Perjuangan Hidup di Usia 20an

Sebelum jauh membahas masalah yang katanya banyak menimpa seseorang di usia ini, saya hanya ingin kembali memberikan gambaran kalau kesepian itu tentu saja berbeda dengan kesendirian. Anda mungkin bisa merasa kesepian di tengah keramaian dan sebaliknya menikmati kesendirian tanpa merasa kesepian.

Tapi saya percaya tentu saja ke dua istilah tersebut benar-benar memiliki hubungan yang erat. Sebagai manusia, kita terlahir sebagai bagian dari masyarakat atau lingkungan sosial yang ada di sekitar kita. Sehingga kehadiran orang lain merupakan sesuatu yang seolah menjadi kebutuhan sendiri bagi kita. Bahkan mungkin hanya dengan mengetahui kehadiran orang lain saja tanpa berinteraksi dengan mereka, sebagian kebutuhan tersebut telah terpenuhi.

Untuk membicarakan usia 20an sebenarnya saya masih terlalu amatir karena baru setahun lebih menikmati periode yang jaraknya satu dekade ini. Masih terlalu dini bagi saya untuk menyimpulkan apa saja yang telah terjadi dengan usia 20an saya. Jika melihat ke belakang, sepuluh tahun yag lalu saya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar yang tentu saja jika dibandingkan dengan saya yang tengah menulis artikel ini, amat jauh berbeda.

Usia 20an awal saya dimulai dengan setting yang dinikmati sekitar 200an juta orang di dunia, kampus. Periode terakhir ketika kita masih berinteraksi dengan segerombolan populasi yang usia mereka tidak jauh berbeda dengan kita dan tentu saja dengan berbagai kegiatannya yang menguras energi, not to mention my deadline and uas while writing this article hahaha. Seperti yang saya ungkapkan di awal, kadang dengan setting yang seperti ini kita akan merasakan kesepian. Bahkan katanya akan lebih parah lagi ketika kita telah lulus dan mulai bekerja.

Kehidupan di kampus memang cukup menarik apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari orangtua (like me lah), berbeda dengan kehidupan kita ketika masih berstatus siswa. Sebagaimana siswa SMA yang merasa bosan dengan seragam dan seragam lagi selama belasan tahun, saya juga pada waktu itu merasa bahwa masa kuliah nantinya akan menjadi masa-masa yang lebih wow,  think about kebebasan, kemandirian, dst. Namun, tentu saja setelah merasakan dunia kampus, tentu bayanngan kita itu tidak sama.

Ketika mulai memilih-milih jurusan apa dan dimana saya akan kuliah yang terpikirkan kala itu bukan kuliah itu sendiri tetapi what next after kuliah. Yup, pertimbangan memilih what next itu harus dilakukan dengan serius dan bahkan tanpa mempertimbangkan lagi cita-cita yang seringkali menjadi jawaban kita ke guru ketika TK atau SD. Karena pada banyak kejadian, cita-cita masa kecil itu tidak relevan lagi.

Bagaimana pun, di tahun pertama kuliah kita tentu saja dapat menemukan teman seangkatan yang akhirnya merasa tidak sesuai dengan jurusannya. Bahkan diujung-ujung masa kuliah pun masih banyak yang merasa salah jurusan atau mereka akhirnya menemukan apa sebenarnya passionnya. Banyak juga yang akhirnya bergelut di bidang yang amat jauh  korelasinya dengan jurusan yang diambil waktu kuliah dulunya.

Pertanyaan-pertanyaan besar yang akan sulit dijawab di usia 20an awal tentu bisa saja berbeda bagi setiap individu. Pertanyaan seperti kapan lulus kuliah tentu menjadi isu yang sangat sensitif bagi yang lagi berjuang menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Saya pikir generasi saya saat ini jauh lebih sensitif dengan jangka waktu lulus ini, mungkin karena saat ini dosen-dosen tidak lagi sejumud dan searogan dekade-dekade sebelumnya yang bisa menyebabkan mahasiswa sulit lulusnya. Sehingga mungkin keterlaluan jika ada yang lulus terlalu lama.

Pertanyaan lain soal hubungan asrama, eh asmara. Mungkin belum sampai pada pertanyaan kapan nikah, tapi pertanyaan seputar kesinglean atau di ujung ekstrim lainnya yang suka gonta-ganti pasangan tentu bisa menjadi sesuatu. Kadang memang sebagian dari mereka yang sudah mencapai usia ini bahkan tidak punya bayangan tentang hubungan asmara. Laptop atau gadget mereka mungkin masih menyediakan ketenangan jiwa dan raga dari segala masalah hidup yang dihadapi. Tapi di titik ekstrim lain itu ada juga yang mengeksplor dunia asmara lebih liar dari mereka.

Berikutnya soal pekerjaan. Sebagai generasi millenial, katanya generasi saya ini lebih picky dalam memilih pekerjaan dan tidak menaruh besaran gaji di prioritas nomor satu. Trend saat ini memang masih banyak yang melirik perusahaan-perusahaan dengan gaji yang katanya besar. Silahkan cek di berbagai job fair antrian yang paling panjang perusahaan mana saja. Ada juga yang hanya mencari pekerjaan saja. Tapi dengan boomingnya semangat entrepreneurship, ada juga yang langsung terjun membangun usahanya sendiri.

Iklan

4 pemikiran pada “Perjuangan Hidup di Usia 20an

  1. Sebagai orang yang usia nya di angka 20 (lebih sekian), aku ngerasa ini usia yang pas.

    Pas untuk menikah, pas untuk dapet kerjaan oke, pas untuk ke kondangan sering2, dan pas untuk serba ditanya tentang masa depan. Pusing pala incess 😦

  2. Kalo pas kuliah, pertanyaan sensitif itu, kapan lulus. Kalo uda lulus dan bekerja, sensitifnya, kapan kamu nikah? Berasa ngenes kalo tiap lagi ada undangan nikah temen ditanyain begitu wkakakaa
    Happy twenty something..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s