Menjadi Follower

Kita adalah follower, tidak terkecuali para artis dengan jutaan follower di sosial media (cek sendiri kalo ga percaya). Kita harus menelan baik-baik kenyataan ini bahwa seberapa populer atau terkenal pun, masih perlu ngefollow. Sungguh suatu kenyataan yang sebenarnya tidak perlu diulang-ulang karena sudah menjadi pengetahuan umum.

Tapi, entah mengapa istilah follower menjadi tidak mengenakkan ketika dilabelkan kepada seseorang. Bahkan menjadi follower bisa berujung pada cap rendahan atau malah bodoh. Hal ini mungkin berasal dari kepercayaan bahwa menjadi pemimpinlah yang seharusnya dilakukan semua orang, menjadi pemimpin, tidak ikut-ikutan.

Hirearki dalam setiap sistem yang dibangun manusia, sering diilustrasikan dengan piramida yang bagian bawahnya lebar sedang bagian atasnya lancip menggambarkan dengan jelas bagaimana sebenarnya sistem tersebut berjalan. Pada bagian atas selalu merupakan posisi leader, sedang pada bagian bawah para followers.

Kepemimpinan dalam berbagai bidang merupakan sebuah kebutuhan, tanpa adanya pengendali puncak, sistem tidak dapat berjalan secara maksimal. Hal alamiyah seperti ini terjadi pada rantai makanan di alam liar.

Keseimbangan terjadi ketika pemangsa atau yang berada di puncak rantai makanan berada dalam jumlah yang jauh lebih kecil dari buruannya, sehingga sumberdaya terpakai namun tidak langka karena terlalu dieksploitasi. Sebaran yang seimbang mencegah juga agar tidak terjadi kelebihan populasi yang mengakibatkan keberagaman di alam terancam.

Dulu ketika masa-masa prasejarah, manusia bisa saja memisahkan diri dan membangun kabilahnya sendiri ketika ia mau. Tapi makin ke sini hal tersebut semakin berbeda. Manusia telah membangun sistem yang amat sangat kompleks yang membutuhkan peran berbagai komponen dalam menjalankan sistem tersebut.

Menjadi para pengikut tentu saja tidak sama dengan menjadi budak atau penyembah-nyembah yang bagaikan kerbau dicucuk hidungnya. Paradigma tersebut merupakan prinsip lama jaman kuda gigit besi dan tidak laku lagi sekarang. Bukan hanya tidak laku sebenarnya tapi tidak akan efektif.

Seharunya memang kesadaran individu tentang peran penting menjadi bagian yang harus mengikut atau berada di bawah harus ditumbuhkan. Mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai hal yang semestinya dilakukan. Karena seperti pemimpin perusahaan yang harus bertanggung jawab terhadap keseluruhan perusahaan melakukan hal-hal seperti mengangkat sampah yang terlewat tukang bersih-bersih kantor tidak perlu menunggu pemimpin tersebut.

Lagi pula, sekarang ini jarak antara pemimpin dan bawahannya tidaklah seperti jaman firaun. Meski pun berstatus pemimpin akan tetapi sistem yang berjalan bersifat tim egalitarian yang membutuhkan kerjasama dari tiap-tiap anggota.

Jadi, bukankah lebih asik menjadi follower saja tanpa beban khayalan yang begitu besar, karena toh semua harus menanggung bebannya masing-masing.

Iklan

6 pemikiran pada “Menjadi Follower

  1. Keburukan org Indonesia, selalu gengsi utk mengakui kekuranganya. Padahal jika kita berani mengakui kekurangan kita, itu adalah kelebihan ilmu utk kita karna akan banyak masukan pemikiran utk pelengkap kekurangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s