Kebebasan di Kampus

Kasus terbaru di kampus Universitas Indonesia, yang katanya merupakan universitas terbaik di Indonesia yang kemudian menjadikan sang mahasiswa terancam dikeluarkan dari kampus membuat saya kembali menggerutu. Peristiwa semacam ini terus-terusan terjadi di berbagai kampus di Indonesia, belum lama juga para penggiat di kampus yang sama harus berurusan dengan figur tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi yaitu menteri ristekdikti (pemerintah) karena kegiatan yang mereka lakukan.

Saya mungkin tidak setuju dengan apa yang mereka ungkapkan atau lakukan, tapi saya pikir mereka berhak untuk melakukan hal tersebut dimana saja termasuk di wilayah kampus dan hal ini dilindungi undang-undang dasar.

Menurut UUD 1945 amandemen ke 4 pasal 28 ayat 2 dan 3 :

Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Kampus merupakan tempat kaum intelektual, dari kampus pula semangat kebebasan dari penjajahan digelorakan dan dari kampus juga perlawanan akan tirani dimulai. Jika melihat sejarah ke belakang, jelaslah kemerdekaan Indonesia dimulai dari kesadaran para kaum intelektual.

Tapi, bagaimana kalau ternyata kegiatan eksplorasi ilmu pengetahuan di kampus ternyata harus berhadap-hadapan dengan berbagai pembatasan, tekanan, penyensoran. Mahasiswa dan dosen diatur dengan aturan berlapis baik itu secara vertikal dari pemerintah maupun dari internal kampus sendiri.

Berbagai pembatasan dengan konsekuensi-konsekuensinya yang membelenggu itu hanya akan memandekkan tujuan utama dari pendidikan dan juga tujuan dari kampus dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Padahal, keterbukaan akan berbagai sudut padang yang berbeda menjadikan mahasiswa dan juga dosen menjadi lebih mengerti dalam mengkaji berbagai masalah yang berkembang untuk ditemukan solusinya.

Seperti kasus di atas, sang mahasiswa yang terancam di keluarkan itu sebenarnya membawakan sudut pandang dari unsur masyarakat yang bagaimana pun ada dalam masyarakat Indonesia. Mengeluarkan mahasiswa tersebut sigkatnya akan menjadikan nama kampus ‘bersih’, tetapi tidak akan memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap dampak dari pola pikir semacam mahasiswa tersebut kalau memang dianggap jelas-jelas tidak benar.

Mengeluarkan mahasiswa tersebut dari kampus tidak akan mengeluarkan ide-idenya dari kepalanya sendiri jika kepalanya tidak dibuka untuk berdiskusi secara terbuka dengan berbagai ide lain yang berbeda. Bahkan bisa saja malah membuat yang bersangkutan bersama organisasi atau kaumnya yang sejenis akan menjadi lebih percaya diri dengan gerakan mereka atau ide mereka, dengan memosisikan diri mereka seolah merekalah pejuang yang dizolimi oleh para diktator biadab.

Pada kasus lain, saat apa yang dilakukan oleh civitas kampus sebenarnya baik namun dianggap terlalu progresif atau tidak sesuai dengan aturan baku atau opini dan pendapat mayoritas atau otoritas maka hal yang sama juga dapat terjadi. Padahal ide-ide baru yang baik seperti itu akan sangat bermanfaat bagi kemajuan bukan hanya bagi kampus sendiri bahkan bisa bagi seluruh dunia.

Sejarah opresi seperti ini sudah lama ada di Indonesia, panjang ceritanya untuk diceritakan kembali. Tetapi opresi di kampus bukan hanya monopoli Indonesia saja, banyak juga hal serupa terjadi di negara-negara lain termasuk di kampus-kampus elit Ivy League Amerika yang terkenal sangat bebas. Hingga Mike Bloomberg pun dengan lantangnya membawakan tema tentang hal tersebut dalam pidatonya di wisudaan Harvard dan menekankan lagi bahwa :

The role of universities is not to promote an ideology. It is to provide scholars and students with a neutral forum for researching and debating issues – without tipping the scales in one direction, or repressing unpopular views.

Tidak satu pun dari kita punya monopoli akan kebenaran.

Iklan

11 pemikiran pada “Kebebasan di Kampus

      • Hahaha sebenarnya saya mau berkomentar : “Inti yang ingin kamu sampaikan itu apa? Saya membaca tulisan ini masih sangat jeneral dan maslah seperti itu sudah jamak di kampus manapun.” begitu tapi rasanya komentar itu sangat sadis jadi saya tidak… Oh wait saya baru saja mengatakannya hahahaha peace ✌ 😁

      • lol, dari komentar sodara ini kan keliatan intinya (sudah general) atau jamak atau apalah, saya cuma berusaha menggambarkan sedikit dengan ngambil contoh kasus, lalu menyerang institusi (cuma kurang di serangannya), lalu di akhir sebenernya bisa diperpanjang cuma saya singkat saja, moody bgt sih jadi ga sampe buka2an, kemarin mau diperpanjang cuma ya ngantuk jadi tadi langsung posting saja. saya tidak terima loh dibilang ga jelas. oh wait :p jangan2 sodara yang ga jelas hahahaha *peace

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s