Edisi Gak Bisa Tidur Di Akhir Ramadhan, Sebuah Renungan

Suara-suara hilang, lelah letih melengket pada bantal

Mata tak bisa diajak lenyap dalam keheningan, kepala tak henti-hentinya denyutkan sandiwara jiwa

Antara ideal dan kenyataan, ia berbaring tengkurap dan mulai meraba-raba keyboard

Ada dimanakah keharusan berhenti

Sehingga pelik, sehingga juga hilang dalam syair-syair kekacauan

Bertanya tentang hari kemarin, menjawab masa depan tanpa mesin waktu dan memori yang lengkap serta reka-reka yang luput lemah

Maka munculah satu demi satu gambar yang berisikan awal dan akhir di titik-titik ketidakmampuan untuk menyimak

Semua indera yang hanya bisa melongo tak merespon akhirnya memberikan kedunguan abadi

Malam pun bercerita tentang bagaimana ia meninggalkan sore tadi dan hendak berjumpa subuh nanti

Bahwa sekejap mata pun perlu terhitung, apalagi berpindah-pindah emosi itu

A

patah hati tak jadi dua

didih jantung tak merah jua

ikuti pergi mata tak bisa 

ingat kepala maka lupa

bakar jejak tak jadi abu

riang riang di sebrang hampa 

tunggu dinanti tak akan tiba 

cari akal hilang pula 

lari sembunyi itu muka 

teriak laut ombak menyapa

gelap pandang hilang suda

jauh nampak dekat tak ada

kirim salam harap baca 

sapu-sapu taruh di dada

sisip jari sisip rahasia 

Mengapa Jika Aku Mencintaimu, Kamu Tidak Mencintaiku Balik

Karena kamu, iya kamu

Karena kamu terkadang aku

Karena kamu terkadang bingung

Karena cinta tak sebercanda itu

Karena waktu yang tak tepat datangnya

Karena ruang yang tak sering mempertemukan

Karena status yang memberi tingkatan

Karena wajah yang tak bisa ditukar

Karena tingkah yang tak bisa diubah

Karena sudah punya

Karena salah paham dan paham salah

Karena kelamin yang ternyata sama

Karena luka dari masa yang lalu

Karena tidak ingin lagi

Karena karena dia

Biasa

tatapan yang liar, of course never come, tapi tetap menanti kehidupan yang nyata

one day will finally knew, like what yang you wait all the day long, but seperti ini what it’s like, shortened, yang membuatnya berbeda

and for a satu jumpa, menjadi at least, for strangers sebagian, semua itu mungkin it just goes on and on, haha, harus menutup mata agar tidak meliriknya

lalu it seem to fade away, merindukan rasa yang pernah dirasakan, how I wish to pegang awan, menjadikannya air, membekukan litle pain yaaang you once knew

no one at all untuk bercerita, but aku punya segudang playlist, mencoba untuk tidak, but we are all listening, me and my dreams

kadang we hide

Meleleh

melihatmu membuatku meleleh

seperti ice cream yang tadi pagi kujadikan sarapan

seperti hari-hari lainnya yang sama memelelehnya

I think to myself, WOW, cute

try not to blatantly stare back

tiba-tiba dunia berubah semerbak

dan aku menjadi orang gilanya

let out some kind of a reaction when I see cuties

🙂

Kalah

maju lalu berlari dan sembunyikan muka

berlulut dan meneteskan lelah

menghentak-hentakkan perih pada kebisingan kepala

kenapa

bertanya pada semua, kecuali diri sendiri

marah dan memakan diri, mengunyah rasa

lemas tak berhasrat ingin pergi saja

lagi dan lagi lagi

pada jiwa yang lemah

diri yang sendiri

boleh berharap tapi tak boleh menggapai

hilang diri sudah

habis air mata sudah sakit mata sudah

tidak kah engkau berlari darinya ketika bisa

lalu kini jatuh tersungkur tak berdaya

di depannya, diantara kalian berdua

di keheningan sapa

negasi dan rasa cinta

pada dua kaki kecil itu

disertai kepala dan lutut-lututnya

menyerahlah rasakan kekalahan

jangan pernah lagi bertarung dengan panggilanmu

dengan rasa yang tak pernah pergi

yang selalu memanti di persimpangan ragu

dikala tak ada yang melirik

saat kehilangan dirimu sendiri

lalu ia membantu menyusun pecahan pecahannya

membersihkan debu debu yang mengotori jiwa

semoga

Surat Untuk Sedihku

Untuk sedihku yang telah menjadi darah, mengalirlah sepanjang jalan, gelapkan pandang, sepikan hentakan

Buka sulaman, memundurkan jarum, menarik-narik, memisah-misah, jauh-jauh

Marahi sepi, durhakai diam dan tebarkan aromanya

Pakai saja hingga terakhir, hingga menepi juga ke semak belukar kehilangan, yang menyimpan diri, yang menggenggam duri, meratapi cahaya

Bukan pada sesiapa juga, langit tak begitu peduli langit mungkin tak ada

Sering kau membakar lilin, agar asapnya menjadi awan, menjadi hujan, menjadi cair, meleleh

Sedihku pergilah, tinggalkan diriku, ku