Kabut Polusi 

Pagi itu, dari sudut Jakarta menuju Benhil

Aku menengadah ke angkasa

Memastikan dugaan

Terlihat kelabu mulai mengepul

Jalanan sudah riak-riak

Selip sana sini

Ku ikuti dengan pandangan

Wajahnya yang hilang ditelan beda arah

Mungkinkah dia berbalik

Atau sadar akan polusi dan pindah kota

Bertemu nanti di hutan raya Dago, atau

Jauh ke pedalaman hutan Sulawesi

Terlihat wajah wajah transisi

Dari gerbong gerbong pagi buta

Di tanah abang

Menuju dua roda jaket ijo

Berakhir di gedung gedung hingga sore malam

Tinggal daku sendiri, senyum

Iklan

Ketika Penulis Dipajaki

Selain Tere Liye, Dewi Lestari dst ada juga loh penulis lain yang dengan happy nya nulis aja, tidak mengharap duit dari nulis yang masih tersisa kalo dikurangi batas tertentu menurut aturan pajak. Karena memang tulisannya simply jelek hahahaha, ga jual able, ga banyak yang minat baca, kurang ini itu.

Begini, setau saya ya, di negara yang pajaknya kalo ditotal-total nyekik banget kayak Amrik itu kalau politisinya pensiun apalagi setingkat presiden mereka bisa dapat jutaan dollar dari nulis buku. Baca lebih lanjut

Recehan

Kutaruh di saku geli

Tukar banyak dapat satu, kasih dua cuma dikit

Bawa pulang tumpuk-tumpuk, berat tak dapat diangukut

Jatuh tak dapat disunyikan

Biar nanti tunggu akhir, malu bawa, malu numpuk

Tanya tanya diri sendiri 

Laku tidak kenapa bikin 

Di warung sebelah malah donasi

 

Kau Tak Ikut Kita Tak Balik

“Aku ga balik.”

Begitu singkat ucapan itu hingga aku tak bisa mendengarnya dengan jelas dan menjawab dengan, “apa.” Bukan kaget, hanya bertanya padanya what the hell yang dia barusan katakan. Jalan yang sempit sore itu penuh dengan kendaraan yang lalu lalang, pertigaan yang ramai dan tentu saja supermarket murah yang sepertinya hanya ada di sekitaran kota ini. 

“Aku ga balik, sepertinya kita ga cocok”

Nah, orang gila macam apa yang tidak kaget dengan jawaban seperti itu. Pertama mungkin bisa dikira lelucon, padahal untuk orang dewasa tentu main-main seperti itu sudah lama tak tercantum dalam kamus kita. Nadanya juga beda. Tapi mengapa, bukankah dia berhutang penjelasan. 

“Yaah kalau gitu kita ga bisa balik dong”

Dalam sekejap kata-kata itu keluar. Lalu aku pun meninggalkannya di tempat itu. Karena hanya aku yang pergi dan dia memilih di situ maka bukan “kita” yang balik. 

Ketika Israel Menjadi Goliath

Ilustrasi : Businessinsider

Saat membuat tulisan ini saya tidak sedang mengiayakan apa yang ditulis dalam sebuah buku yang judulnya kurang lebih sama dalam bagaimana para penulis buku itu memaknai berbagai pencapain negara Israel. Yes, faktanya adalah Israel berhasil dalam berbagai hal. Mereka menjadi salah satu negara dengan teknologi militer tercanggih di dunia yang awalnya hanya dibantu Inggris dan kemudian Amerika, kini mereka menjadi eksportir senjata dan rumornya sih punya NUKE. Israel merupakan satu-satunya negara demokrasi yang paling maju di Timur Tengah dengan perusahaan-perusahaan teknologinya yang sekelas Silicon Valley, juga keberhasilan mereka menyuburkan kembali gurun-gurun pasir, surplus air bersih dan banyak lagi pencapaian lain.

Sementara itu, saudara dekat mereka secara genetics yaitu (Arab) Palestinian yang tinggal tidak begitu jauh dari pemukiman-pemukiman mereka berada dalam kondisi yang teramat berbeda. Meski pun sebenarnya di Israel sendiri terdapat orang Arab Palestina dalam jumlah yang signifikan namun tentu saja mereka berbeda dengan warga negara Palestina.

Warga Palestina baik yang berada di Tepi Barat maupun jalur Gaza sangat jauh dari berbagai pencapaian Israel tersebut, sampai-sampai hal-hal basic seperti air minum dan listrik pun mereka harus bergantung pada Israel. Kita bisa berdebat bahwa berbagai ketertinggalan Palestina itu akibat dari berbagai upaya Israel, tapi faktanya adalah Palestina tertinggal.

Sehingga dengan kondisi yang seperti itu dengan mudahnya kita dapat membuat persamaan dengan figur familiar yang dikisahkan ajaran Abrahamic yaitu Goliath dan David dalam bentuk dua negara yaitu Israel dan Palestina. Terlepas dari berbagai analisis yang mencoba mereka-reka bagaimana sebenarnya kedua figur itu jika tanpa berbagai mitos yang membungkusnya seperti kemungkinan bahwa Goliath sebenarnya punya kelainan sehingga tubuhnya menjadi tinggi tapi sebenarnya lemah sehingga mudah saja dikalahkan.

Jika mengambil persamaan tersebut maka esensi kekalahan Israel, sama seperti Goliath adalah pada diri mereka sendiri. Lihat saja berita mengenai pemgambilalihan secara paksa rumah-rumah warga Palestina untuk dijadikan pemukiman dan berbagai kebijakan diskriminatif-profokatif serta berbagai kebijakan lain yang menunjukan konservatis kanan semakin menjadi-jadi di sana.

Bayangkan saja, koalisi negara-negara Arab saja berhasil dikupul mundur berkali-kali oleh Israel apalagi cuma roket-roket recehan Hamas. Bisa hancur lebur Hamas bahkan Gaza bisa dihapus dari map oleh Israel. Dengan segala keterbatasan yang mereka alami dan mungkin mereka buat-buat sendiri seperti roket-roket buatan Hamas yang ditembakkan dari sekolah dst, maka David yang kecil itu nampaknya tidak akan muncul dari tanah Palestina.

Namun, sejak terbentuknya negara Israel tahun 1948 munculah satu komunitas baru yang telah kehilangan tanah air mereka yaitu diaspora nya Palestina. Mereka yang tinggal di negara-negara Arab maupun Eropa dan diseantero dunia termasuk di Amerika Serikat. Jika mereka berhasil seperti diaspora Israel di Eropa dan Amerika, maka mereka bisa memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap tanah air mereka. Sama seperti apa yang telah dicapai diaspora Israel diseluruh dunia utamanya di Amerika Serikat yang sangat berpengaruh terhadap kebijakan negara tersebut terhadap Israel.

Mungkin terlalu kacau jika membayangkan suatu saat nanti orang-orang Palestina itu akan perang dengan Israel, perang cyber atau perang ekonomi dengan boikot-boikotan. Tapi lebih dari itu sebenarnya, sang David itu harus membuktikan pada dunia kalau mereka bisa bangkit dan menjadi bangsa yang jauh lebih baik dari saat ini. Bagian dari bangsa Arab yang tidak lagi dirundung konflik, yang terdidik dan berpikiran terbuka, yang maju secara ekonomi tanpa sumberdaya alam yang melimpah pokoknya persis seperti apa yang dimiliki Israel saat ini.

Ilustrasi : Vox

Mereka harus mendukung anak-anak mereka menjadi intelektual, ilmuan, pebisnis dst bukan tukang lempar batu ke tank Israel. Termasuk pula menjauhakan mereka dari pengaruh jihadis Hamas dan setara Ikhwanul Muslimin lain yang sukanya politik melulu atau kalau tidak berkutik malah bikin gaduh dengan aksis terorisme. Sehingga musuh utama warga Palestina adalah ketertinggalan mereka sendiri dan kemenangan mereka nantinya bisa seperti kemengan Israel saat ini.

Secepat Kilat

Akhir-akhir ini nampaknya suatu bagian di otaknya telah secara otomatis menyortir berbagai informasi untuk lenyap begitu saja dalam sekejap. Tidak lama setelah orang baru menyebutkan nama di depan wajahnya entah angin apa yang telah membawa nama tersebut untuk hilang begitu saja. Lebih dari itu, nama orang yang sangat familiar baginya pun susah untuk secara otomatis dia muntahkan.

Tidak berhenti di situ, tentu dia lupa akan berbagai hal-hal entah penting atau tidak lainnya.

Ia mendapati dirinya lupa lagi tentang siapa yang tengah tergeletak di dapur rumahnya.

Siapa yang akan mengingat kematiannya sendiri.