Ketika Penulis Dipajaki

Selain Tere Liye, Dewi Lestari dst ada juga loh penulis lain yang dengan happy nya nulis aja, tidak mengharap duit dari nulis yang masih tersisa kalo dikurangi batas tertentu menurut aturan pajak. Karena memang tulisannya simply jelek hahahaha, ga jual able, ga banyak yang minat baca, kurang ini itu.

Begini, setau saya ya, di negara yang pajaknya kalo ditotal-total nyekik banget kayak Amrik itu kalau politisinya pensiun apalagi setingkat presiden mereka bisa dapat jutaan dollar dari nulis buku. Baca lebih lanjut

Iklan

Indonesia Tidak Akan Menjadi Negara Maju

kapan-indonesia-jadi-negara-maju

Ilustrasi : malesbanget.com

Indonesia tidak akan menjadi negara maju di tahun 2020 dan dalam jangka waktu yang agak panjang di tahun 2030 atau 2040 bahkan mungkin juga di tahun 2050 Indonesia tidak akan menjadi negara maju menurut standar di tiap dekade tersebut. Ini merupakan pandangan kontrarian pribadi saya terhadap begitu banyaknya artikel, ataupun riset dll yang menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara maju pada dekade-dekade yang akan datang.

Ekonomi 

Ekonomi Indonesia setelah krisis 1998/1999 mengalami perbaikan yang lumayan lamban. Ekonomi Indonesia juga tidak pernah tumbuh semenggairahkan China atau Jepang dengan berbagai transformasi fantastis negara mereka untuk memberikan value pada hasil produksinya. Ekspor masih didominasi SDA yang raw banget, berbagai barang berteknologi tinggi yang dikonsumsi masyarakat tiap hari kalo ga merek Jepang ya buatan China.

Konsentrasi ekonomi hanya terpusat di Jawa dan berbagai upaya yang dilakukan seperti aturan keras tentang ekspor barang tambang mentah malah dilonggarkan. Padahal ada puluhan juta warga Indonesia lain di luar pulau Jawa dan lebih dari itu, di Jawa pun ketimpangan tidak pernah bisa diatasi.

Sumber Daya Alam 

Syair lagu lama, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, gemah ripah lu jinawi, sepertinya harus dikesampingkan jauh-jauh. Indonesia memang tanahnya subur, berbagai jenis mineral ada di dalamnya.

Namun, kecuali steam coal, refined tin dan nickel ore, Indonesia bukan produsen bahan tambang terbesar di dunia bahkan sudah pernah keluar dari OPEC gara-gara berstatus net improter minyak sementara cadangan minyaknya juga tidak lama lagi akan habis. Sawit yang diandal-andalkan tiap tahun dicekek di Eropa, karena memang merusak alam Sumatra dan Kalimantan dll.

Politik

Hmm, you know sendiri lah hahahaha

Efek Samping Era Teknologi Informasi : Misinformation

Here we are, in the new era, era teknologi informasi yang sebenarnya sangat membantu kehidupan kita sebagai umat manusia. Entah berapa triliun us dollar yang telah kita hemat berkat atau kita dapatkan dari teknologi informasi, untuk lebih spesifiknya internet atau world wide web (www).

Eh itu apa, googling aja, eh ini apa googling, eh dia siapa, buka fb, ada isu apa, buka twitter, berita apa ya tinggal cari berita onlinenya, pengen liat cara bikin ini, buka youtube, etc etc. Bukan cuma yang fun fun saja, di dunia akademik atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan ide keberadaan internet sangat membantu.

Tapi, akhirnya titik kulminasi itu pun muncul ke permukaan. Terpilihnya seorang demagogue di negara adikuasi tunggal dunia (Trump) menyadarkan kita semua bahwa berita atau rumor atau apalah itu di internet dapat berdampak yang sangat merusak.

Jadi apa sih penyebabnya ? To be honest, misinformation udah ada dari jaman baheula, jaman syaiton ngasih tau adam dan hawa kalau buah khuldi itu bagus untuk umur panjang. Meaning, misinformasi itu udah ada sejak jaman dahulu, sudah ada jaman-jaman awal terkenalnya internet.

Kenapa jadi sangat berbahaya sekarang ini ya karena internet semakin cheap, murah meriah. Bayangkan saja, untuk beli alatnya (hp) dengan 500k saja sekarang ini udah bisa, koneksinya malahan dimana-mana gratistis tis (wifi). Daan semua orang seolah dipaksa untuk ikut bergabung, kalo nda ada internet ga bisa narik ojek, ga bisa chat, ga bisa bayar ini itu, etc etc.

Mau bukti ? Liat saja di youtube. Tidak beberapa lama yang lalu untuk mendapatkan 1 billion viewer itu sebuah rekor tersendiri bagi sebuah video, kalo ga salah yang awal-awal itu si Beiber sama Oppa. Nah skarang ? Udah bwanyak yang nembus angka itu bahkan dobel. Ya di Indonesia juga bisa keliatan tuh dangdut-dangdut retjeh viewernya sampe puluhan juta (sakitnya tuh di mana yaaaa).

Hal yang menarik dari internet itu adalah terkoneksinya orang dengan interest yang sama. Sama-sama suka bola, jadi yang dikunjungi situs itu, yang ditonton ya channel yang itu, yang dishare ya berita itu. Begitu juga dengan ide atau pandangan yang sama, ya mereka jadi berpola. Yang dibaca ya berita dari situ itu, yang difollow ya orang yang itu (let say Jonru) etc.

Kebetulan saya kurang aktif di grup BBM atau WA, jadi tidak sampai ikut-ikutan dengan berbagai hoax yang pernah beredar. Tapi dari polanya ya mungkin sama saja dengan grup-grup facebook yang dulu sempat ada, ngeshare berita-berita yang miring, dengan fakta yang cukup mencengangkan namun sangat tidak berdasar sama sekali.

Berdasarkan berbagai study yang saya baca, sekarang ini polariasinya semakin nampak saja. Kita bisa mengetahui seseorang, utamanya pandangan politik, dari newsfeed sosial medianya (facebook, twitter?). Katanya jika diambil dua sampel orang dengan pandangan politik yang berbeda maka feeds yang mereka baca setiap harinya akan sangat berbeda pula. Bahkan untuk satu topik yang sama.

Apalagi kecanggihan algoritma situs-situs besar kayak facebook dan google yang memang dirancang untuk menampilkan hal-hal yang berdasarkan hasil ‘sadapan’ mereka atas aksi sukarela kita di dunia maya yang malah menampilkan berbagai berita atau postingan yang sesuai dengan tafsiran mereka atas interest kita. Jadi berita atau potingan yang kita liat tiap hari ya yang dari sumber itu itu saja, atau dengan tema itu itu saja atau interest yang itu-itu saja.

Satu hal lagi yang ternyata kita sadari bersama dengan fenomena ini, bahwa perusahaan-perusahaan penjaja informasi (koran ternama, tv, majalah etc) selama ini memang belum pernah betul. Mereka biasanya dikuasai oleh interest tertentu dengan berbagai cabang dimana-mana dan tentu saja sudah terlanjur terkenal yang pada dasarnya tidak lagi berkompetisi dengan internet, karena dengan mudahnya mereka tinggal memindahkan konten mereka ke versi online juga menjadi rujukan utama di internet saat ini. Kita akhirnya dapat membandingkan bagaimana mereka membungkus informasi mereka tersebut, sudut pandangnya, dst. Yaah, beigutlah cara mereka beroperasi sejak jaman dahulu kala.

Bias, pemberitaan yang tidak berimbang, too much opinion and less fact, etc etc. Merekalah yang menjadi contoh wikileaks, buka bukaan data yang seharusnya rahasia atau data pribadi yang tidak ada urgensinya dipublikasi. Merekalah yang menjadi panutan situs-situs hoax untuk membungkus fakta-fakta lemah menjadi berita viral sensasional.

*hahaha, hati-hati artikel ini mengandung unsur opini tingkat retjeh