi sebagai bumbu penyedap. Tapi, konspirasi tersebut juga dapat benar-benar dijadikan modal utama dalam perebutan kekuasaan atau bahkan mereka melakukan konspirasi kecil-kecilan. Teori konspirasi disekitar kematian Soekarno (G30SPK, dll) hingga kini masih saja menjadi bahan yang hangat untuk diangkat di ranah perpolitikan Indonesia. Kalau di Amerika contohnya mungkin tentang the Koch brother, dua bersaudara (salah dua orang terkaya di dunia) yang sering diserang politisi partai Democrat karena keterlibatan politik uang mereka.

Meski pun hanya sebagian kecil saja dari orang yang percaya terhadap berbagai teori konspirasi tersebut yang menanggapinya dengan serius, seperti menolak untuk memberikan imunisasi pada anaknya dll. Namun, percaya kepada sesuatu yang seperti itu tetap saja akan merugikan umat manusia. Apalagi di era yang banjir informasi seperti sekarang ini, eksplorasi yang lebih mudah dapat menjadikan semakin banyak saja yang akan percaya.

Saya sendiri awalnya memang antara percaya dan tidak percaya tentang berbagai teori konspirasi yang saya ketahui. Ketakutan saya adalah pada distorsi antara kenyataan dan kenyataan lain yang ditawarkan oleh teori tersebut. Hal ini terus berlanjut hingga akhirnya saya berupaya untuk mendekonstruksi rasionalisasi teori konspirasi yang sering mengganggu alam pikiran saya.

Menurut saya, yang perlu dilakukan adalah dengan memercayai berbagai fakta yang dapat ditemukan. Seperti kelompok Freemason di atas, faktanya mereka memang ada, namun tidak seperti apa yang digambarkan dalam teori konspirasi. Para pemuja setan (Satanis) juga memang benar-benar ada, bahkan punya “gereja”nya sendiri, namun mereka hanya sekelompok kecil saja alias tidak signifikan untuk melakukan berbagai hal yang luar biasa. Memang banyak orang pintar yang berdarah Yahudi, tapi kebanyakan mereka malah ateis, anti negara Israel dst, yang menjadikan teori konspirasi tentang mereka tidak relevan. Orang Israel sendiri merasa senang dan bangga ketika mereka melihat pemberitaan di negara-negara Arab tentang sebegitu superpowernya mereka, karena mereka tahu kalau mereka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan saudara dekatnya itu.

Oleh karena itu, jangan-jangan teori konspirasi ini hanyalah merupakan konspirasi belaka, ahahaha.

Iklan

6 pemikiran pada “Konspirasi Di Balik Teori Konspirasi

  1. Wuidih…
    Tulisannya keren xD

    Saya penikmat konspirasi, pada awalnya segala hal tentang itu begitu menarik, tapi setelah kuliah, saya mulai berpikir, bahwa banyak hal tak semenakutkan yang diceritakan..

    Aku suka tulisannya..
    🙂

    • ahaha, iya mbak saya pikir juga kalau ditanya satu2, generasi 80an keatas memang banyak yang awalnya tertarik dengan konspirasi, oiya, makasih ya mbak, saya masih abal2 soalnya ahaha

  2. Kadang suka pula dimanfaatkan begini:
    A: Aduh, uangku hilang!
    B: Jangan-jangan tuyul.. (konspirasi manusia-hantu)
    A: Masuk akal itu, soalnya.. dst
    (padahal yang ngambil ya si-B 🙂 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s