Kerja Kantoran = Budak Kapitalisme ?

Karna udah semester tua jadi isu tentang what next after college life (struggle) menjadi isu yang paling sering terdengar di kuping saya, karena kebetulan kuliah di jurusan bisnis jadi ya isu ini menjadi lebih dilematis lagi.

Yup, as u know belakangan ini kan lagi booming semangat entrepreneurship yah mungkin karena impact dari silicon valley dan kemajuan teknologi serta kesuksesan yang dibawanya dengan misalnya IPO yang bisa menyetak billions, ya jadi ada semacam semangat seperti ini. Mulai banyak mahasiswa yang sejak di bangku kuliah saja sudah tertarik untuk bikin bisnis sendiri.

Di sisi lain (hello from the other side), ada kenyataan yang sering terjadi. Setelah lulus kuliah ternyata masih banyak yang bingung tentang apakah melanjutkan mimpinya yang indah-indah untuk menjadi milyarder dengan melakukan passion yang menghasilkan uang atau bagaimana. Pada akhirnya ya malah rebutan di pasar tenaga kerja.

So, here the fact. Being an entrepreneur means that you juga itu seorang capitalist, at least seperti itu sederhananya. Masuk ke dunia bisnis adalah masuk ke dunia yang saling berkaitan, investor, bank dst yang ada di dunia bisnis itu adalah bagian dari sistem kapitalisme. Bahkan tidak satu pun dari kita yang bisa lepas dari kesemua itu.

Nah yang perlu diperhatikan adalah apakah kapitalisme itu buruk atau tidak ? Menurut Bill Gates sih kapitalisme itu baik kalau digunakan dengan baik. Memang ada pemikiran dari tahun 80an jamannya Reagan-Thatcer yang keliatannya berhasil dan juga ternyata keberhasilannya cukup merusak. Tapi, dapat diperbaiki dengan aturan-aturan seperti yang muncul setelah krisis 2008 sehingga institusi kapitalis tidak memiliki ruang yang luas untuk melakukan kecurangan. Jadi kapitalisme bisa menjadi lebih baik. Mirip demokrasi lah, tidak sempurna tapi tidak ada yang lebih baik dari itu.

Kapitalisme itu kan soal meritrokasi, siapa yang efiesien dan efektif ya dia yang bisa menang. Kalau tidak seperti itu ya kesempatan kita yang bukan siapa-siapa untuk berbisnis tidak akan pernah bisa ada dengan produk atau jasa terbaik pun, kita kan tidak hidup di abad pertengahan dengan segala kegelapan darah biru dst-nya.

Mungkin yang dianggap budak itu adalah yang kerjanya rodi, sembilan ke lima too much lah ya apalagi bagi orang yang menganggap kalau waktu adalah kehidupan itu sendiri. Tapi jadi entrepreneur juga lebih banyak nyita waktu loh yang bisa berarti 24/7. Lagi pula, kalau tidak ada yang jadi kelas pekerja kan bisnis ga bakal jalan dengan semestinya. ūüôā

Iklan

Kunci Sukses Coldplay : Inovasi

coldEntahlah bagi telinga saya lagu-lagu grup band asal UK yang satu ini emang ngena banget, sesui selera saya. Ya, walaupun baru sekitar setaun belakangan ini aware dengan Coldplay dan mulai rutin dengerin mereka tapi sejak lama ternyata saya sudah menikmati lagu mereka tanpa sadar kalau lagu yang saya dengerin itu dari grup band mereka. Seperti Viva La Vida, The Scientist, Every Tear Drop Is A Waterfall, dst emang bener-bener enak didengar. Sampai lagu mereka yang terbaru Up&Up juga keren apalagi video clip nya itu loh emejing banget.

Ternyata grup band bergenre rock-pop ini emang udah lama banget berdirinya (kalo saya mah lama-lama berdiri bisa pingsan), hanya terpaut dua tahun dari saya tapi tentu saja Coldplay lebih muda,  1996.

Baru tau dari Wikipedia ternyata eh ternyata lagi, ini band didirikan di salah tiga, iya salah satu dari tiga perguruan tinggi terbaik di London, UCL uhk. Mereka udah ngeluarin beberapa album dan tentu saja mengantongi berbagai penghargaan bergengsi termasuk tujuh Grammy from 31 nominations.Kalau mau tau lebih rinci tentang mereka karena saya bukan expert ya baca saja sendiri di wiki or situs resminya hahaha.

Sebagai penikmat The Economist, saya agak dibikin ngangguk-ngangguk dengan salah satu artikel  yang ditulis bulan mei, analisis mereka mengenai tren dunia musik yang ada kaitannya dengan Coldplay juga dengan simpulan akhir :

In music, as in other markets, those who thrive in the long-term are often the ones who adapt best to fluctuations in demand‚ÄĒwhile those that fail to innovate end up complete unknowns.

Mereka menjelaskan dunia musik dari kacamata bisnis dan memang ada patern yang sama seperti yang mereka simpulkan bahwa di industri musik juga inovasi itu penting agar dapat bertahan lama, long term.

Coldplay bukan tidak mengalami penurunan, tapi mereka sama kasusnya seperti Taylor Swift terus menciptakan lagu-lagu baru yang sesuai dengan perubahan demand masyarakat. Dari rentangan waktu misalnya lagu Viva La Vida dirilis 2008, The Scientist 2002, Every Tear Drop Is A Waterfall 2011, dan tahun ini ada Up&Up. Meski pun tidak setiap lagu yang dirilis menjadi booming tapi kalau tidak rilis dan tidak inovatif juga ya mereka mungkin saja sudah menjadi bagian dari koleksi nostalgia anak-anak 90an.

Kasus yang menarik soal inovasi adalah kasus Sakura nya Fariz FM, saya tidak begitu tau tentang beliau ini kecuali dari internet dan tv dan lagunya juga tidak akan pernah saya tau kalau tidak dibawakan lagi sama Rosa.

Sakura ini katanya sangat digemari di tahun 1980an. Namun, parahnya sang musisi pada akhirnya malah dibikin kesal gara-gara lagu ini. Karena setiap kali manggung, para penonton selalu bersorak-sorai dan menuntut beliau untuk menyanyikan lagu Sakura. Ya, lagu ini berhasil sukses tapi tidak ada lagi lagu-lagu lain ciptaan Fariz RM yang dapat menandinginya setelah itu.

Sebenarnya inovasi ini bukan monopoli Coldplay saja, ada juga grup band dan penyanyi lain yang terus produktif seperti Taylor Swift. Cuma ya karna si Taylor lagi playing with her new bf ya let her lah ya, hahaha.

Dari Zeroes Menuju Zero

Kejadian seperti ini sebenarnya sering terjadi di dunia finansial ketika krisis tengah melanda atau karena kecerobohan atau kenakalan perusahaan itu sendiri seperti Enron dengan berbagai manipulasinya. Dalam jangak waktu yang singkat, nilai perusahaan yang mungkin dalam angka billions us dollar bisa saja menjadi benar-benar zero.

Sebenarnya kasus terbaru si Elizabeth Holmes ini perusahaanya tidak benar-benar zero, hanya saja valuasinya menurut Forbes turun drastis dari sekitar 9 billion menjadi sekitar 800an million saja. Nilai kepemilikan saham Holmes dalam perusahaannya yang telah berdiri sejak 2003 ini adalah sebesar 50% yang sempat menjadikannya salah satu wanita terkaya di dunia, sedangkan sebagian lainnya dimiliki oleh para pemegang saham preferred yang harus dibayar duluan jika terjadi sesuatu dengan perusahaan tersebut. Sehingga, kemungkinan besar Holmes bisa saja tidak akan mendapat apa-apa, zero.

Perusahaan tersebut adalah Theranos, perusahaan yang mengembangkan alat untuk mengetes darah manusia dengan nama Edison. Alat tersebut katanya dapat memberikan hasil tes yang lebih cepat dan akurat dan analisis hasilnya dapat dikirim langsung ke pasien melalui data base mereka. Tidak banyak informasi yang diketahui publik tentang alat tersebut dan juga perusahaannya karena perusahaan ini memang selalu menjaga kerahasiaannya. Sehingga belakangan ini banyak orang yang mulai meragukan alat yang katanya akan merevolusi dunia kesehatan tersebut.

Hingga akhirnya ada investigasi dari Wall Street Journal yang menuduh perusahaan tersebut tidak menggunakan teknologi mereka sendiri dalam melakukan test darah. Bahkan kemudian diberitakan bahwa Theranos berada dalam investigasi jaksa federal Amerika Serikat atas kemungkinan bahwa mereka telah mengelabui investornya tentang teknologi yang mereka kembangkan. Belakangan investigasi juga dilakukan oleh Securities and Exchange Commission (SEC) nya Amerika terhadap dugaan yang sama.

Harapan saya sih sebenarnya alat seperti yang dikembangkan Theranos ini teknologinya benar-benar sesuai dengan yang mereka janjikan sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh umat manusia secara keseluruhan. Bayangkan, kita tidak perlu lagi melakukan tes darah seperti biasanya yang mesti menyedot bwanyak darah, apalagi bagi seorang Hemophobia seperti saya ini yang kalau lihat darah bisa lemah gemulai alias pingsan. Selain itu juga kita bisa mendapatkan analisis yang akan menekan biaya pemerikasaan ke dokter segala rupa karena dengan setetes darah saja kita bisa mendapatkan berbagai analisis penyakit atau mungkin potensinya dalam diri kita.

Bisnis, Bukan Sekadar Efisiensi

Nampaknya dunia bisnis sejauh ini tidak bisa lepas dengan dua istilah yaitu efisiensi dan efektifitas karena kedua istilah tersebut sebenarnya memang amat sangat penting. Sebelumnya saya telah menulis tentang bagaimana efisiensi dapat dicapai dengan menekan cost agar tercapai keuntungan maksimum tanpa menaikan harga. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah karena bisnis itu sendiri merupakan kesatuan berbagai kegiatan yang dari setiap kegiatan tersebut pasti ada sesuatu yang dapat dimaksimalkan efisiensinya.

Hal ini akan sangat terlihat pada perusahaan-perusahaan besar yang karena kapasitasnya tersebut, efisiensi merupakan suatu kebutuhan. Bayangkan saja, kalau satu perusahaan yang mempekerjakan 10.000 pekerja kehilangan 1.000 rupiah per karyawan perhari karena misalnya mereka telat atau pulang lebih cepat perusahan tersebut telah rugi 10 juta perhari.

Di sisi lain, ada beberapa kasus yang membuat saya agak tergangu karena pada kenyataanya hal ini terjadi dan masih terjadi di lapangan. Saya sempat menonton investigasi di BBC tentang betapa junk nya hamburger ekonomis yang dijual di Inggris. Pada dasarnya hamburger tersebut hanya mengandung beberapa persen daging sapi, sisanya adalah campuran dari jeroan dan bahan-bahan lain.

Mungkin bagi orang Indonesia jeoran itu sesuatu yang lumrah bahkan banyak masakan enak khas daerah berbahan jeroan, namun orang barat kurang suka jeroan bahkan bagian itu dibuang atau dijadikan makanan hewan piaraan karena alasan kesehatan atau sekadar taste. Hal tersebut dapat terjadi dengan peraturan pemerintah Inggris yang membolehkan penyantuman label sesuai produknya dengan kadar minimal daging 10 persen dalam produk tersebut.

Perusahaan yang menjual produk tersebut sepertinya meraup banyak keuntungan dengan memproduksi pada batas minimal berdasar pada ketentuan tersebut sehingga terjadi efisiensi atas penggunaan daging yang harganya makin hari makin mahal. Tapi bagaimana dengan konsumennya, well, menurut tayangan itu rasa dari hamburger sama saja dengan hamburger-hamburger yang lain, namun ketika tau bahwa ada unsur jeoran orang-orang menolak memakannya.

Saya tidak bisa membayangkan produk-produk olahan di Indonesia yang tidak jelas aturannya seperti sekarang ini, jangan-jangan perisa daging doang yang dipakai. Parahnya adalah hal ini bisa terjadi pada berbagai jenis produk atau jasa yang karena alasan efisiensi mereka tidak melakukan hal-hal yang akan lebih meningkatkan kualitas produk/jasa tersebut. Bahkan dijadikan bisnis yang menguntungkan seperti low cost airline.

Efisiensi juga sering terlihat ketika krisis melanda atau bahkan tidak krisis sekali pun, yup phk karyawan. Secara otomatis pengurangan karyawan memang akan mengurangi cost sebuah perusahaan. Para shareholder akan merasa senang karena biasanya harga saham perusahaan akan mengalami kenaikan segera setelah pengumuman rencana tersebut. Sedangkan efek buruknya tentu dirasakan para karyawan yang diphk.

Cost Accounting, Memaksimalkan Keuntungan

Akuntansi itu sebenarnya diciptakan karena adanya keterbatasan manusia, gampang lupa. Bahkan mungkin transaksi yang baru beberapa detik dilakukan bisa saja langsung terlupakan oleh kita, manusia.

Makanya akuntansi hadir sebagai metode pencatatan segala jenis transaksi keuangan perusahaan. Berasal dari mana uang yang digunakan, kemana saja perginya, dan apa saja yang didapatkan dengan uang tersebut.

Sebenarnya jika berbicara soal akuntansi saja tentu yang terjadi adalah membicarakan sejarah. Data-data historis tentang pendapatan dan beban, untung/rugi, aset dan hutang. Sedangkan cost accounting lebih dari sekadar itu.

Cost accounting harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat krusial bagi sebuah bisnis. Apakah beban-beban yang muncul dilaporan tersebut sebenarnya perlu atau tidak, apa pengaruhnya dan seterusnya sebagai bagian dari upaya pengelolaan perusahan.

Biaya merupakan representasi dari pengorbanan sumberdaya yang telah dilakukan dalam menghasilkan sesuatu, istilah akuntansinya harga pokok produksi. Keuntungan didapat dari margin antara harga pokok dan harga jual, jika ingin tetap untung maka harga pokok harus lebih rendah dari harga jual.

Jika ada yang berpikiran bahwa menaikkan harga adalah solusi terbaik maka ia harusnya melihat kondisi perusahaan yang sifatnya monopolis. Seperti Pertamina dan PLN, bahkan mereka saja  agak kesulitan dalam menaikkan harga, protes bisa datang dari mana-mana.

Apalagi jika bisnis biasa dengan pesaing yang bwanyak, bisa-bisa besoknya perusahaan langsung gulung tikar. Sehingga, pilihan yang dihadapi perusahaan adalah menekan harga pokok, semaksimal mungkin.

Agar harga pokok dapat ditekan maka harus dilakukan pengontrolan sejak proses perancangan anggaran dan tentu saja memaksimalkan penggunaan sumberdaya yang ada. Anggaran harus jelas dan tidak berlebihan, harus berisi biaya-biaya minimum yang akan dikeluarkan. Pada akhirnya, konsistensi dalam upaya penerapan strategi-strategi yang telah dirancang seharusnya dipegang erat-erat.

Segala sumberdaya yang ada juga harus digunakan semaksimal mungkin. Selain output yang rendah, sumberdaya yang tidak digunakan secara maksimal juga hanya akan menambah biaya.

 

Social Entrepreneurship

“….saya lagi pegen berbisnis, binis¬†sosial….”

Penggalan kalimat yang saya lupa-lupa ingat tapi pada esensinya kira-kira seperti itulah datang dari teman saya, ketua sebuah organisasi mahasiswa. Bisnis untuk sosial, berbisnis sembari menyelesaikan masalah sosial, dst memang lagi populer seiring dengan populernya semangat berbisnis diseluruh dunia.

Social entrepreneurship is the use of new approaches to solve old social problems. Cara baru, ide baru yang lebih efisien dan efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Sama halnya dengan yang ditawarkan entrepreneur dalam dunia bisnis yaitu ide atau cara-cara baru.

Hal ini tentu saja selaras dengan apa yang lebih dari seabad yang lalu dimulai oleh seorang kiai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau menggunakan pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi jaman tersebut, mendirikan organisasi keagamaan, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dll yang belum terpikirkan oleh muslim lain sejamannya.

Selayaknya seorang entrepreneur, kiai Dahlan mengelola usaha-usaha yang telah ia dirikan tersebut dengan aktif, bersama istri, kawan dan murid-muridnya dengan berbagai pengorbanan. Beliau telah melangkah keluar dari status quo yang membelenggu jamannya dan tentu saja melahirkan solusi-solusi yang amat membantu kaum muslimin bahkan hingga seabad kemudian.

Ide memang tidak lantas disebut basi ketika masalah yang sebenarnya ingin diselesaikan tidak juga selesai. Mungkin saja ide tersebut butuh penyempurnaan, atau bahkan muncul masalah-masalah baru dari masalah-masalah lama yang belum tuntas terpecahkan dan sebagainya. Hingga, perlu yang namanya ide baru, cara baru, pendekatan baru.

Tidak ada yang sepenuhnya baru dalam dunia ini meskipun kita manusia menyebutnya baru, cara baru bisa datang dengan menggabungkan sesuatu yang telah ada, connecting the dot. Merubah sebagian aspek dalam cara yang lama dan seterusnya. Jadi, cara baru itu tidak perlu lagi ditunggu-tunggu dari mana datangnya (ujung langit ? No).

Teknologi informasi dan komunikasi tentu saja sangat-sangat mempermudah langkah kita untuk memulai proyek-proyek sosial di jaman sekarang ini. Kolaborasi tidak lagi terhambat ruang dan waktu, akses terhadap data dan informasi tidak terbatas dan tentu saja murah meriah. Apalagi bagi organisasi yang telah berkecimpung di dalam usaha-usaha sosial, tentu saja akan jauh lebih mudah lagi.

Kolaborasi harus diutamakan, usaha sosial tanpa kolaborasi tentu akan sangat lucu, kolaborasi itu sendiri merupakan sebuah kegiatan sosial. Mengumpulkan sumberdaya yang bisa secara bersama-sama menyelesaikan masalah memang bukan perkara yang mudah, bahkan dengan kemudahan yang disediakan teknologi. Tapi, tanpa kolaborasi yang baik, usaha yang dijalankan tentu saja tidak akan tercapai.

 

 

Penting! Start your startup dari sekarang

artikel di idbloginfo 

Mark Z, Steve Jobs, Bill Gates merupakan segelintir tokoh-tokoh utama yang sangat terkenal dalam dunia Startup. Mark mungkin pernah dinobatkan oleh majalah forbes sebagai the youngest billionaires sehingga beliau dapat dijadikan role model seorang anak muda yang berbisnis.

Padahal, jika melihat kebelakang, Bill Gates dan Steve Jobs juga memulai startups mereka masing-masing sejak masih sangat-sangat muda (dengan kedua cofunder mereka) pada tahun 1975 dalam usia 20an tahun. Yah, jika anda ingin duduk dibawah pohon rindang saat punya cucu nanti, tentu akan lebih tepat jika mulai menanam bibit pohon itu sejak umur belasan tahun.

Menurut professor Shawn Osborne dari Harvard University yang penting untuk ditumbuhkan pada anak muda melalui pendidikan entrepreneurship adalah mind-set entreprenur. Mereka akan mulai berpikir dan bertindak seperti seorang entreprenur dalam semua aspek kehidupannya.

Mereka akan dapat berkomunikasi lebih baik, bangkit dari kegagalan dan mencoba lagi, menjadi lebih flexibel dan mudah beradaptasi, risk taker, dan tentu saja seorang yang pencari peluang yang jeli dan problem solvers. Pendidikan dapat berasal dari bangku kuliah/sekolah maupun dari praktek bisnis dilapangan, atau lebih tepatnya gabungan keduanya.

Tipe anak muda yang berapi-api pada dasarnya memang bagus sebagai pemompa semangat untuk mencapai cita-cita idealis masa muda yang begitu tinggingya. Gantungkanlah mimpimu setinggi langit, bermimpilah menjadi salah satu dalam list forbes billionaires. Tapi, antusiasme berlebihan juga akan sangat rapuh jika tidak dibarengi dengan sense of reality, mengetahui realitas-realitas yang terjadi di lapangan.  Well, berbisnis atau memulai bisnis itu tidak gampang.

Bagaimanapun Microsoft harus berawal dari sebuah garasi mobil yang sempit dan sederhana sebelum menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang ini. Bahkan, steve jobs harus didepak dari perusahaan yang dia bangun sendiri, Apple.

Butuh banyak pengorbanan yang berarti, kita juga harus melalui tahapan demi tahapanya dengan antusiasme. Apalagi anak muda yang masih punya kecenderungan untuk having fun dengan masa mudanya. Mungkin akan banyak godaan jika melihat kawan-kawan sejawat yang masih mencari kesenangan-kesenangan sesaat. Belum lagi rasa tidak pede atau malu jika dilihat orang lain berbisnis kecil-kecilan.

Menyicil kesuksesan masa depan dengan memulai sesuatu dari sekarang tentu akan menjadi pilihan yang menarik, sebenarnya. Tidak perlulah menjauhi diri dari kesenangan-kesenangan seperti ber dota ria (dan game-game sejenisnya), hangout bareng teman, dst. Harusnya yang kita lakukan adalah membagi waktu antara keduanya.

Mayoritas dari kita pada dasarnya masih berada dalam tanggungan orangtua, dari segi finansial. Hal ini seharusnya membuat kita tidak perlu terlalu risau jika harus membangun bisnis dari awal dengan modal kecil-kecilan. Uang tabungan untuk membeli ‚Äėmainan‚Äô dan sejenisnya atau pinjaman dari orangtua akan menjadi opsi yang bagus untuk memulainya bukan. Jika gagal, datanglah ke orangtua dan minta lagi, hahaha. Atau mulailah berhemat dan menyisihkan uang jajan untuk bisnis kecil-kecilanmu.