Tips Mengusir Rasa Kesepian

  • Reconnect. Telpon, chat, wa teman-teman lama atau kerabat dekat, mungkin kita udah bertahun-tahun ga ketemu karna jarak atau kesibukan.
  • Buku dan internet juga bisa sangat membantu, banyakin baca pokoknya. Hidup di dunia lain dari novel.
  • Keluar kamar. Hahaha, kalo di dalam rumah atau kosan terus pasti berbagai pikiran negatif akan mampir. Nikmati udara segar di luar sana, menengadah ke langit, sapa mentari pagi, dengarkan cuitan burung-burung.
  • Olahraga. Jogging, bersepeda ria atau bahkan daftar ke gym aja biar makin serius. Sehat bugar dan bisa buat selfie.
  • Cobalah berbasa-basi bicara dengan orang, kasir di minimarket lah, tukang parkir, abang tukang bakso, dst. Agar kita bisa merasakan terkoneksi dengan dunia.
  • Lakukan hal yang disukai atau temukan hobi baru. Masak, dengerin musik, nulis dst.
  • Yang paling penting sih kita harus tau kalo kesepian itu normal, banyak orang juga merasakan hal yang sama.
Iklan

Puisi Esai ?

Dulu pas di bangku SMA (eh MA) pernah liat ada ada kumpulan puisi menarik, panjang-panjang dan mengalir gitu kayak aer di sungai. Apalagi isinya memang berbobot, bukan tangisan cabe-cabean.

Fast-forward, ada kontroversi di dunia sastra. Ternyata genre ‘baru’ puisi ini punya satu titik sentrifugal. Seorang ahli survey, intelektual lah, doktor lulusan Amrik pendukung demokrasi dan ekonomi pasar.

Namun yang dipermasalahkan bukan pada ideologinya, tapi seberapa signifikan sih beliau sampai dapat penghargaan bergengsi di dunia sastra Indonesia. Paling tidak seperti itu yang banyak dipermasalahkan, pengaruh uang lah politik lah dst.

Yang lagi-lagi terlupakan tentu saja genre puisi ini. Mungkin memang sudah lama sejak puisi bisa sebegitu merindingnya masuk ke dalam seluk nurani kita seperti Aku-nya Chairul Anwar. Hingga kemunculan genre baru ini tidak ada yang peduli lagi.

Puisi ini mungkin dapat menggantikan prosa. Walaupun prosa sepertinya ditinggalkan karena dibilang esai bukan dibilang puisi kepanjangan. Bosan juga kan kalo baca puisi panjang.

Menulis puisi panjang-panjang tentu saja dapat menjadi sarana berekspresi ria orang Indonesia yang hidup dinegara demokrasi ini. Biar galau nya makin seru, biar kartu kuningnya jadi buku kuning dst.

Kemunculan genre ini dapat berarti penyegaran kembali, jika saja tidak ada pihak yang ngotot mengklaim itu hasil karyanya because hoy sejarah memang akan mencatat lu sebagai penemunya atau apalah cuma gausah terlalu pamer.

Dan tugas kita semua ya membuat puisi, berekspresi.

Kepikiran Mati

Kemarin saya ga tidur semalaman. Walhasil paginya capek dan akhirnya nyerah, bless tidur. Tapi sebelum benar-benar ketiduran saya merasakan sesuatu yang unik, tubuh terasa loyo dan (mungkin) pikir saya rasanya seperti mau mati saja.

Sudah beberapa kali saya merasakan sensasi ini, ketika tubuh sudah sampai limit. Mirip pingsan juga, pernah sekali sih pingsan. Entahlah agak ngeri juga kalo ketagihan ginian, tapi enak loh hahaha.

Di momen yang ga lama itu saya sedikit berkontemplasi tentang kematian. Beginikah rasanya ? Wait I’m still young and wild, please no.

Saya punya puisi tentang kematian di blog ini, masih ada kok silahkan dibaca ☻. Tapi puisi itu agak main-main, karna well saya suka main-main dengan hal serius.

Tadi malam, saya ga sengaja liat lagi artikel tentang kematian, kayaknya sih diposting lagi karna itu artikel lama. Isinya ulasan sebuah buku yang ditulis dokter India ganteng and masih muda di Stanford paska terdiagnosa kanker stadium empat. Agak sedih sih karna ujung2nya doi meninggal, tapi menarik juga.

Dia dokter yang sehari-harinya nanganin yang begituan, tapi kena begitu pula. Akhirnya dia mutusin buat nulis sisa hidupnya yang tinggal dua tahun itu. Dia juga dalam buku itu menceritakan apa yang selama ini terlewatkan olehnya, kayak bau pinus di dekat kantornya etc.

Sayang banget kan, pinter (Stanford loh Harvardnya California hahahaha), pekerjaan bergaji tinggi, masih muda and yang paling penting tamfan (tsaaaah). 

Tapi kemungkin besar sih dia bukan satu-satunya yang dengan kriteria super kayak gitu tapi harus pergi karna kanker atau penyakit yang ada vonis matinya (kayak pengadilan). Gimana kan yah, kalau hidup kita sudah tau akhirnya. Dia sendiri ketika tau hasilnya hanya biasa saja, meski pun juga berusaha dengan berbagai cara sih tapi yaah. 

Begitulah hidup kan, harus ada matinya, konsekuensi yang paling pasti dari kehidupan. Penuh hikmah and pelajaran bahkan bisa jadi bahan lelucon memang, kalau bukan kita sendiri yang tengah mengalami.

Sehari-harinya memang kita atau mungkin cuma saya percaya akan mitos atau ilusi tentang keabadian, akan hidup selamanya. Meskipun sering diingatkan dengan berbagai peristiwa tapi toh tiap harinya ga nempel kalau kematian itu nyata dan akan segera menjemput. 

yang mana lagi? 

Maka yang mana lagi

Yang itu yang aku inginkan dan kau tak beri

Maka yang mana lagi

Yang ini yang tak kuinginkan dan kau beri

Maka yang mana lagi

Yang kuinginkan dan kau beri

Maka yang mana lagi

Yang lain yang seharusnya aku inginkan dan seharusnya kau beri

Maka yang mana lagi 

Yang dustakan

jalan lain

ketika engkau tengah asik masyuk berusaha percaya pada apa yang engkau bayangkan

ternyata jalannya tengah rusak, ada perbaikan

kau kesal

manusiawi bukan?

seolah tak ada jalan lain untuk sampai tujuan

dan jika menoleh sedikit ke belakang kau bisa melihat bekas-bekas perjalanan panjang yang harus terhenti itu

terlalu banyak bukan? 

kau pikir jalannya akan baik-baik saja

kau pikir mungkin hanya dengan menunggu dikit, diam bentar atau marah-marah orang lain seperti sebelumnya,  akan jalan lagi

ternyata tidak, harus jalan lain

maka hari itu kau terlahir kembali, sadar dari delusi akut yang telah mengaburkan countless persimpangan yang menyediakan jalan lain, sebelum-sebelumnya 

kau dipaksa untuk menikmati perjalanan, lagi 

yang tak pasti, yang bahkan bisa berujung jalan lainnya lagi

bukankah berjalan berarti hidup itu sendiri

walau dengan, lika-liku simpang sana sini, tikung bahkan putarbalik

tentu kau tau betapa banyak perjalanan lain yang harus mencari jalan lain, cuma capek saja kan kalau lutut mu yang harus merekamnya senti demi senti

maka kau mulailah perjalanan baru saja, segera, mulailah 

Membeli Senyum 

Sini ku beli senyummu

Dengan dua lembar tisu

Yang satu kutaruh parfume

Yang satu buat menghapus lelahmu

Tambah satu botol aqua

Biar hilang haus duniamu

Lalu kita berjalan jalan sebentar

Biar dungu mu terkikis bak sol sepatu

Berhenti kita di pertigaan

Makan Cendol

Supaya kau ingat, gula aren bukan rafinasi

Ambilkan daku foto

Biar tidak semua menjadi selfie

Kita bisa berjalan lagi

Jangan lupa kau bayarkan

Pada ibu itu rasa terima kasih

Karna yang dia jual bukan cairan saja

Tapi dedikasi

Aku akan menggenggam tangan mu

Tidak erat karna kau akan kesakitan

Tidak juga lengah, despacito