Bunga yang Paling Lama Mekarnya

di sebuah tempat yang tidak jauh dari hutan rimba khas hutan hujan tropis tumbuhlah segerombolan bunga yang berwarna hijau, sehijau dedaunan yang biasa terlihat dari jauh ketika kau memandangi hutan

bunga-bunga itu belum pernah dijamah manusia mana pun, kecuali penghuni rimba, dan mereka tidak suka dengan bunga-bunga itu, baunya terlalu harum hingga seolah menguasai penciuman mereka, tapi anehnya bau itu hanya di dekat situ saja, tidak juga ada tumbuhan lain di tempat itu, akar-akar bunga seakan punya racun yang siap disuntikan ke akar-akar tanaman lain yang mencoba hidup berdampingan, mereka benar-benar menguasai tempat mereka itu sejak bertahuan-tahun, tempat yang sama dengan mereka yang sama

setiap mendekati purnama, bunga-bunga itu mekar, kuncup-kuncup itu seolah berlomba-lomba memamerkan senyumnya pada dunia, bukankah sebangsa bunga memang mekar, lalu beberapa hari berikutnya mereka pun akan berguguran satu persatu, mungkin mereka malu dengan warnanya yang sama saja dengan hutan yang tak jauh dari pandang itu, tapi begitulah yang harus bunga-bunga alami selama ini, mekar lalu layu, tidak ada yang benar-benar tau apa hubungan bunga dan bulan

semua bunga mekar, semua bunga harus mekar, tidak peduli apakah hujan deras tengah menjadi musim atau terik mentari tengah menghiasi sepanjang bulan, begitulah bunga-bunga tersebut telah menolak hukum alam, atau mereka tengah menghukum alam

sebegitupun, ada satu kuncup yang sedari purnama kemarin tidak mekar-mekar juga, tapi siapa yang peduli, semua sibuk dengan kuncup-kuncup yang akan mekar purnama berikutnya, ah tumbuhan memang tidak punya mata kan

tapi sang kuncup seharusnya malu, salah apa yang telah dia lakukan, dalam ranting-rantingnya yang mulus itu tercatat bahwa memang bunga harus mekar, seperti bunga pertama yang menancapkan akarnya ke tanah biasa ini, begitulah, kuncup tak kunjung mekar, senyum tak kunjung menyapa

pagi itu, saat embun mulai beterbangan ke udara, kembali kewujudnya tadi malam,bunga terakhir pun telah tergeletak di tanah, tanpa diduga sang kuncup pun mekar, perlahan tapi pasti, sebelum gelap malam mengusir mentari, ia telah tersenyum sempurna, pada dunia

meski pun tidak ada yang menanti, apa lagi bertanya-tanya kenapa, ia ingin menjawab bahwa bunga memang mekar, bukan takut akan layu dan menjadi tanah, bunga mekar untuk menyapa dunia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s