Prediksi Pemilu 2019, Siapa dan Bagaimana

Setelah pergulatan satu lawan satu yang cukup seru di pilpres 2014, antara Jokowi dan Prabowo yang cukup menguras urat syaraf maka selanjutnya saya mulai bertanya-tanya apa yang akan terjadi nanti di 2019. Pilpres 2014 awalnya menurut saya akan mengubah peta perpolitikan Indonesia, meski pun sejak awal saya melihat sebenarnya banyak persamaan antara kedua kubu yang haus kekuasaan ini.

Perpecahan atau kubu-kubuan itu jelas terjadi di lapangan karena memang dieksploitasi juga oleh kedua calon, kiri versus kanan, nasionalis versus agamis dst menjadi tema yang membagi Indonesia kedalam dua pilihan yang sulit.

Jokowi pun menang dan semuanya ternyata terlihat semakin jelas saja. Para aktor yang itu-itu lagi (khususnya di kubu yang kalah) mulai grask-grusuk  agar kebagian kue kekuasaan atau sekadar mempertahankan posisi yang sudah dipegang. Kecuali Gerindra, PKS, dan mantan partai penguasa yang gengsi, partai-partai lain mulai merapat ke istana negara, karna satu dan lain hal yaitu satu saja, kekuasaan. Akhirnya parlemen pun tidak terlalu bisinng bagi istana dengan bergabungnya partai beringin secara resmi.

Saya mencoba mengingat-ingat lagi situasi di pemilu 2009, sepertinya dasar prediksi pemilu dan pilpres 2019 lebih cocok dengan mengambil contoh tahun ini. Pada tahun 2009 sang petahana berhasil memenangkan kembali pemilu yang lumayan seru juga. Mengalahkan mantan presiden untuk kedua kalinya (sekaligus mengakhiri ajang nyapres sang Ibu) dan juga mantan wakilnya sendiri yang menemani beliau selama lima tahun di tampuk kekuasaan dengan kemenangan telak.

Sebuah prestasi memang, karena waktu itu pemerintahannya tidak sepi dari hujan kritik dan skandal-skandal berskala besar yang bisa mengancam kemenangan beliau. Bahkan serangan ditujukan langsung ke gaya kepemimpinan sang presiden dengan slogan nyindir dari wakil presidennya yang sangat menohok, lebih cepat lebih bae. Setelah kemenangannya yang kedua tersebut, parlemen pun telah didominasi partai penguasa dengan rekor kemenangan yang mungkin tidak akan pernah mereka capai lagi setelahnya dengan koalisi yang sangat besar.

Bagaimana pun, sepuluh tahun masa kepemimpinan SBY telah membawa Indonesia kembali on track dalam hal pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup memuaskan didukung oleh stabilitas politik.  Sehingga, pemerintahan Jokowi jilid satu sebenarnya tinggal meneruskan kondisi yang telah dicapai SBY tersebut yang sejauh ini nampaknya berjalan sesuai dengan yang diharapkan meski pun dalam kondisi perekonomian dunia yang tidak begitu menggairahkan.

Seperti yang terlihat pada pemilu 2009, terdapat kecendrungan masyarakat untuk memilih petahana kembali dengan alasan stabilitas jika memang pemerintah tersebut berhasil mewujudkannya. Hal ini juga didukung dengan adanya kebijakan-kebijakan populis yang biasanya tiba-tiba muncul menjelang pemilu yang pada hakikatnya terlalu instan dan tentu saja tidak efektif dalam menyelesaikan masalah seperti pada era SBY dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) nya. Kebijakan seperti itu tidak hanya terjadi di tingkat nasional saja, tetapi secara luas terjadi di pilkada-pilkada dengan petahan yang ingin berkuasa lagi.

Peluang bagi figur seperti Prabowo yang memang sudah terbukti elektabilitasnya tinggi dan para kepala daerah seperti Ridwan Kamil, Risma dst tentu saja masih terbuka lebar bagi pemilu 2019.

Dari segi ekonomi yang meski pun telah ada tanda perbaikan pasar dengan kembali stabilnya harga minyak dunia dan perekonomian China, namun 2017 dan 2018 masih belum benar-benar dapat diprediksi apakah perbaikan ini akan tetap terus berlanjut atau malah berbalik pada kondisi yang lebih buruk lagi dari setahun belakangan ini.

Ekspor dan sekaligus Impor terbesar Indonesia porsi terbesarnya adalah minyak dunia. China sendiri merupakan partner bisnis terpenting Indonesia yang perlemahannya berdampak langsung pada ekonomi Indonesia dan bukan saja pada ekspor kita terhadap mereka melainkan yang amat krusial adalah investasi mereka di Indonesia. Jika kondisi ekonomi memburuk maka pemilu tidak akan mudah bagi Jokowi.

Selain itu, dari sisi lain terdapat trend yang cukup menarik dan terjadi di berbagai negara dunia termasuk the free world atau Amerika Serikat dan tentu saja, negara tetangga kita Filipina. Munculnya kandidat seperti Trump, Bernie dan kemenangan Duterte dengan mengeksploitasi kemarahan-kemaran yang ada dalam masyarakat mereka karena isu-isu yang telah lama ada namun tidak juga berhasil diselesaiakan dapat menjadi penghambat bagi Jokowi.

Di Indonesia tentu saja banyak isu-isu sensitif yang dapat dieksploitasi kembali oleh para penantang Jokowi yang sebagian dari hal tersebut telah menjadi bahan atas kampanye negatif terhadap sang presiden pada pemilu kemarin namun masih mendapat tanggapan yang naif dari publik.

Iklan

6 pemikiran pada “Prediksi Pemilu 2019, Siapa dan Bagaimana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s