Kudeta, Militer Selalu Punya Agendanya Sendiri

Presiden, Perdana Menteri, Senator, Anggota Parlemen di berbagai belahan bumi ini boleh berganti, tapi militer akan bertahan, paling tidak sebelum mereka pensiun. Skenario ini sepertinya sama dengan para pegawai negeri yang tiap periode melihat pergantian pemimpin mereka oleh karena pemilu. Pemimpin boleh berganti tapi toh mereka para pegawai yang akan menjadi mesin utama berjalannya roda pemerintahan. Sehingga, ya praktek-praktek yang sudah mendarah daging di kaum birokrat itu sulit minta ampun untuk diperbaiki, kita mungkin bisa melihat betapa frustasinya Ahok dengan praktek-praktek seperti itu.

Akan tetapi pihak militer meski pun modelnya sama jelas jauh berbeda dalam beberapa hal, utamanya power. Militer yang kita kenal adalah mereka yang gagah perkasa dengan senjatanya, dan memang mereka harus begitu kan. Mereka harus ada sebagai pelindung negara dari segala ancaman yang akan mengacaukan kehidupan bernegara kita, bukan untuk gagah-gagahan. Nah, karena latihan dan segala perlengkapan yang mereka miliki maka militer menjadi manusia super power yang disegani para warga sipil. Kekuatan militer itu menghasilkan kepercayaan dalam dunia militer bahwa mereka punya hak tertentu atas rakyat untuk memimpin dan pada berbagai kasus rakyat pun mengiyakan hal tersebut. Bahkan ada kecendrungan bahwa mereka enggan untuk diatur oleh sipil.

Indonesia telah mengalami mungkin sebanyak dua kali, ketika militer bertindak atas nama rakyat, entahlah mungkin ada peristiwa minor lain sehingga bisa dibilang sudah berkali-kali, tapi yang paling seru hanya dua yaitu peristiwa di sekitar G30SPKI dan kemudian reformasi 1998. Militer pada kasus pertama memperkokoh perannya dengan gagasan dwifungsi serta mengambil alih kontrol atas negara dan yang kemudian pada reformasi memastikan langkahnya untuk kembali kepada fungsi awalnya saja. Pada kedua kasus tersebut yang terjadi sebenarnya adalah militer merasa bahwa mereka berpihak dengan rakyat banyak, dengan para mahasiswa, demonstran dst meski pun pada kedua kasus itu sebagain dari militer ada di sisi lain.

Dalam keadaan ‘normal’, atau biasa-biasa saja seperti sekarang ini, peran militer seolah tidak terlihat kecuali bagi orang yang tinggal di sekitaran mereka atau ketika ada pemberitaan pergantian pemimpin puncaknya yang sedikit politis itu. Tapi, tentu saja tidak ada keadaan normal, dengan munculnya kekuatan-kekuatan dunia baru, dan kelompok teroris lintas batas agenda militer masih akan sangat berpengaruh. Paling tidak mereka butuh anggaran yang banyak, apalagi militer kita sudah diperintahkan untuk tidak lagi mengurusi bisnis-bisnis mereka di berbagai daerah. Sehingga militer harus bermain politik, memiliki agenda politis tersendiri.

Iklan

5 pemikiran pada “Kudeta, Militer Selalu Punya Agendanya Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s