Terima Kasih Netherlands

Indonesia sebagai negara bangsa menurut saya harus berterima kasih banyak kepada Belanda. Tapi, saya pikir acara terima kasihnya baru bisa dilaksanakan kalau Belanda mau minta maaf lagi dan berterima kasih banyak atas segala pengurasan yang mereka lakukan selama menjajah (termasuk berbagai benda atau catatan bernilai sejarah yang masih nyangkut di negeri kincir angin tersebut juga harus dikembalikan dulu).

Alasan berterima kasih yang paling utama kepada Belanda adalah karena teritori atau wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.Banyak hal lain sebenarnya yang dapat kita jadikan sebagai alasan untuk berterima kasih kepada Belanda. Jalan dan jembatan rintisan, jalur kereta api, dst hingga sistem yang korup pun merupakan warisan berharga dari Belanda.

Namun kalau bukan karena penjajah Belanda tidak akan pernah ada yang namanya Hindia Belanda dengan luas teritori persis sama seperti Indonesia saat ini. Bahkan Sriwijaya dan Majapahit sekali pun tidak bisa secara penuh menyatukan wilayah yang sebanding dengan Hindia Belanda.

Wilayah teritori merupakan salah satu komponen utama dari suatu negara, ketika dulu para pendiri Indonesia memikirkan tentang sebuah negara mereka tidak hanya berpikir soal orang-orangnya saja melainkan juga wilayahnya.

Sengketa pulau Sipadan dan Ligitan yang sempat heboh dan merusak hubungan Indonesia dan Malaysia misalnya, dalam konflik itu Indonesia dan Malaysia sama-sama mengajukan berbagai bukti terutama bukti historis kepemilikan atas pulau tersebut kembali pada jaman penjajahan. Apakah pulau tersebut dibawah jajahan Inggris atau Belanda, karena jika terbukti bahwa pulau tersebut pernah di bawah administrasi Belanda maka Indonesia bisa mengklaim bahwa pulau tersebut milik kita.

Penggunaan wilayah bekas jajahan atau hasil serah terima dari para penjajah barat sebagai suatu negara bisa saja mendatangkan ketidakstabilan seperti yang terjadi di timur tengah. Wilayah jajahan tersebut tidak benar-benar memiliki kesamaan dari berbagai sisi dan sebelum penjajahan mereka telah memiliki peradabannya masing-masing yang sangat panjang sejarahnya.

Hal tersebut tentu terjadi juga di beberapa bagian Indonesia, contoh yang paling seru adalah Aceh. Mereka memiliki sejarah yang sangat panjang dengan sejarah sebagai kesultaan islam pertama di nusantara. Hingga awal abad ke-20 pun mereka masih belum bisa ditaklukan kompeni Belanda karena perjuangan yang sangat gigih. Sehingga bagi mereka, tidak sulit untuk membayangkan pemerintahannya sendiri dan untuk itu memisahkan diri dari Indonesia.

Papua pun tidak menjadi bagian dari Indonesia hingga tahun 60an, bersama para separartis Maluku hingga saat ini mereka masing-masing masih saja berusaha untuk memisahkan diri dari Indonesia. Insiden teranyar mungkin pembatalan kunjungan kenegaraan SBY ke Belanda karena protes dari para separatis yang bebas berkeliaran di negeri itu.

Namun, jika kemudian ada yang masih bertanya lagi mengapa harus berterima kasih maka kita seharusnya mulai menyadari bahwa saat ini Indonesia adalah negara yang dari segi pendapatan domestik bruto lebih besar dari Belanda apalagi dari segi purchasing power. Indonesia bisa jadi jauh lebih besar lagi dari segi ekonomi dibanding mantan penjajah kita itu dengan pertumbuhan ekonomi yang selama ini kita alami. Sebagai bangsa yang besar (besar korupsinya?), sesuai pesan Bung Karno kita tidak boleh sekali-kali melupakan sejarah.

*Dankjewel Kompeni

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s