Mencari

Sore ini aku terbangun dari tidur pendek bersama perut kosong, sama kosongnya mungkin dengan perut-perut para penguliti hewan kurban di luar sana yang sedang asik-asiknya mengiris-ngiris. Sebenarnya dari pagi saja beberapa warung sudah buka, di hari libur ini. Cuma entah mengapa kaki ini enggan mampir dan malah memutuskan menyubit-nyubit si isi cokelat dan menelannya dengan air bening tak berdosa.

Lebaran kali ini cukup syahdu, tadi pagi matahari menyinari pundak-pundak yang sembahyang di lapangan terbuka sembari mengusir sedikit dari sisa-sisa dinginnya subuh. Pagi itu di langit tak ada satu awan pun yang terlihat, aku ingat betul karena memandanginya dengan seksama untuk sekadar menikmati suasananya. Entahlah mengapa setelah itu hingga kini awan gelap menyelimuti langit, oh ya dan disertai hujan yang membuatku harus berlarian kecil dalam perjalan kembali ke kamar dengan dua sekantong pengganjal perut.

Hingga sore, sepertinya bisa kuhitung dengan jari sudah berapa kalimat yang aku ucapkan. Mungkin karena syahdunya hari ini jadi orang-orang bersembunyi atau hanya aku yang kekurangan kenalan hingga seperti biasa, berbicara sendiri di depan cermin lagi.

Tadi, senyumnya begitu manis, ahh ingatanku melayang-layang ke pagi tadi. Sedikit-sedikit kupandangi tapi teringat lagi dengan lagu yang sering kudengarkan dan terngiang-ngiang di telingaku.

I saw your face, in the crowded place

And I don’t know what to do

‘Cause I’ll never be with you

Yasudah, setelah senyummu berpaling kulangkahkan kaki menuju ‘hutan’ kampus. Hijau dan masih segar, dihuni oleh para bangau yang cerewetnya minta ampun. Mereka tidak pernah ditaruh di situ, tetapi memutuskan bahwa ranting-ranting yang menjulang di tengah peradaban yang terus-terusan menggusur adalah rumah tempatnya kembali jua. Dulu, kami pernah berburu bangau dengan senapan angin, setelah menembak jatuh beberapa ekor dari pohon durian, kami pun ragu untuk memakannya dan dengan segala hormat dan rasa sayangan memutuskan untuk menguburkan mereka di pekarangan.

Berburu itu mencari, melihat-lihat lalu memutuskan untuk menembak. Melelahkan sebenarnya, apalagi jika hatimu juga sudah lelah. Lalu kau akan mulai bertanya-tanya tentang dirimu sendiri, apakah benar kau menginginkan perburuan ini. Agar tak bernasib sama dengan beberapa bangau itu yang harus dikubur oleh karenanya. Pertanyaan yang sulit, walau pun jawabannya paling tidak bisa kau reka-reka sendiri.

Kemudian, kulihat lagi dengan lebih dekat kali ini, yang lain lagi. Aku medekat dan dia diam saja, maksudku mendekat juga. Lama kami berdekat-dekatan hingga waktu memisahkan lagi, ia tidak mengejar daaan mengapa aku ingin dikejar, hahahaha. Tidak, tidak aku tidak sedang berlari untuk dikejar, perutku sudah menuntut dan dia entahlah siapa itu juga jarang akan ketemu lagi. Jadi langkahku mulai menghapus sentuhan-sentuhan itu, bayangnya tergantikan darah hewan bertaburan tak karuan tanpa ditimbun, euh joroknya. Sudah-sudah, aku cuma berlalu.

But it’s time to face the truth

Iklan

Satu pemikiran pada “Mencari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s