I’m With Her

herJudul tulisan ini sebenernya merupakan slogan kampanye Hillary Clinton, calon presiden (or the presumtive lol) Amerika dari partai Democrat yang tinggal sekitar dua minggu lagi akan resmi menang. Mantan first lady, senator, menteri luar negeri dan bahkan calon presiden di 2008. Hillary merupakan tokoh politik Amerika yang telah berkecimpung didunia sosial politik selama lebih dari 30 tahun sehingga beliau bukanlah outsider yang baru muncul ketika pemilu tiba dan telah sangat berpengalaman dengan intrik-intrik Washington.

Sementara itu penantangnya dari partai konservatif Republican yaitu u know who, Donald Bebek eh Trump, seorang ikon bisnis Amerika yang sudah terkenal dari buku-bukunya, hotel, kasino dan juga acara tv yang dia bawakan.Tanggal 23 Oktober kemarin nytimes merilis daftar lengkap insults yang udah dikeluarin Donald lewat akun twitternya yang kemudian sehari berikutnya dikeluarkan dalam edisi print koran dua halaman full, if you wanna see all his insulst yang sepertinya sama aja dengan dipanggung atau dimana saja googling aja.

Bagi saya yang baru pertama kali mengikuti dengak seksama proses pilpres di Amerika sih kandidat seperti Donald itu amat sangat tidak terbayangkan bisa menjadi calon presiden di negara pengekspor demokrasi yang selalu menjajakan demokrasi kemana-mana apalagi di jaman sekarang ini. Amerika yang selalu ikut campur urusan negara lain itu pasti akan langsung merespon jika yang melakukan hal semacam Donald itu seorang calon presiden di negara seperti Filipina, yang pada dasarnya memang mereka lakukan.

Kepopuleran Donald sebenernya memang memiliki basis yang jelas di masyarakat Amerika akan sistem perekonomian mereka yang not working bagi sebagian besar masyarakatnya. Ekonomi Amerika yang sering kali dilanda krisis karena ulah para segelintir orang di Wallstreet seperti yang terjadi di 2008 menjadikan kehidupan bagi sebagain besar rakyat semakin sulit saja. Meski pun dalam berbagai indikator saat ini Amerika masih dapat disebut sebagai the greatest country in the world, tapi tentu saja masalah seperti itu memang ada dan nyata.

Apa pun hasil dari pilpres Amerika tetap saja saya bukan warga sana dan walau pun terdampak paling kecil atau bersifat jangka panjang jadi tidak perlu mencla-mencle. Mungkin pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana sebuah sistem demokrasi yang matang menjalankan pemilunya serta bagaimana mereka menghadapi keinginin bodoh yang sama dengan keinginan bodoh para pendukung Brexit. Suatu ketika kalau ada hal-hal semacam Donald maka kita tidak akan asing lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s