Terbang, Lagi

siang itu, aku harus terbang ke halim dengan seekor kapal terbang bercat batik. bandara dengan ruang tunggu yang serba tidak nyaman itu menampilkan wajah-wajah kalangan menengah negara ini, bahkan mungkin tidak sedikit dari mereka adalah golongan satu persen atas, who know. kursi besi panjang yang sungguh tidak bisa membuatmu tidur di atasnya, supaya tidak ada yang tidur mungkin.

mendarat dan berisik pun terjadi, semua siap menghadapi penerbangan, berjalan mendekati dan masuk sesuai nomor. kali ini aku tidak sempat menentukan sendiri lokasi tempat duduk, wal hasil, di tengah. padahal aku suka menempelkan wajah di jendela dekat sayap. percikan api atau nasibnya yang membelah awan dan kalau beruntung, daratan saat posisi sang besi miring.

aku tidak tahu kenapa, tapi setiap perjalanan telah di mulai, entah mengapa perut harus bergolak dan otot seolah lesu. makanannya juga kurang membantuku mengusir sang lesu. oh ya, sebelum beterbangan sebenarnya aku telah makan, lagi, di bandara, dan lagi itu selalu tidak berhenti di situ. maka kumainkan layar di depan, film yang membosankan.

kembali ke tengah, aku sebenarnya mencoba tidak peduli dengan dua orang di samping ku, lebarkan bibir kesamping, senyum. tapi kadang tangan hendak mencari tempat beradunya, mungkin seperti elizabet di koronasinya, wait dia kan bawa tongkat kalo tidak salah. baik lah mengalah.

mau ke mana dek, bandung. dan orang tua di sudut jendela itu pun mulai bercerita tentang kisahnya, sudah berpuluh tahun ia tak balik ke ja ka r ta. kini, ia menjadi penjemput cucu, tinggal di rumah bersama istrinya, dan katanya ia memiliki kebun di pekarangan rumahnya. ia kembali untuk menikahkan anak perempuannya, dan ia berangkat sendirian. banyak hal menarik yang terjadi dalam perjalananku hari itu, termasuk seorang arab yang membantu sang kakek, dia menawarkan tumpangan mobil keluarganya.

cukup menegangkan memang, meski pun pesawat grup ‘singa’ itu tiba lebih cepat, what a record, tapi mobil travel tujuan bandung telah berlarian dengan waktu dari tempat itu. maaf tiketnya habis, oh god, cari pool cipaganti terdekat, langit sudah menunjukan pukul sembilanan, bandara panas dan sumpek. sekali lagi aku tanyai mbaknya, tiketnya masih ada, ada ada yang batal, selamat jalan kalo gitu, dan kami pun berpisah. pendaratan yang tepat, terasa begitu dekat, iya begitu dekat dengan rumah warga.

Iklan

6 pemikiran pada “Terbang, Lagi

    • sengaja, sebenarnya itu karna saya kurang bisa bikin cerpen hahaha, kata guru bahasa Indonesia dulu pas SMA, cerita mu bagus tapi terkesan terburu-buru, jadi lebih baik kayak patah2 gitu hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s