Membeli Senyum 

Sini ku beli senyummu

Dengan dua lembar tisu

Yang satu kutaruh parfume

Yang satu buat menghapus lelahmu

Tambah satu botol aqua

Biar hilang haus duniamu

Lalu kita berjalan jalan sebentar

Biar dungu mu terkikis bak sol sepatu

Berhenti kita di pertigaan

Makan Cendol

Supaya kau ingat, gula aren bukan rafinasi

Ambilkan daku foto

Biar tidak semua menjadi selfie

Kita bisa berjalan lagi

Jangan lupa kau bayarkan

Pada ibu itu rasa terima kasih

Karna yang dia jual bukan cairan saja

Tapi dedikasi

Aku akan menggenggam tangan mu

Tidak erat karna kau akan kesakitan

Tidak juga lengah, despacito

Iklan

Kabut Polusi 

Pagi itu, dari sudut Jakarta menuju Benhil

Aku menengadah ke angkasa

Memastikan dugaan

Terlihat kelabu mulai mengepul

Jalanan sudah riak-riak

Selip sana sini

Ku ikuti dengan pandangan

Wajahnya yang hilang ditelan beda arah

Mungkinkah dia berbalik

Atau sadar akan polusi dan pindah kota

Bertemu nanti di hutan raya Dago, atau

Jauh ke pedalaman hutan Sulawesi

Terlihat wajah wajah transisi

Dari gerbong gerbong pagi buta

Di tanah abang

Menuju dua roda jaket ijo

Berakhir di gedung gedung hingga sore malam

Tinggal daku sendiri, senyum

The Unlikely Tangisan

Ada waktu ketika senyum sejajar dengan kertas di atas meja

Sebait rinci bagian dari ide besar yang menanti dikerjakan

Yang setiap kali dianggapnya benar dan yakin tapi salah selalu

Maka tangisannya bersimpul menjadi senyum

Sambil mengundang jutaan suara choir khayalan yang menggema di belakang

Melampaui ketidakmampuan kemudian pada jawaban pasti

Heran

 

 

Recehan

Kutaruh di saku geli

Tukar banyak dapat satu, kasih dua cuma dikit

Bawa pulang tumpuk-tumpuk, berat tak dapat diangukut

Jatuh tak dapat disunyikan

Biar nanti tunggu akhir, malu bawa, malu numpuk

Tanya tanya diri sendiri 

Laku tidak kenapa bikin 

Di warung sebelah malah donasi

 

Edisi Gak Bisa Tidur Di Akhir Ramadhan, Sebuah Renungan

Suara-suara hilang, lelah letih melengket pada bantal

Mata tak bisa diajak lenyap dalam keheningan, kepala tak henti-hentinya denyutkan sandiwara jiwa

Antara ideal dan kenyataan, ia berbaring tengkurap dan mulai meraba-raba keyboard

Ada dimanakah keharusan berhenti

Sehingga pelik, sehingga juga hilang dalam syair-syair kekacauan

Bertanya tentang hari kemarin, menjawab masa depan tanpa mesin waktu dan memori yang lengkap serta reka-reka yang luput lemah

Maka munculah satu demi satu gambar yang berisikan awal dan akhir di titik-titik ketidakmampuan untuk menyimak

Semua indera yang hanya bisa melongo tak merespon akhirnya memberikan kedunguan abadi

Malam pun bercerita tentang bagaimana ia meninggalkan sore tadi dan hendak berjumpa subuh nanti

Bahwa sekejap mata pun perlu terhitung, apalagi berpindah-pindah emosi itu

A

patah hati tak jadi dua

didih jantung tak merah jua

ikuti pergi mata tak bisa 

ingat kepala maka lupa

bakar jejak tak jadi abu

riang riang di sebrang hampa 

tunggu dinanti tak akan tiba 

cari akal hilang pula 

lari sembunyi itu muka 

teriak laut ombak menyapa

gelap pandang hilang suda

jauh nampak dekat tak ada

kirim salam harap baca 

sapu-sapu taruh di dada

sisip jari sisip rahasia 

Mengapa Jika Aku Mencintaimu, Kamu Tidak Mencintaiku Balik

Karena kamu, iya kamu

Karena kamu terkadang aku

Karena kamu terkadang bingung

Karena cinta tak sebercanda itu

Karena waktu yang tak tepat datangnya

Karena ruang yang tak sering mempertemukan

Karena status yang memberi tingkatan

Karena wajah yang tak bisa ditukar

Karena tingkah yang tak bisa diubah

Karena sudah punya

Karena salah paham dan paham salah

Karena kelamin yang ternyata sama

Karena luka dari masa yang lalu

Karena tidak ingin lagi

Karena karena dia