Tips Mengusir Rasa Kesepian

  • Reconnect. Telpon, chat, wa teman-teman lama atau kerabat dekat, mungkin kita udah bertahun-tahun ga ketemu karna jarak atau kesibukan.
  • Buku dan internet juga bisa sangat membantu, banyakin baca pokoknya. Hidup di dunia lain dari novel.
  • Keluar kamar. Hahaha, kalo di dalam rumah atau kosan terus pasti berbagai pikiran negatif akan mampir. Nikmati udara segar di luar sana, menengadah ke langit, sapa mentari pagi, dengarkan cuitan burung-burung.
  • Olahraga. Jogging, bersepeda ria atau bahkan daftar ke gym aja biar makin serius. Sehat bugar dan bisa buat selfie.
  • Cobalah berbasa-basi bicara dengan orang, kasir di minimarket lah, tukang parkir, abang tukang bakso, dst. Agar kita bisa merasakan terkoneksi dengan dunia.
  • Lakukan hal yang disukai atau temukan hobi baru. Masak, dengerin musik, nulis dst.
  • Yang paling penting sih kita harus tau kalo kesepian itu normal, banyak orang juga merasakan hal yang sama.
Iklan

Kepikiran Mati

Kemarin saya ga tidur semalaman. Walhasil paginya capek dan akhirnya nyerah, bless tidur. Tapi sebelum benar-benar ketiduran saya merasakan sesuatu yang unik, tubuh terasa loyo dan (mungkin) pikir saya rasanya seperti mau mati saja.

Sudah beberapa kali saya merasakan sensasi ini, ketika tubuh sudah sampai limit. Mirip pingsan juga, pernah sekali sih pingsan. Entahlah agak ngeri juga kalo ketagihan ginian, tapi enak loh hahaha.

Di momen yang ga lama itu saya sedikit berkontemplasi tentang kematian. Beginikah rasanya ? Wait I’m still young and wild, please no.

Saya punya puisi tentang kematian di blog ini, masih ada kok silahkan dibaca ☻. Tapi puisi itu agak main-main, karna well saya suka main-main dengan hal serius.

Tadi malam, saya ga sengaja liat lagi artikel tentang kematian, kayaknya sih diposting lagi karna itu artikel lama. Isinya ulasan sebuah buku yang ditulis dokter India ganteng and masih muda di Stanford paska terdiagnosa kanker stadium empat. Agak sedih sih karna ujung2nya doi meninggal, tapi menarik juga.

Dia dokter yang sehari-harinya nanganin yang begituan, tapi kena begitu pula. Akhirnya dia mutusin buat nulis sisa hidupnya yang tinggal dua tahun itu. Dia juga dalam buku itu menceritakan apa yang selama ini terlewatkan olehnya, kayak bau pinus di dekat kantornya etc.

Sayang banget kan, pinter (Stanford loh Harvardnya California hahahaha), pekerjaan bergaji tinggi, masih muda and yang paling penting tamfan (tsaaaah). 

Tapi kemungkin besar sih dia bukan satu-satunya yang dengan kriteria super kayak gitu tapi harus pergi karna kanker atau penyakit yang ada vonis matinya (kayak pengadilan). Gimana kan yah, kalau hidup kita sudah tau akhirnya. Dia sendiri ketika tau hasilnya hanya biasa saja, meski pun juga berusaha dengan berbagai cara sih tapi yaah. 

Begitulah hidup kan, harus ada matinya, konsekuensi yang paling pasti dari kehidupan. Penuh hikmah and pelajaran bahkan bisa jadi bahan lelucon memang, kalau bukan kita sendiri yang tengah mengalami.

Sehari-harinya memang kita atau mungkin cuma saya percaya akan mitos atau ilusi tentang keabadian, akan hidup selamanya. Meskipun sering diingatkan dengan berbagai peristiwa tapi toh tiap harinya ga nempel kalau kematian itu nyata dan akan segera menjemput. 

Jangan Mati Dulu

Tulisan ini untuk setiap jiwa-jiwa yang hilang di luar sana, yang mungkin beberapa jam yang lalu dalam pikirannya tinggal mati saja. Untuk yang terjebak dengan seribu satu derita dunia yang tiada akhirnya, bahkan sakitnya pun tidak terasa lagi sehingga sakit yang paling tak terhingga itu ditelannya pun jua.

Sulit dimengerti memang, bahkan bagi orang-orang yang setiap hari berada disekitar pun akan kaget dan tidak percaya. Keluarga, kerabat, sahabat, teman dll itu masih akan terkaget-kaget ketika melihat tubuh kaku tak bernyawa orang yang mereka kenal selama ini, mungkin akan bertanya-tanya apakah sebenarnya mereka tahu atau tidak dengannya. Bagaimana yang selama ini terlihat ceria, tidak pernah mengeluh, selalu berpartisipasi dll tiba-tiba menghilang, menghilang dari kehidupannya sendiri.

Mungkin mereka yang memilih untuk melakukannya juga bisa jadi tidak percaya kalau mereka benar-benar sanggup melakukannya. Hanya orang yang tidak ‘normal’ yang mau mengakhiri hidupnya, memang sih ini masalah psikologis yang harus ditangani secara profesional. Yah faktanya setiap hari ada saja yang mati bunuh diri di berbagai pojok dunia ini.

Badai pasti berlalu katanya tapi badai besar dalam sekedip mata pun bisa menghancurkan sehancur-hancurnya dan lebih unik lagi dalam kehidupan manusia ini, kadang badai itu bertahan terlalu lama hingga yang terkuat pun lesu. Tapi, orang punya banyak alasan untuk mengakhiri hidupnya, banyak kisah yang begitu unik dan tidak terpikirkan meski pun tema-tema besarnya masih itu-itu saja.

Masalah cinta, keuangan, kesehatan, dll biasanya menjadi penyebab utama, bahkan ketiga topik itu bisa menjadi satu alasan sekaligus, seru banget kan. Sudah putus cinta, uangnya habis, penyakitnya tak sembuh-sembuh, mungkin ada yang begitu. Ada pula yang tiba-tiba saja, tiba tiba hari itu nilai uasnya jelek, tanpa sengaja hari itu dia terlambat penerbangan, saham yang dia miliki bertahun-tahun dalam sehari rontok serontok-rontoknya, cekcok dan tiba-tiba memutuskan untuk loncat dari apartemen temannya karena merasa dituduh yang tidak benar dst.

I have been there before di titik terendah dalam hidup, beberapa dan bahkan mungkin ada lagi. Dan tentu saja senyum-senyum sendiri dalam diri ini bahwa sampai at this point masih hidup padahal kan gampang tinggal ke apotek beli beberapa macam obat and minum sekaligus, atau sekalian beli racun tikus, lari ke tengah jalan, loncat dari gedung tinggi dll.

Bagaimana pun, mengakhiri hidup tidak akan mengakhiri masalah percintaan, tidak akan mendatangkan uang dan tidak menyembuhkan penyakit tetapi menjemput sakit yang terakhir. Begitulah faktanya, yang sayang sekali tidak bisa dilihat langsung mereka yang telah tiada atau telah hilang dari logika mereka sebelum memutuskan untuk bunuh diri saja.

Ada banyak orang yang punya alasan yang sama dan bahkan lebih parah lagi di dunia ini untuk menghabisi nyawanya sendiri, tingkatan parah yang tidak bisa terbayangkan dalam bergai kadar dan bentuk we are all suffering. Meski pun yaah hahahaha dunia ini tidak adil at least menurut standar manusia biasa.

Karena barusan saya habis nonton 30an menit pidato Zuckerberg di Harvard dengan kuota telkomsel yang begitu berkesan di benak dan di kuota, saya merasa diingatkan kembali dengan konsep higer purpose, tujuan yang mulia yang lebih tinggi. Mungkin di agama seperti agama saya ya orang-orang akan langsung ingat ayat tentang wama khalaktul itu. Bahwa hidup ini begitu mulia.

Mempertahankan Pertemanan Setelah Wisuda

 

panda.jpg

Sumber : NatGeo

Selama bertahun-tahun kuliah tentu saja kita banyak menemukan teman dari kehidupan kampus, mulai dari teman ospek yang dulu botak bersama sampai teman-teman yang bawa bunga pas wisuda.

Banyak orang bertemu teman sejati di kampus, mungkin berteman hingga kakek-kakek. Jodoh juga banyak berjumpa di sana. Masa-masa di kuliah memang masa yang paling tepat untuk menemukan teman atau paling tidak, kriteria teman yang kita butuhkan dalam hidup ini sebagai bagian dari menjadi diri kita sendiri.

Setelah wisuda yang merupakan akhir dari masa-masa itu, sebenarnya keadaannya cukup gado-gado di divisi perasaan. Bahagia karena at least sudah lulus dan siap memulai hidup baru tapi juga khawatir dengan berbagai hal yang menanti di dunia luar sana.

Kadang kita menjadi lupa menjaga kontak dengan teman gara-gara berbagai kekacauan itu. Atau sekadar tidak tau bagaimana seharusnya agar bisa menjaga pertemanan. Menggampangkan karena yakin bahwa pertemanan akan baik-baik saja karena dengan buka Line, Instagram, Snapchat, WA, Facebook etc kita bisa langsung terhubung.

Teknologi yang sangat membantu itu pas waktu di kampus memang sangat-sangat efektif sih, buat ngerjain tugas dll. Tapi tentu ceritanya beda lagi ketika kita sudah ada berbagai jenis jarak, chat di Line lama dibalas, foto di Instagram minim like dan komen etc.

Padahal kita ini semakin tua semakin susah mencari teman baru.  Sehingga mempertahankan perteman yang sudah terbangun sejak di kampus akan menjadi pilihan terbaik. Meskipun tidak berarti bahwa kita tidak bisa mencari teman baru lagi, karena hellow ada more than seven billions orang lain di luar sana.

Panggil Aku Sarjana

Fiuh, akhir Maret ini toga yang mesti dibeli sebelum sidang akademik/yudisium harus dicantolkan di kepala yang penuh kebingungan ini, yeah you know as a matter of celebration. So yes, I got ma diploma, nambah satu lagi deh sarjana di Indonesia dengan status temporarely unemployed.

Benar ternyata, lebih mudah masuk kuliah daripada lulusnya apalagi kalau pengen lulus dengan predikat kum laud, lol. Mulai dari urusan galau dengan tugas akhir, administrasi tetek bengek dan tentu saja itu loh, masa depan.

Skripsi ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan, but masih terhitung sulit. Hal terburuk yang kita alami pertama kali pas mau bikin skripsi itu adalah tidak tau mau bikin skripsi tentang apa. Mungkin temanya udah dapat, thats the easy part, tapi judulnya gimana, karna judul bakal nentuin segalanya. Yaa, skripsi saya jadi berantakan di akhir gara-gara judul ini. Padahal saya udah coba bikin sepragmatis mungkin. Oh iya, hal tersulit dari skripsi itu bagi saya sebenernya sih bekerja dengan orang lainnya, namely pembimbing, untung beliau sabar eh sempat marah sih dua kali. Hahaha

Administrasi di kampus itu gimana ya, naudjubillah pokoknya. Kalo yang ga sabar ya bisa bisa meja di sekre digetok-getok gitu sama yang marah saya pernah liat sendiri ada yang marah sampe segitunya, mepet sih. Oh wait saya juga pernah marahin and casually ngacak-ngacak berkas di salah satu kantor di kampus. At least, sampai akhir proses tetek bengek itu ada enam kantor atau ruangan administrasi yang mesti kita masuki, dan ada beberapa yang mesti bolak-balik padahal jaraknya ga deket sama skali, naik turun tangga di fakultas sebelah, antri, dst. Melelahkan pokoknya dan menguji kesabaran bgt.

And in the middle of semua itu, ketika lagi pengen istrahat dari capek fisik dan mental di kamar, tiba-tiba tanpa sengaja pas lagi memandangi dunia luar dari segenggam hp di tangan sering terlintas di pikiran. Ya, tentang masa depan, bisa jadi apa aku ini nanti maaaak. So, kadang-kadang or most of the time sih, jajan jadi pelampiasannya, kalo ada yang ngeselin makan aja, ada yang bikin bingung, makan wae, pokoknya makan. Ujung-ujungnya tagihan membengkak, perut meletus. Hahaha

Pikir Lagi Sebelum Menulis

Kadang, kita ingin menuliskan hal-hal yang kita alami sehari-hari. Mungkin menyenangkan jika kita dapat menuliskan semua hal itu, berbagi dengan manusia lain di belakang layar PC atau hape mereka. Banyak hal yang bisa dijadikan satu artikel bahkan mungkin buku di setiap detik dalam sehari saja. Mungkin cerita tentang bubur ayam tadi pagi yang rasanya lumayan campur aduk atau tentang tetangga kosan yang annoying dan seterusnya.

Tapi, menuliskan sesuatu selain membutuhkan waktu dan tenaga serta mood (tentu saja) juga membutuhkan rethink atau pikir-pikir lagi. Kita tidak menuliskan semua hal di dunia ini, meski pun sebenarnya setiap hal sudah coba ditulis oleh jutaan penulis di luar sana. Memikirkan kembali, menimbang-nimbang dampak dari tulisan itu adalah hal serius yang mestinya tidak hilang dari kamus seorang penulis, meski pun saya sering mengabaikannya.

Pada dasarnya semua hal yang kita lakukan di dunia ini memiliki dampak terhadap kehidupan alam semesta ini. Terdengar terlalu fantastis sih, but all action counts. Apalagi tulisan, bayangkan saja, tulisan paling tua yang tercatat adalah sebuah hukum yang berlaku di peradaban kuno. Sejak itu telah banyak tulisan yang merubah dunia, menjadi kepercayaan, ilmu pengetahuan, revolusi dan seterusnya.

Kita tentu patut berbangga menjadi penulis atau sekadar menulis sesuatu. Akan tetapi, harus juga mempertimbangkan mengenai tulisan tersebut baik dari segi keakuratan dan utamanya tanggungjawab atas apa yang telah kita lakukan tersebut. Karena siapa yang tau tiba-tiba besok lusa kita menjadi orang terkenal, terlepas dari status terkenal apakah karena hal positif atau tidak, akan ada orang iseng yang mengorek-ngorek tulisan lama kita. Membacanya dengan khusyuk dan mulai meraba-raba berbagai kejanggalan di dalamnya atau malah membuat-buat kejanggalan itu sendiri.

Tidak ada penulis yang terlepas dari kesalahan, disengaja atau pun tidak. Begitu pun tidak ada penulis yang tidak terpengaruh oleh tulisan-tulisan sebelumnya, sadar atau pun tidak sadar. Jadi ketika menuliskan sesuatu kita harus mempertimbangkan kembali kedua hal tersebut.

Selain itu, ada unsur lain berupa masyarakat atau pembaca yang akan membaca tulisan kita. Dengan pengalaman hidup yang berbeda-beda menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda pula terhadap apa yang mereka baca. Meski pun kita tidak bisa mengontrol pemahaman mereka ya tentu saja sebisa mungkin untuk mempertimbangkan hal tersebut dalam menulis, they are there dude.

Tidak ada salahnya memang menuliskan apa yang ada dikepala kita, asal benar dan berani bertanggung jawab atas tulisan tersebut termasuk bertanggung jawab di depan hukum. Apalagi bagi yang beragama tentu harus menyadari akan adanya konsekuensi di akhirat nanti mengenai tulisannya tersebut.

Menjadi Follower

Kita adalah follower, tidak terkecuali para artis dengan jutaan follower di sosial media (cek sendiri kalo ga percaya). Kita harus menelan baik-baik kenyataan ini bahwa seberapa populer atau terkenal pun, masih perlu ngefollow. Sungguh suatu kenyataan yang sebenarnya tidak perlu diulang-ulang karena sudah menjadi pengetahuan umum.

Tapi, entah mengapa istilah follower menjadi tidak mengenakkan ketika dilabelkan kepada seseorang. Bahkan menjadi follower bisa berujung pada cap rendahan atau malah bodoh. Hal ini mungkin berasal dari kepercayaan bahwa menjadi pemimpinlah yang seharusnya dilakukan semua orang, menjadi pemimpin, tidak ikut-ikutan.

Hirearki dalam setiap sistem yang dibangun manusia, sering diilustrasikan dengan piramida yang bagian bawahnya lebar sedang bagian atasnya lancip menggambarkan dengan jelas bagaimana sebenarnya sistem tersebut berjalan. Pada bagian atas selalu merupakan posisi leader, sedang pada bagian bawah para followers.

Kepemimpinan dalam berbagai bidang merupakan sebuah kebutuhan, tanpa adanya pengendali puncak, sistem tidak dapat berjalan secara maksimal. Hal alamiyah seperti ini terjadi pada rantai makanan di alam liar.

Keseimbangan terjadi ketika pemangsa atau yang berada di puncak rantai makanan berada dalam jumlah yang jauh lebih kecil dari buruannya, sehingga sumberdaya terpakai namun tidak langka karena terlalu dieksploitasi. Sebaran yang seimbang mencegah juga agar tidak terjadi kelebihan populasi yang mengakibatkan keberagaman di alam terancam.

Dulu ketika masa-masa prasejarah, manusia bisa saja memisahkan diri dan membangun kabilahnya sendiri ketika ia mau. Tapi makin ke sini hal tersebut semakin berbeda. Manusia telah membangun sistem yang amat sangat kompleks yang membutuhkan peran berbagai komponen dalam menjalankan sistem tersebut.

Menjadi para pengikut tentu saja tidak sama dengan menjadi budak atau penyembah-nyembah yang bagaikan kerbau dicucuk hidungnya. Paradigma tersebut merupakan prinsip lama jaman kuda gigit besi dan tidak laku lagi sekarang. Bukan hanya tidak laku sebenarnya tapi tidak akan efektif.

Seharunya memang kesadaran individu tentang peran penting menjadi bagian yang harus mengikut atau berada di bawah harus ditumbuhkan. Mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai hal yang semestinya dilakukan. Karena seperti pemimpin perusahaan yang harus bertanggung jawab terhadap keseluruhan perusahaan melakukan hal-hal seperti mengangkat sampah yang terlewat tukang bersih-bersih kantor tidak perlu menunggu pemimpin tersebut.

Lagi pula, sekarang ini jarak antara pemimpin dan bawahannya tidaklah seperti jaman firaun. Meski pun berstatus pemimpin akan tetapi sistem yang berjalan bersifat tim egalitarian yang membutuhkan kerjasama dari tiap-tiap anggota.

Jadi, bukankah lebih asik menjadi follower saja tanpa beban khayalan yang begitu besar, karena toh semua harus menanggung bebannya masing-masing.