Catatan Ngangkang Terhadap Warisan Afi Nihaya Faradisa

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam.

*Bagi yang beragama Islam, terlahir di sebuah negeri dari pasangan dengan agama tertentu bukanlah hal yang kebetulan tapi takdir yang harus dijalani.

Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

*Pertanyaan ini seolah bertanya kepada tuhan, entah tuhan yang mana yang dia tanyai, tapi dengan menjawab sendiri ​​​​​​​​”tidak” di belakang tanda tanya, kita bisa menyimpulkan siapa tuhan yang dia maksud itu.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

*Ya, cuma punya satu pilihan sih dari lobang mana akan lahir, hahaha.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

*Mari berandai-andai, karena situ suka sekali berandai-andai, ada loh negara yang pake sistem kalau lahir di situ diakui anak itu sebagai warga negara, jadi tidak selamanya diwariskan, nama itu pemberian adapun nama belakang atau keluarga tidak semua pakai, contohnya ya kamu yang dari Jawa tidak pakai marga.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

*Ciye tegang, hahaha. Tidak bersitegang karena tahu? Padahal disebutkan “untungnya”, sungguh dikau wahai gadis mungil penuh dengan kontradiksi.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

*Anti bela negara dong, mesti dijadiin duta bela negara nih hahahaha. Kalau anda sering baca, pasti sering nemu kalimat-kalimat macam ini, saya ragu dengan kemampuan anak ini bikin sendiri, Ehm, di salah satu fotonya kan ada tuh foto bareng buku2, dasar tukang kopas. Memang kita tidak pernah bisa memutuskan ketika dilahirkan, lah memang masih bayi kok, mana tau kita soal status-status macam tuh. Wait, kenapa ga sekalian kelamin? Biar sekalian greget gitu hahahaha.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. 

*Oleh siapa? Kasih bukti (bukan janji ehh hahahaha). Kalau benar ya orang tuamu bener neng, eh tapi kan masih bayi? How can sih bayi ngerti, oh iya kamu kan anak ajaib sipsip.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

*Saya juga kasihan. 

Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

*Yup, begitulah cara kerja agama selama beribu-ribu tahun jauh sebelum engkau menulis status kurang asemmu ini.

Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

*Bayangkan aja terus neng, sampe puas. Ada sih agama yang jarang-jarang dakwah dan ga nambah-nambah pengikut kayak Jew etc, lebih banyakin bacanya.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

*Btw, itu bukan perkataan Rumi, itu tulisan. And kalau begitu Rumi juga setara tuhan dong, karna dia sendiri yang bisa tahu kebenaran yang utuh sedang yang lain hanya sebagian kecil saja.

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.

*Salah satu ciri orang tidak beriman adalah… Hahahaha, Well neng, nampaknya sodara adalah ahli tentang agama, jurusan opo seh di sma? jurusannya ngajarin perbandingan agama?

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

*Ada loh agama yang percaya bahwa tuhan pernah menjadi wujud manusia. Sekali lagi, terserah orang dong melabeli ahli surga or neraka. Since u juga melabeli orang lain “Sesekali coba menjadi tuhan.”

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.

*Pada banyak kejadian, latar belakang dari konflik yang dianggap konflik bermotif agama sebenernya motifnya lain, seperti para teroris yang ikut perang bareng ISIS, ada yang ke sono gara-gara gajinya tinggi.

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

*Kalau ditanya satu-satu ya pasti setiap pengikut agama itu akan menjawab ya tuhan mereka masing-masing. Ini sama dengan pertanyaan kenapa syaiton diciptakan dan kemudian dibiarkan gentayangan, ya itu sudah ketentuan tuhan neng.

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?

*Iya tidak, aku sih jijik dijadikan serupa denganmu, iyuh.

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

*Apalagi kalau agamanya bermacam-macam dengan komposisi yang seimbang, bisa kacau balau (mungkin) lihat saja Libanon, Syiria, Sudan etc. Agama memang bukan satu-satunya faktor yang menjamin kerukunan, tapi tidak berarti agama tidak menjamin kerukunan.

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

*Negara yang mana? Sebutkan biar bisa dibantah satu-satu.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

*Isu mayoritas minoritas bukan monopoli Indonesia atau satu negara saja, banyak negara mengalami hal yang sama bahkan Amrik pun. Ya negara itu dibikin berdasarkan konsensus mayoritas, dan pasti ada minoritasnya dari berbagai kategori. Oh iya kalimat ini juga rancu, masih ada dan mendadak hilang. Lagi pula kamu kan bukan penentu mana yang manusiawi mana yang bukan.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

*Bayangkan ku melayang…… Bayangin aja terus neng sampe botak.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

*Terbalik neng, belum belajar hukum sih, kitab suci itu dijadikan salah satu sumber hukum di Indonesia loh.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

*Kalau menilai itu urusan beda lagi sama urusan hukum atau bernegara, misal kamu dianggap/dinilai kafir oleh agama lain ya sudah dianggap saja, kecuali kalau kamu berbuat sesuatu yang bikin orang itu terganggu kayak kasus Ehok, baru deh kamu berlindung dibalik jeruji besi. Karena nilai-nilai dalam ajaran agama ya memang berbeda-beda.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

*Seperti kebijakan libur di hari raya, jadi ndak boleh ya, harus kerja semua PNS nya pas hari raya? Itu salah satu contoh saja neng.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

*Loh itu kan hak masing2 pemilik media sosial, apa salahnya mengunggulkan masing2. Btw, emang situ yakin bisa punya anak, apalagi cucu?

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

*Amerika sudah lama ga lending lagi di bulan, misi2nya belakang ini cuma ke stasiun internasional. Kalau cuma rancang sih Indonesia sudah bisa, cuma mahal neng mahal gaada diskon ke luar angkasa mah, bayarin astronot ke luar angkasa aja kita ga sudi.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa

*Eh, aku ragu kamu bisa berpikir atau ndak. Hahahaha

Iklan

11 pemikiran pada “Catatan Ngangkang Terhadap Warisan Afi Nihaya Faradisa

  1. وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ -٤٨-

    “Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
    (Al-Ma’idah 48)

    Dalam surat Al-Maidah ayat 48, Allah memang tidak menjadikan semua manusia beragama Islam, tapi bukan berarti Allah membenarkan agama lainnya.. Emang ngaco pemikirannya, semoga diberikan hidayah, aamiin..

    Btw, sebenarnya agama Islam itu ajarannya paling toleran (rahmatan lil ‘alamin) jika diterapkan dalam sebuah negara..

    Bacaan bagus nih, barangkali belum baca, buat nambah wawasan..
    https://iwanyuliyanto.co/2016/01/13/dialog-menjawab-tuduhan-islam-biang-terorisme-2/

  2. Saya bacanya ketawa-ketawa, pantasan pas pertama kali baca tulisan si Afi itu ngerasa ada yang kurang klik. ya sudahlah, mari kita perbanyak ilmu aja, biar gak menebar hal yang salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s