Kondom di Minimarket, For Who ?

dispenser-954795_1280.jpgHmm, kondom. Fungsi utama kondom sebenarnya menurut saya ya sebagai alat kontrasepsi karena tidak begitu efektif jika digunakan sebagai alat pencegah penyakit menular seksual, sudah banyak penelitian yang mengungkapkan hal ini. Nah-nah, begitulah ketika berbicara kondom ya kita berbicara tentang salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus (?) dipenuhi yaitu seks.

Indonesia sebagai negara dengan budaya timurnya yang kental ditambah lagi mayoritas penduduknya beragama, memandang seks sebagai sesuatu yang tabu atau kurang layak diperbincangkan dan juga diperlihatkan, hahaha. Seks dalam agama islam misalnya mesti dalam ikatan pernikahan yang sah. Meski pun hal tersebut tidak berarti orang Indonesia jarang ngesex.

Kondom merupakan alternatif instan dari berbagai alat kontrasepsi lainnya. Tidak seperti pil yang harus diminum berkala atau alat-alat lain yang mesti ditanam di dalam tubuh, kondom sangat praktis, tinggal lup. Bahkan kondom ini juga bisa menjadi simbol emansipasi wanita, karena biasanya kan cuma wanita yang mesti pake alat kontrasepsi.

Menjamurnya industri retail utamanya minimarket (apalagi dua sejoli yang selalu sampingan atau hadap-hadapan, you know lah) memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang beragam mereknya dengan harga yang bersaing, termasuk juga kondom.

Wait-wait, biasanya kan alat kontrasepsi dibagi-bagi gratis atau paling tidak ya di apotik atau ke dokter baru bisa dapat. Tapi ternyata kondom bisa bebas berkeliaran di pasaran dan ini semua kemungkinan besar karena tidak ada kebijakan yang jelas mengenai peredaran kondom. Saya mencoba grasak-grusuk di om google namun belum juga menemukan aturan penjualan kondom.

Negara tentunya tidak boleh ikut campur dalam urusan seks warganya, selama dilakukan suka sama suka ya tentu saja dalam konteks negara jika tidak melanggar aturan ya bisa diartikan seks tersebut sah-sah saja dilakukan. Warga negara juga bebas membeli barang sesuai keinginannya, sekali lagi selama tidak melanggar aturan yang ada.

Di kota-kota besar seperti Jakarta misalnya penjualan kondom secara bebas tidak menjadi masalah, tapi di berbagai kota lainnya ternyata terjadi pelarangan atau swiping terhadap penjualan kondom. Program bagi-bagi kondom gratis juga pernah menjadi sorotan publik di era menkes sebelumnya.

Reaksi-reaksi negatif tersebut tidaklah datang tanpa alasan yang jelas. Ada kecurigaan yang menjelma menjadi kecemasan bahwa dengan mudahnya mendapatkan kondom maka kemaksiatan atau seks diluar nikah utamanya pada anak muda akan meningkat.

Sekali lagi kecurigaan itu tidak berarti bahwa para pelarang khawatir karena mungkin berdasarkan pengetahuan mereka libido orang Indonesia tinggi sehingga dengan kemudahan mendapatkan kondom (dan mafaatnya yaitu tidak akan lagi takut merried by accident) tingkat seks bebas (zinah) akan naik drastis, hahaha.

Jadi saya bertanya-tanya untuk siapa sebenarnya kondom yang dijual di minimarket tersebut. Lebih-lebih dari strategi marketingnya posisi kondom diletakkan di dekat kasir, berasosiasi dengan permen dan rokok, mungkin karna sama-sama dihisap ya hahaha.

Minimarket sebagai entitas bisnis ya tentu saja menjual barang-barang yang bisa menghasilkan keuntungan, apalagi bisnis retail yang harus berurusan dengan hal-hal kecil/recehan. Tentu saja keberadaan kondom tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meraup keuntungan. Meski pun kelihatannya tidak begitu laku keras seperti rokok, menjual kondom atau barang-barang lain yang beragam bagi peritel tentu secara garis besar akan sangat bermafaat bagi bisnis mereka.

Lalu untuk siapa sebenarnya kondom-kondom itu ? Ya tentu saja bagi siapa saja yang membutuhkan dan tidak membenargunakan (eh, menyalahgunakan).

Iklan

Satu pemikiran pada “Kondom di Minimarket, For Who ?

  1. Toko-toko menjual itu dengan prinsip karena kondom merupakan kebutuhan yang terjadi berulang-ulang atau relatif sering dibeli) sehingga masuk dalam barang jualan yang frekwensi pembeliannya konstan. Profit.

    Siapa yang beli? Coba amati. Banyak yang beli. Terutama bila sudah jam malam sekali. Kalau tak banyak yang beli nanti populasi di tanah air bisa berlipat-lipat jumlahnya.

    Cheers 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s