Random Walkers

Sebagian orang ada yang suka jalan kaki dengan tujuan yang tidak jelas. Hanya jalan kaki biasa saja, sembari menikmati landscape, melihat kegiatan orang-orang yang dilewati sepanjang perjalanan.

Mungkin bisa dibilang ritual juga sih. Pengusir rasa bosan atau bahkan juga panggilan jiwa yang dalam. Well, siapa sih yang ga bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Tapi panggilan jiwa juga susah untuk tidak dituruti.

As a random walker too, kadang bingung juga kok ini aktifitas ga jelas banget, ga produktif. Most of the time I wish I had a tujuan, kayak orang lain dari satu tempat ke tempat lain. Tapi ga.

Biasanya sih banyak yang suka melirik, entah apa maksud mereka. Mungkin ya karna jalan kaki sudah tergantikan dengan motor, jangan heran kalau negara ini jadi salah satu yang termager di dunia. Mau beli mencin di toko sebelah saja pake motor, padahal walkable.

Jalan kaki itu sehat, murah lagi. Saya sih berharap dengan membaiknya sarana transportasi umum jarak yang walkable ndak usah pake kendaraan. Biar beban bpjs berkurang karna warga banyak yang sehat dari aktivitas jalan kaki. Kalo jalan kaki gabut kan tambahan aja, gausah diseriusi haha.

Tapi ingat kejahatan dapat terjadi dimana saja, waspadalah. Perhatikan rambut lalu-lintas, perhatian jalanan dan pengendara kendaraan bermotor. Jangan sampai jalan-jalannya terganggu.

Iklan

Posesif Pada Benda, Lepaskanlah !

Belakangan ini bermunculan artikel tentang minimalism, bukan hastag yang di ig loh. Tapi tentang gaya hidup yang berkembang di Jepang, hidup dengan menggunakan seminimal mungkin perabotan dan benda-benda kehidupan lain. Gaya hidup ini sebenarnya muncul karena terpaksa. Jepang merupakan negara yang tidak stabil geologically, sering gempa bahkan tsunami. Jadi kata mereka mah ya kalo kayak gitu mending perabotannya dikit aja, daripada banyak tapi sering rusak.

Kalo keadaan normal sih hidup minimalis ini susah, apalagi bagi yang covertly shopaholic (atau kleptomania ihh). Pengennya barang ditambah, lemari pajangan barang dari ikeya biar berbaris bak parade tentara. Yah pokoknya barang udah banyak aja, nambah secara sadar atau tidak sadar.

Alasan melankolik biasanya yang bikin makin banyak benda yang kita harus simpan. Kayak barang warisan orang tua, barang ‘antik’ yang ga boleh dijual atau bahkan dibuang karna pamali sama leluhur. Indonesia kan masih kental dengan budaya gitu-gituan. Padahal bisa jadi kalo di agama masuk kategori sirik atau paling tidak barangnya utterly useless bahkan dipajang pun malah bakalan merusak pemandangan.

Benda yang pernah dikasih mantan juga biasanya ada yang masih nyimpan. Meskipun sebenarnya mah ada juga mantan yang suka nuntut balik barangnya, ada. Barang gituan disimpan atas alasan kenangan, betapa indahnya masa-masa itu. Yaah kalo udah ex kan harusnya udahan, gausah ngarep dan beromantis ria dengan kenangan. You exactly know lah kenapa putus kan.

Hadiah atau cenderamata, barang sensitif katanya. Pokoknya harus dipajang, disimpan rapi-rapi sampai hancur. Ada rasa bersalah juga kalo dibuang, takut dibilang rude karena nanti pas si pemberi main barangnya ga keliatan. Jadilah nyimpen dengan rasa gaenakan itu. Padahal di Indonesia tiap kali ada yang bepergian selalu ada ritual bawa oleh-oleh, kalo oleh-olehnya winkobabat sih bagus, lah kalo koteka bekas pakai? Hahaha.

Ada juga alasan teknis sebenarnya, bingung barangnya mau dibuang kemana. Barang kayak kursi sofa, lemari dst itu ga bisa dibuang ditong sampah begitu saja. Apalagi di perkotaan, muka blakang kiri kanan atas bawah tembok semua. Trus ada juga yang riskan dengan barang elektronik, khawatir dibuang sembarangan karna bisa berdampak ke lingkungan. Di Bandung sih pernah liat di postingan walikota ada lokasi pembuangan barang-barang besar. Kalo barang elektronik kan bisa tokobagus (eh dah jadi oelex).

Lepaskanlah, kalo kata film projen mah let it go! Jangan tunggu numpuk-numpuk. Kalo gaada guna buang. Kalo masih ada kegunaan dikit, segeralah sumbangan. Biar ga menuh-menuhin tempat kita. Biar ga bikin susah pas bersih-bersih.

Lakon Kehidupan

Kata orang menulis adalah cara kita mengungkapkan hal-hal yang tidak kita ucapkan tapi kita harapan untuk dimengerti. Meninggalkan jejak agar kita tidak hilang ditelan waktu begitu saja. Klise memang, siapa yang tahu kan kita di dunia nyata hanyalah pecundang bodoh tanpa makna. Mungkin suatu saat nanti ada yang akan membaca dan senyum-senyum manis pada tulisan ayahnya. Atau ketikan kita dijadikan serial tv penuh drama, inspirasi paling tidak.

Kehidupan nyata mengekang jiwa yang bebas. Merenggut lekukan-lekukan sensasi yang tengah mengikuti irama. Menyisakan resah dan gelisah yang tak bisa dicerna panca indera. Sehingga kadang kebisuanlah yang muncul dan disitulah jemari mengundang tulisan untuk berkicau. Meninju dinding-dinding kekakuan, lalu merekonstruksi bentuk, menciptakan kesan dan pesan yang tak tersampaikan.

Bagi sebagian kita, kehidupan memang kadang sulit dibedakan dengan lakon. Memanis-maniskan senyum, memanas-manaskan suasana. Lalu ketika kita duduk dan memikirkan kembali ternyata ada benarnya juga. Hanya saja lakon tidak menyisakan realitas fisik yang harus kita alami berikutnya, detik demi detik. Sungguh tragis memang.

Tapi kita tidak boleh menjadikannya jamban. Tempat membuang segala macam kotoran yang tidak bisa kita daur ulang dengan berdamai atau bersabar. Sungguh gampang memang melarikan diri. Yang susah itu adalah bertarung dengan ego-ego yang tak berkesudahan.

Sekelumit Tentang Teh

Pagi ini setelah sarapan ikan goreng dan terong goreng (yup all goreng) saya membuat secangkir teh manis dingin. Sambil meresapi kesunyian disekitar slurtp habis sudah teh super manis itu dalam sekejap. Sejak kecil kami selalu ‘sarapan’ dengan teh. Karena waktu itu semua in a hurry, jadi cuma sempat teh, sarapan benerannya nanti. Jadi teh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari saya.

Mengapa teh? Biasanya di rumah ada tiga jenis minuman yang tersedia sebenarnya mah. Teh, kopi dan sirup (orson atau marjan), teh untuk kami, kopi dan sirup (tapi most of the time habis dalam sekejap, no not me but my ego) untuk tamu.

Teh itu ringan, gaada efek meleknya. Dan kayaknya sih karna teh kami mengandung bwanyak gula jadi yang bikin kita betah sama teh ya gulanya, addicted? Probably. Selain itu teh agak versatile juga. Teh bening, teh agak-agak dark, teh panas, teh anget, es teh, sesuai mood dan selera. Bisa dicelup-celup juga kalo ada biscuit, meskipun nyelup ini punya collateral demage yaitu relatif terhadap biscuit teh nya jadi ga manis.

Nah, soal teh instan yang banyak beredar saya sih cuma jatuh cinta ke satu teh yang di pucuk haha. Why? Because manis, murah meriah dan praktis. Kenal pas jaman kuliah, sering ke warung dua berdempetan dengan tujuan langsung ke jejeran mesin pendingin grasak grusuk nyari teh itu.

Meskipun ada teh dalam botol kaca legendaris yang belakangan ini mulai ketar ketir karna kurang agresif di pasar dan mulai pasang iklan lagi, ituloh yang makan-makan yang lumayan enak (if dingin only sih). Tapi tetap teh cuk pu cuk jauh lebih enak menurut saya. Kalo yang dikotak, meh, kalo yang digelas lumayan, kalo yang di sturbuk biasa je. So, basically I’m a cuk pu cuk inhaler.

Tapi teh juga punya efek samping katanya, ga boleh tuh diminum pas perut lagi kosong, ngaruh ke lambung. Dan tentu gulanya gabisa banyak-banyak, ada teh tawar atau teh hijau yang bisa jadi alternatif. As for now saya memang sudah tidak berani ngeteh (atau ngeh, karna kalo kopi kan jadi ngopi hahahaha) pas perut lagi kosong. Gula udah dikurangi, tapi kadang suka jadi guilty pleasure juga nambahin gula jadi tiga sendok untuk satu cangkir.

Jadi teh bagi saya ya memori dan rasa serta guilty pleasure juga.

Tips Mengusir Rasa Kesepian

  • Reconnect. Telpon, chat, wa teman-teman lama atau kerabat dekat, mungkin kita udah bertahun-tahun ga ketemu karna jarak atau kesibukan.
  • Buku dan internet juga bisa sangat membantu, banyakin baca pokoknya. Hidup di dunia lain dari novel.
  • Keluar kamar. Hahaha, kalo di dalam rumah atau kosan terus pasti berbagai pikiran negatif akan mampir. Nikmati udara segar di luar sana, menengadah ke langit, sapa mentari pagi, dengarkan cuitan burung-burung.
  • Olahraga. Jogging, bersepeda ria atau bahkan daftar ke gym aja biar makin serius. Sehat bugar dan bisa buat selfie.
  • Cobalah berbasa-basi bicara dengan orang, kasir di minimarket lah, tukang parkir, abang tukang bakso, dst. Agar kita bisa merasakan terkoneksi dengan dunia.
  • Lakukan hal yang disukai atau temukan hobi baru. Masak, dengerin musik, nulis dst.
  • Yang paling penting sih kita harus tau kalo kesepian itu normal, banyak orang juga merasakan hal yang sama.

Kepikiran Mati

Kemarin saya ga tidur semalaman. Walhasil paginya capek dan akhirnya nyerah, bless tidur. Tapi sebelum benar-benar ketiduran saya merasakan sesuatu yang unik, tubuh terasa loyo dan (mungkin) pikir saya rasanya seperti mau mati saja.

Sudah beberapa kali saya merasakan sensasi ini, ketika tubuh sudah sampai limit. Mirip pingsan juga, pernah sekali sih pingsan. Entahlah agak ngeri juga kalo ketagihan ginian, tapi enak loh hahaha.

Di momen yang ga lama itu saya sedikit berkontemplasi tentang kematian. Beginikah rasanya ? Wait I’m still young and wild, please no.

Saya punya puisi tentang kematian di blog ini, masih ada kok silahkan dibaca ☻. Tapi puisi itu agak main-main, karna well saya suka main-main dengan hal serius.

Tadi malam, saya ga sengaja liat lagi artikel tentang kematian, kayaknya sih diposting lagi karna itu artikel lama. Isinya ulasan sebuah buku yang ditulis dokter India ganteng and masih muda di Stanford paska terdiagnosa kanker stadium empat. Agak sedih sih karna ujung2nya doi meninggal, tapi menarik juga.

Dia dokter yang sehari-harinya nanganin yang begituan, tapi kena begitu pula. Akhirnya dia mutusin buat nulis sisa hidupnya yang tinggal dua tahun itu. Dia juga dalam buku itu menceritakan apa yang selama ini terlewatkan olehnya, kayak bau pinus di dekat kantornya etc.

Sayang banget kan, pinter (Stanford loh Harvardnya California hahahaha), pekerjaan bergaji tinggi, masih muda and yang paling penting tamfan (tsaaaah).

Tapi kemungkin besar sih dia bukan satu-satunya yang dengan kriteria super kayak gitu tapi harus pergi karna kanker atau penyakit yang ada vonis matinya (kayak pengadilan). Gimana kan yah, kalau hidup kita sudah tau akhirnya. Dia sendiri ketika tau hasilnya hanya biasa saja, meski pun juga berusaha dengan berbagai cara sih tapi yaah.

Begitulah hidup kan, harus ada matinya, konsekuensi yang paling pasti dari kehidupan. Penuh hikmah and pelajaran bahkan bisa jadi bahan lelucon memang, kalau bukan kita sendiri yang tengah mengalami.

Sehari-harinya memang kita atau mungkin cuma saya percaya akan mitos atau ilusi tentang keabadian, akan hidup selamanya. Meskipun sering diingatkan dengan berbagai peristiwa tapi toh tiap harinya ga nempel kalau kematian itu nyata dan akan segera menjemput.

Jangan Mati Dulu

Tulisan ini untuk setiap jiwa-jiwa yang hilang di luar sana, yang mungkin beberapa jam yang lalu dalam pikirannya tinggal mati saja. Untuk yang terjebak dengan seribu satu derita dunia yang tiada akhirnya, bahkan sakitnya pun tidak terasa lagi sehingga sakit yang paling tak terhingga itu ditelannya pun jua.

Sulit dimengerti memang, bahkan bagi orang-orang yang setiap hari berada disekitar pun akan kaget dan tidak percaya. Keluarga, kerabat, sahabat, teman dll itu masih akan terkaget-kaget ketika melihat tubuh kaku tak bernyawa orang yang mereka kenal selama ini, mungkin akan bertanya-tanya apakah sebenarnya mereka tahu atau tidak dengannya. Bagaimana yang selama ini terlihat ceria, tidak pernah mengeluh, selalu berpartisipasi dll tiba-tiba menghilang, menghilang dari kehidupannya sendiri.

Mungkin mereka yang memilih untuk melakukannya juga bisa jadi tidak percaya kalau mereka benar-benar sanggup melakukannya. Hanya orang yang tidak ‘normal’ yang mau mengakhiri hidupnya, memang sih ini masalah psikologis yang harus ditangani secara profesional. Yah faktanya setiap hari ada saja yang mati bunuh diri di berbagai pojok dunia ini.

Badai pasti berlalu katanya tapi badai besar dalam sekedip mata pun bisa menghancurkan sehancur-hancurnya dan lebih unik lagi dalam kehidupan manusia ini, kadang badai itu bertahan terlalu lama hingga yang terkuat pun lesu. Tapi, orang punya banyak alasan untuk mengakhiri hidupnya, banyak kisah yang begitu unik dan tidak terpikirkan meski pun tema-tema besarnya masih itu-itu saja.

Masalah cinta, keuangan, kesehatan, dll biasanya menjadi penyebab utama, bahkan ketiga topik itu bisa menjadi satu alasan sekaligus, seru banget kan. Sudah putus cinta, uangnya habis, penyakitnya tak sembuh-sembuh, mungkin ada yang begitu. Ada pula yang tiba-tiba saja, tiba tiba hari itu nilai uasnya jelek, tanpa sengaja hari itu dia terlambat penerbangan, saham yang dia miliki bertahun-tahun dalam sehari rontok serontok-rontoknya, cekcok dan tiba-tiba memutuskan untuk loncat dari apartemen temannya karena merasa dituduh yang tidak benar dst.

I have been there before di titik terendah dalam hidup, beberapa dan bahkan mungkin ada lagi. Dan tentu saja senyum-senyum sendiri dalam diri ini bahwa sampai at this point masih hidup padahal kan gampang tinggal ke apotek beli beberapa macam obat and minum sekaligus, atau sekalian beli racun tikus, lari ke tengah jalan, loncat dari gedung tinggi dll.

Bagaimana pun, mengakhiri hidup tidak akan mengakhiri masalah percintaan, tidak akan mendatangkan uang dan tidak menyembuhkan penyakit tetapi menjemput sakit yang terakhir. Begitulah faktanya, yang sayang sekali tidak bisa dilihat langsung mereka yang telah tiada atau telah hilang dari logika mereka sebelum memutuskan untuk bunuh diri saja.

Ada banyak orang yang punya alasan yang sama dan bahkan lebih parah lagi di dunia ini untuk menghabisi nyawanya sendiri, tingkatan parah yang tidak bisa terbayangkan dalam bergai kadar dan bentuk we are all suffering. Meski pun yaah hahahaha dunia ini tidak adil at least menurut standar manusia biasa.

Karena barusan saya habis nonton 30an menit pidato Zuckerberg di Harvard dengan kuota telkomsel yang begitu berkesan di benak dan di kuota, saya merasa diingatkan kembali dengan konsep higer purpose, tujuan yang mulia yang lebih tinggi. Mungkin di agama seperti agama saya ya orang-orang akan langsung ingat ayat tentang wama khalaktul itu. Bahwa hidup ini begitu mulia.