Deflasi Iman dan Berbagai Pergulatannya

Hahaha, karena lebih sering berhubungan dengan istilah-istilah sejenis inflasi, deflasi dst saya ingin mengungkapkan mengapa akhir-akhir ini yang sering terjadi pada diri saya sendiri adalah deflasi atau penurunan iman. Katanya kan iman itu labil, kalo berbuat dosa turun, kalo berbuat baik naik.

Agak ngeri juga karena saya secara kebetulan diberi pemahaman mengenai agama Islam, paling tidak jika mendengar suara ngaji dari mesjid saya bisa paham artinya. Jadi bisa ngena gimana gitu ketika sampai ke ayat-ayat yang familiar dan pada saat yang sama saya tengah melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan perintah tersebut. Atau tiba-tiba ingat hadis yang membahas hal-hal tersebut, yah begitulah.

Saya sebenarnya termasuk kaum fundamentalis dalam beragama, saya tidak suka dengan hal-hal bidah atau terkesan menambah-nambah agama. Karena ya menurut saya itu agak boros. Soal kuburan misalahnya, kan sebenarnya tidak perlu disemen apalagi diubin tapi ada sebagian yang melakukan hal tersebut bahkan membangun musolium seperti yang paling terkenal Taj Mahal (mahal bro mahal) dan termasuk juga kuburan nabi yang dibuatkan kubah di Madinah sana. Bayangkan saja, 200 tahun yang akan datang kemungkinan besar 1 milyar lebih umat muslim sedunia yang hidup sekarang ini sudah meninggal dunia, hitung sendiri lah berapa hektar yang harus dikorbankan untuk kuburan. Padahal harga tanah naik terus karena penawarannya tidak akan bisa bertambah sedangkan semua orang membutuhkannya.

Selain itu, saya juga mulai tidak begitu percaya dengan kebanyakan hadis yang katanya hingga jutaan itu. Saya mengerti bahwa terjadi banyak pengulangan di sana dan di sini, namun tentu saja hal ini sebenarnya membuat saya semakin ragu saja. Padahal kebanyak ilmu-ilmu yang berkembang setelah abad-abad awal Islam seperti fiqh, dll bersandar pada pemahaman tentang hadis. Bahkan saya sangat ngeri ketika ada sebagian yang percaya bahwa hadis lemah atau bahkan palsu lebih mulia dari pada logika. Mungkin mereka lebih percaya tukang jual terong. Jadi tentu saja model fundamentalis saya berbeda dengan Saudi atau salafi dan kawan-kawannya.

Soal salafi nih, hahaha, saya dulu pernah sangat simpatik ke mereka dan gerakannya, sampai saat ini juga masih tapi tentu dengan sudut pandang berbeda. Saya tahu tentang berbagai hal mengenai mereka ini, termasuk hubungan romantisnya dengan kerjaan Saudi dan mahzab Hanbali dan Ibnu Taimyah. Dulu saking pengen tahunya, saya menelusuri banget tentang mereka ini, termasuk kaidah-kaidahnya, bahkan karya ilmiah remaja saya pas di Madrasah Aliyah dulu ya tentang salah satu kelompok mereka.

Jika melihat panutan mereka seperti Ibnu Taimiyah yang tentu saja belajar logika dan juga termasuk Ibnu Hazm yang sangat dzhiri namun juga menggunakan logika tentu saja kaum salafi asal Saudi ini kurang relevan. Mungkin yang paling relevan menurut saya adalah gaya Muhammad Abduh dan kalau di Indonesia seperti Muhammadiyah. Meski pun Muhammaiyah sendiri masih bisa dibilang konservatif, namun ada faksi-faksi di dalamnya yang lebih liberal lagi.

Sudah, itu saja dulu, hahaha dan ingat ya ini cuma pendapat pribadi jangan sampai jadi kayak pergulatan pribadinya Ahmad Wahib yang diplintir dikit jadi pergulatan Islam padahal kan itu pergulatan labilnya sendiri. Bagaimana pun culturally I am a Musulman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s