Pergi

Semua orang yang pernah mengenalku sebelum 30 Oktober 2013 menganggapku sudah mati. Aku memutuskan untuk ‘mengakhiri’ hidupku hari itu.

Begini ceritanya, aku terlahir dari keluarga menengah atas. Ayahku merupakan seorang dokter sedang ibuku memiliki toko pakaian yang lumayan besar di pusat grosir terbesar di Jakarta. Setelah lulus dari jurusan bisnis di salah satu universitas swasta akupun segera menikah.

Awal pernikahan kami penuh dengan kebahagiaan, tapi semua itu berubah ketika setahun kemudian aku memutuskan untuk melanjutkan studi master di universitas negeri bergengsi di Depok. Aku begitu sibuk belajar sehingga meluangkan waktu terlalu banyak dengan materi-materi kuliah yang berarti bahwa aku juga menghabiskan waktu lebih lama di kampus.

Setahun berlalu dan istriku mulai merasa tidak nyaman dengan semua itu. Dia tidak pernah memaksaku untuk berhenti kuliah, namun perlahan mulai ada jarak diantara kita. Kami tidak bertengkar atau pisah ranjang, tapi makin jarang berhubungan intim. Percakapan sehari-hari pun tidak lagi tentang berbagai masalah pribadi, paling soal cuaca, tetangga, dll. Namun, setiap kali aku bertanya soal masalah pribadinya iya selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.

Akhirnya istriku hamil dan melahirkan anak pertama kami. Aku berharap hal itu akan menjadikan hubungan kami semakin baik, tapi kenyataannya berkata lain. Istriku mulai menuduhku berselingkuh, kedua orang tuaku akhirnya juga turut membenciku. Tiba-tiba hidupku kacau balau.

Beberapa bulan sebelum hari-H, hidupku hanyalah menjadi rutinitas yang harus kujalani setiap hari. Semakin hari aku semakin kehilangan semangat untuk bangun dari tempat tidur, hidup yang sangat membosankan.

Awal bulan itu aku baru mengetahui ternyata istrikulah yang sebenarnya berselingkuh selama delapan tahun pernikahan kami itu. Dan anak kami satu-satunya yang telah berusia enam tahun kala itu bukan merupakan anak biologisku. Sungguh, aku begitu terpukul mendengar berita itu.

Kemudian peristiwa itu terjadi, beberapa ledakan terjadi di kawasan perkantoran sekitaran Bundaran HI dan menghancurkan gedung-gedung di kawasan tersebut termasuk kantorku. Setelah lulus, aku bekerja di salah satu perusahaan yang berada di gedung tertinggi di kawasan itu yang akhirnya rusak parah akibat ledakan.

Reaksiku pertama kali ketika melihat persitiwa tersebut di berita tentu saja kaget dan panik. Rekan-rekan kerjaku berada di gedung tersebut. Untungnya hari itu aku sedang berada di luar untuk bertemu klien, tapi semua orang berpikir bahwa aku juga turut menjadi korban ledakan tersebut.

Siang itu semua orang masih panik akan adanya ledakan susulan, aku pun masih shock dan memutuskan untuk mencari udara segar dan singgah di sebuah kafe sebentar. Setelah beberapa jam di tempat itu aku pun berniat untuk pulang ke rumah, namun tiba-tiba terlindas dipikirinku : “Mengapa harus balik ? Aku sudah mati.”

So, kunaiki KRL tujuan Bogor dan akhirnya tiba di Villa keluarga kami. yang jarang disinggahi. Esok paginya aku memutuskan untuk mengambil seluruh tabunganku di Bank dan segera terbang menuju Papua, memulai kehidupan baru di sana dengan identitas dan penampilan baru.

Setiap tahun, di hari peringatan peristiwa tersebut aku selalu datang lagi ke Jakarta. Ingin rasanya kudatangi mantan Istri dan kedua orang tuaku, mereka mungkin akan sangat kaget. Tapi hingga detik ini aku tidak pernah melakukan hal itu, mungkin tidak akan pernah.

*sebuah cerita pendek, disadur dengan penyesuaian dari internet, cari sendiri versi Amerikanya :p

Iklan

15 pemikiran pada “Pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s