Kos-Kosan Harus Diregulasi

Sumber : mamikos

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, harga tanah semakin naik baik karena pembangunan gedung-gedung bertingkat juga karena urbanisasi. Mobilitas antar kota juga sangat tinggi di negara kita. Belum lagi faktor pendidikan, sebagian besar mahasiswa pasti ngekos. Banyak orang yang tinggal sementara di kota, untuk sekadar mencari nafkah mungkin juga memiliki sedikit harapan jika beruntung bisa tinggal di kota. Namun, banyak juga yang hanya mampu membeli rumah di daerah satelit nun jauh dari kota dengan alasan harga yang lebih murah, dan terpaksa jika tidak ingin terbebani dengan biaya commuting tiap hari harus ngekos di kota.

Sesuai hukum ekonomi, ada demand pasti supply menyusul. Maka bertebaranlah kos-kosan di seluruh penjuru Indonesia, bukan di kota saja, di pedesaan pun ada. Beragam jenis kosan bermunculan, mulai dari yang sempit kotor dan menjijikan sampai yang luas bersih bak apartemen mewah tersedia di pasaran. Anda bisa menemukan semua jenis kosan ini di ibu kota, apartemen pun banyak yang dibikin dengan konsep kosan.

Sebenarnya tanpa aturan, kos-kosan tumbuh dengan menggiurkan. Cek saja harga tanah di lingkungan kampus atau lokasi dekat perkantoran, permeternya bisa berlipat ganda dari NJOP. Banyak yang memarkirkan uang mereka di bisnis kosan, bahkan rela berhutang di bank demi bikin kos-kosan, berharap dapat return yang stabil yang bahkan akan menghasilkan sendiri dengan hanya duduk-duduk di rumah. Gampang sekali mendeklariskan bangunan sebagai kosan, tinggal pasang papan iklan dan bumbuhi dengan kata-kata kosan maka resmilah bangunan tersebut menjadi kosan.

Tidak ada regulasi spesifik mengenai kos-kosan, kecuali mengenai pajak kos. Mungkin secara umum ada aturan main yang bisa diterapkan, seperti kontrak, izin bangunan dst. Tapi aturan spesifik mengenai standar kos-kosan dan tetek bengeknya tidak ada, silahkan periksa di undang-undang. Yang ada hanya perda-perda yang lebih menekankan pada sisi kesusilaan dan tentu saja tidak akan pernah menggrebek kosan yang tidak memiliki fasilitas basic bahkan jika tertera dalam perda merek.

Yang terlupakan adalah konsumen. Para anak kosan tidak terlindungi dari berbagai efek negatif kosan yang tidak diregulasi. Dan hal ini tidak melulu berdampak pada anak kosan melilit saja, tetapi equally berdampak pada yang elit juga. Tidak ada keharusan bagi pemilik kosan untuk menyediakan hal-hal kebutuhan basic memadai, seperti ruangan yang cukup, fentilasi udara, wc yang bersih, air yang bersih dll. Padahal hal-hal tersebut sangat vital bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Konsumen harus memilih-memilih sendiri diantara ratusan kosan untuk mendapatkan kosan yang ideal yaitu yang dilengkapi dengan fasilitas basic tersebut. Banyak yang harus merelakan keabsenan salah satu atau bahkan mayoritas dari fasilitas tersebut demi alasan harga. Karena hargalah yang menentukan ketersediaan fasilitas, bukan aturan. Para pemilik kosan pada umumnya mengaitkan antara ketersediaan fasilitas basic dengan harga, diluar faktor lokasi. Tidak ada keharusan bagi mereka, tidak ada yang bisa memaksa, kalau tidak suka cari kosan lain.

Bagi yang berduit tentu gampang, tinggal cari yang lengkap. Tapi, yang katanya lengkap ini pun ada kekurangannya. Seperti semua bangunan kosan yang ada di negeri ini, tidak ada yang bisa menjamin bangunan yang dijadikan kos-kosan tersebut dibangun dengan benar. Yang paling sering terjadi juga adalah sirkulasi udara yang tidak bagus, karna dempet-dempetan atau rancangan yang sesuka mereka. Bahkan harga pun bagi yang berduit bisa saja sangat tidak masuk akal, entah sadar atau tidak, padahal dengan regulasi harga bisa ditekan.

Bagi pengusaha juga kondisi seperti ini tidak akan menguntungkan dalam jangka panjang. Karena persaingan yang tidak sehat dengan perang harga, yang biasanya berarti mengurangi kualitas bangunan atau memotong fasilitas, hanya akan merugikan para pemilik kosan. Padahal investasi kos adalah investasi jangka panjang atau paling tidak jangka menengah yang harus menunggu bertahun-tahun agar balik modal dan kemudian untung.

Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah mengeluarkan regulasi yang mungkin bisa disejajarkan dengan industri hospitality lain seperti perhotelan mengenai industri kos-kosan. Karena jika tidak, konsumen dan pengusaha pun akan terus dirugikan oleh ketiadaan regulasi yang jelas.

Iklan

Menghadapi Orang Kasar Di Sosial Media

Kemarin saya sempat iseng-iseng ngomen di postingan menteri keuangan. Ini bukan pertama kali sih saya iseng ngomen di sosial media, sudah sering saya ngomen entah itu di status orang atau postingan akun berita.

Seperti yang terlihat di screenshoot saya itu, ada ratusan yang like lope atau apalah. Yang bikin wowow sebenarnya adalah komennya yang ternyata ratusan juga. Bahkan hingga detik ini masih bermunculan.

Namanya juga sosial media, saya sudah sadar kalau ngomen ya pasti ada backlash nya. Pasti adalah saja yang setuju dan tidak setuju. Apalagi masalah politik, sudah kubu-kubuan.

Karena basically lagi iseng, saya kepoin, siapa sih mereka-mereka ini. Bukan cuma yang komen negatif tapi juga yang komen positif dan yang ngelike. Ternyata beragam juga yang berinteraksi.

Yang saya agak kurang suka sebenarnya adalah cacian dan makian yang luar biasa. Selain juga yang pada nuntut supaya pengkritik disuruh kasih solusi atau nunjukin prestasi, meh. Entah itu dari cyber army pendukung yang dikomen atau dari masyarakat biasa. Mulai dari yang berpendidikan rendah sampai lulusan luar negeri.

Well, saya bisa lebih kasar lagi sih. Atau bahkan lapor ke polisi, biar makin seru hahaha. Tapi gimana gitu ya. Nanggepin satu-satu itu kayaknya melelahkan juga.

Saya memang biasanya ga ngomen-ngomen lagi abis kasih komen gitu, udah satu aja. Atau kalau memang gatel pengen nambahin ya nambahin, paling link, atau ketawa hahahaha. Meskipun banyak yg sebenarnya butuh dibales karena bisa misleading atau kita keliatan kurang kompeten dst ya udah aja biarin.

Nanti juga seminggu yang akan datang pada lupa. Bahkan saya baca makian mereka sebagai penghibur dikala buang hajat. Kita juga jangan lupa, ada banyak yang pro dengan komen kita. Mereka akan membumbui komen-komenan jadi seru, untuk ditonton.

Mengapa Saya Bukan Feminis

Mengapa ya? Ya ga apa-apa, itu pilihan hidup, terserah saya. Bukan berarti saya anti women empowerment atau anti equal pay etc. Saya hanya tidak setuju dengan feminisme dan oleh karena itu saya bukan feminis.

Saya tidak pura-pura buta dengan fakta bahwa di negara saya sendiri meskipun perempuan bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan sejak dulu kala seperti menjadi ratu, panglima perang atau presiden sekalipun. Masih tetap ada banyak kasus penindasan atau diskriminasi terhadap perempuan.

Ketika berbicara isme maka ujung-ujungnya adalah label. Melekat pada diri seseorang yang memproklamirkan bahwa mereka adalah bagian dari isme tersebut.

Parahnya adalah, dengan memproklamasikan seperti itu banyak yang dengan mudah mengaku-ngaku feminis. Padahal aslinya predator seksual yang mengincar para perempuan. Dijadikan jembatan keledai untuk memoles diri, utamanya para politisi, sebagai orang yang progressif.

Sementara menyederhanakan pendukung hak perempuan sebagai feminis juga berarti bahwa kita akan terikat dengan keseluruhan identitas gerakan feminisme. Termasuk sisi ekstrimnya.

Para feminis ekstrimis itulah yang suka demo buka dada, pamer alat seksual mereka di depan umum tanpa mempertimbangkan aspek kepantasan dan berbahaya bagi anak kecil walaupun disukai bapak-bapak sebenarnya.

Ada pula yang melangkah terlalu jauh sampai membenci lelaki. Karena dengan menyebutkan femininity maka secara tidak langsung yang mereka lawan adalah masculinity. Cara terpendeknya ya benci lelaki. Ada pula yang sukanya cuma sama sejenis dan mempromosikan hal tersebut demi supremasi wanita. Kalo wanita sudah tidak butuh pria ya mereka bisa mandiri termasuk sexually.

Hal yang membingungkan juga dari mereka ini adalah trend baru yang didukung oleh orang-orang sejenis mereka, LQBTQrstuvwxyz. Yaitu gerakan pendukung transgender dan genderless. Bagaimana mereka akan memosisikan gerakan mereka ini terhadap gender-gender tambahan tersebut. Bagaimana disparitas gaji antara puluhan gender tersebut? Hahahaha.

Bagaimanapun, lelaki dan perempuan punya hak masing-masing yang tidak bisa dinafikkan. Menggunakan ide utama gerakan pada korban-isasi seolah setiap perempuan yang lahir ke dunia ini punya dosa bawaan yaitu menjadi korban lelaki sangatlah tidak tepat.

Ada milyaran perempuan yang tidak menjadi korban kekerasan atau ketidakadilan lelaki di dunia ini. Kalau pun ada kasus-kasus kriminalitas maka hal yang sama juga equally terjadi pada pria. Kalau ada KDRT, ya laporkan, tapi tidak semua istri disiksa suaminya di dunia ini. Kalau anda disiul-siul di jalan, get over it, banyak juga cowok hot yang kalo jalan atau lewat digituin (bahkan oleh om-om juga Pffft).

Women empowerment sendiri punya efek sampingnya karena tidak digunakan dengan benar. Menaruh perempuan pada berbagai posisi yang menunjukkan bahwa mereka setara dengan lelaki merupakan pembenaran pada konsep yang mereka sebut sebagai sistem lelaki. Banyak yang mencapai posisi-posisi glass ceiling dengan mengorbankan hak-hak mereka sendiri, seperti dengan tidak memiliki anak dst.

Ketidakadilan itu tidak bisa diperjuangkan dari satu sisi gender saja. Ketidakadilan merupakan masalah umat manusia dan hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan yang menggunakan cara-cara yang adil, cara manusia.

Hoax dan Monopoli Kebenaran

Negara demokratis tidak boleh memonopoli kebenaran dan melakukan witch hunt atau cherry picking terhadap para penyebaran hoax. Mengejar-ngejar para tertuduh penyebar hoax dengan nafsu birahi dan tentu saja pilih-pilih target operasi hanyalah bukti bahwa upaya tersebut merupakan kesalahan fatal dalam berdemokrasi.

Siapa yang akan menentukan sesuatu itu hoax atau bukan ? Hakim ? Polisi ? Pemerintah ? Oh iya, masih ada undangan-undang fotokopi sisa penjajah yang di negara asalnya sendiri sudah rivisi buat dijadikan alat kan ? Atau undangan-undang anti kebebasan ITE yang membatasi ruang gerak netizen dan bisa tiba-tiba digunakan untuk menangkap orang-orang tertentu yang kebetulan bikin kita marah atau berada di sudut lain pilihan politik kita kan ?

Tindakan represif seperti ini akan membuat semua orang takut untuk berbicara. Tidak akan ada lagi yang berani memberikan opini secara terbuka terhadap perilaku para penyelenggara negaranya karena akan ditangkap sekaligus diadili oleh yang menangkap.

Takut kalau masyarakat akan terpengaruh oleh hoax juga sebenarnya merupakan penghinaan terhadap masyarakat. Maaf masyarakat tidak sebodoh itu.

Disisi lain dengan tindak tersebut, jurnalisme mainstream juga dianggap tidak penting lagi sebagai salah satu pilar demokrasi dalam melakukan fungsi utama mereka yaitu menyampaikan fakta. Padahal, secara alamiah mereka sangat cocok untuk tugas counter hoax, seperti di Amerika sono ada program factcheck.

Oh iya, jangan lupa berangan-angan dengan kemungkinan di masa depan ketika pemilu menghasilkan diktator, mereka akan sangat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya fasilitas yang diberikan cuma-cuma ini.

Democracy dies in the darkness

The Perk of Being Bukan Traveller

Hahahaha, I proudly declare dat I’m not a traveller. Probably because my contrarian tendency sih and much to do with money, ujung-ujungnya. Dua hal itu dan berbagai circumstances lainnya menjadi pembatas antara me and the rest of you who call yourself traveller or whatever the hell you wanna call it.

Don’t get me wrong, I know how ‘traveling’ change the world, Marco Polo, Ibnu Batutah, the first human out of Africa etc. Exited and challenging. I read the Lonely Planet years ago, such a nice guide. The boom, thanks to capitalism (and Hippies) traveling jadi something. Jutaan orang bepergian jadi turis, karna serba gampang.

For my contrarian tendency ini opportunity sebenernya, beda with the rest of the world (or at least a chunk of it). Why ikut-ikutan if one day ga trending lagi, oh comeon.

Aside from dat sih soal money, a sensitive matter. No I’m not a billionaire (not anymore cos Zimbabwe currency dah ga segila dulu hahaha) or even millionaire (in USD term). Put away those motivational stories about low cost traveling, I know what it means, suffering hahaha.

Personally ada temen-temen yang like their peers out there yang suka traveling. I know their gaji or allowances berapa perbulan, even tho they can afford sih tapi math kayak gitu in long term ga bagus. Please nabung, your salary is not your net worth honey.

Baru berapa bulan masuk udah cuti panjang bahkan ada yang baru dipindah hari pertama langsung minta ijin ke menager buat keluar negeri untuk minggu berikutnya, anak jaman now.

Hati-Hati dengan #Metoo

Hastag #metoo menjadi pilihan majalah Times as person of the year 2017 (padahal mah bukan person), ngalahin Prince Mohammad bin Salman dan of course Trump. Simbol ini digunakan para wanita dan bahkan juga pria yang mengaku pernah dilecehkan sebagai bentuk protes sekaligus perlawanan.

Sepanjang 2017 sampai 2018 sekarang ini countless publik figur di US berjatuhan bagai daun di musim gugur. Pembawa acara top seperti Charlie Ross, aktor Kevin Spacey hingga figur utama yaitu Trump yang punya segudang affairs kena juga.

Mungkin karna di Amerika sana dan di sini juga sih sudah terlalu lama tangan-tangan mungil para predator seksual yang selalu horny dibiarkan menjamah leluasa. Karna kekuasaan, ketenaran dan uang para korban mereka tiada berdaya.

Melaporkan pelecehan malah bisa berbuah pemecatan atau sekadar tidak digubris sama sekali oleh hukum bahkan publik pun. Kurang bukti, tidak mampu bayar pengacara top dst, banyak alasan yang menghalangi.

Jadi muncullah hastag metoo, fitur jaman now yang bisa mengalahkan hebohnya artikel gossip Vanityfair. Dengan beberapa kata, jepret jepret tambah hastag lalu post, viral. Murah, gampang dan sedunia bisa tau.

Besoknya penyiar dengan rating tertinggi harus menyingkir, aktor kawakan dengan bwanyak awards dihapus dari film nya yang hampir rilis dan president yang lagi dilantik diprotes jutaan wanita pink.

Tuduhan kayak gini kalo di Indonesia sih bisa dibawa ke meja hijau sehingga konsekuensinya jelas. Walaupun nanti benar salahnya bisa dibuktikan tapi toh tuduhan ya tetap akan berpengaruh bukan saja kepada yang tertuduh. Keluarga utamanya anak-anak tertuduh tentu bisa jadi korban. Efeknya bisa luas.

The Dark Side of Jajanan Kaki Lima

Jajanan kaki lima, meskipun biasanya mah literally kakinya cuma dua merupakan ciri khas yang endeosian banget. We love it, nasi goreng, cuanki, satai, bubur ayam etc. Cem macem lah yang dijajakan gaya kaki-kakian ini.

Kenapa? Ya karna pasti kalo kaki lima mah murah meriah (kecuali yang irrationally mahal). Selain itu juga faktor accessibility nya, kalo ga lewat sendiri ya paling juga jalan dikit ke depan udah nemu. Dan soal rasa, ada yang subahanallah sampe jadi ratusan kaki yang ngantri.

But wait a minute, pertama soal murah. Tho not all sih, tapi ya murah bisa ujung-ujungnya murahan loh. Mungkin mereka bisa cut cost nya karna ga sewa ini itu, tapi really?

Mudah diakses, tapi sebaliknya sih. Kalo si abang-abangnya pengen pipis numpang dimana ? Cuci tangan ga ? Oh wait tangan yang sama dipake bikin jajanan kan ? God no! Aer buat cuci piringnya juga ga kayak di dapur rumah kan ? Paling seember untuk selamanya hahaha.

Soal rasa kan beda-beda, personally sih I love mecin banyak. Sambil makan kita juga harus melupakan kalau minyaknya udah dipakai berkali-kali. Ada debu dan polusi jalanan yang setia menemani dari awal sampe akhir. Keselamatan diri juga tidak bisa dilupakan, karna pernah ada kasus yang lagi makan dikaki lima ditabrak lambo loh.

Bukan nakut-nakutin cuma yaah, pilih-pilihlah jajanan kaki limanya.