Kau Tak Ikut Kita Tak Balik

“Aku ga balik.”

Begitu singkat ucapan itu hingga aku tak bisa mendengarnya dengan jelas dan menjawab dengan, “apa.” Bukan kaget, hanya bertanya padanya what the hell yang dia barusan katakan. Jalan yang sempit sore itu penuh dengan kendaraan yang lalu lalang, pertigaan yang ramai dan tentu saja supermarket murah yang sepertinya hanya ada di sekitaran kota ini. 

“Aku ga balik, sepertinya kita ga cocok”

Nah, orang gila macam apa yang tidak kaget dengan jawaban seperti itu. Pertama mungkin bisa dikira lelucon, padahal untuk orang dewasa tentu main-main seperti itu sudah lama tak tercantum dalam kamus kita. Nadanya juga beda. Tapi mengapa, bukankah dia berhutang penjelasan. 

“Yaah kalau gitu kita ga bisa balik dong”

Dalam sekejap kata-kata itu keluar. Lalu aku pun meninggalkannya di tempat itu. Karena hanya aku yang pergi dan dia memilih di situ maka bukan “kita” yang balik. 

Iklan

Secepat Kilat

Akhir-akhir ini nampaknya suatu bagian di otaknya telah secara otomatis menyortir berbagai informasi untuk lenyap begitu saja dalam sekejap. Tidak lama setelah orang baru menyebutkan nama di depan wajahnya entah angin apa yang telah membawa nama tersebut untuk hilang begitu saja. Lebih dari itu, nama orang yang sangat familiar baginya pun susah untuk secara otomatis dia muntahkan.

Tidak berhenti di situ, tentu dia lupa akan berbagai hal-hal entah penting atau tidak lainnya.

Ia mendapati dirinya lupa lagi tentang siapa yang tengah tergeletak di dapur rumahnya.

Siapa yang akan mengingat kematiannya sendiri.

Bandara Hilang Waktu

Maka ia turun dari pesawat sore itu. Melihat ke kanan dan ke kiri, sungguh panas belum beranjak dari kebisingan bandara. Seketika itu juga ia mendengar seorang ibu bertanya pada seorang pemuda yang berada di sampingnya.

“Permisi mas, ini udah jam berapa ya ?”

Segera pemuda itu melihat ke jam tangan digitalnya yang berwarna hitam entah model apa itu.

“Oh, maaf bu kayaknya jam saya mati.”

“Wah, terima kasih mas.”

Dan akhirnya dia bisa tersenyum bahagia pulang ke rumahnya dengan satu keputusan bulat bahwa smartphone saja cukup.

Pergi

Semua orang yang pernah mengenalku sebelum 30 Oktober 2013 menganggapku sudah mati. Aku memutuskan untuk ‘mengakhiri’ hidupku hari itu.

Begini ceritanya, aku terlahir dari keluarga menengah atas. Ayahku merupakan seorang dokter sedang ibuku memiliki toko pakaian yang lumayan besar di pusat grosir terbesar di Jakarta. Setelah lulus dari jurusan bisnis di salah satu universitas swasta akupun segera menikah.

Awal pernikahan kami penuh dengan kebahagiaan, tapi semua itu berubah ketika setahun kemudian aku memutuskan untuk melanjutkan studi master di universitas negeri bergengsi di Depok. Aku begitu sibuk belajar sehingga meluangkan waktu terlalu banyak dengan materi-materi kuliah yang berarti bahwa aku juga menghabiskan waktu lebih lama di kampus.

Setahun berlalu dan istriku mulai merasa tidak nyaman dengan semua itu. Dia tidak pernah memaksaku untuk berhenti kuliah, namun perlahan mulai ada jarak diantara kita. Kami tidak bertengkar atau pisah ranjang, tapi makin jarang berhubungan intim. Percakapan sehari-hari pun tidak lagi tentang berbagai masalah pribadi, paling soal cuaca, tetangga, dll. Namun, setiap kali aku bertanya soal masalah pribadinya iya selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.

Akhirnya istriku hamil dan melahirkan anak pertama kami. Aku berharap hal itu akan menjadikan hubungan kami semakin baik, tapi kenyataannya berkata lain. Istriku mulai menuduhku berselingkuh, kedua orang tuaku akhirnya juga turut membenciku. Tiba-tiba hidupku kacau balau.

Beberapa bulan sebelum hari-H, hidupku hanyalah menjadi rutinitas yang harus kujalani setiap hari. Semakin hari aku semakin kehilangan semangat untuk bangun dari tempat tidur, hidup yang sangat membosankan.

Awal bulan itu aku baru mengetahui ternyata istrikulah yang sebenarnya berselingkuh selama delapan tahun pernikahan kami itu. Dan anak kami satu-satunya yang telah berusia enam tahun kala itu bukan merupakan anak biologisku. Sungguh, aku begitu terpukul mendengar berita itu.

Kemudian peristiwa itu terjadi, beberapa ledakan terjadi di kawasan perkantoran sekitaran Bundaran HI dan menghancurkan gedung-gedung di kawasan tersebut termasuk kantorku. Setelah lulus, aku bekerja di salah satu perusahaan yang berada di gedung tertinggi di kawasan itu yang akhirnya rusak parah akibat ledakan.

Reaksiku pertama kali ketika melihat persitiwa tersebut di berita tentu saja kaget dan panik. Rekan-rekan kerjaku berada di gedung tersebut. Untungnya hari itu aku sedang berada di luar untuk bertemu klien, tapi semua orang berpikir bahwa aku juga turut menjadi korban ledakan tersebut.

Siang itu semua orang masih panik akan adanya ledakan susulan, aku pun masih shock dan memutuskan untuk mencari udara segar dan singgah di sebuah kafe sebentar. Setelah beberapa jam di tempat itu aku pun berniat untuk pulang ke rumah, namun tiba-tiba terlindas dipikirinku : “Mengapa harus balik ? Aku sudah mati.”

So, kunaiki KRL tujuan Bogor dan akhirnya tiba di Villa keluarga kami. yang jarang disinggahi. Esok paginya aku memutuskan untuk mengambil seluruh tabunganku di Bank dan segera terbang menuju Papua, memulai kehidupan baru di sana dengan identitas dan penampilan baru.

Setiap tahun, di hari peringatan peristiwa tersebut aku selalu datang lagi ke Jakarta. Ingin rasanya kudatangi mantan Istri dan kedua orang tuaku, mereka mungkin akan sangat kaget. Tapi hingga detik ini aku tidak pernah melakukan hal itu, mungkin tidak akan pernah.

*sebuah cerita pendek, disadur dengan penyesuaian dari internet, cari sendiri versi Amerikanya :p

Kopi dan Teh

Ada dua gelas di meja itu, di luar hujan menyelimuti sejak pagi dan mentari pergi entah kemana. Gelas pertama beraroma hijaunya bukit-bukit, sedang yang satunya terlihat hitam kecokelatan.

Bingung kata yang pertama mencuat dikepalanya, pertama yang mana yang harus ia habiskan dulu sambil menikmati alunan rintik hujan bersahut-sahutan dari luar. Kedua kenapa ia membuat dua cangkir berbeda. Konyol jika membuat sesuatu hanya karena kebetulan ada, tapi barangkali paling tidak masih bisa dijadikan alasannya.

Didekati kopi panas itu, ditiup-tiup, srupt. Uhk, ternyata gula sehat tak semanis gula biasa, tiga saset pun masih belom menggoyahkan rasa keterlaluan yang dibencinya. Mengambil jarak dari segelintir pemuja kopi, tambahkan manis.

Setengah kopi telah berlalu dan hujan belum juga reda, ia mengharapkan yang tidak ingin ia lewatkan.

Tangannya menyentuh teh, merasakan panas di dinding kaca bening yang kini seolah bersinar merah. Menuangkan sebagiannya ke kopi lalu tersenyum pada dirinya sendiri tentang, betapa isengnya. Seperti kadang, ketika ia menuangkannya kebubur ayam atau menyampurnya dengan sirup.

Akhirnya hujan reda, setengah cangkir bening dan satu cangkir kopiteh.

Mencari

Sore ini aku terbangun dari tidur pendek bersama perut kosong, sama kosongnya mungkin dengan perut-perut para penguliti hewan kurban di luar sana yang sedang asik-asiknya mengiris-ngiris. Sebenarnya dari pagi saja beberapa warung sudah buka, di hari libur ini. Cuma entah mengapa kaki ini enggan mampir dan malah memutuskan menyubit-nyubit si isi cokelat dan menelannya dengan air bening tak berdosa.

Lebaran kali ini cukup syahdu, tadi pagi matahari menyinari pundak-pundak yang sembahyang di lapangan terbuka sembari mengusir sedikit dari sisa-sisa dinginnya subuh. Pagi itu di langit tak ada satu awan pun yang terlihat, aku ingat betul karena memandanginya dengan seksama untuk sekadar menikmati suasananya. Entahlah mengapa setelah itu hingga kini awan gelap menyelimuti langit, oh ya dan disertai hujan yang membuatku harus berlarian kecil dalam perjalan kembali ke kamar dengan dua sekantong pengganjal perut.

Hingga sore, sepertinya bisa kuhitung dengan jari sudah berapa kalimat yang aku ucapkan. Mungkin karena syahdunya hari ini jadi orang-orang bersembunyi atau hanya aku yang kekurangan kenalan hingga seperti biasa, berbicara sendiri di depan cermin lagi.

Tadi, senyumnya begitu manis, ahh ingatanku melayang-layang ke pagi tadi. Sedikit-sedikit kupandangi tapi teringat lagi dengan lagu yang sering kudengarkan dan terngiang-ngiang di telingaku.

I saw your face, in the crowded place

And I don’t know what to do

‘Cause I’ll never be with you

Yasudah, setelah senyummu berpaling kulangkahkan kaki menuju ‘hutan’ kampus. Hijau dan masih segar, dihuni oleh para bangau yang cerewetnya minta ampun. Mereka tidak pernah ditaruh di situ, tetapi memutuskan bahwa ranting-ranting yang menjulang di tengah peradaban yang terus-terusan menggusur adalah rumah tempatnya kembali jua. Dulu, kami pernah berburu bangau dengan senapan angin, setelah menembak jatuh beberapa ekor dari pohon durian, kami pun ragu untuk memakannya dan dengan segala hormat dan rasa sayangan memutuskan untuk menguburkan mereka di pekarangan.

Berburu itu mencari, melihat-lihat lalu memutuskan untuk menembak. Melelahkan sebenarnya, apalagi jika hatimu juga sudah lelah. Lalu kau akan mulai bertanya-tanya tentang dirimu sendiri, apakah benar kau menginginkan perburuan ini. Agar tak bernasib sama dengan beberapa bangau itu yang harus dikubur oleh karenanya. Pertanyaan yang sulit, walau pun jawabannya paling tidak bisa kau reka-reka sendiri.

Kemudian, kulihat lagi dengan lebih dekat kali ini, yang lain lagi. Aku medekat dan dia diam saja, maksudku mendekat juga. Lama kami berdekat-dekatan hingga waktu memisahkan lagi, ia tidak mengejar daaan mengapa aku ingin dikejar, hahahaha. Tidak, tidak aku tidak sedang berlari untuk dikejar, perutku sudah menuntut dan dia entahlah siapa itu juga jarang akan ketemu lagi. Jadi langkahku mulai menghapus sentuhan-sentuhan itu, bayangnya tergantikan darah hewan bertaburan tak karuan tanpa ditimbun, euh joroknya. Sudah-sudah, aku cuma berlalu.

But it’s time to face the truth

Si Kuncup

OLYMPUS DIGITAL CAMERANamanya Kuncup, jika kau punya seorang adik yang duduk di kelas satu sekolah dasar maka mereka usianya sepantaran. Kuncup selalu berpakain rapi dengan rambut yang selalu diminyaki dan disisir rapi ke kanan, wajah yang dibubuhi bedak tipis dan tidak lupa beberapa semprotan parfum di kemeja dan celananya.

Meski pun si Kuncup tau bahwa beberapa semprotan parfum itu tidak akan bertahan hingga siang nanti dan bedak di pipinya akan segera luntur tergores kecerian di sekolah, Kuncup pasti akan balik dengan rambut yang masih tersisir rapi seperti ketika ia berangkat tadi pagi.

Kuncup tidak seperti teman-temannya yang entah serapi apa pun datang ke sekolah akan balik dengan gaya yang acak-acakan, kemejanya tetap di dalam dan jarang sekali terkena noda-noda membandel seperti yang biasa kau lihat di iklan-iklan televisi.

Ia selalu datang dengan perasan yang aneh ke sekolah. Seolah bertanya-tanya, apa yang akan ia temuka di sana hari ini. Selama perjalanan, Kuncup akan selalu merasa dikejar-kejar waktu dan mempersiapkan segala keperluan sesaat sebelum berangkat. Dunia Kuncup seolah dalam waktu keheningan sesaat sebelum berbagai perang-perang besar dimulai, keheningan yang kacau.

Begitu pun, Kuncup memegang rekor sebagai siswa pertama yang menyapa tiang tak berbendara yang berdiri menjulang,  menatap goresan-goresan di papan dari hari kemarin atau sekadar memenuhi kewajibannya membersihkan kelas. Bagi Kuncup, terlambat bukanlah pilihan tetapi memalukan, malu yang sangat. Diam-diam ia menikmati kebebasan di pagi hari itu, menyusuri ruang kelas dengan bebasnya.

Sebelum kelas dimulai, apel pagi mengharuskan setiap siswa termasuk Kuncup untuk ikut dalam barisan, mendengarkan patahan-patahan kata dari guru atau kepala sekolah. Ia tahu itu hanya ritual, meski pun terlihat mengikuti ritual itu dengan seksama sehingga sangat jarang diberi hukuman atau bahkan ditegur sekali pun, ia akan berdiri di sana dengan mata yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat satu persatu siswa dengan berbagai keunikan mereka, membayangkan bagaimana mereka yang lebih tua itu akan menghabiskan waktu mereka masing-masing.

Di kelas, Kuncup seperti teman-temannya yang lain tidak berpidah-pindah tempat, mereka punya konsensus sendiri tentang siapa yang duduk di mana sejak hari pertama. Walau pun berbagai intrik di kelas nantinya akan merubah bebepara posisi, Kuncup tau semakin ke belakang semakin terbelakanglah peradaban. Segala jenis suara-suara tak diundang dan permainan-permainan tak mengasikkan akan bermuasal dari belakang dan Kuncup memilih di depan.

Melihat dunia dari sisi lain akan menjadikan hidupnya lebih mengasikan, pengalaman baru selalu merayunya untuk berpindah-pindah tempat duduk. Sehingga Kuncup pun merayu dalam beberapa kesempatan untuk bertukar tempat, ia membaca dengan cermat berbagai intrik-intrik di kelas sambil menghindari berbagai intrik-intrik itu dengan licinnya. Ia tak suka konfrontasi, bermasalah dengan satu teman kelas saja baginya bagai bermasalah dengan seluruh populasi sekolah itu.

Ketika jam istirahat tiba, Kuncup akan bermain atau ke kantin atau sekadar berjalan-jalan sembari melihat-lihat berbagai kecerian di luar kelas untuk kembali lagi dan duduk. Ia tidak terlalu suka menyisakan sebagian uang jajannya, jadi Kuncup membeli dan membeli hingga habis.

Begitulah sepenggal kisah Kuncup. 🙂