Faedah Nonton Film Serial

Film serial, tidak seperti film di bioskop-bioskop yang sekali tayang selesai (kecuali yang laku keras dan dibikinkan sekuelnya) ada beberapa episode dan mungkin beberapa season yang mesti kita pantengin supaya rasa nontonnya dapat. Selain sebagai alternatif ampuh menghabiskan waktu berjam-jam marathon nonton sampai habis, film serial juga punya manfaat sampingan.

Suka pemainnya.

Jatuh cinta or at leas jadi penggemar pemain filmnya merupakan efek samping yang tidak dapat dihindari dari nonton film serial. Kadang jadi susah membedakan karakter mereka di film dan kehidupan nyata hingga dari yang biasanya cuma menikmati dramanya jadi pecinta aktornya. Padahal biasanya aktor itu masih pendatang baru, kurang terkenal meskipun sudah sempat main di film layar lebar atau sudah tidak laku lagi. Nambah satu deh follower di akun ig-nya yang paling tidak difollow puluhan K people.

Hafal perkataan yang sering diulang-ulang.

Saya pernah nonton serial keluarga Korea dan jadi hapal kata “Aigoo” nya nenek-nenek matriarki iconic keras kepala yang selalu beliau ulang-ulang kalau lagi kesal atau terkejut. Juga nama vibrator khusus manula produk Grace dan Frankie yang sukses mengocok perut dari ide awal hingga proses penasarannya.

Sumber : Amazon

Menikmati alur cerita.

Bagi yang mudah bosan seperti penulis, mengingat alur film yang pernah ditonton agak mustahil sehingga ketika nonton lagi filmnya bisa kayak nonton film baru. Padahal yang harus kita nikmati dari film itu ya alurnya. Tapi, kalau nonton film serial biasanya ada preview atau recap dari episode sebelumnya. Penonton lama-kelamaan terbiasa untuk mengingat jalan cerita film, asalkan filmnya tidak endless, dan menikmati filmnya.

Nambah teman.

Kita juga bisa mendapat teman sepertontonan di grup-grup online yang entah bagaimana bisa sangat rich info mengenai film tersebut. Lumayan nambah teman virtual, selain tetangga kosan atau teman di dunia nyata yang kita paksa nonton dan akhirnya jadi ketagihan juga. Seru juga baca postingan-postingan mereka utamanya yang berupa ramalan episode selanjutnya hingga akhir cerita, memacu kita untuk berharap alur cerita kita sendiri dan juga tentunya jadi makin tidak sabar dengan episode terbaru.

Iklan

Mahkamah Konstitusi : Bubarkan atau Lemahkan

Lembaga buah dari reformasi ini nampaknya semakin tenar saja, tapi seharusnya sekaligus membuat kita menggerutu. Kok ada sebuah lembaga di negara demokratis dengan mudahnya bisa membatalkan undangan-undang produk lembaga yang dipilih langsung oleh rakyat. Maka saya punya dua alternatif untuk Mahkamah Konstitusi (MK) di negara kita ini yaitu bubarkan saja atau lemahkan.

Alternatif pertama adalah dibubarkan saja. Selain menjadi ancaman terhadap demokrasi, ide pengadilan konstitusi telah didengungkan oleh salah seorang pendiri negara ini di rapat bersama para pendiri negara, yaitu rapat Badan Perumus Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI. Pada saat itu, M. Yamin mengungkapkan gagasan pembentukan pengadilan konstitusi ini yang kemudian ditolak oleh para anggota lainnya sehingga kita tidak akan menemukan dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebuah lembaga seperti (MK).

Mereka bukan tidak tahu kalau di dunia kala itu telah ada lembaga yang berfungsi sama, mungkin yang paling mencolok hingga sekarang ini adalah Supreme Court Amerika. Jadi jika dulu saja telah ditolak, mengapa sekarang malah dikokohkan. Bahkan tanpa MK negara kita bisa tetap berdiri kokoh selama puluhan tahun.

Yang kedua adalah dilemahkan. Ide utama trias politika adalah tidak boleh ada konsentrasi power yang begitu besar pada satu lembaga saja, karena power corrupt. Dan korupsi pula lah yang telah terjadi di mahkamah konstitusi.

Korupsi yang tidak terbayangkan dampaknya. Dengan memengaruhi satu orang saja mereka bisa merubah kemenangan seseorang di pilkada. Atau mencabut undangan-undang perlindungan konsumen demi usaha ekspor impor sapi. Mereka bisa menganulir hasil demokrasi, mengabaikan pekerjaan berat tenaga, pikiran dan waktu untuk membuat undangan-undang dan merugikan konsumen atau rakyat banyak hanya karena sogokan atau opini usang yang mereka pegang teguh.

Mereka harus dibatasi. Mereka dapat digabungkan kembali dengan mahkamah agung, sehingga sebagian wewenang mereka akan diambil alih oleh mahkamah agung. Selain itu, harus pula dibatasi kekuasaannya untuk menganulir undangan-undang seperti yang dilakukan di Israel baru-baru ini. Mereka tidak boleh membatalkan undangan-undang yang telah disepakati oleh mayoritas wakil rakyat di parlemen. Jadi dengan menggunakan sistem mayoritas yang selama ini diterapkan di parlemen Indonesia yaitu dua pertiga maka jika telah disepakati oleh mayoritas, MK tidak bisa membatalkan undangan-undang tersebut.

Perwakilan di jajaran hakim konstitusi pun harus memperhatikan komponen bangsa Indonesia. Agar tidak seperti Supreme Court Amerika yang ditunjuk berdasar pemenang pemilu sehingga kemungkinan para hakimnya condong ke satu aliran politik tertentu, maka para hakim harus benar-benar dipilih dari unsur sosial budaya Indonesia ahli yang mengerti betul politik, sosial budaya bangsa.

Mecin dan Bumbu

Kalo anda mungkin ke abang tukang nasi goreng bilangnya jangan pake mecin, saya malah sebaliknya, minta dibanyakin mecinnya. Ini mah reaksi hiperbolik saya saja ketika dengar ada yang minta nasi goreng atau jajanan kaki limanya tidak pake mecin. Bumbu rahasia dari semua masakan Indonesia saat ini, hahaha. Indonesia sudah menjadi salah satu negara pengonsumsi mecin terbesar di dunia.

Padahal dulunya nusantara diidam-idamkan Colombus karena bumbu rempahnya hingga ketika pertama kali melihat orang di pulau Karibian ia langsung mengira dan kemudian menyebut mereka Indian (Indies, east Indies). Perusahaan terbuka pertama di dunia yang kepemilikannya berbentuk saham yaitu VOC pun didirikan hanya untuk eksplorasi bumbu rempah di timur jauh. Nusantara sejak dahulu kala dikenal di seantero dunia (dan akhirat) sebagai penghasil rempah.

Sebagai kawasan maritim yang begitu aktif dalam pedagangan dunia, kawasan nusantara mengadopsi berbagai resep dari belahan dunia lain. Sehingga makanannya kaya akan rasa yang dihasilkan oleh rempah luar dan tentunya lokal. Jadi jangan heran kalau masakan Indonesia berkat hal tersebut berada di deretan makanan terbaik di dunia, seperti rendang crispy (no no no crispy), nasi goreng etc. Tapi semua itu berubah ketika mecin ditemukan, oleh mantan penjajah kita pula.

Tidak banyak yang berubah sebenarnya, masakan di Indonesia masih kaya dengan bumbu rempah. Coba cek di pasar terdekat, berapa ton cabe yang dijual per hari di sana dan lihat reaksi emak-emak kita ketika harga garam naik seribu perak hahahaha. Meskipun tidak masuk kategori sembako, menteri perdagangan bisa ketar-ketir kalau sampai harga bumbu rempah melonjak tinggi.

Yang berubah adalah kebiasaan menambah penyedap dalam proses memasak. Produk mecin (MSG) dan sodara-sodara sekandungannya yang murah meriah telah menjadi soulmate dapur masak. Entah itu di rumah, warteg, kaki lima, bahkan ke kafe mahal pun ada (banyak).

Kalo ditanya mengapa sih ya jelas jawaban singkatnya karena it works, jelas terasa bedanya, ada manis-manis nya haha. Magically zat kimia yang satu ini ternyata benar-benar ampuh memperkuat rasa dan rasa memang gak pernah bohong. Ampuh sampai-sampai membuat jutaan orang ketagihan seonggok karbo yang diplastikin (mie instan) bahkan menjadikannya lauk menemani nasi, duh.

Penulis sendiri scientifically percaya bahwa mecin tidak membuat puyeng atau penyakit mengganggu lainnya secara instan, tidak (belum) ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa mecin menyebabkan ini dan itu. Toh MSG secara alami kan ada di berbagai tumbuhan yang kita makan sehari-hari. Cuma ya kadang kalo mecinnya kebanyakan sih rasa masakan jadi kurang pas.

Hal yang sangat esensial dari bumbu rempah adalah bahwa bumbu itu sendiri yang merupakan penyedap makanan. Kita memasak sesuatu dengan bumbu agar lebih enak. Jadi dengan adanya mecin ini tampaknya secara perlahan bumbu rempah yang kaya itu seolah tidak berarti tanpa penyedap. Bumbu rempah sudah tidak sedap lagi. Tragis memang, tapi beginilah perkembangan manusia sejak dulu kala. Namun kita dapat memilih dan memilah, menggunakan dengan sewajarnya atau meracik bumbu rempah yang ampuh tanpa tambahan mecin.

Istilah Millennial Kurang Cocok Dipakai di Indonesia

Istilah millennial telah menjadi istilah pasaran di Indonesia yang digunakan untuk satu kelompok usia tertentu yang secara kasar merujuk kepada para anak muda saat ini (jaman now?). Sepertinya memang istilah ini sangat membantu bagi berbagai kalangan untuk menjelaskan berbagai hal.

Dunia bisnis menggunakan kelompok usia tersebut sebagai target market, apalagi katanya mereka adalah penggerak dunia virtual yang serba viral. Para politis berusaha merebut suara mereka, bahkan ada partai yang mengaku sebagai representasi kaum millennial di negara ini. Sedangkan para orang tua melihat mereka sebagai generasi baru yang tidak bisa lepas dari gawai. Mereka semua menggunakan istilah millennial dengan segala cap tersebut.

Tapi, istilah millennial menurut saya merupakan istilah yang tidak bisa dilepaskan dengan negara Amerika Serikat tempat kalahirannya dan secara lebih luas negara-negara barat. Selain fakta bahwa kata itu juga masih dalam bahasa Inggris belum diubah kedalam bahasa aneh-aneh lucu (seperti daring, gawai, unduh etc). Keterikatan kuat makna kata millenial dengan Amerika dikarenakan faktor demografi khas Amerika.

Jika melihat sejarah Amerika, maka jelaslah istilah ini digunakan untuk generasi yang lahir pada dekade 80an hingga 2000an awal. Sebelum generasi ini terdapat generasi X yaitu generasi antara tahun 60an hingga 80an awal. Lalu sebelumnya ada generasi baby boomers, generasinya Bill dan Hillary Clinton, Bush Jr, Trump dst, generasi yang lahir setelah perang dunia kedua. Ketika itu terjadi ledakan pertumbuhan penduduk karena Amerika menang perang, mereka menjadi negara paling makmur di dunia dengan program padat karya dst.

Sedangkan di Indonesia ketika mereka mengalami boom kita masih kacau balau dengan invasi Belanda, parlemen gonta-gantik like a girl changes her clothes, pemberontakan hingga pe kak i. Sementara mereka sudah mulai mengenal komputer di Amerika tahun 80an kita di Indonesia tengah asik menikmati kediktatoran orde baru dengan program mereka seperti KB. Siaran TV saja waktu itu cuma satu mau dibandingkan dengan generasi personal computer yang lagi booming di Amerika.

Yang menurut saya paling getol menggunakan istilah ini sebenarnya media, termasuk media di Indonesia. Artikel-artikel hasil kopi paste dari media Amerika mereka jadikan sebagai bahan bacaan orang Indonesia. Padahal sesuai sejarahnya yang khas di Amerika itu, membaca millennial Amerika dan meyetarakannya dengan millenial Indonesia adalah tidak tepat. Misleading, jauh panggang dari penggorengan, abal-abal, kurang kompeten.

Akan sangat lucu, di Amerika ketika para anak muda yang baru lulus terbebani dengan utang yang banyak di Indonesia tidak ada sistem student loan. Ketika mereka begitu shock dengan para sarjana yang balik ke rumah orang tua mereka, tidak ada budaya ego tinggi keluar rumah setelah dewasa di Indonesia. Ketika mereka tidak membeli mobil, di Indonesia malah penjualan mobil lagi tinggi-tingginya. Kepemilikan mobil di Indonesia sekarang ini berarti status sosial yang lebih tinggi sedangkan di sana anak SMA saja hadiah ultahnya mobil. Banyak stereotypes millennial Amerika yang tidak pas di Indonesia.

Bagaimanapun kita tidak bisa memisahkan istilah millennial dari cap melek teknologi, hal ini yang bisa menghubungkan istilah millennial Indonesia dan barat. Meskipun sekarang ini yang usia 40an juga banyak yang sudah melek teknologi.

Indonesia Butuh Dosen Impor

Pemerintah berencana mengimpor dosen demi meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Agak sadis juga sih kalo menggunakan istilah impor, dosen itu manusia bukan barang kan. Sebagai negara yang sangat nasionalis kebijakan ini akhirnya harus terpaksa diambil pemerintah. Pasti akan banyak penolakan, kalo ekspor mah kita bangga.

Faktanya adalah meskipun sudah meningkat, kualitas pendidikan utamanya pendidikan tinggi di Indonesia memang masih sangat jauh tertinggal. Secara kasat mata hal ini bisa dilihat dari peringkat dunia perguruan tinggi Indonesia yang tidak pernah muncul dalam daftar seratus besar dunia, kalah jauh dari negara jiran Singapore bahkan dengan Malaysia pun masih kalah.

Banyak faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah, salah satu yang paling utama ya kualitas pengajar dalam hal ini dosen. Indonesia tidak kekurangan dosen lagi seperti dulu, bukan jumlahnya. Bukan pula pendidikan mereka, banyak yang sudah bergelar doktor. Tapi yang kurang adalah kualitas dosennya.

Kualitas seorang pengajar ditentukan dari kemampuan dia mentrasfer ilmu ke siswanya. Tapi untuk mentrasfer ilmunya sang pengajar harus benar-benar paham betul apa yang ia ajarkan. Agar paham, maka sang pengajar harus terlebih dahulu belajar, dan belajar adalah proses panjang yang tidak pernah berhenti. Bagi dosen, proses belajar yang amat penting sebenarnya adalah penelitian. Mereka harus terus melakukan riset dengan menerapkan ilmu yang telah dipelajari dan kemudian mempublikasikannya agar dijadikan sumber referensi dan juga diperdebatkan.

Nah, dosen yang rajin riset di Indonesia supply nya langka, paling yang tersedia dosen multi kampus atau dosen pejabat gaya ningrat yang dua-duanya UUD (ujung-ujungnya duit). Karena katanya honor di kampus asal kecil, para dosen multi kampus terpaksa menyasar kampus-kampus ruko. Waktunya terbagi, mahasiswanya banyak, bahan kuliah yang diajarkan juga tidak disiapkan dengan matang. Riset? Ga sempat. Apalagi yang senior bak ningrat, egonya setinggi pohon kelapa, jadi kepala prodi atau dekan dst dikit gayanya sudah seperti birokrat jaman kompeni, lirik-lirik proyek ujung-ujungnya berjaket orange ala KPK padahal udah professor. Riset ga sempat dan lebih miris lagi kayaknya sih ga bisa riset, hahaha.

Soal dosen lulusan luar negeri sebenarnya di Indonesia ada banyak. Cuma ya kalo orang Indonesia lagi kan yaah, apalagi yang sarjananya di Indonesia. Banyak perguruan tinggi beken di barat yang tidak mempekerjakan lulusannya sebagai dosen. Alasannya agar keilmuan itu tidak muter-muter di situ saja, biar ada perspektif lain.

Soal price, gaji di Indonesia yang sepertinya tidak kompetitif juga kurang relevan dijadikan alasan atau bisa diakali. Biaya hidup di Indonesia kan bisa relatif lebih rendah, jadi nawar dikitlah ke mereka. Apalagi sekarang ini sudah banyak kelas internasional (kelas mahal) para dosen impor itu sebaiknya ditempatkan di kelas seperti ini. Selain masalah gaji yang bisa disesuaikan mereka pun tidak perlu pusing dengan masalah bahasa.

Ilmu pengetahuan seharusnya memang tidak mengenal batas imaginer negara bangsa. Kalo buku-buku karya orang asing nun jauh di sana saja kita jadikan textbook, riset mereka kita jadikan rujukan, kenapa tidak sekalian orangnya juga kita bebaskan menjadi dosen di sini demi kualitas pendidikan kita yang lebih baik.

Teman Para Pecundang

Well, they’re not looser at all tbh, if I have to point one that would be me haha. Yeah I was there for them, or at least I tried and I will always try. The one yang awkward, pendiam, aneh-aneh etc. I tried to be with em, bicara, jalan, makan, becanda.

At first I thought I’m the superior one. But as I blend in with them, one by one from time to time, I realized that we have something in common. Or we are just the same, I’m a weirdo too. Maybe my superiority is my ability to spot em, thanks to our hunter gather ancestors bla bla bla a bit scary but huh.

It’s so interesting to talk with them. You just don’t know where the conversation is going. You might love their stories and sit there with em to listen or vice versa. Sometimes they will bring you to places you never visit or even thingking about before. But you can also bring them to places or anything and see a glimpse of smile in their faceses that will make your day.

One thing to keep in mind is that they/we are weirdo haha. Don’t expect too much, they can’t be normal or act like one every single day. You must not be exhausted, yeah you may freakout lil bit or leave that’s okay. But please, don’t break anyone heart, we human have so many problems already kan.

Kos-Kosan Harus Diregulasi

Sumber : mamikos

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, harga tanah semakin naik baik karena pembangunan gedung-gedung bertingkat juga karena urbanisasi. Mobilitas antar kota juga sangat tinggi di negara kita. Belum lagi faktor pendidikan, sebagian besar mahasiswa pasti ngekos. Banyak orang yang tinggal sementara di kota, untuk sekadar mencari nafkah mungkin juga memiliki sedikit harapan jika beruntung bisa tinggal di kota. Namun, banyak juga yang hanya mampu membeli rumah di daerah satelit nun jauh dari kota dengan alasan harga yang lebih murah, dan terpaksa jika tidak ingin terbebani dengan biaya commuting tiap hari harus ngekos di kota.

Sesuai hukum ekonomi, ada demand pasti supply menyusul. Maka bertebaranlah kos-kosan di seluruh penjuru Indonesia, bukan di kota saja, di pedesaan pun ada. Beragam jenis kosan bermunculan, mulai dari yang sempit kotor dan menjijikan sampai yang luas bersih bak apartemen mewah tersedia di pasaran. Anda bisa menemukan semua jenis kosan ini di ibu kota, apartemen pun banyak yang dibikin dengan konsep kosan.

Sebenarnya tanpa aturan, kos-kosan tumbuh dengan menggiurkan. Cek saja harga tanah di lingkungan kampus atau lokasi dekat perkantoran, permeternya bisa berlipat ganda dari NJOP. Banyak yang memarkirkan uang mereka di bisnis kosan, bahkan rela berhutang di bank demi bikin kos-kosan, berharap dapat return yang stabil yang bahkan akan menghasilkan sendiri dengan hanya duduk-duduk di rumah. Gampang sekali mendeklariskan bangunan sebagai kosan, tinggal pasang papan iklan dan bumbuhi dengan kata-kata kosan maka resmilah bangunan tersebut menjadi kosan.

Tidak ada regulasi spesifik mengenai kos-kosan, kecuali mengenai pajak kos. Mungkin secara umum ada aturan main yang bisa diterapkan, seperti kontrak, izin bangunan dst. Tapi aturan spesifik mengenai standar kos-kosan dan tetek bengeknya tidak ada, silahkan periksa di undang-undang. Yang ada hanya perda-perda yang lebih menekankan pada sisi kesusilaan dan tentu saja tidak akan pernah menggrebek kosan yang tidak memiliki fasilitas basic bahkan jika tertera dalam perda merek.

Yang terlupakan adalah konsumen. Para anak kosan tidak terlindungi dari berbagai efek negatif kosan yang tidak diregulasi. Dan hal ini tidak melulu berdampak pada anak kosan melilit saja, tetapi equally berdampak pada yang elit juga. Tidak ada keharusan bagi pemilik kosan untuk menyediakan hal-hal kebutuhan basic memadai, seperti ruangan yang cukup, fentilasi udara, wc yang bersih, air yang bersih dll. Padahal hal-hal tersebut sangat vital bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Konsumen harus memilih-memilih sendiri diantara ratusan kosan untuk mendapatkan kosan yang ideal yaitu yang dilengkapi dengan fasilitas basic tersebut. Banyak yang harus merelakan keabsenan salah satu atau bahkan mayoritas dari fasilitas tersebut demi alasan harga. Karena hargalah yang menentukan ketersediaan fasilitas, bukan aturan. Para pemilik kosan pada umumnya mengaitkan antara ketersediaan fasilitas basic dengan harga, diluar faktor lokasi. Tidak ada keharusan bagi mereka, tidak ada yang bisa memaksa, kalau tidak suka cari kosan lain.

Bagi yang berduit tentu gampang, tinggal cari yang lengkap. Tapi, yang katanya lengkap ini pun ada kekurangannya. Seperti semua bangunan kosan yang ada di negeri ini, tidak ada yang bisa menjamin bangunan yang dijadikan kos-kosan tersebut dibangun dengan benar. Yang paling sering terjadi juga adalah sirkulasi udara yang tidak bagus, karna dempet-dempetan atau rancangan yang sesuka mereka. Bahkan harga pun bagi yang berduit bisa saja sangat tidak masuk akal, entah sadar atau tidak, padahal dengan regulasi harga bisa ditekan.

Bagi pengusaha juga kondisi seperti ini tidak akan menguntungkan dalam jangka panjang. Karena persaingan yang tidak sehat dengan perang harga, yang biasanya berarti mengurangi kualitas bangunan atau memotong fasilitas, hanya akan merugikan para pemilik kosan. Padahal investasi kos adalah investasi jangka panjang atau paling tidak jangka menengah yang harus menunggu bertahun-tahun agar balik modal dan kemudian untung.

Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah mengeluarkan regulasi yang mungkin bisa disejajarkan dengan industri hospitality lain seperti perhotelan mengenai industri kos-kosan. Karena jika tidak, konsumen dan pengusaha pun akan terus dirugikan oleh ketiadaan regulasi yang jelas.