Si Kuncup

OLYMPUS DIGITAL CAMERANamanya Kuncup, jika kau punya seorang adik yang duduk di kelas satu sekolah dasar maka mereka usianya sepantaran. Kuncup selalu berpakain rapi dengan rambut yang selalu diminyaki dan disisir rapi ke kanan, wajah yang dibubuhi bedak tipis dan tidak lupa beberapa semprotan parfum di kemeja dan celananya.

Meski pun si Kuncup tau bahwa beberapa semprotan parfum itu tidak akan bertahan hingga siang nanti dan bedak di pipinya akan segera luntur tergores kecerian di sekolah, Kuncup pasti akan balik dengan rambut yang masih tersisir rapi seperti ketika ia berangkat tadi pagi.

Kuncup tidak seperti teman-temannya yang entah serapi apa pun datang ke sekolah akan balik dengan gaya yang acak-acakan, kemejanya tetap di dalam dan jarang sekali terkena noda-noda membandel seperti yang biasa kau lihat di iklan-iklan televisi.

Ia selalu datang dengan perasan yang aneh ke sekolah. Seolah bertanya-tanya, apa yang akan ia temuka di sana hari ini. Selama perjalanan, Kuncup akan selalu merasa dikejar-kejar waktu dan mempersiapkan segala keperluan sesaat sebelum berangkat. Dunia Kuncup seolah dalam waktu keheningan sesaat sebelum berbagai perang-perang besar dimulai, keheningan yang kacau.

Begitu pun, Kuncup memegang rekor sebagai siswa pertama yang menyapa tiang tak berbendara yang berdiri menjulang,  menatap goresan-goresan di papan dari hari kemarin atau sekadar memenuhi kewajibannya membersihkan kelas. Bagi Kuncup, terlambat bukanlah pilihan tetapi memalukan, malu yang sangat. Diam-diam ia menikmati kebebasan di pagi hari itu, menyusuri ruang kelas dengan bebasnya.

Sebelum kelas dimulai, apel pagi mengharuskan setiap siswa termasuk Kuncup untuk ikut dalam barisan, mendengarkan patahan-patahan kata dari guru atau kepala sekolah. Ia tahu itu hanya ritual, meski pun terlihat mengikuti ritual itu dengan seksama sehingga sangat jarang diberi hukuman atau bahkan ditegur sekali pun, ia akan berdiri di sana dengan mata yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat satu persatu siswa dengan berbagai keunikan mereka, membayangkan bagaimana mereka yang lebih tua itu akan menghabiskan waktu mereka masing-masing.

Di kelas, Kuncup seperti teman-temannya yang lain tidak berpidah-pindah tempat, mereka punya konsensus sendiri tentang siapa yang duduk di mana sejak hari pertama. Walau pun berbagai intrik di kelas nantinya akan merubah bebepara posisi, Kuncup tau semakin ke belakang semakin terbelakanglah peradaban. Segala jenis suara-suara tak diundang dan permainan-permainan tak mengasikkan akan bermuasal dari belakang dan Kuncup memilih di depan.

Melihat dunia dari sisi lain akan menjadikan hidupnya lebih mengasikan, pengalaman baru selalu merayunya untuk berpindah-pindah tempat duduk. Sehingga Kuncup pun merayu dalam beberapa kesempatan untuk bertukar tempat, ia membaca dengan cermat berbagai intrik-intrik di kelas sambil menghindari berbagai intrik-intrik itu dengan licinnya. Ia tak suka konfrontasi, bermasalah dengan satu teman kelas saja baginya bagai bermasalah dengan seluruh populasi sekolah itu.

Ketika jam istirahat tiba, Kuncup akan bermain atau ke kantin atau sekadar berjalan-jalan sembari melihat-lihat berbagai kecerian di luar kelas untuk kembali lagi dan duduk. Ia tidak terlalu suka menyisakan sebagian uang jajannya, jadi Kuncup membeli dan membeli hingga habis.

Begitulah sepenggal kisah Kuncup. 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Si Kuncup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s