Mempertahankan Pertemanan Setelah Wisuda

 

panda.jpg

Sumber : NatGeo

Selama bertahun-tahun kuliah tentu saja kita banyak menemukan teman dari kehidupan kampus, mulai dari teman ospek yang dulu botak bersama sampai teman-teman yang bawa bunga pas wisuda.

Banyak orang bertemu teman sejati di kampus, mungkin berteman hingga kakek-kakek. Jodoh juga banyak berjumpa di sana. Masa-masa di kuliah memang masa yang paling tepat untuk menemukan teman atau paling tidak, kriteria teman yang kita butuhkan dalam hidup ini sebagai bagian dari menjadi diri kita sendiri.

Setelah wisuda yang merupakan akhir dari masa-masa itu, sebenarnya keadaannya cukup gado-gado di divisi perasaan. Bahagia karena at least sudah lulus dan siap memulai hidup baru tapi juga khawatir dengan berbagai hal yang menanti di dunia luar sana.

Kadang kita menjadi lupa menjaga kontak dengan teman gara-gara berbagai kekacauan itu. Atau sekadar tidak tau bagaimana seharusnya agar bisa menjaga pertemanan. Menggampangkan karena yakin bahwa pertemanan akan baik-baik saja karena dengan buka Line, Instagram, Snapchat, WA, Facebook etc kita bisa langsung terhubung.

Teknologi yang sangat membantu itu pas waktu di kampus memang sangat-sangat efektif sih, buat ngerjain tugas dll. Tapi tentu ceritanya beda lagi ketika kita sudah ada berbagai jenis jarak, chat di Line lama dibalas, foto di Instagram minim like dan komen etc.

Padahal kita ini semakin tua semakin susah mencari teman baru.  Sehingga mempertahankan perteman yang sudah terbangun sejak di kampus akan menjadi pilihan terbaik. Meskipun tidak berarti bahwa kita tidak bisa mencari teman baru lagi, karena hellow ada more than seven billions orang lain di luar sana.

A

patah hati tak jadi dua

didih jantung tak merah jua

ikuti pergi mata tak bisa 

ingat kepala maka lupa

bakar jejak tak jadi abu

riang riang di sebrang hampa 

tunggu dinanti tak akan tiba 

cari akal hilang pula 

lari sembunyi itu muka 

teriak laut ombak menyapa

gelap pandang hilang suda

jauh nampak dekat tak ada

kirim salam harap baca 

sapu-sapu taruh di dada

sisip jari sisip rahasia 

Indonesia Tidak Akan Menjadi Negara Maju

kapan-indonesia-jadi-negara-maju

Ilustrasi : malesbanget.com

Indonesia tidak akan menjadi negara maju di tahun 2020 dan dalam jangka waktu yang agak panjang di tahun 2030 atau 2040 bahkan mungkin juga di tahun 2050 Indonesia tidak akan menjadi negara maju menurut standar di tiap dekade tersebut. Ini merupakan pandangan kontrarian pribadi saya terhadap begitu banyaknya artikel, ataupun riset dll yang menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara maju pada dekade-dekade yang akan datang.

Ekonomi 

Ekonomi Indonesia setelah krisis 1998/1999 mengalami perbaikan yang lumayan lamban. Ekonomi Indonesia juga tidak pernah tumbuh semenggairahkan China atau Jepang dengan berbagai transformasi fantastis negara mereka untuk memberikan value pada hasil produksinya. Ekspor masih didominasi SDA yang raw banget, berbagai barang berteknologi tinggi yang dikonsumsi masyarakat tiap hari kalo ga merek Jepang ya buatan China.

Konsentrasi ekonomi hanya terpusat di Jawa dan berbagai upaya yang dilakukan seperti aturan keras tentang ekspor barang tambang mentah malah dilonggarkan. Padahal ada puluhan juta warga Indonesia lain di luar pulau Jawa dan lebih dari itu, di Jawa pun ketimpangan tidak pernah bisa diatasi.

Sumber Daya Alam 

Syair lagu lama, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, gemah ripah lu jinawi, sepertinya harus dikesampingkan jauh-jauh. Indonesia memang tanahnya subur, berbagai jenis mineral ada di dalamnya.

Namun, kecuali steam coal, refined tin dan nickel ore, Indonesia bukan produsen bahan tambang terbesar di dunia bahkan sudah pernah keluar dari OPEC gara-gara berstatus net improter minyak sementara cadangan minyaknya juga tidak lama lagi akan habis. Sawit yang diandal-andalkan tiap tahun dicekek di Eropa, karena memang merusak alam Sumatra dan Kalimantan dll.

Politik

Hmm, you know sendiri lah hahahaha

Review Pilm : Love of My Life

Cinta itu rumit ternyata. Begitulah kesan yang akan kalian dapatkan ketika menonton film yang satu ini. Sungguh, sungguh rumit  hahaha.

Bagaimana tidak, hubungan yang komplikatif antara lima orang, bukan dua atau tiga di usia matang mereka menjadikan kita bertanya-tanya. Who is the love of ours life.

Tokoh utama film ini sebenarnya adalah sang wanita, seorang arsitek sukses, dengan suami yang penyayang dan seorang anak perempuan. Di awal film yang terjadi adalah hal yang seperti biasa di film-film lain, si aktor utamanya kena penyakit di kepala yang kemungkinan berhasil operasinya fifty-fifty.

Kemudian semuanya tersingkap satu persatu. Anaknya bukan cuma satu ternyata, tapi dua dengan dua ayah yang berbeda. Suami keduanya yang lugu dan lucu merupakan seorang professor di comunity college (politeknik) sedangkan suami pertamanya merupakan seorang penulis novel terkenal (at least dalam film itu).

Perceraiannya yang pertama terjadi ketika ia mendapati suami yang ia nikahi ketika keduanya masih sama-sama muda, selingkuh dengan seorang wanita lain. Padahal waktu itu ia sedang hamil anak pertamanya. Sang selingkuhan sih akhirnya jadi istri kedua suami pertamanya. Mereka tidak mempermasalahkan hak asuh anak dan sepertinya anak perempuan mereka tinggal bersama ayahnya dan sang suami tidak punya anak lagi bersama istri barunya. Mereka keliatannya masih menjaga kontak, namun tentu saja ia kecewa berat dengan suami pertamanya.

Suami keduanya ? Hmm yaah itu lah, dia lugu dan polos. Dengan suami keduanya ini ia punya satu anak perempuan yang setelah dewasa akhirnya memutuskan untuk menjadi aktivis namun struggling dalam kehidupan romantisnya, just like her older step sister.

Tanpa sengaja, setelah mendengar kabar dari dokter suami keduanya yang lagi gugup memberi tahu ke anak mereka bahwa ibunya akan dioperasi dst, padahal ia sendiri tidak ingin hal tersebut dibesar-besarkan. All of a sudden, si bungsu ngasih tau ke kakak tirinya yang tinggal bersama ayahnya di Eropa, dia datang ke rumah ibunya (di Kanada karena ini film Kanada) dan tiba-tiba ada mantan suaminya yang ikutan, disusul istri mantan suaminya.

Yang terjadi adalah shock, tentu saja. Siapa sih yang tidak akan shock kalau dapat berita bahwa dia mungkin saja bisa mati dalam beberapa hari kedepan sementara masalah dari masa lalunya tiba-tiba mengetuk pintu jiwanya lagi.

Sementara semua itu terjadi, ia masih saja pergi ke kantor untuk presentasi proyek dan mengerjakan tugas-tugas kantornya. Dan ada lagi satu, atasannya yang ternyata selama ini menyimpan rasa padanya. Hingga, suatu hari dengan semua kegaduhan itu mereka entah bagaimana bertemu di kedai kopi dekat rumahnya.

Sebenarnya, dalam hati si arsitek ini masih mencintai suami pertamanya. Dan karena merasa bosan, suami keduanya and istri suami pertamanya entah bagaimana having sex di rumahnya sendiri. Ketahuan dan akhirnya si istri suami pertamanya itu mengaku kalau ia melakukan itu untuk ngetes suami keduanya.

Akhirnya operasi berhasil dan salah satu mimpi besarnya adalah membangun sebuah bangunan untuk dirinya sendiri di dekat pantai pun berhasil dibangun. Ia kembali dengan suami pertamanya dan kedua anaknya mendukung penuh keputusannya tersebut.

Oh iya, film ini agak kurang terkenal sih dan latar tempatnya relatif monoton, cukup membosankan sebenarnya. Tapi seperti judulnya, kita jadi terpanggil untuk bertanya-tanya, who ?

Mengapa Kita Beriman

Beriman atau secara sederhana percaya kepada tuhan maupun berbagai hal yang dipertuhankan telah menjadi sangat erat dengan kehidupan manusia di muka bumi ini. Bukan hanya percaya kepada tuhan yang begitu abstrak dan maha kuasa saja, tetapi manusia juga banyak yang percaya pada berbagai tuhan yang aneh-aneh seperti pohon, sapi, air, dst.

Berdasarkan survey Pew tahun 2015 sebagian besar umat manusia masih beriman. Bahkan sejumlah 1.2 milyar orang yang tidak tergabung atau Unaffiliated disebut demikian karena pada dasarnya mereka bukan seluruhnya ateis melainkan ada juga yang agnostik, sekuler dan yang masih percaya tuhan tapi tidak bergabung pada sistem kepercayaan tertentu.

Pertanyaan seperti judul tulisan ini muncul di jaman modern sekarang ini. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan maka muncul pula orang-orang sebenarnya beriman tapi beriman kepada ilmu pengetahuan bukan kepada agama atau tuhan-tuhan lainnya. Populasi para Unaffiliated terus saja bertambah dan sesuai laporan Pew, hal ini terjadi salah satunya karena adanya Swithing Out besar-besaran utamanya dari penganut Kristen, Budha dan Yahudi.

Pertanyaan tersebut coba dijawab oleh Steven Reiss, profesor psikologi di Ohio State University. Menurut beliau, manusia tertarik kepada agama karena agama dapat memenuhi 16 kebutuhan manusia. Tidak semua dalam list tersebut menjadi alasan orang untuk percaya kepada agama, melainkan beberapa saja, kombinasi atau paling tidak salah satu dari ke-16 kebutuhan tersebut menurutnya yang menjadikan agama menarik bagi manusia.  Capture

Mengapa Jika Aku Mencintaimu, Kamu Tidak Mencintaiku Balik

Karena kamu, iya kamu

Karena kamu terkadang aku

Karena kamu terkadang bingung

Karena cinta tak sebercanda itu

Karena waktu yang tak tepat datangnya

Karena ruang yang tak sering mempertemukan

Karena status yang memberi tingkatan

Karena wajah yang tak bisa ditukar

Karena tingkah yang tak bisa diubah

Karena sudah punya

Karena salah paham dan paham salah

Karena kelamin yang ternyata sama

Karena luka dari masa yang lalu

Karena tidak ingin lagi

Karena karena dia

Galak di Media Sosial

Beberapa waktu belakangan ini karena tidak punya banyak kegiatan menyenangkan lain, kecuali nonton series sambil makan dan makan lagi saya juga sangat aktif di sosial media, utamanya Facebook. Sebenarnya karena saya atur otomatis terlink jadi setiap update di Fb status saya di Twitter juga otomatis terupdate, cuma karena saya memang tidak pernah suka main Twitter ya begitulah.

Mungkin nulis di wordpress ini juga bisa masuk kategori aktif di media sosial, karna pada dasarnya wordpress kan memiliki kemiripan dari segi fiturnya dengan dua media sosial yang saya sebut sebelumnya, cuma ya di sini bisa agak panjang lebar.

Kebanyakan yang saya posting sebenarnya tentang isu-isu politik terkini. Sisa-sisa pilpres 2014 dan tentu saja tentang pilkada Jakardah. Kalau tentang presiden sih biasanya saya posting tentang kekonyolan yang biasa beliau lakukan atau berbagai kebijakan yang tidak begitu memihak rakyat, menurut saya, apalagi kalau ada data atau info tentang kegagalan pemerintah ya pasti saya share juga.

Soal pilkada Jakarta pasti soal si tukang hina dan bermulut tak direm itu, meski pun saya sebenarnya dari dulu kurang suka dengan si mantan menteri tapi saya selalu mosting yang berlawanan dengan sang petahana. Kurang sreg aja, apalagi kan banyak sentimen negatif terhadap petahana jadi ya banyak bahan.

Mengapa mesti politik, alasan saya karena politik itu bahan yang tidak akan pernah ada habisnya. Hari ini mungkin skandal KTP elektronik, bulan depan bisa jadi beda lagi, sama seperti yang sudah-sudah (papa minta saham, hambalang, anas etc), badai pasti berlalu tapi musim badai sepanjang tahun.

Kadang saya berpikir berkali-kali karena caption yang akan saya posting itu sebenarnya menurut ukuran saya sendiri agak keterlaluan. Tapi, setelah riset kecil-kecilan di berbagai komen para internet troller, saya pun akhirnya memutuskan untuk mulai menggunakan kata-kata yang menurut saya dapat mewakilkan kemarahan atau ketidaksukaan yang sangat.

Lagi pula teman atau pengikut saya tidak banyak, bahkan mungkin untuk ukuran rerata orang Indonesia yang punya Fb terbilang sangat sedikit. Meski pun tujuan utama saya mosting itu sebenarnya biar bisa dilihat orang banyak, tapi saya masih terbilang dummy lah. Pengalaman minus, pendidikan juga cuma segitu jadi go viral kayaknya no lah.

Ada yang lebih seru dari mosting sebenarnya, apalagi kalau bukan ngomen. Awalnya saya suka sekali liat komen-komen di berita yang dishare media-media seperti the economist atau nytimes dll, lumayan mencerahkan, daan lucu-lucu. Jadi akhirnya, selain mosting, saya juga akhirnya memutuskan untuk ngomen-ngomen. Nah kalo ini bisa lumayan banyak yang baca. Debat kusir di komen.