Beberapa Cara Hujan Menghancurkan Hidup Anda

Sumber : Pexel

Mendung

Bahkan sebelum hujan pun langit yang telah menggelap, menebar ketakutan pada seantero dunia. Semua siap siaga, karena tidak ada yang tau kapan pastinya sang hujan akan benar-benar turun dan kapan ia akan berhenti nanti. Tanah dan bangunan memanas, terpaksa karena dinginnya awan yang mengandung hujan itu menyuruh mereka pergi.

Tempias

Jadi rumahmu sudah diatap dengan material terbaik di dunia, tapi percikan air yang jatuh dari atas itu entah bagaimana bisa nyasar ke ruang-ruang pribadimu. Betapa banyak orang berteduh yang tidak selamat dari kecupan mahluk halus ini.

Rintik-rintik

Mengesalkan bagi orang yang tengah ingin tidur pulas, mengapa tidak besar-besaran saja. Begitupun petani, tanaman tidak akan subur jika diperciki seperti itu. Lalu ada dia, yang percaya bahwa curahan ini tidak akan cukup untuk membasahi kemejanya, memaksa terus jalan, hingga basah.

Hujan

Payung tak dapat menyelamatkan kaki bersama kaos dan sepatunya dari basah. Pandangan yang bisa berkilo-kilo jadi bermeter-meter sementara yang bermunculan hanyalah kenangan dari masa silam yang menolak untuk dilupakan.

Genangan

Bau itu setelah hujan, yang ingin kau nikmati dengan berjalan-jalan kecil di trotoar menjadi hari tersial ketika seluruh pakaianmu basah. Bukan karena hujan lagi tapi karena orang gila tidak tau diri yang mengendarai kendaraan kreditnya tanpa hati nurani melaju kencang bak orang terpenting sejagad raya di jalan yang dianggapnya punya nenek buyutnya sendiri.

Iklan

Jorok

Hari itu kucium engkau, ada bekas bibirnya di bibirmu yang terasa oleh bibirku

Aku tidak memimpikan hujan, tapi yang basah celana dalamku

Awalnya aku hanya ingin menarik perhatianmu, tapi kini burungmu yang terbawa masuk

Karena buah menggantung maka dinamai pula buah untuk yang menggantung-gantung di kita

Ternyata kamu terlalu cepat, simple tapi seperti tidak terjadi apa-apa loh

Nanti kalo banyak anak bisa melar, tapi kalo tidak pernah apa bisa ujung-ujungnya tertutup gitu

Kalau saja matamu itu secanggih mikroskop kau akan berpikir ribuan kali sebelum menyentuhnya dengan lidah, bibir dan tenggorokanmu

😁

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan ? No Problem

Cinta itu pada tataran tertentu seperti komunikasi, bentuknya dua arah. Butuh sesuatu yang disebut pertukaran, ada yang memberi dan ada yang menerima. Frekuensinya harus sama agar bisa nyambung, tidak saling tuli karena beda salurannya.

Romantis kan ? Jika memang romantis atau sampai itu masih romantis. Di dunia nyata pangeran kodok tidak akan pernah bisa menjadi tampan lagi, karena sang putri akan lari menjauh ketika kodok muncul di hadapannya. Banyak halangan dan rintangan di dunia nyata yang mengutuk cinta, sehingga tidak semua harap berbalas. Yang sudah bermadu cinta puluhan tahun pun bisa pisah. Karena hal sepele, bosan atau sudah punya yang lain. Dongeng cinta abadi yang sakral tidak selalu berakhir bahagia.

Maka sang kodok yang minder pun akan tetap menjadi kodok. Berdiam diri di kamarnya sembari memandangi akun instagram sang pujaan hati yang bisa jadi adalah teman kelasnya atau tetangga sebelah rumah. Tidak jarang yang dikagumi adalah bintang, bukan komet pula yang bisa tiba-tiba jatuh. Tapi bintang yang nun jauh di sana, sehingga kehadiran kodok di bumi pun negatif baginya, tidak dianggap sama sekali.

Begitupun pasangan yang sudah lama bersama. Panjang kisah yang bisa tercipta dari canda dan tawa yang telah dilewatkan bersama. Ada saja badai yang datang tanpa permisi. Kadang, bagi satu pihak tidaklah mudah menghapus begitu saja rasa yang sudah terukir rapi di sanubari. Racauan tidurnya pun tak henti dari memanggil-manggil sang sayang yang sudah tidak bersama lagi.

Kodok dan sang jomblo yang memutuskan untuk tetap mencintai di dongeng kehidupan bisa tetap mencintai. Senyum pada sang pujaan ketika mereka berpapasan di kelas, bahkan kehadirannya menjadi menjadi berkah suplemen yang ampuh mandraguna membuatnya betah berlama-lama di kelas.

Menjadi follower akun instagram sang pujaan hati. Kadang lelah menghampiri karena tetekbengeknya, lalu bermaksud untuk mengakhiri saja hubungan tersebut. Tapi nomor teleponnya tidak bisa di kontak, karena sang pujaan belum dinikahi. Bahkan mungkin dia tidak mengenal atau nyadar ada yang menyukainya.

Sementara yang menyimpan kenangan-kenangan dari masa bersama terus terperangkap di masa lalu. Cinta kadang menjadi pengikat yang kuat, pada ide tentang yang dicintai bukan fisik dan batin diantara dua pihak lagi.

Begitulah, kata 猪悟能 (Pat Kai) mah cinta dari dulu memang penderitaannya tidak ada berakhir. Meskipun cinta satu arah bisa jadi tidak sebegitu dramatis kisah Pat Kai. Kadang it’s better that way, lebih baik jadi penganggum rahasia daripada ngambil resiko terlalu besar dengan mengorbankan pertemanan atau ngajak nikah sang empunya instagram tapi baca direct message saja dia tidak. Atau sang mantan adalah abuser, kasar, pemarah, sudah jadi pasangan orang yang sangat problematik kalau dipaksain balikan. So chill.

Pengalaman Seorang Dyscalculia

Dyscalculia biasa disebut/diartikan sebagai mathematics learning disability atau mathematics disorder. Saya baru tau ada istilah dan kelainan seperti ini di tahun kedua kuliah, karena di tahun kedua itulah di jurusan saya mata kuliah statistik wajib diambil hahaha. Kelihatannya mah gampang, sederhana, apalagi ada textbook setebal bantal yang bisa dijadikan referensi. Tapi di akhir semester, nilai ujian yang keluar sungguh sangat mengharukan.

Saya tidak pernah membenci matematika, tapi saya benci kelemahan saya di matematika. Kelemahan yang sudah saya rasakan sejak kelas tiga SD ini masih terus mengantui di bangku kuliah bahkan hingga sekarang. Bukan tentang nilai di atas kertas, tapi malu dan bahkan perasaan terbelakang karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika sungguh tidak bisa dipungkiri terus mengantui. Apalagi kelemahan dalam matematika memang sangat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Dulu waktu di SMA (eh MAN) saya harus ikut kelas tambahan karena selalu dapat nilai jelek di ulangan harian dan ulangan akhir, guru matematikanya sudah hapal dengan kami yang loe lagi loe lagi itu. Matematika itu pelajaran yang kumulatif, kalau satu saja konsep terlewat/lupa/belum nguasain pasti berikutnya bisa bermasalah (saya baru tau ini pas ngajarin teman-teman kuliah yang basic math mereka parah). Entah bagaimana, setiap soal matematika bagi saya lebih misterius dari makna puisi-puisi absurd, dikerjakan sesuai petunjuk tapi hasilnya bisa beda. Saya akhirnya tidak bisa masuk kelas IPA karena nilai matematika dan saudara dekatnya fisika tidak mencapai target, dunia tidak jadi perang nuklir karena saya gagal jadi nuke engener. Yang paling haru ketika pas tau nilai ujian nasional matematika saya semfurna ya guru matematikanya hahaha.

Ancamannya waktu itu memang serius, tidak tuntas nilai semester berarti out dari MAN dan yang paling mengerikan yaitu ujian masuk perguruan tinggi. Yaah meskipun soal ulangan harian selama di SMA eh MAN waktu itu selalu saja ada nyelip beberapa comotan soal ujian masuk perguruan tinggi, bagi saya mah bahkan dengan beda angka dikit aja soalnya sudah bisa multi tafsir hahahaha. Kemudian memang terbukti meskipun lolos saya hanya dapat pilihan kedua di perguruan tinggi.

Harus saya akui kalo saya termasuk orang yang agak malas, pantang belajar. Bagi saya di kelas saja sudah cukup, kecuali kalo ada hapalan yang lupa. Padahal, matematika atau yang serumpun itu butuh latihan yang banyak. Faktor lain mungkin karena saya hyperactive atau mengidap ADHD (bahas nanti), menurut penelitian sih ada seperempat anak yang mengidap ADHD juga mengidap dyscalculia. Saya ga bisa duduk fokus bentar di meja belajar hanya untuk latihan soal, paling dua soal and goodbye. Kayaknya kalo saya berusaha lebih keras dikit dengan banyak latihan mungkin bisa.

Sampai saat ini sebenarnya saya masih bersemangat untuk belajar matematika lagi, mungkin kayak Einstein latihan soal yang gampang-gampang. This is one of my unfished businesses. Banyak juga konsep yang sudah lupa, jadi harus belajar lagi (supaya bisa apply ke Crimson Departemen of Economics lmao). Bagaimanapun sejauh ini saya bisa juga ‘lolos’. Butuh waktu memang untuk sembuh dari sakit hati ga jadi nuke-nukean, tapi butuh waktu juga ‘menyembuhkan’ dyscalculia ini. Yaah hidup sebenarnya memberikan ruang untuk kita bermanufer dikit, kalo memang belum bisa meskipun sudah mencoba dengan sekuat tenaga coba yang lain saja. Katanya sih para dyscalculian lebih jago nulis atau bicara, I’m not saying dat I’m jago on both but banyak jago lain selain jago matematika di dunia ini.

Random Walkers

Sebagian orang ada yang suka jalan kaki dengan tujuan yang tidak jelas. Hanya jalan kaki biasa saja, sembari menikmati landscape, melihat kegiatan orang-orang yang dilewati sepanjang perjalanan.

Mungkin bisa dibilang ritual juga sih. Pengusir rasa bosan atau bahkan juga panggilan jiwa yang dalam. Well, siapa sih yang ga bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Tapi panggilan jiwa juga susah untuk tidak dituruti.

As a random walker too, kadang bingung juga kok ini aktifitas ga jelas banget, ga produktif. Most of the time I wish I had a tujuan, kayak orang lain dari satu tempat ke tempat lain. Tapi ga.

Biasanya sih banyak yang suka melirik, entah apa maksud mereka. Mungkin ya karna jalan kaki sudah tergantikan dengan motor, jangan heran kalau negara ini jadi salah satu yang termager di dunia. Mau beli mencin di toko sebelah saja pake motor, padahal walkable.

Jalan kaki itu sehat, murah lagi. Saya sih berharap dengan membaiknya sarana transportasi umum jarak yang walkable ndak usah pake kendaraan. Biar beban bpjs berkurang karna warga banyak yang sehat dari aktivitas jalan kaki. Kalo jalan kaki gabut kan tambahan aja, gausah diseriusi haha.

Tapi ingat kejahatan dapat terjadi dimana saja, waspadalah. Perhatikan rambut lalu-lintas, perhatian jalanan dan pengendara kendaraan bermotor. Jangan sampai jalan-jalannya terganggu.

Posesif Pada Benda, Lepaskanlah !

Belakangan ini bermunculan artikel tentang minimalism, bukan hastag yang di ig loh. Tapi tentang gaya hidup yang berkembang di Jepang, hidup dengan menggunakan seminimal mungkin perabotan dan benda-benda kehidupan lain. Gaya hidup ini sebenarnya muncul karena terpaksa. Jepang merupakan negara yang tidak stabil geologically, sering gempa bahkan tsunami. Jadi kata mereka mah ya kalo kayak gitu mending perabotannya dikit aja, daripada banyak tapi sering rusak.

Kalo keadaan normal sih hidup minimalis ini susah, apalagi bagi yang covertly shopaholic (atau kleptomania ihh). Pengennya barang ditambah, lemari pajangan barang dari ikeya biar berbaris bak parade tentara. Yah pokoknya barang udah banyak aja, nambah secara sadar atau tidak sadar.

Alasan melankolik biasanya yang bikin makin banyak benda yang kita harus simpan. Kayak barang warisan orang tua, barang ‘antik’ yang ga boleh dijual atau bahkan dibuang karna pamali sama leluhur. Indonesia kan masih kental dengan budaya gitu-gituan. Padahal bisa jadi kalo di agama masuk kategori sirik atau paling tidak barangnya utterly useless bahkan dipajang pun malah bakalan merusak pemandangan.

Benda yang pernah dikasih mantan juga biasanya ada yang masih nyimpan. Meskipun sebenarnya mah ada juga mantan yang suka nuntut balik barangnya, ada. Barang gituan disimpan atas alasan kenangan, betapa indahnya masa-masa itu. Yaah kalo udah ex kan harusnya udahan, gausah ngarep dan beromantis ria dengan kenangan. You exactly know lah kenapa putus kan.

Hadiah atau cenderamata, barang sensitif katanya. Pokoknya harus dipajang, disimpan rapi-rapi sampai hancur. Ada rasa bersalah juga kalo dibuang, takut dibilang rude karena nanti pas si pemberi main barangnya ga keliatan. Jadilah nyimpen dengan rasa gaenakan itu. Padahal di Indonesia tiap kali ada yang bepergian selalu ada ritual bawa oleh-oleh, kalo oleh-olehnya winkobabat sih bagus, lah kalo koteka bekas pakai? Hahaha.

Ada juga alasan teknis sebenarnya, bingung barangnya mau dibuang kemana. Barang kayak kursi sofa, lemari dst itu ga bisa dibuang ditong sampah begitu saja. Apalagi di perkotaan, muka blakang kiri kanan atas bawah tembok semua. Trus ada juga yang riskan dengan barang elektronik, khawatir dibuang sembarangan karna bisa berdampak ke lingkungan. Di Bandung sih pernah liat di postingan walikota ada lokasi pembuangan barang-barang besar. Kalo barang elektronik kan bisa tokobagus (eh dah jadi oelex).

Lepaskanlah, kalo kata film projen mah let it go! Jangan tunggu numpuk-numpuk. Kalo gaada guna buang. Kalo masih ada kegunaan dikit, segeralah sumbangan. Biar ga menuh-menuhin tempat kita. Biar ga bikin susah pas bersih-bersih.