Menyengat Lebah

Sore itu

Bersama sebaya di riang-riang gemirang masa polos

Kami lewat satu pagar

Di persimpangan jalan

Yang kehilangan manusia

Segumpal mahluk kecil

Tengah bekerjasama

Menyulam dalam harmoni

Mengundang rasa ingin

Maka kami mendekat

Tak sampai mendekap

Hanya melempar kerikil

Berharap keajaiban datang

Terbang

Itulah sepenggal kisah

Mengenai bengkak di wajah besoknya

Iklan

The Problematic Aku

The one yang you saw shy shy kucing, tersipu, lari away dari tamu just because meh no people please and at the end of the day wondering mengapa why, mangap-mangap merasa kesepian

The one yang marah marah marah, like always, habis itu nyesel because yaiyalah

The one yang serius as serious as robot, larut menghabiskan all his energi and then just lose it all

The one yang kurang ngaca, as if he itu flawless, trus in front of the mirror senyum sendiri, yes I’m a bit evil

The one yang makan apa saja, termasuk placeses

The one yang punya sejuta mimpi, sehingga berat bangun in the morning, terasa like nempel to the kasur, almost giving up already but as he recount sih kayaknya everyday deh like dis

The one yang suka inappropriately ketawa termehek-mehek di tempat yang ga pas, his wajah expression, no control !

yang mana lagi? 

Maka yang mana lagi

Yang itu yang aku inginkan dan kau tak beri

Maka yang mana lagi

Yang ini yang tak kuinginkan dan kau beri

Maka yang mana lagi

Yang kuinginkan dan kau beri

Maka yang mana lagi

Yang lain yang seharusnya aku inginkan dan seharusnya kau beri

Maka yang mana lagi

Yang dustakan

Jalan Lain

ketika engkau tengah asik masyuk berusaha percaya pada apa yang engkau bayangkan

ternyata jalannya tengah rusak, ada perbaikan

kau kesal

manusiawi bukan?

seolah tak ada jalan lain untuk sampai tujuan

dan jika menoleh sedikit ke belakang kau bisa melihat bekas-bekas perjalanan panjang yang harus terhenti itu

terlalu banyak bukan?

kau pikir jalannya akan baik-baik saja

kau pikir mungkin hanya dengan menunggu dikit, diam bentar atau marah-marah orang lain seperti sebelumnya, akan jalan lagi

ternyata tidak, harus jalan lain

maka hari itu kau terlahir kembali, sadar dari delusi akut yang telah mengaburkan countless persimpangan yang menyediakan jalan lain, sebelum-sebelumnya

kau dipaksa untuk menikmati perjalanan, lagi

yang tak pasti, yang bahkan bisa berujung jalan lainnya lagi

bukankah berjalan berarti hidup itu sendiri

walau dengan, lika-liku simpang sana sini, tikung bahkan putarbalik

tentu kau tau betapa banyak perjalanan lain yang harus mencari jalan lain, cuma capek saja kan kalau lutut mu yang harus merekamnya senti demi senti

maka kau mulailah perjalanan baru saja, segera, mulailah

Membeli Senyum 

Sini ku beli senyummu

Dengan dua lembar tisu

Yang satu kutaruh parfume

Yang satu buat menghapus lelahmu

Tambah satu botol aqua

Biar hilang haus duniamu

Lalu kita berjalan sebentar

Biar dungumu terkikis bak sol sepatu

Berhenti kita di pertigaan

Makan Cendol

Supaya kau ingat, gula aren bukan rafinasi

Ambilkan daku foto

Biar tidak semua menjadi selfie

Kita bisa berjalan lagi

Jangan lupa kau bayarkan

Pada ibu itu rasa terima kasih

Karna yang dia jual bukan cairan saja

Tapi dedikasi

Aku akan menggenggam tanganmu

Tidak erat karna kau akan kesakitan

Tidak juga lengah, despacito

Kabut Polusi 

Pagi itu, dari sudut Jakarta menuju Benhil

Aku menengadah ke angkasa

Memastikan dugaan

Terlihat kelabu mulai mengepul

Jalanan sudah riak-riak

Selip sana sini

Ku ikuti dengan pandangan

Wajahnya yang hilang ditelan beda arah

Mungkinkah dia berbalik

Atau sadar akan polusi dan pindah kota

Bertemu nanti di hutan raya Dago, atau

Jauh ke pedalaman hutan Sulawesi

Terlihat wajah wajah transisi

Dari gerbong gerbong pagi buta

Di tanah abang

Menuju dua roda jaket ijo

Berakhir di gedung gedung hingga sore malam

Tinggal daku sendiri, senyum