Sentilan Buat Para Pembaca Buku Jalanan

perpus

Sumber : Merdeka.com

Begini, mayoritas orang Indonesia di perkotaan sudah tau kok kalau membaca itu merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat untuk menutrisi isi kepala manusia agar lebih jernih memandang dunia ini. Meski pada dasarnya mereka jarang meluangkan waktu untuk membaca buku.

Minat membaca orang Indonesia memang cukup mengkhawatirkan sehingga berbagai upaya dilakukan untuk merangsang minat baca masyarakat baik oleh pemerintah maupun dari komponen masyarakat lainnya. Pemerintah di setiap daerah punya perpustakaannya masing-masing, termasuk juga di sekolah-sekolah yang hampir semuanya memiliki perpustakaan atau paling tidak buku teks pembelajaran.

Tantangan itu semakin berat saja akibat dari perkembangan teknologi yang mengakibatkan buku semakin hari semakin kurang diminati saja. Kalau toh mereka membaca, mungkin yang akan dibaca adalah artikel di situs-situs berita online atau parahnya status-status di sosial media kerabatnya.

Dari beragam komponen masyarakat yang bermaksud menumbuhkan minat baca masyarakat salah satunya mungkin komunitas yang membuka lapak malam-malam dan menamai diri mereka komunitas perpustakaan jalanan. Mereka ini menjadi heboh diperbincangkan karena harus berurusan dengan Kodam Silihwangi karena dianggap sebagai kedok dari gerombolan geng motor saja.

Geng motor memang merupakan momok yang menakutkan di Bandung, di tahun 2000an awal Saya sering menonton di tv tentang berbagai aksi kejahatan yang mereka lakukan. Sampai tinggal di Bandung pun di pertengahan 2013, kisah tentang kebringasan mereka masih banyak dituturkan oleh beberapa warga yang sempat berbincang-bincang dengan Saya.

Kadang-kadang Saya masih berkeliaran di dalam kota hingga larut malam dan memang tidak ada lagi semacam gangguan dari gang motor seperti yang diceritakan tersebut. Tetapi akhir-akhir ini jam 11an saja sudah mulai ada gerombolah-gerombolan motor yang berkeliaran. Bahkan sempat ada beberapa kasus yang melibatkan anggota tentara dan masyaratak umum. Jujur ya mengerikan juga kalau membayangkan gerombolan itu bisa jadi beringas seperti dulu lagi.

Hal seperti itu lah yang menjadi kecemasan para tentara, Bandung yang sudah relatif aman dari sebelumnya bisa saja kembali mencekam di malam hari. Masyarakat harus menunggu hingga besok paginya baru bisa keluar untuk melaksanakan berbagai aktifitasnya. Belum lagi dampaknya pada industri pariwisata Bandung, bisa-bisa para pelancong berpikir dua kali lagi sebelum ke Bandung yang sudah dipercantik Ridwan Kamil dengan susah payah ini.

Sebenarnya mereka bebas-bebas saja melakukan berbagai aktifitas selama tidak mengganggu ketertiban umum atau melanggar aturan-aturan yang ada. Apalagi tujuannya juga kedengarannya bagus.

Tapi, begini deh. Pertama soal buku dan perpustakaan itu. Hubungan keduanya hanya akan terjadi ketika ada aktifitas yang bernama membaca. Kalau tidak ya itu namanya bukan perpustakaan tetapi pameran buku, liat-liat saja. Membaca sendiri sebenarnya membutuhkan kondisi-kondisi yang ideal, seperti tempat duduk atau bersandar (mana pundak mana punda, hahaha) dan sebagainya.

Pencahayaan juga sangat berpengaruh, ketiadaan cahaya atau kegelapan yang menyelimuti akan dengan jelasnya menghilangkan kata-kata yang tertulis dan menjadikannya bentuk saja. Jika kita mencoba membayangkan kondisi taman Cikapayang di malam hari nan gelap dengan lampu seadanya maka aktifitas membaca di situ sepertinya tidak akan semengasikkan itu.

Belum lagi dinginnya Bandung yang bisa di bawah 20 derajat celciyus di malam hari akan sangat memecah fokus para pembaca, kecuali memang ada bir atau vodka dan sejenisnya (pelukan kekasih?) yang akan menemani mereka sepanjang malam.

Kedua ya itu, bayangkan kalau ada puluhan motor yang parkir. Tentu saja mereka akan mengganggu lalu lintas di daerah tersebut, meski pun jarang ada kemacetan malem-malem di dalam kota (kecuali malam minggu, eh).

Kalau dilihat dari segi ekonomi para gerombolan motor yang biasa berkeliaran sepertinya kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Karena kalau kalangan menengah ke atas mungkin ya namanya geng mobil bukan geng motor (meski pun ada loh geng mobil yang sering kongkow-kongkow malam) atau geng private jet, hahaha. Kalau melihat lebih jeli lagi yang nampak biasanya mereka dengan usia yang sepantaran dengan terong (terong-terongan), bersama cabe-cabe mereka (kumplit kan).

Hmm, bagaimana pun sebagai masyarakat biasa kita tentu mengharapkan adanya ketertiban umum sehingga bebas melakukan berbagai aktifitas kapan saja dan di mana saja. Militer atau aparat bersenjata juga tidak boleh sewenang-wenang ikut campur dalam kehidupan sipil apalagi kalau ada motif balas dendam di dalamnya. Begitu pun mereka yang sering keluar malam bersama gerombolannya supaya kalau mau melakukan hal-hal yang positif ya sebaiknya jangan dicampur-campur minuman keras, karena minuman keras atau bahkan obat-obat terlarang merupakan salah satu pemicu berbagai tindak kekerasan (ingat ya kalau masuknya keras keluarnya juga keras. eh).

Sekian.

Iklan

3 pemikiran pada “Sentilan Buat Para Pembaca Buku Jalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s