Pikir Lagi Sebelum Menulis

Kadang, kita ingin menuliskan hal-hal yang kita alami sehari-hari. Mungkin menyenangkan jika kita dapat menuliskan semua hal itu, berbagi dengan manusia lain di belakang layar PC atau hape mereka. Banyak hal yang bisa dijadikan satu artikel bahkan mungkin buku di setiap detik dalam sehari saja. Mungkin cerita tentang bubur ayam tadi pagi yang rasanya lumayan campur aduk atau tentang tetangga kosan yang annoying dan seterusnya.

Tapi, menuliskan sesuatu selain membutuhkan waktu dan tenaga serta mood (tentu saja) juga membutuhkan rethink atau pikir-pikir lagi. Kita tidak menuliskan semua hal di dunia ini, meski pun sebenarnya setiap hal sudah coba ditulis oleh jutaan penulis di luar sana. Memikirkan kembali, menimbang-nimbang dampak dari tulisan itu adalah hal serius yang mestinya tidak hilang dari kamus seorang penulis, meski pun saya sering mengabaikannya.

Pada dasarnya semua hal yang kita lakukan di dunia ini memiliki dampak terhadap kehidupan alam semesta ini. Terdengar terlalu fantastis sih, but all action counts. Apalagi tulisan, bayangkan saja, tulisan paling tua yang tercatat adalah sebuah hukum yang berlaku di peradaban kuno. Sejak itu telah banyak tulisan yang merubah dunia, menjadi kepercayaan, ilmu pengetahuan, revolusi dan seterusnya.

Kita tentu patut berbangga menjadi penulis atau sekadar menulis sesuatu. Akan tetapi, harus juga mempertimbangkan mengenai tulisan tersebut baik dari segi keakuratan dan utamanya tanggungjawab atas apa yang telah kita lakukan tersebut. Karena siapa yang tau tiba-tiba besok lusa kita menjadi orang terkenal, terlepas dari status terkenal apakah karena hal positif atau tidak, akan ada orang iseng yang mengorek-ngorek tulisan lama kita. Membacanya dengan khusyuk dan mulai meraba-raba berbagai kejanggalan di dalamnya atau malah membuat-buat kejanggalan itu sendiri.

Tidak ada penulis yang terlepas dari kesalahan, disengaja atau pun tidak. Begitu pun tidak ada penulis yang tidak terpengaruh oleh tulisan-tulisan sebelumnya, sadar atau pun tidak sadar. Jadi ketika menuliskan sesuatu kita harus mempertimbangkan kembali kedua hal tersebut.

Selain itu, ada unsur lain berupa masyarakat atau pembaca yang akan membaca tulisan kita. Dengan pengalaman hidup yang berbeda-beda menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda pula terhadap apa yang mereka baca. Meski pun kita tidak bisa mengontrol pemahaman mereka ya tentu saja sebisa mungkin untuk mempertimbangkan hal tersebut dalam menulis, they are there dude.

Tidak ada salahnya memang menuliskan apa yang ada dikepala kita, asal benar dan berani bertanggung jawab atas tulisan tersebut termasuk bertanggung jawab di depan hukum. Apalagi bagi yang beragama tentu harus menyadari akan adanya konsekuensi di akhirat nanti mengenai tulisannya tersebut.

Iklan

9 pemikiran pada “Pikir Lagi Sebelum Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s