Leakead Data, Panama Papers dan Sejenisnya Bukan Untuk Diseriusi

Menurut saya, kita tidak perlu terlalu serius menanggapi leaked data seperti Panama Papers atau Wikileaks dan sejenisnya. Memang, di era demokrasi yang sudah mendunia dan ditambah lagi kemudahan akses informasi melalui internet seperti sekarang ini, transparansi adalah sesuatu yang wajib. Transparansi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi itu sendiri. Apalagi untuk pemerintah atau pejabat publik. Masyarakat punya hak untuk tahu dan sebagian besar memang ingin tahu.

Dari fenomena sebelumnya, Wikileaks, sebenarnya data yang diunggah ke dunia maya ini lebih banyak berguna bagi media, utamanya situs-situs berita yang secara berlebihan mengekspos. Yup as we know lah, bad news is a good news kan. Bahkan untuk kasus terbaru, Panama Papers yang belum diunggah sepenuhnya, beritanya sudah menggegerkan dunia dan itu semua karena publisitas yang masif.

Bukan hendak menyalahkan media, tapi tentu saja masing-masing media dengan biasnya sendiri-sendiri akan memberikan judul yang sesuai dengan sudut pandang mereka. Nah, karena data yang didapat berasal dari pihak ketiga yang berarti bukan buatan mereka, maka media akan lebih merasa tidak berdosa lagi saat memberitakan. Benar dan salahnya menjadi urusan pihak ketiga. Bagaimana pun, ya kita tetap butuh berita, entah dengan sudut pandang apa mereka memberitakan yang penting kita terhibur dan penilaian tentu kembali ke pribadi masing-masing atau kemudian berujung ke pihak yang berwajib.

Panama Papers sendiri merupakan 11,5 juta file dari database sebuah firma hukum bernama Mossack Fonseca yang diserahkan secara anonim ke German newspaper Süddeutsche Zeitung yang kemudian membagikannya ke International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). ICIJ inilah yang kemudian menyebarkan berita ke berbagai media internasional.

Hal ini menjadi menarik karena ada dua belas kepala negara ditambah 143 politisi dan kerabat dekat mereka yang diungkapkan dalam file-file tersebut, termasuk juga para pebisnis dan publik figur seperti Messi. Mossack Fonseca adalah perusahaan asal Panama yang menyediakan layanan semacam pengalihan kekayaan kenegara-negara yang pajaknya lebih rendah (tax haveans) seperti Panama bagi orang-orang seperti diatas yang merasa membutuhkan. Perusahaan ini, sebenarnya hanya berada di urutan ke empat terbesar dalam bisnisnya.

Bayangkan, jika dipukul rata untuk membaca atau memerikas satu file saja menghabiskan waktu  1 menit, maka butuh waktu 21 tahun lebih (full time loh) bagi seorang pengunggah yang rajin itu untuk memerikas setiap file yang ada, kecuali mereka mempekerjakan ribuan orang untuk melakukannya. Menurut saya mereka tidak melakukan hal tersebut, dan ini merupakan perilaku yang tidak bertanggung jawab. File yang mereka rilis adalah file yang menyangkut banyak orang, kalau tidak mau dibilang menuduh banyak orang, yang seharusnya bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Selain itu, jika memang data yang diunggah tersebut benar adanya yang harus dipertimbangkan lagi adalah sisi legalitasnya. Dalam istilah perpajakan terdapat dua hal yang sering disalahpahami oleh sebagian besar masyarakat. Secara legal sebenarnya sesorang dapat menjadikan setoran pajaknya lebih rendah dari yang bisa terkena yang biasa disebut dengan istilah tax avoidance. Hal ini dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan konsultan pajak yang mengerti mengenai aturan-aturan pajak yang berlaku dalam suatu wilayah hukum atau negara. Pengurangan pajak akan sangat berarti baik bagi individu maupun perusahaan atau organisasi, karena mereka akan lebih efisien dan bisa menggunakan pendapatan mereka secara lebih leluasa untuk kepentingan lain.

Penggunggahan file-file mengenai orang-perorangan yang memanfaatkan perusahaan seperti Mossack Fonseca merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolerir sebenarnya. Saya sangat yakin, orang-orang yang sangat bernapsu untuk mengetahui informasi dari file-file tersebut juga adalah orang-orang yang sama yang menolak upaya enskripsi pihak FBI terhadap Iphone teroris karena alasan kerahasian pribadi yang tidak boleh diganggu-gugat atau harga mati. Lalu bagaimana dengan upaya semacam ini, bukankah orang-orang yang melakukan upaya pengurangan pajak secara legal juga sebenarnya berhak atas privasi mereka.

Di sisi lain ada pula isitilah tax evasion, yaitu penggelapan pajak yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku agar pajak yang dibayarkan berkurang secara drastis atau bahkan tidak akan terkena pajak sama sekali. Penggelapan dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari menyuap pegawai perpajakan, memanipulasi laporan keuangan, dll. Hal ini tentu bisa dijerat dengan pasal-pasal dan akan berakhir dipengadilan. Nah, seharusnya kecurigaan akan upaya-upaya seperti inilah yang harus diselidiki oleh lembaga hukum dari setiap negara terhadap laporan-laporan yang mengindikasikan adanya upaya penggelapan pajak.

Pada akhirnya yang menjadi dilema yang harus benar-benar kita pikirkan lagi adalah soal pajak itu sendiri. Pajak tentu punya manfaat banyak, negara-negara dengan kualitas hidup tinggi seperti negara-negara Skandinavia harus terbiasa dengan tarif  pajak yang sangat tinggi sehingga mereka dapat menikmati berbagai fasilatas yang berkualitas. Pajak adalah sumber pendapatan terbesar bagi anggaran belanja mayoritas negara di seluruh dunia. Sementara itu pajak yang rendah juga telah membantu negara-negara seperti Singapura, Belanda dll menjadi negara yang lebih baik, dunia bisnis tentu sangat suka dengan kebijakan seperti itu.

Terdapat trend yang akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan bagi negara-negara dengan tarif pajak yang tinggi tersebut. Para pebisnis atau perusahaan-perusahaan besar multinasional pada akhirnya tertarik untuk memindahkan perusahaan mereka ke negara-negara yang lebih rendah pajaknya agar lebih efisien. Hal ini tentu saja akan mengurangi pendapatan negara dengan tarif pajak tinggi yang rata-rata tidak disiplin dengan budget mereka (yang selalu saja negatif dan ujung-ujungnya terlilit utang berkepanjangan).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s