Catatan Ngangkang Terhadap Warisan Afi Nihaya Faradisa

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam.

*Bagi yang beragama Islam, terlahir di sebuah negeri dari pasangan dengan agama tertentu bukanlah hal yang kebetulan tapi takdir yang harus dijalani.

Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

*Pertanyaan ini seolah bertanya kepada tuhan, entah tuhan yang mana yang dia tanyai, tapi dengan menjawab sendiri ​​​​​​​​”tidak” di belakang tanda tanya, kita bisa menyimpulkan siapa tuhan yang dia maksud itu.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

*Ya, cuma punya satu pilihan sih dari lobang mana akan lahir, hahaha.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

*Mari berandai-andai, karena situ suka sekali berandai-andai, ada loh negara yang pake sistem kalau lahir di situ diakui anak itu sebagai warga negara, jadi tidak selamanya diwariskan, nama itu pemberian adapun nama belakang atau keluarga tidak semua pakai, contohnya ya kamu yang dari Jawa tidak pakai marga.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

*Ciye tegang, hahaha. Tidak bersitegang karena tahu? Padahal disebutkan “untungnya”, sungguh dikau wahai gadis mungil penuh dengan kontradiksi.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

*Anti bela negara dong, mesti dijadiin duta bela negara nih hahahaha. Kalau anda sering baca, pasti sering nemu kalimat-kalimat macam ini, saya ragu dengan kemampuan anak ini bikin sendiri, Ehm, di salah satu fotonya kan ada tuh foto bareng buku2, dasar tukang kopas. Memang kita tidak pernah bisa memutuskan ketika dilahirkan, lah memang masih bayi kok, mana tau kita soal status-status macam tuh. Wait, kenapa ga sekalian kelamin? Biar sekalian greget gitu hahahaha.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. 

*Oleh siapa? Kasih bukti (bukan janji ehh hahahaha). Kalau benar ya orang tuamu bener neng, eh tapi kan masih bayi? How can sih bayi ngerti, oh iya kamu kan anak ajaib sipsip.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

*Saya juga kasihan. 

Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

*Yup, begitulah cara kerja agama selama beribu-ribu tahun jauh sebelum engkau menulis status kurang asemmu ini.

Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

*Bayangkan aja terus neng, sampe puas. Ada sih agama yang jarang-jarang dakwah dan ga nambah-nambah pengikut kayak Jew etc, lebih banyakin bacanya.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

*Btw, itu bukan perkataan Rumi, itu tulisan. And kalau begitu Rumi juga setara tuhan dong, karna dia sendiri yang bisa tahu kebenaran yang utuh sedang yang lain hanya sebagian kecil saja.

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.

*Salah satu ciri orang tidak beriman adalah… Hahahaha, Well neng, nampaknya sodara adalah ahli tentang agama, jurusan opo seh di sma? jurusannya ngajarin perbandingan agama?

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

*Ada loh agama yang percaya bahwa tuhan pernah menjadi wujud manusia. Sekali lagi, terserah orang dong melabeli ahli surga or neraka. Since u juga melabeli orang lain “Sesekali coba menjadi tuhan.”

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.

*Pada banyak kejadian, latar belakang dari konflik yang dianggap konflik bermotif agama sebenernya motifnya lain, seperti para teroris yang ikut perang bareng ISIS, ada yang ke sono gara-gara gajinya tinggi.

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

*Kalau ditanya satu-satu ya pasti setiap pengikut agama itu akan menjawab ya tuhan mereka masing-masing. Ini sama dengan pertanyaan kenapa syaiton diciptakan dan kemudian dibiarkan gentayangan, ya itu sudah ketentuan tuhan neng.

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?

*Iya tidak, aku sih jijik dijadikan serupa denganmu, iyuh.

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

*Apalagi kalau agamanya bermacam-macam dengan komposisi yang seimbang, bisa kacau balau (mungkin) lihat saja Libanon, Syiria, Sudan etc. Agama memang bukan satu-satunya faktor yang menjamin kerukunan, tapi tidak berarti agama tidak menjamin kerukunan.

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

*Negara yang mana? Sebutkan biar bisa dibantah satu-satu.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

*Isu mayoritas minoritas bukan monopoli Indonesia atau satu negara saja, banyak negara mengalami hal yang sama bahkan Amrik pun. Ya negara itu dibikin berdasarkan konsensus mayoritas, dan pasti ada minoritasnya dari berbagai kategori. Oh iya kalimat ini juga rancu, masih ada dan mendadak hilang. Lagi pula kamu kan bukan penentu mana yang manusiawi mana yang bukan.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

*Bayangkan ku melayang…… Bayangin aja terus neng sampe botak.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

*Terbalik neng, belum belajar hukum sih, kitab suci itu dijadikan salah satu sumber hukum di Indonesia loh.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

*Kalau menilai itu urusan beda lagi sama urusan hukum atau bernegara, misal kamu dianggap/dinilai kafir oleh agama lain ya sudah dianggap saja, kecuali kalau kamu berbuat sesuatu yang bikin orang itu terganggu kayak kasus Ehok, baru deh kamu berlindung dibalik jeruji besi. Karena nilai-nilai dalam ajaran agama ya memang berbeda-beda.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

*Seperti kebijakan libur di hari raya, jadi ndak boleh ya, harus kerja semua PNS nya pas hari raya? Itu salah satu contoh saja neng.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

*Loh itu kan hak masing2 pemilik media sosial, apa salahnya mengunggulkan masing2. Btw, emang situ yakin bisa punya anak, apalagi cucu?

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

*Amerika sudah lama ga lending lagi di bulan, misi2nya belakang ini cuma ke stasiun internasional. Kalau cuma rancang sih Indonesia sudah bisa, cuma mahal neng mahal gaada diskon ke luar angkasa mah, bayarin astronot ke luar angkasa aja kita ga sudi.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa

*Eh, aku ragu kamu bisa berpikir atau ndak. Hahahaha

Mengapa Kita Beriman

Beriman atau secara sederhana percaya kepada tuhan maupun berbagai hal yang dipertuhankan telah menjadi sangat erat dengan kehidupan manusia di muka bumi ini. Bukan hanya percaya kepada tuhan yang begitu abstrak dan maha kuasa saja, tetapi manusia juga banyak yang percaya pada berbagai tuhan yang aneh-aneh seperti pohon, sapi, air, dst.

Berdasarkan survey Pew tahun 2015 sebagian besar umat manusia masih beriman. Bahkan sejumlah 1.2 milyar orang yang tidak tergabung atau Unaffiliated disebut demikian karena pada dasarnya mereka bukan seluruhnya ateis melainkan ada juga yang agnostik, sekuler dan yang masih percaya tuhan tapi tidak bergabung pada sistem kepercayaan tertentu.

Pertanyaan seperti judul tulisan ini muncul di jaman modern sekarang ini. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan maka muncul pula orang-orang sebenarnya beriman tapi beriman kepada ilmu pengetahuan bukan kepada agama atau tuhan-tuhan lainnya. Populasi para Unaffiliated terus saja bertambah dan sesuai laporan Pew, hal ini terjadi salah satunya karena adanya Swithing Out besar-besaran utamanya dari penganut Kristen, Budha dan Yahudi.

Pertanyaan tersebut coba dijawab oleh Steven Reiss, profesor psikologi di Ohio State University. Menurut beliau, manusia tertarik kepada agama karena agama dapat memenuhi 16 kebutuhan manusia. Tidak semua dalam list tersebut menjadi alasan orang untuk percaya kepada agama, melainkan beberapa saja, kombinasi atau paling tidak salah satu dari ke-16 kebutuhan tersebut menurutnya yang menjadikan agama menarik bagi manusia.  Capture

Hijab Is the New Normal

Kita mesti mengakui bahwa hijab or simpelnya sih jilbab sekarang ini telah menjadi “New Normal” di Indonesia. Ada dua label islami yang menjadi trend sejak tahun 90an yaitu pakaian dan keuangan atau perbankan. Meski pun mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, dunia keuangan islam hingga saat ini masih belum bisa-bisa juga meraup pangsa pasar yang signifikan dibanding keuangan konvensional. Akhir-akhir ini juga gaungnya makin kurang.

New normal tidak datang dengan seketika, butuh proses panjang yang cukup pelik juga ketika para muslimah Indonesia yang biasanya menggunakan hijab ketika sholat saja terpanggil untuk menggunakannya secara bebas di depan halayak. Penolakan dari masyarakat dan pemerintah juga terjadi. Tapi kepelikan tersebut terbantukan dengan kebijakan istana yang menghijau, di akhir-akhir kepemimpinannya pak Harto menjadi lebih ramah dengan ummat. Bahkan anak tertuanya yang sangat dekat dengan beliau pun mulai menggunakan jilbab.

Semenjak itu, jilbab secara perlahan digunakan oleh berbagai kalangan hingga akhir-akhir ini terdapat trend artis yang memutuskan untuk menggunakan jilbab. Mereka tidak lagi takut kekurangan job bahkan malah kebanjiran baik itu di film layar lebar maupun sebagai bintang iklan dan endorser produk-produk islami.

Trend hijab sebenarnya tidak terjadi di Indonesia saja, melainkan juga di seluruh dunia Islam. Berbagai merek fashion islami menawarkan jilbab dan berbagai asosiasinya bermunculan untuk saling memperebutkan pangsa pasar baru yang belum benar-benar digarap ini. Bahkan merek-merek kelas dunia seperti Zara, Mango dst tidak ketinggalan. Pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh struktur demografi di berbagai belahan dunia islam termasuk di Indonesia menjadikan pangsa pasar produk fashion islami terus bertumbuh setiap tahunnya.

Penggunaan secara luas tersebut juga secara bersamaan merubah kesan-kesan awal yang ditonjolkan oleh pengguna hijab/jilbab. Para muslimah yang menjadi target market berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda baik itu aliran, pendidikan, pendapatan dst. Utamanya aliran, di Indonesia pemahaman mengenai islam memiliki spektrum yang agak lebar dari yang paling liberal, moderat, hingga yang paling ekstrim. Meski pun dapat dikatakan mayoritasnya moderat, dua titik ekstrim lainnya juga dapat sangat berpengaruh.

Jika dahulu kala para pengguna jilbab tersebut dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang berkomitmen kepada agamanya maka sekarang hal tersebut tidak lagi sama. Para pengguna jilbab ada di mana-mana, kantor, sekolah, pasar,  dst yang sehari-harinya melakukan berbagi kegiatan dengan pakaian khusus tersebut.

Adventures with my bunting 😎🤓 #dinatokio

A post shared by D I N A T O K I O (@dinatokio) on

 

Bagi mayoritas umat islam sendiri menutup aurat merupakan suatu kewajiban jadi penggunaan jilbab bukanlah suatu hal yang seharusnya dianggap aneh, bayangkan dari 1 milyar lebih umat muslim sedunia itu sekitar setengahnya adalah wanita harusnya ada ratusan juta hijabers di seluruh dunia.

Namun yang menjadi dilema adalah ketika para pengguna jilbab melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan anggapan masyarakat. Banyak dari pihak ekstrim yang masih mendengungkan kritikan terhadap para pengguna jilbab yang berperilaku tidak benar menutur mereka atau tentang penggunaan jilbab itu sendiri. Pihak-pihak seperti ini harus mulai menyadari bahwa it is a new normal. Kecuali ada peristiwa yang setragis Daesh (ISIS) di Irak/Syiria yang memaksakan model tertentu maka hijab (jilbab) akan berkembang sesuai dengan kreatifitas umat muslim dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Agar Bulan Puasamu Tidak Kacau Balau

Berikut beberapa reminder bagi kita semua agar bulan puasa yang kita jalani sesuai harapan yang ingin dicapai :

  1. Ingatlah bahwa tujuan bulan puasa itu adalah menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik di bulan-bulan setelahnya dari bulan-bulan sebelumnya. Lebaran atau ritual yang akan paling sering kita lakukan yaitu buka puasa bukanlah tujuan bulan ini yang sebenarnya. Kita harus menyadari bahwa bukan menjadi suci atau merasa terhapus dosa-dosa di akhir bulan ini tujuan utama kita melainkan perbaikan diri. Namun, perbaikan diri yang kita lakukan dalam bulan ini haruslah secara bertahap atau simpelnya mah dengan pembiasaan, biar biasa bangun pagi, biar biasa jamaah, biar biasa tutup mulut, dst. Yaah, tapi trendnya kan perubahan drastis yang terjadi, dari yang biasanya mesjid hampir kosong tiba-tiba penuh sesak, kemana saja ya sebelumnya. Kalau datangnya terlalu cepat begitu, dan sudah terbukti nih, pasti perginya juga lebih cepat lagi, iya tau sendiri kan fenomena klasik kosongnya mesjid di zuhur hari lebaran.
  2. Gadget yang sudah pintar itu tolong dimanfaatkan lah, aktifkan fungsi-fungsinya seperti alarm, quran digital dan app sejenisnya. Selain game, socmed, dst, ya gunakan lah fungsi-fungsi yang bikin gadget kita itu disebut pintar, biar pintarnya ketularan ke kita hahaha.
  3. Terbiasalah puasa dan lebaran tanpa sanak famili. Uhk, ini curhat atau gmana ya hahaha, sebenarnya kan cuma di Indonesia ada tradisi mudik-mudik tiap menjelang lebaran. Memang sih lebih nikmat kalau puasa dan lebaran bareng keluarga, tapi karna satu dan lain hal bisa saja kita harus terpaksa kuat untuk menjalani bulan puasa tanpa mereka. Sendirian, harus bangun sendiri, gaada mama yang bangunin, padahal dulu mah sering kesel kalo dibangunin.
  4. It’s okay to consume more. Sesuai trend lagi nih, kalau menurut teori sih puasa itu berarti porsi makan atau konsumsilah bakal berkurang karena ditahan sedangkan trend di negara kita walau pun harga-harga melambung tinggi karena dilambungkan oleh kartel (mungkin, karena permintaan belum naik alias belum puasa saja udah pada naik harga-harganya) konsumsi tetap meningkat. Tapi, bagaimana pun konsumsi itu baik, bahkan pertumbuhan ekonomi tahunan kita yang didorong oleh konsumsi dalam negri sangat-sangat terbantu oleh pola konsumsi bulan penuh berkah ini. Jadi, secara keseluruhan, negara kita akan lebih baik perekonomiannya kalau konsumsi kita lebih banyak karena ekspor lagi kurang menggairahkan.

Deflasi Iman dan Berbagai Pergulatannya

Hahaha, karena lebih sering berhubungan dengan istilah-istilah sejenis inflasi, deflasi dst saya ingin mengungkapkan mengapa akhir-akhir ini yang sering terjadi pada diri saya sendiri adalah deflasi atau penurunan iman. Katanya kan iman itu labil, kalo berbuat dosa turun, kalo berbuat baik naik.

Agak ngeri juga karena saya secara kebetulan diberi pemahaman mengenai agama Islam, paling tidak jika mendengar suara ngaji dari mesjid saya bisa paham artinya. Jadi bisa ngena gimana gitu ketika sampai ke ayat-ayat yang familiar dan pada saat yang sama saya tengah melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan perintah tersebut. Atau tiba-tiba ingat hadis yang membahas hal-hal tersebut, yah begitulah.

Saya sebenarnya termasuk kaum fundamentalis dalam beragama, saya tidak suka dengan hal-hal bidah atau terkesan menambah-nambah agama. Karena ya menurut saya itu agak boros. Soal kuburan misalahnya, kan sebenarnya tidak perlu disemen apalagi diubin tapi ada sebagian yang melakukan hal tersebut bahkan membangun musolium seperti yang paling terkenal Taj Mahal (mahal bro mahal) dan termasuk juga kuburan nabi yang dibuatkan kubah di Madinah sana. Bayangkan saja, 200 tahun yang akan datang kemungkinan besar 1 milyar lebih umat muslim sedunia yang hidup sekarang ini sudah meninggal dunia, hitung sendiri lah berapa hektar yang harus dikorbankan untuk kuburan. Padahal harga tanah naik terus karena penawarannya tidak akan bisa bertambah sedangkan semua orang membutuhkannya.

Selain itu, saya juga mulai tidak begitu percaya dengan kebanyakan hadis yang katanya hingga jutaan itu. Saya mengerti bahwa terjadi banyak pengulangan di sana dan di sini, namun tentu saja hal ini sebenarnya membuat saya semakin ragu saja. Padahal kebanyak ilmu-ilmu yang berkembang setelah abad-abad awal Islam seperti fiqh, dll bersandar pada pemahaman tentang hadis. Bahkan saya sangat ngeri ketika ada sebagian yang percaya bahwa hadis lemah atau bahkan palsu lebih mulia dari pada logika. Mungkin mereka lebih percaya tukang jual terong. Jadi tentu saja model fundamentalis saya berbeda dengan Saudi atau salafi dan kawan-kawannya.

Soal salafi nih, hahaha, saya dulu pernah sangat simpatik ke mereka dan gerakannya, sampai saat ini juga masih tapi tentu dengan sudut pandang berbeda. Saya tahu tentang berbagai hal mengenai mereka ini, termasuk hubungan romantisnya dengan kerjaan Saudi dan mahzab Hanbali dan Ibnu Taimyah. Dulu saking pengen tahunya, saya menelusuri banget tentang mereka ini, termasuk kaidah-kaidahnya, bahkan karya ilmiah remaja saya pas di Madrasah Aliyah dulu ya tentang salah satu kelompok mereka.

Jika melihat panutan mereka seperti Ibnu Taimiyah yang tentu saja belajar logika dan juga termasuk Ibnu Hazm yang sangat dzhiri namun juga menggunakan logika tentu saja kaum salafi asal Saudi ini kurang relevan. Mungkin yang paling relevan menurut saya adalah gaya Muhammad Abduh dan kalau di Indonesia seperti Muhammadiyah. Meski pun Muhammaiyah sendiri masih bisa dibilang konservatif, namun ada faksi-faksi di dalamnya yang lebih liberal lagi.

Sudah, itu saja dulu, hahaha dan ingat ya ini cuma pendapat pribadi jangan sampai jadi kayak pergulatan pribadinya Ahmad Wahib yang diplintir dikit jadi pergulatan Islam padahal kan itu pergulatan labilnya sendiri. Bagaimana pun culturally I am a Musulman.

Mesjid Kehilangan, Sendalnya

Menurut Wikipedia Sandal tertua yang pernah ditemukan manusia  berusia sekitar 10.000 tahun  di daerah Fort Rock Cave, negara bagian Oregon Amerika Serikat. Sedangakan istilah sandal sendiri berasal dari bahasa Yunani yang mengindikasikan bahwa sandal sudah menjadi bagian dari kebudayaan Yunani kuno. Penggunaan sandal juga dapat ditemukan dalam peradaban kuno lainya seperti Mesir.

Jelas bahwa sandal bukan produk kebudayaan masa kini. Saya sempat berpikiran kalau sendal itu budaya modern karna banyak suku-suku terasing yang tidak menggunakan sandal. Tapi jika melihat fungsi sendal sebagai bagian dari pakaian manusia dan ternyata banyak suku-suku terasing yang hampir telanjang, jadi tentu saja sendal dapat dikatakan bagian dari peradaban.

Sudah puluhan sandal yang saya gunakan hingga detik ini. Jujur saja, saat ini saya berkesimpulan kalau lebih nyaman memakai sandal dari pada sepatu, lebih simple. Dulu ketika SMA (lebih tepatnya Madrasah Aliyah, ahaha) saya baru menyadari bahwa ada aturan tidak tertulis kalau sendal itu tidak sopan dan sebagainya. Sebagai pecinta sandal memang sebelum masa-masa itu saya tidak pernah membanding-bandingakan antara sendal dan jenis alas kaki lainya, utamanya sepatu. Sepatu bagi saya selalu identik dengan sekolah dan hal-hal formal lainnya. meski pun sejak kecil saya sudah dibiasakan menggunakan sepatu kemana-mana.

Ada sebagain perjalanan hidup saya habiskan dengan sendal, menemani perjalanan kaki ini kemana hendak ia dituju.  Tapi, kadang kisah itu bisa berakhir tragis dengan rusaknya sendal itu karna faktor usia atau kecelakaan kecil lainnya. Namun kadang bisa juga secara misterius menghilang entah kemana rimbanya, lebih-lebih jika ternyata yang hilang menyisakan sebelah jiwanya.

Dulu ketika hendak ke mesjid untuk sholat jumat saya selalu diwanti-wanti untuk menaruh sendal di tempat yang aman. Faktanya memang mesjid yang seharusnya jadi tempat paling tentram bagi kaum muslim malah menjadi salah satu tempat yang paling tidak aman bagi sendal, baru.

Sepertinya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, pertama sendal tersebut benar-benar dicuri oleh yang tidak bertanggung jawab. Kedua sendal tersebut salah dipakai atau tertukar dengan milik orang lain dan dengan entengnya dibawa pulang tanpa merasa sesuatu. Kondisi yang pertama ini memang agak mengenaskan dalam hal ini sendal dianggap sesuatu pride yang bisa meningkatkan harkat dan martabax sang pencuri.

Fakta bahwa di Amerika banyak kasus remaja yang membunuh remaja lain hanya karna mengincar sepatu mahal dan modis yang dipakainya sangat mengganggu saya akan halnya sendal di Indonesia. Brand-brand kelas dunia seperti seperti Nike dengan Airjordan nya juga dituduh harus bertanggung jawab atas kasus-kasus tersebut. Mereka telah menciptakan gaya hidup yang tidak sehat, katanya.

Selain sepatu, mereka juga menjual sendal yang tentu saja akan mengangkat harkat dan martabak sendal. Belum lagi trand sendal-sendal distro atau yang sejenisnya. Bukan tidak mungkin kan kalau nanti akan ada kriminalitas dari sendal-sendal ini.