Sekelumit Tentang Teh

Pagi ini setelah sarapan ikan goreng dan terong goreng (yup all goreng) saya membuat secangkir teh manis dingin. Sambil meresapi kesunyian disekitar slurtp habis sudah teh super manis itu dalam sekejap. Sejak kecil kami selalu ‘sarapan’ dengan teh. Karena waktu itu semua in a hurry, jadi cuma sempat teh, sarapan benerannya nanti. Jadi teh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari saya.

Mengapa teh? Biasanya di rumah ada tiga jenis minuman yang tersedia sebenarnya mah. Teh, kopi dan sirup (orson atau marjan), teh untuk kami, kopi dan sirup (tapi most of the time habis dalam sekejap, no not me but my ego) untuk tamu.

Teh itu ringan, gaada efek meleknya. Dan kayaknya sih karna teh kami mengandung bwanyak gula jadi yang bikin kita betah sama teh ya gulanya, addicted? Probably. Selain itu teh agak versatile juga. Teh bening, teh agak-agak dark, teh panas, teh anget, es teh, sesuai mood dan selera. Bisa dicelup-celup juga kalo ada biscuit, meskipun nyelup ini punya collateral demage yaitu relatif terhadap biscuit teh nya jadi ga manis.

Nah, soal teh instan yang banyak beredar saya sih cuma jatuh cinta ke satu teh yang di pucuk haha. Why? Because manis, murah meriah dan praktis. Kenal pas jaman kuliah, sering ke warung dua berdempetan dengan tujuan langsung ke jejeran mesin pendingin grasak grusuk nyari teh itu.

Meskipun ada teh dalam botol kaca legendaris yang belakangan ini mulai ketar ketir karna kurang agresif di pasar dan mulai pasang iklan lagi, ituloh yang makan-makan yang lumayan enak (if dingin only sih). Tapi tetap teh cuk pu cuk jauh lebih enak menurut saya. Kalo yang dikotak, meh, kalo yang digelas lumayan, kalo yang di sturbuk biasa je. So, basically I’m a cuk pu cuk inhaler.

Tapi teh juga punya efek samping katanya, ga boleh tuh diminum pas perut lagi kosong, ngaruh ke lambung. Dan tentu gulanya gabisa banyak-banyak, ada teh tawar atau teh hijau yang bisa jadi alternatif. As for now saya memang sudah tidak berani ngeteh (atau ngeh, karna kalo kopi kan jadi ngopi hahahaha) pas perut lagi kosong. Gula udah dikurangi, tapi kadang suka jadi guilty pleasure juga nambahin gula jadi tiga sendok untuk satu cangkir.

Jadi teh bagi saya ya memori dan rasa serta guilty pleasure juga.

Iklan

Istilah Menabung Saham adalah Pembohongan Publik

Sumber : Internet

Ada istilah lucu yang lagi didengung-dengungkan di negara kita tercinta ini yang sedikit membuat saya menggerutu, istilah yang digunakan sejak rezim sebelumnya yaitu nabung saham. Ide utamanya adalah agar masyarakat luas bisa ikutan beli saham.

Supaya pasar saham Indonesia bisa tumbuh, supaya yang nguasain pasar finansial bukan asing lagi dst. Maka bersamaan dengan slogan itu bermunculanlah seminar-seminar, sekolah pasar modal, bahkan retail saham-sahaman masuk kampus.

Salah satu target utama mereka tentunya para pemula. Sedini mungkin masyarakat harus dikenakan dengan berbagai instrumen finansial. Baguskan? Biar melek finansial. Negara-negara maju juga salah satu cirinya yaitu kekayaan mereka lebih banyak dalam bentuk finansial bukan aset real.

Sayang, istilah nabung dan investasi itu adalah dua hal yang sangat-sangat berbeda. Ga bisa disatuin seenak dengkulmu, beb. Gimana sih mau bikin orang teredukasi tapi malah jualan slogan asal-asalan.

Nabung itu ditempat yang aman alias resiko rendah dan dalam bentuk paling cair yaitu cash. Untuk tujuan tertentu, entah pengen beli ini itu atau kalau tidak bisa segera ya di tabung dulu uangnya dan yang paling penting juga buat jaga-jaga untuk keperluan mendadak. Nabung itu ya nyimpen uang dan nabung itu di bank atau lembaga keuangan yang boleh buat nabung atau ya nabung sendiri di tempat yang dianggap aman.

Bunga bank sebenarnya juga bukan sesuatu yang paling diharapkan dari menabung di bank, berapa sih bunga bank. Tidak ada itu istilah mengharap cash flow atau pemasukan dari tabungan. Karena bunga bank pun sebenarnya bergantung pada tingkat inflasi.

Supaya uang yang disimpan di bank itu aman, tidak tekor karena harga-harga udah pada naik alias inflasi dari waktu ke waktu. Jadi pas pengen diambil uang tersebut bisa buat beliin barang yang kita inginkan atau nilai uang tersebut tiga berkurang signifikan.

Sedangkan saham itu jika dibandingkan dengan nabung relatif lebih beresiko dan tidak cair. Atau kalau mau yang aman banget ya tidak cair tapi kalau yang gampang dicairkan ya nilainya juga tidak menentu sesuai kondisi pasar waktu itu.

Pada dasarnya ya kita berinvestasi agar nanti investasi kita akan menghasilkan imbalan. Baik berupa deviden yang bisa diterima perperiode tertentu sebagai cash flow juga kenaikan nilai saham atau keuntungan pas jualan saham.

Kayak bikin kos-kosan, yang kita lakukan itu ya investasi bukan nabung. Tiap jangka waktu tertentu kita menunggu hasil dari kos-kosan tersebut. Investasi kita diawal ketika membangun itulah yang akan menghasilkan. Nilai kos-kosan itu juga baik bangunan dan tanahnya tiap tahun bertambah, jadi kalau bosan ya bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari harga awal kita membangun.

Ketika saya pertamakali ngeh saham-sahaman di 2007, indeks harga saham gabungan Indonesia masih dikisaran 1000an. Sekarang sudah 6000an, hampir enam kali lipat. Lumayan kan kalau kita investasi saham.

Tapi bukan tidak mungkin, seperti indeks saham Shanghai angka tersebut bisa jatuh parah sampai-sampai pemerintah komunis Cina harus menyetop transaksi di bursa mereka. Apalagi cuma saham-saham individu yang bisa jauh lebih parah entah digoreng, dirampok kayak Century dst, atau cuma akal-akalan kayak Enron, bisa ludes investasi kita.

Coba bayangkan investasi saham itu dengan investasi kos-kosan. Bagi kalangan menengah ya investasi yang lumayan besar kan ? Tapi kalau tiba-tiba butuh uang cash yang mungkin jauh lebih kecil dari harga kos-kosan tersebut tapi karena lagi tidak punya cash apakah perlu kos-kosan tersebut dijual ? Bisa-bisa harga kosannya turun jauh atau cash nya susah didapat karena memang proses penjualan kos-kosan memakan waktu lama.

Nabung dan investasi itu dua hal yang seharusnya dikombinasikan, bukan disatukan alias disamakan. Keduanya punya resikonya masing-masing. Namun, dapat dijadikan strategi keuangan baik perusahaan atau individu dengan porsi idealnya masing-masing sesuai kebutuhan kita.

Memperkenalkan investasi sebagai tabungan adalah pembohongan. Belum nabung tapi udah investasi, logika loncat-loncat bak kodok hahaha. Jangan karena masyarakat lebih akrab dengan istilah nabung seenaknya nyomot dan bikin istilah menyesatkan baru.

Menghadapi Orang Kasar Di Sosial Media

Kemarin saya sempat iseng-iseng ngomen di postingan menteri keuangan. Ini bukan pertama kali sih saya iseng ngomen di sosial media, sudah sering saya ngomen entah itu di status orang atau postingan akun berita.

Seperti yang terlihat di screenshoot saya itu, ada ratusan yang like lope atau apalah. Yang bikin wowow sebenarnya adalah komennya yang ternyata ratusan juga. Bahkan hingga detik ini masih bermunculan.

Namanya juga sosial media, saya sudah sadar kalau ngomen ya pasti ada backlash nya. Pasti adalah saja yang setuju dan tidak setuju. Apalagi masalah politik, sudah kubu-kubuan.

Karena basically lagi iseng, saya kepoin, siapa sih mereka-mereka ini. Bukan cuma yang komen negatif tapi juga yang komen positif dan yang ngelike. Ternyata beragam juga yang berinteraksi.

Yang saya agak kurang suka sebenarnya adalah cacian dan makian yang luar biasa. Selain juga yang pada nuntut supaya pengkritik disuruh kasih solusi atau nunjukin prestasi, meh. Entah itu dari cyber army pendukung yang dikomen atau dari masyarakat biasa. Mulai dari yang berpendidikan rendah sampai lulusan luar negeri.

Well, saya bisa lebih kasar lagi sih. Atau bahkan lapor ke polisi, biar makin seru hahaha. Tapi gimana gitu ya. Nanggepin satu-satu itu kayaknya melelahkan juga.

Saya memang biasanya ga ngomen-ngomen lagi abis kasih komen gitu, udah satu aja. Atau kalau memang gatel pengen nambahin ya nambahin, paling link, atau ketawa hahahaha. Meskipun banyak yg sebenarnya butuh dibales karena bisa misleading atau kita keliatan kurang kompeten dst ya udah aja biarin.

Nanti juga seminggu yang akan datang pada lupa. Bahkan saya baca makian mereka sebagai penghibur dikala buang hajat. Kita juga jangan lupa, ada banyak yang pro dengan komen kita. Mereka akan membumbui komen-komenan jadi seru, untuk ditonton.

Mengapa Saya Bukan Feminis

Mengapa ya? Ya ga apa-apa, itu pilihan hidup, terserah saya. Bukan berarti saya anti women empowerment atau anti equal pay etc. Saya hanya tidak setuju dengan feminisme dan oleh karena itu saya bukan feminis.

Saya tidak pura-pura buta dengan fakta bahwa di negara saya sendiri meskipun perempuan bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan sejak dulu kala seperti menjadi ratu, panglima perang atau presiden sekalipun. Masih tetap ada banyak kasus penindasan atau diskriminasi terhadap perempuan.

Ketika berbicara isme maka ujung-ujungnya adalah label. Melekat pada diri seseorang yang memproklamirkan bahwa mereka adalah bagian dari isme tersebut.

Parahnya adalah, dengan memproklamasikan seperti itu banyak yang dengan mudah mengaku-ngaku feminis. Padahal aslinya predator seksual yang mengincar para perempuan. Dijadikan jembatan keledai untuk memoles diri, utamanya para politisi, sebagai orang yang progressif.

Sementara menyederhanakan pendukung hak perempuan sebagai feminis juga berarti bahwa kita akan terikat dengan keseluruhan identitas gerakan feminisme. Termasuk sisi ekstrimnya.

Para feminis ekstrimis itulah yang suka demo buka dada, pamer alat seksual mereka di depan umum tanpa mempertimbangkan aspek kepantasan dan berbahaya bagi anak kecil walaupun disukai bapak-bapak sebenarnya.

Ada pula yang melangkah terlalu jauh sampai membenci lelaki. Karena dengan menyebutkan femininity maka secara tidak langsung yang mereka lawan adalah masculinity. Cara terpendeknya ya benci lelaki. Ada pula yang sukanya cuma sama sejenis dan mempromosikan hal tersebut demi supremasi wanita. Kalo wanita sudah tidak butuh pria ya mereka bisa mandiri termasuk sexually.

Hal yang membingungkan juga dari mereka ini adalah trend baru yang didukung oleh orang-orang sejenis mereka, LQBTQrstuvwxyz. Yaitu gerakan pendukung transgender dan genderless. Bagaimana mereka akan memosisikan gerakan mereka ini terhadap gender-gender tambahan tersebut. Bagaimana disparitas gaji antara puluhan gender tersebut? Hahahaha.

Bagaimanapun, lelaki dan perempuan punya hak masing-masing yang tidak bisa dinafikkan. Menggunakan ide utama gerakan pada korban-isasi seolah setiap perempuan yang lahir ke dunia ini punya dosa bawaan yaitu menjadi korban lelaki sangatlah tidak tepat.

Ada milyaran perempuan yang tidak menjadi korban kekerasan atau ketidakadilan lelaki di dunia ini. Kalau pun ada kasus-kasus kriminalitas maka hal yang sama juga equally terjadi pada pria. Kalau ada KDRT, ya laporkan, tapi tidak semua istri disiksa suaminya di dunia ini. Kalau anda disiul-siul di jalan, get over it, banyak juga cowok hot yang kalo jalan atau lewat digituin (bahkan oleh om-om juga Pffft).

Women empowerment sendiri punya efek sampingnya karena tidak digunakan dengan benar. Menaruh perempuan pada berbagai posisi yang menunjukkan bahwa mereka setara dengan lelaki merupakan pembenaran pada konsep yang mereka sebut sebagai sistem lelaki. Banyak yang mencapai posisi-posisi glass ceiling dengan mengorbankan hak-hak mereka sendiri, seperti dengan tidak memiliki anak dst.

Ketidakadilan itu tidak bisa diperjuangkan dari satu sisi gender saja. Ketidakadilan merupakan masalah umat manusia dan hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan yang menggunakan cara-cara yang adil, cara manusia.

Hoax dan Monopoli Kebenaran

Negara demokratis tidak boleh memonopoli kebenaran dan melakukan witch hunt atau cherry picking terhadap para penyebaran hoax. Mengejar-ngejar para tertuduh penyebar hoax dengan nafsu birahi dan tentu saja pilih-pilih target operasi hanyalah bukti bahwa upaya tersebut merupakan kesalahan fatal dalam berdemokrasi.

Siapa yang akan menentukan sesuatu itu hoax atau bukan ? Hakim ? Polisi ? Pemerintah ? Oh iya, masih ada undangan-undang fotokopi sisa penjajah yang di negara asalnya sendiri sudah rivisi buat dijadikan alat kan ? Atau undangan-undang anti kebebasan ITE yang membatasi ruang gerak netizen dan bisa tiba-tiba digunakan untuk menangkap orang-orang tertentu yang kebetulan bikin kita marah atau berada di sudut lain pilihan politik kita kan ?

Tindakan represif seperti ini akan membuat semua orang takut untuk berbicara. Tidak akan ada lagi yang berani memberikan opini secara terbuka terhadap perilaku para penyelenggara negaranya karena akan ditangkap sekaligus diadili oleh yang menangkap.

Takut kalau masyarakat akan terpengaruh oleh hoax juga sebenarnya merupakan penghinaan terhadap masyarakat. Maaf masyarakat tidak sebodoh itu.

Disisi lain dengan tindak tersebut, jurnalisme mainstream juga dianggap tidak penting lagi sebagai salah satu pilar demokrasi dalam melakukan fungsi utama mereka yaitu menyampaikan fakta. Padahal, secara alamiah mereka sangat cocok untuk tugas counter hoax, seperti di Amerika sono ada program factcheck.

Oh iya, jangan lupa berangan-angan dengan kemungkinan di masa depan ketika pemilu menghasilkan diktator, mereka akan sangat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya fasilitas yang diberikan cuma-cuma ini.

Democracy dies in the darkness

Si Gondrong

Sejak kecil rambut si Gondrong tidak pernah sebahu. Karna jenis kelaminnya yang kebetulan lelaki maka oleh kedua orang tuanya rambut Gondrong selalu dipangkas rapi. Jadi sebelum sempat menjuntai bak mbak-mbak iklan shampo, si Gondrong cepak.

Ibunya tidak pernah luput dari pertumbuhan rambut Gondrong. Bahkan saat si Gondrong sendiri belum menyadari kalau rambutnya telah tumbuh beberapa millimeter. Ayahnya selalu mendukung sang ibu, ia meyakinkan si Gondrong bahwa rambutnya akan tumbuh lebih lebat lagi jika sering dipangkas.

Lingkungan sosial si Gondrong memang tidak mendukung sama sekali gaya rambut yang ia dambakan. Lambat laun, keinginan orang-orang menjadi kenyataan hidup baginya.

Berbagai narasi untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa gaya rambut yang disukainya tidak cocok untuknya pun muncul di benaknya. Ia mulai setuju kalau hanya perempuan yang naturally berhak punya potongan panjang. Bahwa lelaki yang membiarkan rambutnya tumbuh panjang adalah kriminalis atau paling tidak bencong amit amit tujuh turunan.

Technically, punya rambut panjang juga merepotkan dan mahal. Jika tidak ingin seperti rambut gelandang maka regularly rambut harus dibersihkan, entah berapa botol shampoo yang akan habis perbulannya dengan rambut extra. Kalau ingin bepergian pun harus diminyaki biar kinclong dan tidak terbang kesana dan kemari bak his fake friends. Dan yang paling lucu adalah ada juga cowok yang demi rambut panjangnya harus ke salon (beneran cowok?).

Tiga bulan berlalu, tanpa sadar rambut Gondrong mulai memanjang. Sebenarnya Gondrong pun mikir, how fast sih waktu berlalu begitu saja sampai-sampai ia sendiri tidak menyadari berbagai hal yang telah berubah, termasuk rambutnya. Sembari menatap dirinya sendiri dan berbagai macam kemelut hidup di hadapan cermin tidak ajaib siang itu, Gondrong memutuskan untuk gondrong.

The Perk of Being Bukan Traveller

Hahahaha, I proudly declare dat I’m not a traveller. Probably because my contrarian tendency sih and much to do with money, ujung-ujungnya. Dua hal itu dan berbagai circumstances lainnya menjadi pembatas antara me and the rest of you who call yourself traveller or whatever the hell you wanna call it.

Don’t get me wrong, I know how ‘traveling’ change the world, Marco Polo, Ibnu Batutah, the first human out of Africa etc. Exited and challenging. I read the Lonely Planet years ago, such a nice guide. The boom, thanks to capitalism (and Hippies) traveling jadi something. Jutaan orang bepergian jadi turis, karna serba gampang.

For my contrarian tendency ini opportunity sebenernya, beda with the rest of the world (or at least a chunk of it). Why ikut-ikutan if one day ga trending lagi, oh comeon.

Aside from dat sih soal money, a sensitive matter. No I’m not a billionaire (not anymore cos Zimbabwe currency dah ga segila dulu hahaha) or even millionaire (in USD term). Put away those motivational stories about low cost traveling, I know what it means, suffering hahaha.

Personally ada temen-temen yang like their peers out there yang suka traveling. I know their gaji or allowances berapa perbulan, even tho they can afford sih tapi math kayak gitu in long term ga bagus. Please nabung, your salary is not your net worth honey.

Baru berapa bulan masuk udah cuti panjang bahkan ada yang baru dipindah hari pertama langsung minta ijin ke menager buat keluar negeri untuk minggu berikutnya, anak jaman now.