Turun Gunung

aku pernah ingin mendaki, namun yang paling sering ku daki adalah ego manusia

mendaki itu ternyata tidak se sederhana harapan ku, bahkan, kau harus bawa tempat tinja mu sendiri pada beberapa kasus, dan sepertinya melelahjijikkan

tapi, begini, bukankah pantun lama yang amat masyur itu sungguh indah menggambarkannya, berakit-rakit dan berenang-renang, bersakit-sakit dan bersenang-senang

oh, tidak begitu, tidak, mendaki-daki, mencapai puncak, dan turun gunung, iya turun gunung tidak sebercanda itu rupanya, bahkan jika kau membandingkannya dengan naik, kenapa mesti turun dengan kaki lagi, mengapa mesti ada turun, tanya

aku sempat berkelakar, ketika melihat sebuah video tentang everest, yang tertinggi ke dua di dunia setelah kilimanjaro dari laut itu, pulanglah dengan helikopter penyelamat yang terbang langsung ke katmandu, terbang saja hahaha

tapi turun itu sepertinya memang begitu, untuk menghapus lelah mendaki engkau menemui puncak, dan rindu mu diingatkan dengan lelahnya turun, seolah itu hutang gunung yang telah menjadikan terjalnya terasa di betis-betismu, kalau ada kesempatan, ambillah tagihannya di puncak mana pun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s