Kopi dan Teh

Ada dua gelas di meja itu, di luar hujan menyelimuti sejak pagi dan mentari pergi entah kemana. Gelas pertama beraroma hijaunya bukit-bukit, sedang yang satunya terlihat hitam kecokelatan.

Bingung kata yang pertama mencuat dikepalanya, pertama yang mana yang harus ia habiskan dulu sambil menikmati alunan rintik hujan bersahut-sahutan dari luar. Kedua kenapa ia membuat dua cangkir berbeda. Konyol jika membuat sesuatu hanya karena kebetulan ada, tapi barangkali paling tidak masih bisa dijadikan alasannya.

Didekati kopi panas itu, ditiup-tiup, srupt. Uhk, ternyata gula sehat tak semanis gula biasa, tiga saset pun masih belom menggoyahkan rasa keterlaluan yang dibencinya. Mengambil jarak dari segelintir pemuja kopi, tambahkan manis.

Setengah kopi telah berlalu dan hujan belum juga reda, ia mengharapkan yang tidak ingin ia lewatkan.

Tangannya menyentuh teh, merasakan panas di dinding kaca bening yang kini seolah bersinar merah. Menuangkan sebagiannya ke kopi lalu tersenyum pada dirinya sendiri tentang, betapa isengnya. Seperti kadang, ketika ia menuangkannya kebubur ayam atau menyampurnya dengan sirup.

Akhirnya hujan reda, setengah cangkir bening dan satu cangkir kopiteh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s