Indonesia di Antara US dan China, Bagian 1

duduk-bersama-xi-jinping-obama-jokowi-hadiri-forum-apec-ke-22

Sumber : merdeka.com

Filosofi hubungan internasional Indonesia yang selama ini didengung-dengungkan, mendayung di antara dua karang, sepertinya dalam sejarah tidak pernah sungguh-sungguh diterapkan sama sekali.

Pada masa-masa awal kemerdekaan yang berhasil didukung oleh upaya-upaya diplomasi bukan dengan senjata saja, sisa-sisa kepahitan masa penjajahan masih tidak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia. Apalagi ditambah dengan dukungan langsung Australia terhadap kembalinya Belanda untuk menjajah di tanah air, memperkuat rasa kebencian dan ketidakpercayaan terhadap negara barat atau yang bersekutu dengan mereka. Meski pun pada waktu itu negara barat seperti sang pemenang perang dunia ke dua Amerika lah yang menekan Belanda untuk keluar dari Indonesia dan berbagai bantuan lainnya.

mao-zedong-22-1956-indonesian-president-sukarno

Sumber : chinadaily.com.cn

Kemudian, datanglah masa-masa awal perang dingin dengan tumbuhnya gerakan kiri di dalam negeri dan jaringan mereka yang kuat dengan Soviet. Hal tersebut dengan mudahnya dimanfaatkan Sukarno yang juga simpatik dengan kaum kiri untuk menggalang dukungan baik berupa senjata mau pun dukungan diplomasi Soviet dan negara-negara komunis seperti China dan Korea Utara dalam menentang hegemoni barat di kawasan. Sehingga, kebencian yang masih tersisa terhadap barat pun dengan mudahnya digelorakan untuk upaya-upaya seperti pengambilalihan Papua Barat dan seruan seruan anti imperialis seperti Ganyang Malaysia.

nixongreetingsuharto_whitehousepressoffice-publicdomain-photo-by-oliver-f-atkins

Sumber : berlinbooks.org

Orde lama pun digantikan dengan orde baru, kalangan kiri pun dibasmi yang hingga akhir orde baru pun alergi terhadap segala yang berbau kiri karena sejarah berdarah yang katanya tidak bisa dilupakan bangsa masih kuat dibenak masyarakat Indonesia.

Seketika itu pun Indonesia memutar haluan, menjauhi Soviet dan sekutunya dan berbalik ke Amerika. Indonesia mulai menggunakan lagi alat-alat militer Amerika dan membuka diri terhadap investasi perusahaan-perusahaan asing yang berarti menganut sistem ekonomi pasar. Bahkan secara aktif menjadi bagian dari strategi Amerika pada waktu itu dengan mengambil alih Timor Leste yang dikhawatirkan akan jatuh ke tangan separatis berhaluan kiri.

Di akhir tahun 80an dan awal 90an dengan runtuhnya Soviet dan China yang mulai menerapkan sistem ekonomi pasar maka perang dingin pun dianggap usai dan kubu-kubuan sudah tidak relevan lagi. Hubungan Indonesia pun kembali dibina dengan Russia sebagai penerus Soviet dan juga dengan China.

Indonesia pada akhir orde baru juga tidak begitu harmonis dengan Amerika karena embargo senjata atas tuduhan pelanggaran HAM bahkan kemudian membeli pesawat tempur Russia karena berang dengan sikap Amerika.

Setelah reformasi, Indonesia di masa SBY menjadi lebih condong ke barat meski pun rezim itu bersikukuh dengan prinsip zero enemy yaitu bersahabat dengan siapa saja tanpa kubu-kubuan. Prinsip ini dianggap cocok dengan kondisi belakangan yang menjadikan berbagai negara di dunia semakin tergantung satu sama lain akibat dari sistem ekonomi pasar yang didukung dengan kecanggihan teknologi. Bahkan Amerika sekali pun akan terancam krisis maha dahsyat kalau memutuskan hubungan ekonomi dengan China.

Saat ini sebenarnya Indonesia tidak dengan simple-nya berada diantara Washington dan Beijing, ada Russia yang kembali menjadi faktor dominan di kancah dunia dan beberapa negara lain yang juga muncul sebagai kekuatan baru seperti India dan Jepang. Hal ini berarti dunia tidak sedang menuju kedalam dua kutub lagi melainkan cenderung bergerak ke arah multi kutub.

Namun, Indonesia dari segi geografisnya yang memang tidak bisa dihindari dan katanya tidak bisa diganggu gugat menghadapi fakta bahwa Indonesia berbatasan langsung dengan kekuatan-kekuatan besar tersebut. Di utara ada klaim China yang berhadapan langsung dengan kepulauan Natuna, di selatan ada perbatasan laut yang panjang dengan Australia (sekutu dekat Amerika), di barat ada kepulauan Andaman milik India, dan di Timur juga ada teritori Amerika yang tersebar di samudra Pasifik.

Ditambah lagi dengan kepemilikan Indonesia atas salah satu jalur perdagangan utama dunia, selat Malaka yang setiap harinya dilalui oleh kapal-kapal yang mengangkut berbagi kebutuhan dari seluruh dunia. Menghubungkan dua wilayah laut yaitu samudra Hindia dan laut China Selatan. Menjadikan Indonesia dari letak geografisnya tidak bisa menghindari segala perkembangan yang terjadi diantara kekuatan-kekuatan tersebut.

Pengaruh Russia di Indonesia dari letak geografis tersebut nampaknya memang tidak signifikan, hubungan dagang antara kedua negara juga tidak begitu besar hanya $1,99 milyar pada tahun 2015. Meski pun Indonesia masih sangat tertarik dengan alat-alat militer buatan Russia seperti Jet dan bahkan berencana untuk membeli 8 Sukhoi versi terbaru SU-35 serta rencana-rencana investasi Russia di berbagai sektor. Akan tetapi hal tersebut tidak dapat menandingi dua pesaing yang saling berebut pengaruh di kawasan yaitu China dan US paling tidak dalam waktu dekat.

Hubungan Indonesia dan China sebenarnya bisa ditelusuri lagi ke jaman kerajaan Hindu-Budha bahkan mungkin ke jaman pra sejarah. Karena menurut salah satu teori, orang-orang yang menempati nusantara berasal dari daerah Yunan yang saat ini merupakan bagian dari China. Kemudian pada masa-masa kolonial juga terdapat migrasi warga China daratan ke Indonesia dalam beberapa gelombang yang tentu menjadi sarana saling mengenal antara dua negara.

Namun, sejarah penduduk China di nusantara dibumbuhi dengan sejarah kelam yang hingga saat ini masih menyisakan keraguan dalam masyarakat pribumi. Politik diskriminatif Belanda menaruh mereka pada posisi yang sangat tidak mengenakan yaitu menjadi antek dalam penjajahan. Pada jaman Sukarno mereka juga pernah sangat simpatik kepada negara China yang kebetulan berideologi komunis.

Belum lagi banyak dari keturunan China yang menjadi konglomerat negeri ini dan turut serta bersama rezim orde baru menguasai berbagai bisnis besar yang menggurita. Menjadikan masyarakat pribumi selalu merasa curiga terhadap mereka. Ujung-ujungya adalah timbul dalam masyarakat kecurigaan juga terhadap negara China.

Seiring dengan pertumbuhan ekonominya yang begitu pesat maka China juga secara perlahan menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan volume perdagangan yang mencapai $63.58 miliyar di 2014 dan diprediksi akan mencapai $150 miliyar di 2020 dengan defisit miliyaran di sisi Indonesia.

Ekspor hasil tambang mentah Indonesia juga selain ke Jepang paling banyak ditujukan ke China. Tapi, lebih dari semua itu yang menjadi salah faktor kedekatan utama Indonesia dengan China adalah investasinya diberbagai sektor di negara seperti pembangunan infrastruktur. Indonesia bahkan telah bergabung dengan bank pembangunan infrastruktur Asia bikinan China. Sehingga menjadikan China sumber dana segar yang berlimpah ruah.

Berlimpahnya dana China itu juga digunakan untuk memperkuat pertahanannya yang selama ini terkenal tidak cakap dan alat persenjataan yang ketinggalan jaman dengan mulai memproduksi sendiri seluruh persenjataannya.

Karena itu juga China mampu mendanai pembelian kapal induk baru setelah sebelumnya membeli bekas Soviet, termasuk juga membangun pulau-pulau buatan di wilayah sengketa laut China Selatan sebagai pusat-pusat militer. Belum lagi arsenal-arsenal nuklir China yang masih siap sedia di tempatnya masing-masing yang dapat sewaktu-waktu ditembakkan ke arah mana saja.

Sudah banyak negara yang mulai menggunakan alat-alat militer buatan China seperti kapal selamnya yang akan digunakan militer Pakistan dan rudal yang katanya sudah dipesan Indonesia. Menandakan bahwa dunia mulai mengakui kecanggihan teknologi China.

Sebagai negara yang memili teritori yang sangat luas di daratan Asia, China juga secara geografis mendapati dirinya dalam berbagai keadaan yang tidak mudah. Di barat ada India yang dulu pernah berperang terbuka dengan China karena masalah perbatasan yang hingga kini belum selesai-selesai.

Di timur ada Jepang yang mengklaim beberapa pulau di perbatasan antar kedua negara. Belum lagi sejarah masa lalu yang sangat sulit dilupakan rakyat China pada masa penjajahan yang masih menjadi isu yang hangat hingga saat ini. Belum lagi permasalan dengan dua Korea, utamanya sang sekutu dekat sesama komunisnya yaitu Korea Utara yang memiliki senjata nuklir dan sering melakukan uji coba senjatanya tanpa memerdulikan teguran negara mana pun termasuk China sendiri.

Permasalahan laut China Selatan juga membuat China dengan negara-negara ASEAN menjadi tidak harmonis. Vietnam dan Filipina mulai menunjukkan ketidaksukaan mereka atas klaim China di laut tersebut karena mereka bersama beberapa negara ASEAN lainnya juga merasa memiliki klaim terhadap bagian-bagian dari laut tersebut. Vietnam sempat terang-terangan melakukan konfrontasi karena merasa wilayahnya telah dilanggar.

Hubungan yang tidak mudah itu membuat China harus berupaya mencari partner di seluruh penjuru dunia. Afrika menjadi target utama investasi China tersebut dengan meluncurkan miliyaran dollar ke berbagai proyek yang berada di seluruh wilayah Afrika.

China juga tetap menjaga hubungan erat dengan Russia dan melakukan berbagai hal termasuk membeli gas dan minyak negara itu setelah dikenakan sanksi oleh negara-negara barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s